facebook twitter instagram spotify youtube
  • Home
  • Perjalanan
  • Jendela
  • Habis Baca
  • Saya

Cappuccino

"Menulis itu sebenarnya bagian dari mengingat,"

Kemarin, saya baru saja berbincang dengan salah seorang sastrawan asal Sulsel, Mochtar Pabottingi. Itu semacam tugas tambahan dari kantor untuk melengkapi buku biografi 100 tokoh berpengaruh di Sulsel. Sementara tugas di lapangan olahraga masih harus tetap berlanjut.

Yah, lelaki berusia 70 tahun itu memang punya daya ingatan yang sangat kuat. Ia menuliskan buku autobiografi berbau sastranya dengan modal ingatan semata. Tanpa jurnal. Termasuk pula tanpa buku harian selayaknya penulis-penulis lainnya.

"Kalau terus menulis saja, kita akan bertemu dengan ingatan-ingatan yang hilang itu. Awalnya memang ada kesalahan, tapi terus menulis (ingatan) bakal menjadi perbaikannya juga," terangnya.

Di ujung telepon sana, suara pria tua itu masih bersemangat. Nampaknya pengalaman belajar di luar negeri cukup membawa banyak hal baru bagi hidupnya. Pak Mochtar termasuk sastrawan beruntung yang pernah merasai kehidupan di negeri-negeri adikuasa. Bahkan pulau temaram senja, Hawai, juga sudah menjadi kesehariannya saat kuliah doktoral.

Yang namanya ingatan memang tak pernah bisa terhapus permanen. Ia hanya tenggelam saja di dasar labirin kepala. Menanti pemicunya untuk muncul ke permukaan. Ingatan lama hanya menunggu untuk digunakan kembali.

Mungkin hal seperti itu yang membedakan manusia dengan komputer. Secanggih-canggihnya komputer, takkan pernah bisa menyimpan memori sebanyak yang mampu dirapal kepala. Kalau ingatan di komputer dihapus, ya sudahlah, dihapus saja. Sementara kepala tak sesederhana itu.

Saya selalu percaya, tak ada yang bisa menghapus ingatan. Kalau manusia terluka, ia tetap menyimpan lukanya. Kalau manusia bahagia, ia akan memudar seiring ingatannya yang diperbaharui. Yang terjadi kemudian hanyalah soal melepaskan atau merelakan. Ikhlas. Sejauh mana manusia ingin atau enggan mengingat-ingat suka atau lukanya.

Maka menulislah untuk mengekang ingatan...

***

Lewat seminggu saya tak pulang ke "rumah" ini. Akh, maaf untuk sejenak meninggalkannya berdebu. Beberapa kesibukan sempat menggerogoti waktu luang. Akhir-akhir ini, saya tak kuat bertahan lewat separuh malam. Pun, ketika pagi menjelang, saya tak lagi bertemu dengan cahaya jingga kesunyian. Padahal saya merindukannya.

Sore ini, saya justru mendapat kesempatan lagi menatap kilas cahaya jingga di ufuk barat sana. Di depan beranda, sembari memutar lagu Banda Neira, saya tengah merasai tiap detik kerinduan menepi sunyi. Bayang-bayang kendaraan berkelebat. Suara lafaz Quran berkumandang dari corong masjid berburu. Karena sejam lagi, saya harus beranjak...

Lihat cahayanya saja. Tak usah perhatikan jemurannya. Haha... (Foto: ImamR)



--Imam Rahmanto--
"Kapan lagi kutulis untukmu tulisan-tulisan indahku yang dulu..." --Jikustik, Puisi


Beberapa hari kemarin, saya mendapati seorang teman kembali menjajaki tulisannya. Semacam "anak yang hilang". Akh, saya sudah seringkali menjumpai "anak-anak hilang" seperti itu.

Padahal, saya selalu senang melihat orang-orang yang mau berusaha meramaikan pikirannya dengan mengolah tulisan dari dasar hatinya. Mereka yang berusaha melampaui batas diri atas alasan-alasan tertentu. Karena kita hidup di dunia, kerap kali banyak bicara, tanpa mau banyak berbuat. Terlalu banyak kata "Seandainya...."

Bagi saya, tulisan-tulisan kecil yang rutin dituangkan lebih bermanfaat ketimbang tulisan-tulisan berat yang hanya sekali meledak. Tahukah, pun dalam agama saya, Tuhan juga lebih menyukai amalan sunat yang dikerjakan rutin dan disiplin.

"Kamu sekarang kerja apa, Im?"

"Wartawan, Mbokde,"

Meski saya menjawabnya dengan penuh percaya diri, namun sebagian orang akan melanjutkan pertanyaan lebih jauh, "Itu pekerjaan seperti apa?"  

Di kepala orang awam memang hanya terpatri guru, dokter, perawat, tentara, polisi, hingga hal paling umum: Pe-En-Es. Mereka mungkin tak habis pikir, ngetak-ngetik di hape bisa jadi uang. Hahahaha....

Menulis sih memang tak ada habisnya. Apalagi jika sudah berhadapan dengan pekerjaan yang mengandalkan keahlian menulis. Dibenturkan dengan batas tertentu. Dituntut oleh orang-orang berwenang khusus.

Mungkin saya harus mengakui, beberapa hari belakangan saya juga masih suka menunda-nunda beberapa pikiran dan ide yang tertambat di kepala. Saya harus menyesalinya. Target hobi saya masih terlampaui oleh tuntutan pekerjaan yang tiap hari menjelma di lapangan.

Pekerjaan saya cukup padat sebagai seorang pewarta. Akan tetapi, saya selalu abai menyalahkannya atas absennya beberapa ide di kepala. Toh, pekerjaan saya hari ini masih tak jauh-jauh dari menulis. Saya menikmatinya. Saban hari berhadapan dengan fakta-fakat olahraga yang mesti digubah menjadi santapan pagi para kaum kapitalis. Saya harus menyebut apa lagi orang-orang yang setiap pagi menggelar korannya sembari duduk menyesap kopi di beranda rumah?

Menyambangi setiap kejadian atau kabar olahraga terkadang mulai mengikis genre tulisan saya yang agak halus. Di desk saya, tulisan harus tajam dan menggunakan kosa kata ala olahraga. Kosa kata baru yang banyak menyusup di kepala akhir-akhir ini. Istilah-istilah yang justru memutar-balikkan kepala saya. Pada intinya, tulisan tidak boleh mendayu-dayu hingga mendekati jenis berita feature.

Pernah suatu kali saya berinisiatif hendak melaporkan konvoi kemerdekaan komunitas pecinta klub sepak bola dalam bentuk feature. Kalau kamu tak mengerti feature, maka belajarlah mulai sekarang "mencari". Hasilnya, malah diubah menjadi berita biasa. Hahaha....

Kebiasaan menulis di desk olahraga sebenarnya membuat saya kehilangan beberapa gaya menulis. Sejujurnya, saya tak lagi terbiasa dengan bahasa yang melankolis - kata teman. Terlalu banyak menggarap berita juga mempengaruhi saya untuk menulis tanpa basa-basi. To the point!

Nah, kenyataannya, saya justru merindukan gaya menulis itu. Sebagai bentuk pelepasan rindu itu, wajar jika saya selalu mencuri-curi waktu menulis di "rumah" ini.

Di warkop, usai menyelesaikan target berita. Di kantor, di sela-sela menunggu panggilan redaktur. Di sekretariat lembaga pers kampus, di tengah obrolan teman. Atau malah di tengah-tengah rapat redaksi.

Dengan menulis seperti ini, saya merasa "lepas". Saya tidak terikat oleh aturan-aturan tertentu. Maka nikmat mana lagi yang saya dustakan? Karena menulis itu, bukan persoalan ada waktu atau tidak. Ini soal, sekali lagi saya harus mengatakan, kemauan dan konsistensi...

Saya suka dengan kata Pongky (coba pula dengar versi Endah 'n Rhesa) dalam lagunya, Untuk Dikenang:

"Tulisan dariku ini mencoba mengabadikan. Mungkin akan kau lupakan atau untuk dikenang..." 

Karena memang sejatinya saya menulis agar bisa dikenang, minimal oleh diri sendiri.


Jauh abad, Tuhan sudah mengingatkan dan bersumpah demi masa (waktu), bahwa manusia sesungguhnya adalah kerugian. Yah, khittahnya, Tuhan tahu bahwa kelak manusia akan selalu menyalahkan waktu atas kelalaiannya.


--Imam Rahmanto--

“Bagaimana caranya menulis?” beberapa waktu lalu, seorang teman bertanya.

Saya sendiri heran, atas angin apa ia bertanya begituan pada saya? Lebih dari 4 tahun ini, saya cuman bergelut menulis di bidang jurnalistik dan sekali-dua kali menyempatkan membuang kejenuhan lewat menulis di “rumah” sendiri. Sementara menghasilkan karya yang betul-betul bisa dinikmati atau pun dibaca banyak orang, sungguh masih di cakrawala awang-awang.

Agak bosan juga sih jika ditanya demikian. Lusinan pertanyaan serupa saya temui, dengan orang yang berbeda pula. Rasanya, saya lebih malas menyampaikan jawaban untuk itu ketimbang harus memaparkan ulasan proposal penelitian.

Pada mulanya mereka bersemangat dan meledak-ledak hendak menulis. Bercerita menggebu-gebu. Membuat sebuah “rumah” di dunia maya. Mempercantik tampilannya. Berjanji (pada entah siapa) akan rutin mengisinya. Dan selanjutnya, bisa ditebak (dan akan selalu begitu), “rumah” tulisannya itu hanya hidup sekian minggu, atau bahkan cuma hitungan hari. Mangkrak. Seperti kata pepatah kuno, “Panas-panas kotoran ayam”

Tak perlu heran, ketika pertanyaan seperti itu datang pada masanya, saya hanya bisa tersenyum masam, sembari bertaruh dengan diri sendiri dan bergumam, “Akh, ini cuma semangat-semangat kuno." Semangat itu seperti api yang membakar kertas. Apinya membesar di permulaan, tapi dengan cepat melalap habis kertas. Menyisakan abu yang bakal hilang tertiup angin.

Tak ada teori pasti dalam menulis. Do you know, theory is relative, but practice is absolute! Saya hanya bisa menyarankan, bagi yang benar-benar ingin melakukannya, cukup lakukan saja dulu. Just do it! Jangan menanti diberi wejangan bijak seperti Mario Teguh, baru memulai menulis. Itu!! #ala-ala Mario teguh 

Seperti orang yang ingin belajar kungfu, butuh pemanasan dulu agar mampu memahami seperti apa teknik bertarung yang bakal dipelajarinya. Terlebih dahulu ia harus bangun pagi, mengangkat air naik-turun bukit, membersihkan halaman, memotong kayu, bahkan sampai memijat gurunya. Bagi yang tidak ikhlas belajar, bisa-bisa gugur hanya gara-gara payah kebosanan.

Sama saja dengan menulis. Beragam teori yang disampaikan sejatinya tak berguna sama sekali kalau tak diraktekkan. Menulis cuma butuh dilakukan kok bukan sekadar dibayangkan dan dibijak-bijaki. Just do it!

Sumber: google.com

“Apa saja yang bisa ditulis?”

Aduh! Apapun yang menjadi latar belakang menulis, itu merupakan hak prerogatif siapa saja yang ingin melakukannya. Tidak butuh suara banyak orang, apalagi DPR untuk memilih isi tulisan yang dikehendaki. Kita tidak bisa membatasi kebebasan ber-tulis-an setiap warga negara. Terkadang, membatasi tulisan itu hanya akan berakhir pada tulisan-tulisan yang tidak mencerminkan sosok pribadi penulisnya. Padahal, yang namanya tulisan, genre apapun, selalu mencerminkan seperti apa jiwa penulis itu sendiri, disadari atau tidak oleh yang menuliskannya.

Menulis, beda pula dengan menjual. Ketika hendak menjual, maka kita memikirkan keinginan para pelanggan. Tentunya, kita tak ingin pelanggan tak menyukai apa yang kita jual. Kita berhitung untung-rugi barang dagangan. Sedangkan menulis seharusnya dilakukan atas dasar kesukaan kita. Sepanjang dengan menuliskannya bisa memberi kepuasan pada batin, masa bodoh lah dengan orang-orang yang akan membaca tulisan tersebut. Eh, untuk tulisan yang menjual, ada saatnya ketika seseorang telah banyak berproses pada tulisan-tulisannya.

Apa pun bisa menjadi “bahan” yang menarik untuk ditulis. Rumah, tempat tinggal. Cerita perjalanan di tempat-tempat baru. Masa lalu yang menggugah. Kisah sedih di malam minggu. Tanggal-tanggal penting. Kekasih. Kekasih orang lain. Kekasih selingkuhan orang lain. Kekasih yang tak terlupa. Kekasih yang tak sampai. Kekasih yang balikan. Nah loh?

Bahkan, orang-orang yang berdalih tak bisa menulis karena terpengaruh badmood bisa mulai menulis dengan menceritakan alasan badmood-nya itu. Dan orang-orang yang beralasan tak punya waktu luang untuk menulis (tapi punya kemauan, katanya), bisa mulai menuliskan kesibukannya sehari-hari.

Nah, apa yang sulit dari menulis itu sendiri? Kalau memang sudah punya kemauan, ya mbok ya cukup dilakukan saja tah. Saya justru skeptis atas orang-orang yang di mulutnya berkata, “Saya mau sekali (pake banget) menulis,” sementara komitmennya belum bisa diterapkan secara konsisten. Kadang-kadang, banyak orang yang menulis hanya karena euforia sesaat. Saya banyak menemukan d an mempelajari perilaku orang-orang seperti itu.

Ketimbang terlalu banyak menekuri tulisan-tulisan teori seperti ini, ada baiknya segera menuliskan sesuatu – yah kalau berminat. Mungkin, sesuatu yang sedikit lebih panjang dan berkesan dibanding sekadar status, tweet, atau profile message. Kebanyakan teori hanya akan membuat seseorang semakin jauh berharap tanpa kepastian. Kalau kata AA Gym sih; mulailah dari diri sendiri, mulailah dari diri sendiri, dan mulailah dari sekarang! 

***

Bagi saya, menulis bukan hanya perkara menuangkan kata-kata indah di atas kertas atau monitor komputer. Tak perlu sekadar berlagak pamer atas pengetahuan yang dimiliki. Bukan semata-mata ingin tenar di mesin pencarian Google, apalagi di rak-rak perpustakaan kota. Pun, tidak sekadar menjadi lahan curahan hati dan keluh kesah di kala resah.

Bagi saya, tak peduli seberapa indah tulisan saya dikonsumsi orang lain, sungguh menyenangkan bisa mengabadikan perjalalanan hidup sendiri. Saya senang berbagi cerita. Berbagi pengalaman. Berbagi pelajaran lewatnya tanpa berusaha menggurui orang lain. Dan yang terpenting, saya cuma menuntut tak ingin dilupakan. Betapa berbahagianya ketika anak-cucu saya kelak mengetahui rupa perjalanan kakek-neneknya lewat tulisan-tulisan yang didongengkan menjelang tidur tiap malam.

“There will come a time when all of us are dead. All of us. There will come a time when there are no human beings remaining to remember that anyone ever existed or that our species ever did anything.” --The Fault in Our Stars

“Akan tiba masanya ketika kita setiap orang mati, tak terkecuali. Pada waktu itu, tidak ada satupun orang yang akan mengingat bahwa seseorang pernah ada atau bahkan pernah melakukan sesuatu.” --The Fault in Our Stars, novel

Manusia memang takkan pernah hidup selamanya di dunia ini. Selain budi yang dihargai, manusia selayaknya menyisakan karya untuk dikenang. Akan tetapi, warisan paling sederhana bagi kita yang tetap ingin dikenang, ya dengan meninggalkan tulisan untuk dibaca orang lain. Sesederhana itu.

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan ditelan sejarah” --Pramoedya Ananta Toer


--Imam Rahmanto--


Ps: Hm...tentang "menulis" yang lainnya ya?
#Writing is Healing
#Finding Forrester, Menulis dengan Hati
#Menulis Secara Sukarela
#Waktu Inspiratif Buat Menulis
#Tentang waktu dan Menulis
“Writing is healing”
Menulis itu menyembuhkan.

Saya menemukannya dua hari yang lalu, ketika salah seorang penulis menyampaikannya dalam acara yang diprakarsai oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Kampanye Gerakan Indonesia Menulis. Sejujurnya, meskipun penulis yang menjadi pembincang utama itu adalah salah seorang pendiri Penerbit GagasMedia, namun saya tidak begitu mengenal namanya dalam dunia kepenulisan; Fx Rudy Gunawan.

Ehem... Itu...itu...saya yang ada di sebelah sana itu.... (Foto: Andini) 

Saya menyadari, dunia ini tak selebar daun kelor. Apa yang saya kenal dan ketahui ternyata masih belum sepelemparan batu dari dunia dalam genggaman Tuhan. Tentang para penulis dan dunianya? Ah, masih ada banyak yang perlu saya telusuri.

Menulis itu menyembuhkan…. apa saja…

Beberapa penelitian membuktikan hal itu. Bahwa menulis bisa menyembuhkan tekanan traumatik seseorang. Orang-orang yang menderita trauma akan tertolong dengan kegiatan menulis itu. Kalau orang-orang yang menderita tekanan trauma seperti itu bisa tercerahkan, lantas mengapa tidak dengan orang-orang yang menderita tekanan galau-isme?

“Sebuah studi di Auckland menemukan bahwa latihan menulis memiliki banyak manfaat. Salah satunya adalah menyembuhkan luka batin usai trauma. Hal ini diungkapkan oleh pemimpin penelitian Dr Elizabeth Broadbent. Menurutnya, menulis dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh sekaligus bisa mempercepat penyembuhan luka akibat trauma.”

Proses penyembuhan terhadap trauma itu bisa dilihat pula melalui film Freedom Writers. Bagi saya, film itu benar-benar menginspirasi. Isinya bercerita tentang seorang guru bahasa Inggris Erin Gruwell yang ditugaskan untuk mengajar anak-anak muda yang berada di lingkungan “texas”, yang sarat dengan isu-isu “warna kulit” kala itu. Mereka memiliki kehidupan yang keras, tawuran antar geng, obat-obatan, dan sejumlah situasi sulit lainnya. Sebagian dari mereka memiliki masa lalu yang kelam terkait diskriminasi tersebut.

Akan tetapi, namanya guru, di kepalanya cuma terukir satu tujuan; mendidik. Nah, lewat kegiatan tulis-menulis diary itulah gurunya “menyembuhkan” luka-luka masa lalu sekaligus trauma anak-anak muda itu. Ia membuktikan kepada guru-guru lainnya yang sejak awal menganggap remeh usahanya mendidik siswa-siswinya. Hasilnya? Tentu saja, menulis benar-benar menyembuhkan…

Atau dalam novel Sheila, Luka Hati Seorang Gadis Kecil? Torey Hayden yang juga merupakan penulisnya memberikan terapi menulis pada seorang anak kecil berusia 6 tahun. Anak kecil ini mengalami gangguan mental dan emosinya selalu meledak-ledak hingga menakuti siapa saja. Bahkan, ia yang “diisolasi” di kelas Torey, kelas anak-anak disabilitas, pernah membakar seorang anak kecil berumur 3 tahun.

Sebenarnya ada banyak buku dan film (dan fenomena) yang mengindikasikan tentang khasiat menulis itu. Mungkin, hakikatnya dengan menulis, otak dipaksa untuk berpikir. Impuls-impuls dalam sel saraf otak saling berhubungan satu sama lain ketika kita menulis. Sadar atau tidak, menulis, berarti merekam jejak-jejak masa lalu. Setiap puzzle dalam ingatan berusaha dirangkai sedemikian rupa agar menjadi utuh dan bermakna. Bahkan hal-hal yang tak kait-mengait pun bisa menjadi bermakna ketika mulai dipelototi oleh seorang penulis.

Seseorang menulis, berarti ia akan kembali ke ‘memory’ masa lalunya. Mengingat, mengingat, dan mengingat setiap detail ke belakang kunci dalam otaknya. Cabang-cabang dalam otaknya saling terkait untuk membentuk pemahaman baru.

“Journalism is not medicine, but it can heal. It is not law, but it can bring about justice. It is not military, but it can help keep us safe,”  --Mary Mape--

Hal yang sama berlaku pula bagi para pekerja media. Mereka yang benar-benar sering menyibukkan dirinya dengan menulis berita, autodidak akan tersehatkan. Menulis, pada bagian apapun, terkhusus tentang kehidupan, akan benar-benar memberikan efek yang menyembuhkan. Maka berbahagialah para wartawan-wartawan (kampus). Haha…

“Saya biasanya menulis status di facebook,”

Saya agak risih mengelompokkan tulisan yang satu itu ke dalam tulisan-tulisan “penyembuh”. Nyaris semua orang kini telah menikmati perkembangan sosial media. Tulisan-tulisan “status” di akun sosial itu menurut saya hanyalah sebatas penyaluran “narsisme” semata. Sekali-kali, seseorang ingin dilihat hebat oleh orang lain. Sekali waktu, orang ingin pula dikasihani oleh orang lain dengan menuliskan keluh-kesah-resah-gelisah-duka-lara-galau. Come on, jangan terlalu banyak mengumbar kehidupan di akun-akun sosial seperti itu. Pun, jangan menjadi orang yang terlalu mudah dibaca lewat akun-akun pertemanan itu.

“Jangan coba menjadi diri orang lain ketika menulis. Jadilah diri sendiri.” pesan Mas Rudy dalam pemaparannya.

Ya, prinsip menulis pun menurutnya tak pernah berbeda dengan hal-hal lain dalam hidup. Ia seharusnya tetap berjalan dalam kondisi apapun. Sesibuk apapun, luangkan waktu untuk menulis, sesedikit apapun. Tentu saja, di luar dari meluangkan waktu menulis status-status aneh-bin-galau di sosmed.

“Saya biasa menulis, tapi di buku diary,” ujar salah seorang teman saya.

Hmm…adalah hal wajar ketika menulis diary untuk konsumsi pribadi. Dari sana pula seseorang terkadang menemukan “obat”nya sendiri. Saya terkadang senang (senyum-senyum sendiri) melihat orang lain yang menjadikan blog sebagai ladang tulisannya, bahkan diary-nya. Semangat ya buat siapa saja yang berpacu dengan tulisannya!

Saya menulis. Menulis apa saja yang menurut saya menarik. Disamping bombardir kewajiban menulis berita di lembaga pers kampus saya, sekali-kali saya butuh penyaluran tulisan-sukarela-bukan-berita. Yup, benar-benar sukarela tanpa ada paksaan dan tekanan dari siapapun dan apapun…



--Imam Rahmanto--
Older Posts

Subscribe Us

About


Imam Rahmanto

Selamat berkunjung di rumah sederhana saya. Tempat saya bisa pulang dengan cara paling menenangkan.



@cappuccino_time
Created By SoraTemplates | Distributed by GooyaabiTemplates