2# Hanya Menikmati

Februari 05, 2014

Baca Juga

Saya terbangun dengan perasaan agak kesal. Semalam, bukannya menyelesaikan proses editing artikel berita yang menunggak beberapa hari ini, saya justru tertidur sebelum waktunya-benar-benar-tidur. #argh
Untuk itu, saya menghabiskan waktu setengah hari hanya untuk editing berita yang belum terkumpulkan seluruhnya. Urusan mata kuliah yang diprogramkan, saya telah menuntaskannya kemarin. Tersisa menunggu jadwal kuliah yang mungkin akan keluar pekan depannya. Semangat kuliahnya!

Untuk sepekan ini pula, nampaknya saya harus bekerja "sendiri". Saya tidak tega harus menambah beban rekan-rekan saya yang sementara melangsungkan acara diklat jurnalistik abu-abu, khusus pelajar. Saya yang bertanggung jawab pula di dalamnya, sedikit-sedikit harus mampu mencuri waktu, menuntaskan tunggakan demi tunggakan. Mengejar ketertinggalan.

Sambil berpikir sedikit-sedikit tentang skripsi, saya akan menundanya untuk hari ini. Kepanitiaan sedang berlangsung. Deadline sedang mengejar.

Sudahlah, sembari menanti jadwal kuliah ditelurkan, saya akan mengurus tabloid dan "keluarga" saya terlebih dahulu.

***

Ada wajah-wajah sumringah. Ada wajah-wajah yang ditekuk dan tak menampakkan sebaris pun giginya. Ada wajah-wajah yang mengumpat. Ada wajah-wajah yang menahan amarah. Dan ada yang tak berekspresi sama sekali. Hanya sedikit yang menikmati segala hal yang dijalaninya, setidaknya tersenyum-senyum, dalam kepanitiaan ini, Diklat Jurnalistik Abu-abu.

Empat tahun bergelut di dalam lembaga jurnalistik ini, saya memaklumi muka-muka demikian. Saya pernah mengalaminya. Bagaimana saya bersama teman-teman lain mempertaruhkan segala prioritas lain demi berlangsungnya acara. Bagaimana saya terkadang harus berkonflik dengan teman-teman lainnya. Pikiran-pikiran lelah kerap meloloskan segala persepsi buruk yang ingin kita bangun di atas permukaan mata. Saya memakluminya. Mereka, panitia-panitia yang tak lebih adalah adik-adik saya, juga manusia biasa.

"Senyum dulu, dong," goda saya kepada salah seorang teman perempuan yang sedari tadi menekuk mukanya. Saya "menggondol" sandalnya. Ia memaksa saya mengembalikannya.

"Mbok ya, muka jangan ditekuk-tekuk begitu tah. Hahaha...! Nanti saya tidak bakal kembalikan loh," goda saya lagi. Mukanya semakin ditekuk, dan sungguh membuat mood-nya kian memburuk. Kalau kata cerita, perasaan buruk yang semakin didramatisir hanya akan menenggelamkan perasaan.

Saya pun harus belajar lebih banyak melapangkan diri. Tahu tidak, saya benci mendramatisir perasaan sendiri karena sudah cukup banyak mengalami mudaratnya, bertaruh dengan perasaan sendiri, karena belum mampu memenangkannya.

Untuk hari pertama, memang banyak konflik yang akan berlangsung. Sedikit, tapi membekas. Namun, seperti kata pepatah, memulai adalah pekerjaan tersulit. Ketika kita sudah mampu memulai, maka setengah pekerjaan sudah selesai. #just believe it!

Sembari "mengganggu" teman-teman yang sedang istirahat sejenak selepas pekerjaannya, saya mengacak-acak kamera yang tergeletak. Menyetelnya. Memutarnya. Mengatur timer untuk 10 second. Suara jepret disertai suara timer berhitung mundur. Satu-dua kilatan blitz memberikan sinyal untuk berhenti berpose di depan backdrop. Momen dibekukan.

"Saya juga, saya juga ikut!" beberapa suara menyeru. Hahaha....bolehlah melepas penat sementara waktu. Amnesia temporer untuk skripsi. Senyum, itu akan menular.


Cheese!! (Foto by: timer)


#100dayS
--Imam Rahmanto--

You Might Also Like

0 comments