Membangun dan Menghancurkan

Januari 09, 2013

Baca Juga

Benar kata pepatah, “Memperbaiki itu jauh lebih sulit daripada merusak atau menghancurkan,” Dan, saya tahu bagaimana persisnya...

Nyaris lebih setahun kemarin, saya benar-benar merusak kesempatan yang saya miliki. Saya menyia-nyiakannya untuk sesuatu yang (mungkin) bagi sebagian orang tak berarti apa-apa. Tapi bagi saya sangatlah berarti. Hampir setahun lamanya saya berkubang dalam sedikit kealpaan menjalani kuliah.

Prosesnya sekarang adalah saya nampak harus kembali menyesuaikan diri dari awal. Sesuatu yang telah lama saya abaikan. Ketika saya mulai serius ingin mempertahankannya kembali, sangat sulit untuk membangun nuansanya. Mulai dari membangun mood, mengusir rasa malas, atau memaksakan diri untuk berdiri. Ada-ada saja yang bisa membuat saya menyerah. Semua itu berlangsung sangat lama, lama sekali. Bahkan saya tak bisa langsung merekonstruksi ulangnya sekaligus dalam waktu yang singkat.

Ibarat televisi (atau alat-alat lainnya), waktu yang dibutuhkan untuk memerbaikinya tidak bisa sedrastis ketika membongkar atau merusaknya. Nah, hal yang sama berlaku pula pada kehidupan kampus saya. Saya yang dulu mulai terbiasa dengan kealpaan saya, kini agak sulit kembali menyesuaikan diri dengan semangat layaknya ketika saya mahasiswa baru dulu.

Saya ingat, masa-masa awal kuliah, masa-masa semangat saya masih menggebu-gebu. Tak ada alasan lain selain menginjakkan kaki di kampus setiap hari. Apapun yang terjadi, bagaimanapun juga, saya harus berangkat kuliah. "Saya harus ke kampus," seru saya selalu. Tak jarang, masa akrab-akrabnya dengan teman kuliah juga berlangsung di masa itu.

Dan kini...
Lagi-lagi saya harus merangkak dulu sebelum bisa kembali normal. Setidaknya saya sudah mencoba dan terus menjalaninya. Sediit paksaan. Layaknya orang yang baru saja dari sakit keras, membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk bisa menkmati kembali masa-masa "berjayanya".


--Imam Rahmanto--

You Might Also Like

0 comments