facebook twitter instagram spotify youtube
  • Home
  • Perjalanan
  • Jendela
  • Habis Baca
  • Saya

Cappuccino

"Hei, bagaimana dengan pacarmu? Artinya kamu menduakan pacarmu dong?"

"Ah, kamu kalau ke rumah pasti mau ketemu dia. Halah....nanti saya pertemukan deh,"

Anak-anak Baru Gede sedang riuh berdebat di atas mobil pete-pete. Mereka saling menertawai satu sama lain. Membahas hal yang remeh-temeh hingga yang tidak pantas diperbincangkan anak di bawah umur, semisal: pacaran. Ah, anak zaman sekarang terlalu berkiblat dengan tivi jaman modern.

Saya bukannya terganggu, malah diam-diam menikmati perbincangan itu. Obrolan dari anak-anak yang masih bebas menentukan jalan masa depannya. Lucu, meskipun tak jarang membuat saya mengelus dalam diam.

Angkutan umum yang saya tumpangi harus berputar dari jalur resminya. Ia terpaksa mengantarkan seorang penumpang ke daerah pemukiman pinggir kota. Berlawanan dengannya, saya harus melipir ke pinggir stadion, seperti biasa, bertemu dengan teman lain dan bersiap mengolah bahan liputan.

Sementara itu, 6 orang siswi (seingat saya) itu salah naik angkutan. Keluar dari sekolah mereka tadi, seharusnya mereka mengambil jalur ke arah tujuannya di terminal di ujung kota. Bukan sebaliknya. Mau tak mau, sang supir tetap mengangkut mereka demi mendapat sejumlah rupiah dari sekelompok ABG itu. Ia mengiyakan saja trayeknya, dan kemudian langsung berputar balik seusai mengantarkan saya tepat di depan stadion.

Ada yang menyenangkan mendengar perbincangan antar-siswi itu. Sembari tersenyum-senyum sendiri, saya menyimak perbincangannya. Hiburan tersendiri dari pengapnya kota Makassar.

"Oiya di, saya baru lupa!"

"Lupa? Ingat keleuss!" jawab yang lainnya membenarkan yang disambut tawa serentak. Plesetan yang baru saya dengar.

"Itu loh yang di grup itu, ada kicker, bagaimana itu......," pembicaraan yang juga saya tak mengerti arahnya.

"Oh...kickers itu yang di iklan wafer,"

"Snickers!" disambut dengan tawa lagi. Riuh di atas mobil.

"Oi, ini bukan kelas. Jangan ribut begitu," tegur seorang lainnya. Tapi tetap saja keramaian itu berjalan melintas kota.

***

Tiga jam sebelumnya...

Siang ini, saya baru saja berkunjung ke kampus. Meniti sisa-sisa kehidupan dari kampus. Saya ingin menyibak aromanya, yang mungkin tak lagi dibaui oleh teman-teman saya. Ah, kami, generasi yang mulai terlupa. Sepi.

Sebuah undangan mendarat di tangan saat saya menanyakannya pada pegawai kampus. Yah, undangan ini yang bakal mengakhiri kisah saya di kampus. Setelah sekian lama, saya bakal tak berjumpa lagi dengan kesibukan mengejar SKS. Kampus juga bakal tertinggalkan dari ingatan. Hanya tersisa keping-kepingnya saja yang terbenam jauh...mungkin jauh sekali.

Kata teman, "Oiya, telepon saya saja ya kalau kau mau ambil punyamu."

Lantaran bosan menunggui kantor dharmawanita buka, saya menitipkan nota pembayaran padanya. Nota itu untuk ditebuskan pada sebuah pakaian formal terakhir penanda kelulusan saya. Ia menelepon sebagai pertanda sudah mendapatkannya. Oiya, semoga teman saya itu juga secepatnya menemui ujian akhirnya.

Kini, di mata saya, kampus sudah sepi. Tak lagi seramai dulu. Pelan-pelan, saya menyadari, keramaian adalah perihal hadirnya orang-orang yang dikenal dan mengenal kita. Selalu berlaku dua arah.

***

Berhitung hari, saya akan melepas gelar sebagai mahasiswa. Sebenarnya sudah sejak beberapa bulan lalu saat saya diyudisiumkan. Namun seremoninya baru akan berlangsung dalam waktu dekat ini.

Hal itu otomatis menjadi penanda saya bakal meninggalkan waktu-waktu muda menjalani "sekolah" formal. Saya akan menanggalkan sifat-sifat kekanakan yang tak dibutuhkan lagi. Seharusnya saya sudah mendewasa satu level lebih jauh lagi. Iya, seharusnya...

Saya akan merindukan saat berkumpul dengan teman sekolah, belajar kelompok, bergosip tentang "siapa-suka-siapa", bercerita guru paling killer, pergi bareng, hang-out bareng, pulang bareng, atau semua pekerjaan dan kegembiraan yang dilakukan ramai-ramai.

Di dunia yang berbeda, semuanya juga ikut berubah. Kalau dulu kita yang selalu berharap dipenuhi kebutuhannya, maka kini kita lah yang bakal memenuhi kebutuhan keluarga. Kalau dulu kita yang selalu dikuatkan keluarga, maka kita berganti menjadi penguat keluarga. Semua bakal berubah, tak lagi seperti saat kita umur belasan dan masih bebas merapal kiasan tak penting.

Masa kita menghadapi dunia di luar "pagar" pendidikan tak lagi sama. Kita akan dihadapkan pada momen yang lebih kompleks. Kita tak bisa lagi sekadar tertawa tanpa alasan seperti yang kerap kita lakukan di masa sekolah. Seperti anak-anak perempuan yang saya temui di angkutan kota itu. Segala hal mulai butuh alasan. Tertawa; apa yang kau tertawakan?

Suatu hari kelak, kita akan merindukan masa-masa bebas itu.

Saya mendapati seorang teman yang malam ini sedang membutuhkan pelukan dari ibunya. A hug. Ia merindukannya. Sementara ia sadar, kehidupannya tak lagi seperti anak kecil dulu. Mungkin, sewaktu kecil ia banyak mendapat "big hug" dari ibunya. Rengkuhan lembut menyembuhkan segala luka.

Lantas, kita kemudian sadar, waktu terus berjalan. Dalam persepsi keterbatasan manusia, ia melaju. Dalam kekuasaan Tuhan, waktu justru berhitung mundur. Masa kecil mulai menghilang selepas sekolah, selepas kuliah, selepasnya lagi, selepasnya lagi, selepasnya lagi, hingga jiwa kita yang terlepas dari dunia ini.


--Imam Rahmanto--
Apa yang terjadi belakangan ini adalah di luar kehendak saya.

Dua hari yang lalu, saya telah selesai menggelar ujian akhir. Seharusnya, beberapa jam setelahnya dilanjutkan dengan yudisium alias penyematan gelar baru. Tentang gelar itu, aya tidak benar-benar menginginkannya, sesungguhnya. Saya hanya ingin keluar dari kampus dengan baik-baik. Itu saja.

Akan tetapi, salah satu penguji nampaknya mengusulkan agar yudisium saya ditunda dulu hingga merampungkan revisi atas skripsi saya. Sungguh malang. Padahal, kebanyakan mahasiswa lainnya, tak perlu menunggu hingga revisi dulu baru bisa di-yudisium-kan. Pada momen kebanyakan, revisi dikerjakan setelah yudisium. Lah, saya? Nampaknya, saya berhasil benar menjadi unik dan “satu-satunya”. Dasar nasib.

“Tak usah berkecil hati,” kata salah seorang pembimbing.

Saya memang tak pernah berkecil hati. Saya sudah terlatih untuk patah hati. #ehh. Kecewa, maksudnya. Dalam beberapa hal, memang di luar kuasa kita sebagai manusia. Hasil itu akan menjadi refleksi sejauh mana usaha abstrak dan material yang telah kita lakukan.

Ujian yang seharusnya berlangsung jam sepuluh pagi, nyatanya harus ditunda gegara kedua pembimbing ujian saya absen. Salah satu pembimbing baru bisa hadir di kampus menjelang Ashar. Terpaksa, daripada ditunda lagi, saya memaksakan diri ujian lewat dari jam empat. Sungguh malang. Sudah, saya katakan, saya terlatih pat…eh…kecewa.

Setidaknya, saya telah selesai dengan ujian meja. Tak perlu mengulang lagi. Hanya tersisa revisi dan yudisium.

Karena mengkhawatirkan revisi ini, saya agak ragu untuk melanjutkan pekerjaan yang sejak seminggu lalu bertengger di kepala. Bahkan teman-teman juga seenaknya sudah melabelkan pekerjaan itu pada saya. Ckck..

Setelah “disidang” oleh redaktur akibat ulah bandel saya sebagai calon reporter, saya memutuskan hengkang dari pekerjaan ini. Saya tak perlu berpikir terlalu panjang. Suasana pekerjaan akibat “kebandelan” saya itu pada kenyataannya sudah menyulut  kejengkelan beberapa redaktur senior. Hm…benar kata guru saya dulu. Kalau mau jadi orang terkenal, cukup jadi salah satunya; terpintar atau terbandel.

“Sebenarnya hal semacam itu bisa ditaktisi lah. Apalagi kan kau juga sudah selesai ujian meja,” tawar salah seorang redaktur.

Akh, pada banyak perjalanan ini, saya telah belajar untuk memasang prioritas. Beberapa hal yang bertumbukan berpengaruh pula pada perjalanan akademik saya. Setidaknya, saya hanya ingin melangkah keluar dulu dari kampus, secara baik-baik. Selepas itu, barulah saya boleh memasang banyak target lagi.

Seandainya saja saya bisa menggunakan jurus Kage Bunshin-nya Naruto ya, mungkin semuanya bakal lebih mudah. Ada banyak hal di luar sana yang ingin saya lakukan. Sejauh ini, nampaknya hanya pikiran saja yang bisa dilipatgandakan.

Nah, selanjutnya, mari mengerjakan beberapa hal yang tertunda. Firstly, tarting to smile…


Ps: lagu dari One Republic, Counting Star, sedang mengalun dari notebook teman saya. Selain karena, sepagi ini, sembari saya menunggu balasan pesan dari seseorang.


--Imam Rahmanto--
Aku rindu…

Pada akhirnya, saya akan mencapai "pos pemeriksaan terakhir" sebelum membuka pintu keluar dari dunia kampus. Jelang beberapa hari ke depan, saya akan merasainya. Yah, merasainya sebagai sesuatu yang selama ini diidam-idamkan sekaligus ditakuti setiap mahasiswa seperti kami.

“Kamu mau ujian tutup?”

Seorang dosen seketika bertanya saat melihat saya melintas di koridor jurusan sambil membopong tumpukan skripsi. Sambil cengengesan, saya hanya menjawab singkat, “Iya, Pak. Jumat ini. Hehe…”

“Wah, cepat sekali ya,” lanjutnya lagi agak keheranan. Mungkin, ia agak terkejut, lantaran baru dua bulan yang lalu saya menyelesaikan ujian proposal yang juga ikut dihadirinya. Dosen muda itu hadir sebagai peserta, yang tak ketinggalan melemparkan pertanyaan demi “menguji” saya. Maklum, ia tahu latar belakang saya sebagai seorang pegiat pers kampus.

“Mm…ya begitulah, Pak.” Sementara dalam kepala saya berpikir, “Memangnya itu tergolong cepat ya?”

“Memang. Karena ujian proposalmu baru dua bulan yang lalu. Itu tergolong cepat, dibanding yang lainnya,” jawab seorang teman ketika saya langsung menanyakannya.

Saat memulai, untuk mengakhiri.. (Foto: ImamR)

Hm…kalau dipikir-pikir, beberapa hal memang berjalan begitu lancarnya. Beberapa rencana yang saya patok cukup ampuh untuk ngebut di pengerjaan skripsi ini. Saya belajar dari teman-teman yang pernah menjalaninya. Banyak bertanya, banyak menyimak solusi. Pekerjaan seorang wartawan memang lebih banyak bertanya. Itu menjadi satu-satunya “senjata” yang pantas kami miliki, bukan? 

Kalau saya tak mampu "bekerja" lebih baik dan ekstra, apa pula yang membedakan saya dengan teman-teman mahasiswa original lainnya? Sudah sepatutnya latar belakang saya, yang sempat menyita waktu bertahun-tahun itu, bisa menjadi pembeda dan "kelebihan" dari perjalanan mahasiswa mainstream lainnya.

Dan tentang studi akhir ini, memang sudah menjadi prioritas di atas segalanya. Demi mengakhirkan studi, saya harus rela “menutup” pintu segala kemungkinan pekerjaan yang menghampiri. Saya pernah mengalami, the comfort zone ketika kita sudah mencicipi pekerjaan. Zona nyaman itu justru melenakan, dan menggantikan prioritas studi itu. Yeah, namanya bekerja atas dasar passion itu memang selalu menyenangkan.

Mungkin, hanya satu-dua side-job menjadi pondasi bagi saya menyokong penyelesaian studi ini. Maklum, kata orang, jelang tamat kuliah, banyak pembiayaan yang mesti dipenuhi. Saya serasa berkejaran dengan waktu. Pun, pikiran berlaku demikian. Di satu sisi memikirkan urusan skripsi, di sisi lain memikirkan cara untuk mengongkosinya. Haha... Serius, saya nyaris ngos-ngosan gegara itu.

Saya (atau siapa pun) semestinya mulai memahami prioritas. Kewajiban. Kepantasan. Tuntutan. Tugas. Tanggung jawab. Atau apa pun orang-orang menyebutnya. Segala hal yang tak berhubungan dengan kewajiban, ya mesti dikesampingkan dulu. Just focus on it!

“Ingat, pelatihan minggu ini. Semua reporter wajib datang. Dimulai hari Senin. Jangan terlambat!”

Akh, maaf. Saya harus menyelesaikan tugas akhir dulu sebagai mahasiswa tingkat akhir. Mengenai sanksi atas absennya saya, itu belakangan.

“Jadi, nanti Anda yang akan jadi penulisnya. Kami sudah kontrak dengan media itu. Terbitnya akan dua kali sebulan.”

Baiklah. Tapi, dalam rentang seminggu ini saya masih belum akan mengajukan “proposal”nya. Lagipula, tak ada deadline pengajuannya kan, Bu?

“Kalau bisa dipermak sebagus-bagusnya. Secepatnya ya. Orang-orang tak sabar membukanya.”

Pasti! Secepatnya, usai tetek-bengek skripsi ini, saya akan mengerjakannya. Anggap saja saya “berhutang” pelayanan. Terima kasih untuk sokongan materinya.

“Kapan pulang kampung? Ingat, kau janji untuk ke sekolah mau bangun ekskul itu.”

Emm…semoga sempat menunaikannya. Apalagi, selepas menyandang gelar nanti, saya harus langsung terjun ke dunia nyata berikutnya; pekerjaan.  Tapi, saya benar-benar penasaran ingin membantu dan mengembangkan pers di sekolah. Sejauh ini, perasaan challenged saya telah diaktifkan.

“Cepatlah kau selesai. Kita mau backpacking, kan?”

Hahaha…semoga ada waktu untuk berjalan-jalan. Untuk yang satu itu, sungguh menyenangkan bisa menyegarkan kepala yang terlanjur suntuk.

“Kapan pulang, nak? Kami sudah rindu…”

Rumah memang akan selalu menjadi tempat pulang saya. Tak ada yang lain. Maka biarkan saya menyelesaikan benih kebahagiaan kalian dulu, Pak, Bu. Percayalah, anakmu ini akan selalu menunaikan janjinya untuk kembali.

Maka mendoalah...

***

Aku merindu…
Kebebasan atas hidup yang siap merengkuhku
Tangan-tangan yang siap dijabat dan digenggam
Wajah-wajah yang siap dicumbu dan dipeluk

Aku (akan) pulang…
Pada rumah yang selalu terbuka
Untukku,
Dan “untuk semua orang”


--Imam Rahmanto--

Verbatim oh verbatim.

Saya baru mengenalnya seminggu belakangan. Sebenarnya, dulu, saya pernah mendengarnya. Hanya saja, sekarang baru menyadari bahwa dalam jenis penelitian kualitatif, melampirkan verbatim adalah hal yang cukup penting.

“Apa itu verbatim?” tanya seorang teman.

Mungkin, orang-orang tak mengenalinya secara nama. Hanya tahu perihal melampirkan draf mentah wawancara yang ditulis kata per kata, berdasarkan wawancara yang sesungguhnya. Orang sering menuliskannya, mengerjakannya, hingga meramunya, namun tak pernah tahu (atau mau cari tahu) apa nama yang sesungguhnya. Akh, perangai orang Indonesia memang begitu: ikut-ikutan, padahal tidak tahu esensinya. 

“verbatim /ver•ba•tim/ /vérbatim/ a kata demi kata; menurut apa yg tertuang dl tulisan.”

Pengertian di atas berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Saya cantumkan, biar bahasa saya agak (sok) ilmiah.

Menuliskan ulang percakapan wawancara penelitian sungguh melelahkan. Meskipun tak jauh berbeda dengan menuliskan ulang percakapan dalam wawancara untuk kepentingan liputan berita, namun sungguh menguras waktu. Lucunya, di bagian saya melambatkan kecepatan audio agar bisa diketik secara sempurna. Suara saya, maupun suara narasumber sebagai responden, agak mirip dengan suara tersangka bakso boraks atau berformalin di tivi-tivi yang suaranya disamarkan. Hahaha.. 

Para jurnalis pemula juga terkadang menulis semi-verbatim sebelum menulis beritanya. Dalam menuliskan liputan atau berita, percakapan yang dituangkan hanya seperlunya saja. Percakapan yang tidak penting tak perlu dituliskan dalam outline mentah tulisan. Sangat berbeda dengan verbatim sebagai lampiran skripsi (ecieee…sudah lantang meneybutnya skripsi), yang harus dituliskan kata demi kata.

Intinya, semua yang terhimpun dalam percakapan harus dituliskan. Tak peduli hanya menuliskan kata “Ohhh…” atau “Ehh…”, bahkan mimik berpikir atau melakukan sesuatu ketika percakapan sementara berlangsung.

Ternyata dalam penelitian kualitatif, verbatim cukup dibutuhkan. Apalagi penelitian yang berkaitan dengan fenomena sosial-kemasyarakatan. Bukan sekadar penelitian yang meluangkan waktu mengajar (lagi) di sekolah loh.

“Memangnya jurusan apa? Kok bisa ambil judul seperti itu?” orang-orang biasanya bertanya tentang judul skripsi saya, yang sebenarnya tak berkaitan langsung dengan kependidikan.

Entahlah. Mungkin, keberuntungan menyertai saya. Dulu, didorong rasa ingin tahu dan kejenuhan melihat jenis-jenis skripsi di jurusan yang “itu-itu saja”, maka saya mencoba peralihan lain. Salah satunya, judul penelitian (skripsi) yang saya ajukan lebih condong ke fenomena sosial, meskipun masih dalam ranah kependidikan.

Dan ingat, fenomena sosial-kemasyarakatn bukan hanya milik mahasiswa ilmu politik dan sosial. Fenomena kependidikan juga menjadi bagian dari sosial-kemasyarakatan kita.

Mahasiswa cenderung di-setting dengan mindset judul penelitian yang selama ini banyak beredar di jurusannya. Apa yang dilakukan oleh banyak orang, maka individu cenderung akan mengekor kesana. Menganggap hal itu satu-satunya yang benar. So poor. Padahal, kalau kita mau melihat keluar, out of the box, ada banyak hal yang bisa dijadikan bahan agar kita “berbeda” dari yang lain. Come on! Be Unique or The First!

Yah, sekadar saran saja bagi teman-teman mahasiswa lainnya. Terkhusus yang sedang menyelami bidang kependidikan. Kalau mencari judul skripsi, kalau bisa mbokya yang “keren-keren” tah. Biar perpustakaan punya ragam judul yang variatif pula. Apa tidak bosan dengan skripsi yang terkesan “itu-itu saja”? Sementara sebenarnya ada banyak bahan penelitian yang bisa diajukan demi memenuhi beban “sekadar lulus” kuliah itu. Look out!

Nah, kini, saya sedang berpacu dengan segala hal yang berkaitan dengan penyelesaian studi. Mulai dari pengurusan ujian akhir, pemenuhan syarat kelulusan, hingga penulisan hasil penelitian yang menjadi lanjutan Bab IV di skripsi.

Tahu tidak, saya menulis bagian itu dengan cukup luwes. Layaknya ketika saya dulu sedang menulis liputan dan mengolah riset berita. Bedanya cuma di sisi bahasa dan penyajiannya. Kalau berita, isinya dibalut bahasa populer. Kalau skripsi, harus benar-benar berbahasa (sok) ilmiah, kaya data-data mentah, dan sedikit berhitung (banyaknya) halaman. Hahaha…sesekali saya juga menyisipkan opini pribadi. Yeah!


--Imam Rahmanto-- 
Yang namanya mahasiswa tingkat akhir itu, nyeseknya ada banyak rasa. Salah satunya ketika ditanya, “Semester berapa?”, dan saya hanya bisa mengingat-ingat sudah semester berapa sekarang? Saya merasa amnesia-ringan.

“Sudah semester berapakah saya sekarang?”   

Dan jawabannya, entah. Satu-satunya hal yang lekat dalam ingatan: saya sudah semester akhir!

Sudah tak penting lagi nominal semester yang sekarang saya emban. Misi paling penting untuk bulan ini, ya menyelesaikan tunggakan tugas akhir studi. Tugas akhir yang sementara on going dalam waktu dekat, kini sudah tiba di tahap penelitian. Sedikit lagi, saya akan sampai pada tahap selanjutnya; ujian meja. Kalaupun penelitiannya berjalan dengan lancar.

Buktinya, dalam agenda #Program24hari yang telah disusun, saya baru bisa menyelesaikan satu wawancara dengan narasumber (baca: subjek penelitian). Sementara masih ada 29 orang lainnya yang mesti diwawancarai. Kebayang tidak, waktu yang harus saya sisihkan demi mewawancarai mereka satu per satu?

Pengumpulan data yang melalui proses wawancara terbuka tersebut sebenarnya bukanlah tanpa alasan. Jauh hari sebelumnya, saya telah menyiapkan kuesioner (beserta pilihan jawaban tertutupnya) untuk dibagikan dalam proses penelitian nanti. Akan tetapi, di sisi lain, pembimbing – yang tahu bahwa saya merupakan demisioner persma (pers mahasiswa) – mengusulkan untuk mengumpulkan data dengan teknik wawancara terbuka.

“Lebih bagus ketika kamu melakukan wawancara terbuka saja. face to face. Kau bisa menggali informasi lainnya yang lebih spesifik,” usulnya.

Sebelumnya, saya juga lebih senang ketika mengumpulkan data dengan cara demikian. Sebagaimana passion yang telah saya bangun sejak dulu. Pemilihan judul skripsi pun berdasarkan kemampuan dan ketertarikan saya sebagai seorang persma. Unik. Punya koneksi. Berbeda dari judul-judul mainstream lainnya: Pengaruh… Perbandingan… Komparasi… Efisiensi… Analisis… Efektivitas… Peningkatan… Argh, sungguh judul yang berat!

Yowis, biar agak berat, mbok ya dijalani saja. Kalau ada kemauan, pasti selalu ada jalan. #justbelieveit. 

Saya bersyukur, hingga kini diberikan beberapa kelancaran dalam pengelolaan tugas akhir itu. Sedikit demi sedikit saya menyelesaikan beberapa pekerjaan atau persyaratan yang sudah bisa dikerjakan sejak dini. Tak perlu mengambil pasca penelitian. Yang namanya ngebut, ya harus mengambil segala kesempatan yang dimiliki.

Bagian-bagian dari skripsi, semisal kata pengantar, halaman judul, halaman pengesahan, motto dan persembahan, daftar isi,  daftar riwayat hidup, semuanya sudah rampung. Beberapa persyaratan pendaftaran ujian meja juga sudah mulai saya persiapkan dari sekarang. Saya tak peduli kalau penelitian saya masih sementara berlangsung. Lagipula, hal-hal semacam itu bisa dikerjakan tanpa menunggu rampungnya pengumpulan data. Sambil menyelam minum air. 

Yeah, saya tinggal menaklukkan penelitian ini. Penelitian yang akan cukup menguras tenaga dan pikiran. Jangan pernah berpikir bahwa membuat judul skripsi yang “beda-dari-yang-lain” itu mengenakkan. Beberapa bagian harus dibuat a la pemikiran sendiri.

“Jadi, bagaimana caramu nanti analisis datanya?” tanya beberapa orang yang takjub penasaran dengan judul skripsi saya.

Hm..dipikirkan lain waktu saja. Paling penting, saya cukup bergerak saja mengiringi watu yang semakin melaju. Move. Move. Move. Saya tak mau lagi ketinggalan hidup yang seharusnya mulai dicicipi dari sekarang. Ini sudah 2015, Men!

Screenshot by film The Secret Life of Walter Milty. 


--Imam Rahmanto-- 
Hujan baru saja mengguyur kota ini tiada henti. Sambung-menyambung. Di momen tertentu hujan itu menderas dan tak memperbolehkan siapa pun melintas di bawahnya. Di momen lainnya, hujan itu menderai menjadi rinai, namun tak mereda.

Hujan nampaknya sedang melampiaskan kerinduannya pada bumi. Seingat saya, dua-tiga hari ini teriknya mentari memang mengambil alih posisinya di bumi. Sedikit memberikan waktu bagi hujan untuk menabung rindu, lantas menumpahkannya kemarin.

Saya sedang berada di kampus ketika hujan berderai. Ada banyak hal yang kemudian harus dilanjutkan, mengingat status sebagai mahasiswa tingkat akhir. Terlalu lama saya berdiam, dan berperang sendiri dengan pikiran-pikiran bodoh lainnya. Bukankah rentang satu bulan selepas ujian proposal itu lama sekali ya?

Seperti inilah yang dinamakan rehat. Akh, beruntungnya lagi, saya cepat tersadar. Ada banyak wake up call. Teman-teman seangkatan, yang pernah mengenyam bangku sekolah yang sama, bergiliran menyelesaikan studinya. Lainnya lagi, sudah berumah tangga. Saya? Masih disibukkan pikiran sendiri akan kemana selepas ujian proposal ini. Hah!

Mengerjakan apa yang bisa dikerjakan, mungkin sepertinya menjadi pilihan untuk mempercepat jam terbang saya di kampus. Target bulan ini tak terkejar, seharusnya bisa bergeser ke bulan berikutnya. Paling tidak, saya sudah merencanakan. Katanya, kalau gagal merencanakan berarti gagal pula mengerjakannya. Yeah, kita, manusia, memang hanya bisa merencanakan tanpa tahu bahwa Tuhan lah yang selalu menentukan. Plus, orang lain yang mengomentari.

Saya masih berada di kampus sesaat bentrokan mahasiswa nyaris dimulai lagi. Entahlah. Saya juga heran melihat kebiasaan kampus saya, yang saban minggu (nyaris) bentrok. Hujan mungkin saja berhasil melerai kedua fakultas yang sudah siap saling lempar itu. Sebagaimana hujan pula yang menahan saya berjam-jam di beranda masjid. Di dalam masjid sedang berlangsung kajian, sementara saya hanya berdiri memandangi hujan dengan telinga yang terpasang earphone bervolume maksimal.

Saya memandangi orang-orang yang mempercepat langkahnya menghindari hujan. Ada yang berjalan di bawah naungan payung. Sepayung boleh berdua. Di atas motor, orang-orang mengenakan mantel tak tertebus air. Laju motor dipercepat demi menghindari hujan yang nampaknya tak ingin berhenti barang sebentar. Di pinggir bangunan-bangunan yang menjanjikan keteduhan, orang menunggui hujan. Hujan, kapan kau mereda? Ada banyak urusan hari ini? Begitu kata hati masing-masing, mungkin.

Lewat pukul lima, hujan mulai merinai dan membolehkan saya beranjak dari masjid. Saya harus berjalan pulang. Hujan, tak apalah. Hujan seperti ini tak akan pernah menyakiti saya. Sejatinya, manusialah yang membuat-buat sakitnya dan menyalahkan hujan. Hm…hujan sedramatis dan seromantis ini dikatakan membawa penyakit?

Apa guna kesempatan jika tak digunakan. Saya sudah cukup lama beristirahat dari pekatnya kepala. Ini sudah sampai pada akhir tahun. Meski kampus bakal diliburkan lagi (pastinya), sudah saatnya saya berjalan lagi. Mengerjakan apa yang memang bisa dikerjakan. Berjalan lebih jauh, kata Banda Neira, karena hujan hanya di mimpi…

Now playing: Banda Neira - Berjalan Lebih Jauh




--Imam Rahmanto--
Older Posts

Subscribe Us

About


Imam Rahmanto

Selamat berkunjung di rumah sederhana saya. Tempat saya bisa pulang dengan cara paling menenangkan.



@cappuccino_time
Created By SoraTemplates | Distributed by GooyaabiTemplates