facebook twitter instagram spotify youtube
  • Home
  • Perjalanan
  • Jendela
  • Habis Baca
  • Saya

Cappuccino

Hai...

Apa kabar? 

Sebuah tanya usang yang akan selalu terpakai di semua dimensi. Entah itu untuk diri sendiri atau rumah tempat tinggal ini. 

Yah, rumah yang dulu pernah begitu subur dan hijau. Rumah yang membesarkan segala tekad dan semangat. Rumah yang membelajarkan siapa diri saya sesungguhnya. Rumah yang menguatkan segala perasaan.

Hai, saya kembali. Mungkin, kembali untuk ke sekian kalinya. 

Ini juga sebuah niat yang usang. Dalam tiga tahun terakhir, saya selalu mengungkapkan hal yang sama. 

"Saya kembali dan akan memelihara rumah ini."

Tapi kenyataan yang terjadi justru lebih banyak menampar ingatan-ingatan saya. Kepala saya terlalu riuh untuk pulang ke tempat ini. Jemari saya, mungkin, terlampau malas. Apalagi dengan alasan-alasan yang begitu menjemukan di dunia nyata.

Lihat saja, betapa rumah ini kembali kepada alamat yang sebenarnya, bukan? Hanya untuk memperbaharui alamatnya seperti semula, tak ada waktu yang tersisa. Alhasil, alamat yang lama akan hilang untuk sementara waktu. Berganti dengan alamat lainnya.

Saya harus menerima kenyataan itu. Berdamai.

Saya tak habis pikir. Bisa konsisten menulis untuk pekerjaan saya. Ribuan kata mengalir setiap hari menjadi beberapa berita. Bahkan, bisa saja melewati batas kesanggupan pekerjaan yang ada.

Sementara, saya akhirnya menyadari, tidak ada ruang menulis lagi untuk diri sendiri. Berceritalah seperti diri yang dulu. Yah, persetan dengan kesibukan.

"Saya menulis berita sebagai pekerjaan dan mengisi perut. Sedangkan, menulis cerita sebagai ke(se)nangan untuk mengisi kepala dan hati," begitu kata saya, dulu.

Pada akhirnya, saya rindu berada di rumah ini. Sekadar menuangkan segala kekesalan, kegelisahan, kebingungan, atau harapan akan masa depan.

Oiya, mungkin ke rumah ini pula saya akan banyak bercerita tentang seorang perempuan yang sekaligus menjadi tempat pulang saya di masa depan. 

Hai, saya kembali.

Dan tak ada yang lebih melegakan dari menuangkan sedikit hal itu. []


Dunia Fantasi Ancol, pada kali kedua. (Foto: Imam Rahmanto)

---Imam Rahmanto--

Semasa kecil, saya cukup akrab dengan lingkungan komunitas Jawa. Tempat lahir saya memang bukan di Jawa, nun jauh di pegunungan yang membatasi Kabupaten Tanah Toraja dan Enrekang. Namun, semua keluarga saya murni berasal dari Jawa. 

Di kampung itu, orang-orang Jawa menjalin kedekatan yang cukup erat. Layaknya keluarga. Mungkin, karena diikat kesamaan nasib dan status sebagai "perantau" di kampung orang.

Saya biasanya akan senang ketika bermain di rumah salah seorang teman dari keluarga Jawa. Di waktu-waktu tertentu, saya berkunjung ke rumahnya. Menjajal komputer barunya beserta game yang diinstal di dalamnya. Mengagumi kamarnya yang bisa didesain sesuka hati. 

Bonus, orang tuanya selalu menyelipkan uang di saku celana ataupun genggaman tangan saya. Entah, apakah karena saya terlalu imut atau menggemaskan.

Saya kadang kala terkejut dan hendak menolak. Ayah selalu mengajarkan agar tidak banyak menerima pemberian orang lain. Namun, di sisi lain, jiwa kanak-kanak saya tentu memberontak dan tak bisa menolak uang jajan itu. Sambil malu-malu kucing, saya tetap mengantonginya dengan mata yang berbinar-binar. Pulang ke rumah sambil melompat-lompat riang. 

Alasan yang tentu cukup sederhana bagi anak-anak seumuran saya, bukan?

Akan tetapi, saya baru menyadari hal sederhana itu. Orang-orang bisa terus bergelimangan harta bukan dari lezatnya usaha mereka yang mereka bangun. Justru, harta itu berlipat karena keringanan tangan mereka memberi. Kita sering diajarkan dengan nama bersedekah. 

Keluarga teman saya diberkahi dengan usaha yang cukup berkembang, karena ibunya tak pernah sungkan menyisipkan beberapa lembar uang receh untuk siapa pun teman main anaknya. Bahkan, saya juga sering dibebaskan makan bakso tanpa perlu membayar di warungnya. Cukup dengan tanggung jawab moral individu; mencuci piring. 

Pemberian-pemberian semacam itu yang membuatnya "berlebih". Hingga kini, saya mendengar keluarga itu masih rutin berbuat baik dan berbagi kepada orang lain.

Saya pun seharusnya bisa mencontoh hal itu. Toh, saya sudah hampir tujuh tahun bisa mencari uang sendiri. Meski saya bukan orang berada. Penghasilan malah masih di bawah rata-rata UMK.

Baru-baru ini, Minggu pagi, saya menyusuri jalan raya Kota Bogor berboncengan dengan kekasih dan adik kecilnya. Tumpukan kotak kertas dipangku lekat-lekat. Isinya bukan nasi yang mengenyangkan. Hanya sebatas kue untuk teman minum teh bagi orang-orang yang menghabiskan pekerjaannya di jalanan kota.

Mengajarkan sejak dini. (Imam Rahmanto)

Kami memutuskan berbagi sedikit makanan ringan ini pun bukan karena punya uang atau rejeki berlebih. Saya hanya merasa pernah berada di posisi yang sama dengan mereka, yakni menjadi orang yang dominan mengharapkan pemberian orang lain. 

Kalau saya harus menunggu kaya mendadak seperti Gozhali, siapa yang bisa menjamin saya masih idealis untuk mewujudkan keinginan berbagi itu? Lantas, kenapa saya tidak mengawalinya dari hal kecil saja? Memang tak seberapa, setidaknya satu kaki saya sudah ada di garis start.

Berbagi sebenarnya takkan bisa secara instan membuat saya kaya. Pengalaman emosional dari berbagi itulah yang lebih penting. Karena akan membuat kita terus hidup. 

Mata-mata yang berbinar karena menerima pemberian itu. Senyum yang mengembang meski hanya beberapa inci. Mulut-mulut yang bergetar mengucapkan terima kasih dan hamdalah.

Sejatinya, berbagi bisa membuat berbahagia. 

Berbagi dan berbahagia hanya beda 3 huruf.

Anggap saja, ini juga sebentuk cara saya membalas kebaikan orang tua teman saya di masa kecil. Pun, tak hanya mereka dari komunitas Jawa. Ternyata sampai sekarang, masih banyak tetangga di sana yang menunjukkan kasih sayangnya dari jauh kepada keluarga kami. 

Terima kasih untuk siapa saja yang masih mengingat keluarga kecil kami dengan segala kesederhanaannya. Saya juga tak bisa membalas apa-apa. Hanya meneruskan kebaikan-kebaikan "pemberian" itu kepada orang yang juga membutuhkan.

Doakan saja kami konsisten. Kalaupun ada teman-teman yang ingin bergandengan tangan, saya akan sangat senang menyampaikannya.[]


--Imam Rahmanto--

Baru bangun tidur, layar hape saya sudah menumpuk puluhan missed call. Aneh, saya sama sekali tak mendengarkannya. Atau barangkali dering telepon itu hadir secara implisit dalam salah satu mimpi saya?

Saya paham dengan teror di pagi hari itu. Sejak semalam, saya sudah diwanti-wanti untuk ikut dalam Sunday Walking ke Baduy, Banten. Perjalanan itu direncanakan menjadi salah satu rangkaian awal perjalanan panjang Jawa - Bali. Jadi, rutenya dianggap seperti ini; Bogor - Banten - Banyuwangi - Bali.

Sayangnya, saya tidak ikut bersama rombongan komunitas pimpinan kantor itu. Telat sejam dari waktu kumpul yang ditentukan. Wajar jika teror itu terselip dalam puluhan panggilan tak terjawab. Bahkan, bukan hanya dari satu orang. 

Ya sudahlah. Saya juga tidak begitu panik dengan panggilan itu. Sejak semalam, saya memang sudah tidak berniat untuk ikut dalam perjalan tersebut. Karena itu, saya pun sebenarnya sudah sempat berpikir untuk sekalian saja tidak ikut dalam perjalanan ke Bali. Biar ada alasan juga kenapa tidak ikut dalam perjalanan awal ke Baduy. 

"Saya pura-pura saja sakit, makanya gak bisa ke Baduy dan sekalian gak jadi ikut ke Bali," saya sudah berpikir begini dalam hati.

Namun, rencana itu urung saya lakukan. Cara "melarikan diri" itu sudah terlalu usang. Saya ingat betul, cara-cara licik semacam itu pernah selalu saya pakai untuk menghindari beban-beban yang tak sanggup dipikul kepala. Beralasan sakit dan tak ingin membalas pesan siapa-siapa. 

Di satu sisi, saya terus belajar untuk menghadapi masalah, bukan menghindarinya. Lari sama sekali tak menyelesaikan masalah. Yang ada, justru semakin menumpuk dan suatu saat akan meledak. Saya selalu mengutarakan itu pada kekasih saya, "Kalau ada masalah atau kecewa, yuk diomongin. Jangan membatin lama-lama sampai membusuk."

Jadilah saya mengambil tas carrier terbesar saya, membuka lemari, melesakkan sejumlah pakaian dari dalam lemari itu. Setengah malas-malasan tentunya. Namun, bukan pula ingin menyusul ke Baduy.

Saya berencana menunggu kepulangan rombongan itu dari Banten. Seperti info semula, perjalanan Jawa - bali itu akan dimulai dari titik start Graha Pena Bogor. Oleh karena itu, saya hanya perlu menunggu di sana dengan mempersiapkan barang bawaan yang dibutuhkan. Namanya laki-laki, ringan saja isi dalam tasnya.

Eh, tidak. Saya lebih memilih untuk menunggu dari warung kopi (warkop) langganan. Ada kopi yang bisa menemani pagi-pagi. 

***

Jadwal pelepasan rombongan yang dijadwalkan, ternyata mulur lebih lama. Seremoni seadanya di antara guyuran hujan. Di tengah hujan itu pula, rombongan Gerakan Anak Negeri mulai tancap gas pertamanya. Nyaris tengah malam. Nasib. 

Tidak usah cari saya. (Foto: Imam Rahmanto)


***

Saya sampai lupa sudah "berhutang" di tempat ini. Beberapa hal datang tanpa henti dan membuat fokus kepala saya teralihkan. Dunia nyata memang begitu menyebalkan ketika kita beranjak semakin dewasa. Alhasil, membuat saya selalu mendambakan masa muda dulu dengan waktu yang melimpah ruah. []


--Imam Rahmanto--
"Mam, besok ikut pak bos ekspedisi Jawa-Bali ya," sebuah pesan singkat dari Korlip tiba di Whatsapp.

Beberapa jam berikutnya, disusul oleh petinggi kantor yang mengabari informasi serupa. Sungguh, pesan-pesan yang berentetan itu menggangu waktu libur saya yang sedang asyik menamatkan level baru dari Plants vs Zombie 2.

Sebenarnya, saya sudah menduga bakal ikut dalam perjalanan panjang selama beberapa hari itu. Seorang teman sudah sempat mewanti-wanti, beberapa hari sebelumnya. Ia melihat nama saya tercantum sebagai salah satu tim yang akan mendampingi bos besar melakukan perjalanan Jawa - Bali. Kampanye berdamai dengan Covid-19, katanya.

"Seminggu kayaknya. Siap-siap aja ya. Pakai mobil soalnya," chat yang sambung-menyambung dengan kegundahan saya.

Label "Bali" memang cukup menggiurkan bagi siapa saja. Termasuk saya, yang sama sekali belum pernah menginjakkan kaki di Pulau Dewata itu. Namun, saya agak ragu dengan perjalanan ramai-ramai seperti itu. Ada saja titah pekerjaan yang siap-siap keluar dari mulut bos, yang tergila-gila dengan konten. 

Saya agak malas bepergian teramat jauh dengan menenteng urusan kantor di kepala. Sementara di sisi lain, saya juga merasa "gak enakan" dengan program perjalanan, yang sejak awal saya tahu hanya jalan-jalan berbalut "kampanye Covid-19".

Bagi saya, pengalaman bepergian keluar daerah seperti ini tidak terlalu meninggalkan kesan mendalam. Mungkin, sekadar pengalaman bahwa "pernah ke sana". Namun, sensasi merasai tiap detail perjalanan tak banyak berpengaruh.

Saya mungkin akan lebih menikmati pengalaman bepergian kabupaten tetangga meski sekadar camping semalam. Tanpa dibebani tuntutan pekerjaan. Tanpa dihantui perintah sana-sini. Bebas melangkahkan kaki kemana saja. Bebas menggali percakapan dari mana saja. 

Bahkan, sekadar duduk memandangi daun-daun yang bergoyang karena terpaan angin sudah cukup menyenangkan. Isi kepala dibuat berdamai. That's the real healing. Konten mah belakangan.

Tapi, mau bagaimana lagi. Saya harus "profesional" dengan lampiran pekerjaan dari kantor. Anggap saja, menggugurkan kewajiban sambil mencecap sedikit rasa Bali dan daerah lainnya yang akan kami singgahi. [1]

Guess where. (Imam Rahmanto)


***

Kapan terakhir kali saya menulis lepas seperti ini ya? Terlalu lama vakum dan menyibukkan diri dengan pekerjaan yang tidak membuat kaya raya. 

Setidaknya, perjalanan jauh dari pusat rutinitas itu memberikan angin segar bagi pikiran saya sendiri. Sejenak, keluar dari kandang, berkawan dengan perjalanan, adalah cara terbaik menelusuri pikiran-pikiran yang telah lama hilang~


--Imam Rahmanto--


Di luar rumah, takbir sedang bersahut-sahutan. Orang-orang di sekitar kosan ini masih sangat bersemangat menyambut Salat Ied esok hari. Imbauan pemerintah sama sekali tak mempan untuk mereka.

Harus berapa banyak kehilangan lagi yang kita rasakan agar orang-orang tertampar? 

***

Saya masih beruntung bisa bertahan di situasi serba sulit ini. Setiap kali teman-teman di ujung pulau bertanya kabar, saya takkan gamang menjawab: I'm okay as usual. 

Lebih beruntungnya lagi, belum terpapar virus yang menggila saat ini. 

Atau...entahlah kalau sebenarnya saya pernah terpapar namun tanpa gejala dan akhirnya sembuh sendiri. Sejak dulu, saya tak memahami cara kerja sistem "pertahanan" tubuh saya. Makan paling mentok cuma sekali dalam sehari. Ngopi bisa tiga kali dalam sehari. Sementara demam, sakit kepala, diare, atau apapun itu, selalu diatasi dengan: selimut seluruh badan sampai banjir keringat.

Padahal, adik perempuan saya di tempat kerjanya sempat mengisolasi diri karena positif Covid-19. Ia menjadi kontak erat dari atasanya yang sempat dilarikan ke rumah sakit. 

Saya sampai harus menceramahinya karena kecerobohan sendiri sebagai tenaga kesehatan (nakes). Kasihan, ia sampai nyaris sesenggukan di ujung telepon. Padahal waktu itu ia dalam kondisi isolasi mandiri. Saya sadar, omelan itu hanya akan membuat kepalanya berat dan kalut. 

Adik saya hanya sebagian dari orang-orang dekat atau kenalan yang terdengar kabarnya bersentuhan langsung dengan pandemi ini. Kabar buruk berdatangan satu demi satu. Di lingkungan saya; rekan-rekan kantor, teman-teman jurnalis, atau sekadar teman-teman se-grup Whatsapp. 

Orang-orang itu butuh dukungan moral. Antibiotik atau vitamin C (apalagi susu beruang) bukan semata-mata yang bisa membantu pemulihan mereka yang tersuruk. 

Semakin kesini, saya semakin sadar bahwa sekecil apapun perhatian untuk orang-orang di tengah pandemi ini akan sangat berarti. Mungkin, bagi kita nilainya terasa kecil. Bagi orang yang sudah merasai lebih banyak kehilangan, nilainya jauh lebih besar dan berlipat. Entah itu kehilangan pekerjaan atau kehilangan orang terkasih.

"Kau lagi sakit ya?" 

"Bagaimana situasi di sana? Hati-hati, kondisi lagi riskan dimana-mana," 

"Eh, itu keluargamu? Turut berduka cita ya"

Pesan-pesan sederhana yang bisa mulai dikirimkan untuk saling menguatkan satu sama lain. Tak perlu menceramahi. Cukup dengan doa-doa selewat atau sedikit bantuan, kalau mampu.

Setidaknya, ada kucing tetangga yang selalu main ke kamar. (Imam Rahmanto)

***

Saya membuka-buka facebook. Status adik saya melintas setelah beberapa scrolling. Ia telah tiba di rumah. Berfoto berdua bersama ayah saya. Siap-siap menyambut Hari Raya Idul Adha besok. 

Bukan, sepertinya hari sudah telanjur berganti. Berarti, yang tepat adalah hari ini.

Semoga kita semua masih bisa bertahan di tengah badai ini. []



--Imam Rahmanto--

 
Hujan baru saja berhenti. Beberapa jam yang lalu, mengguyur tanpa aba-aba. Saya  tak bisa memastikan langit mendung karena tertutup gulita. Kecuali, tak ada gemerlap bintang menjadi penandanya. Toh, samar-samar cahaya sabit masih setia bersinar. Beberapa hari ke depan katanya bakal ada purnama supermoon.

Seperti biasa, senyap menyergap diantara bangku-bangku warkop tongkrongan saya. Meskipun di kosan sudah tersedia Moka Pot untuk mengolah kopi jadi espresso, saya tetap rutin menyesap kopi dari tempat ini. Barangkali sekadar melepas perbincangan ringan dengan pemilik warkop atau teman tongkrongan rutin. Atau hanya menatapi layar notebook yang makin membuat mata saya minus.

Salah satu alat coffee-maker itu baru saja tiba beberapa hari yang lalu di kamar saya. Sebagaimana keinginan untuk mengolah kopi (tanpa instan) secara manual. Sayangnya, masih kurang grinder kopi. Terpaksa, saya memesan kopi setelah digrinder langsung. Tenang saja, saya juga akan melengkapi kosan dengan grinder kopi itu.

Beruntungnya lagi, seorang teman dari Jawa juga berniat mengirimkan biji kopi roasting-nya untuk saya. Malah, biji kopi dari Papua. Katanya sih, coffee-bean itu dari sisa pameran timnya di Jakarta. Lumayan kan buat eksperimen seduhan kopi. 

"Tapi situ yang tanggung ongkir ya," todong teman saya. Pastilah.

Saya memang butuh sesuatu yang baru untuk mengatasi kejenuhan dalam beberapa hari ini. Bahkan, urusan kirim-mengirim berita, saya jadi agak ogah-ogahan atau seadanya. Saya tidak begitu memaksakan diri lagi dalam hal pekerjaan. Bagi saya, bekerja ya secukupnya saja. Mau memaksakan diri juga tidak begitu bermanfaat karena keterbatasan "kuota" atau jatah berita bagi anak-anak daerah. Saya justru harus mengakalinya dari medium lain.

Semenjak "badai" kemarin, saya belum merasakan perubahan berarti di tubuh perusahaan media kami. Saya justru semakin melihat sesuatu yang memang dicemaskan petinggi-petinggi yang hengkang. Keberpihakannya semakin terasa sih. Barangkali hanya karena saya jauh berada di daerah, maka nuansanya tidak terasa. 

Itulah kerennya berada di daerah. Gonjang-ganjing di kota hanya sebatas kabar-kabar yang kabur. Seperti sinyal telepon yang juga agak lemah di perkampungan, informasinya juga tak begitu jelas. Tetapi, itu justru membuat kepala saya terasa tenang dan ringan.

Beberapa hari ini, saya sebenarnya ingin mencari tempat-tempat untuk berkemah atau menjelajah alam. Sayang sekali kalau Sleeping Bag (SB) anyar saya tergeletak saja di dalam kamar. Apalah daya, tak ada ajakan. Atau sebenarnya, saya saja yang tak ada inisiatif. Terlalu banyak pilihan mau kemana. Akhirnya, tergeletak dan tak ada yang terealisasi. Hahaha.....

Menggantikan perjalanan outdoor dengan membaca buku juga masih itu-itu saja. Toh, bacaan saya belum kelar-kelar. Selalu saja ada yang menyela atau mengganggu, termasuk keinginan membuka-buka media sosial. Ckckck... wajar kalau target bacaan tahun ini kembali mandek. 

Ini semua nyambung-nyambung saja ya? Iya. Gitu doang. 

Yang namanya Moka Pot itu tuh. (Imam Rahmanto)


--Imam Rahmanto--
Older Posts

Subscribe Us

About


Imam Rahmanto

Selamat berkunjung di rumah sederhana saya. Tempat saya bisa pulang dengan cara paling menenangkan.



@cappuccino_time
Created By SoraTemplates | Distributed by GooyaabiTemplates