Nyamuk dan Saya

Oktober 06, 2012

Baca Juga

Sumber: Google Search
Suara “nguiing-nguiing” terngiang-ngiang di sebelah telingaku. Mengganggu sekali. Sesekali tanganku mendarat keras di sebelah pipiku, memastikan suara itu menjauh atau bahkan jika bisa, mati. Aku benci sekali tidurku diganggu oleh hewan penghisap darah yang satu ini. Kecil-kecil tapi sudah mengutil darah. Kalau besar, mau jadi apa? Nah loh?

Tentu semua sudah pada tahu hewan yang satu ini. Nyamuk. Ia telah lama mendedikasikan dirinya sebagai hewan paling aktif menghisap darah di malam hari (tidak termasuk drakula ataupun vampire). Termasuk suka mengganggu ketika hendak tidur. Mata belum sempat terlelap, suara-suara itu sudah datang duluan. Tak digubris, mereka langsung menusukkan mulut tajamnya itu dan menghisap darah sesukanya.

Hal serupa sudah sering saya alami. Saya biasa dibuat jengkel oleh kelakuan nyamuk-nyamuk kecil itu. Akan tetapi, entah kenapa akhir-akhir ini saya merasa bersahabat dengan mereka. Lha, kok bisa? Ya, benar, karena bantuan mereka pula saya bisa bangun tidur lebih awal. Hehehe

Saya termasuk orang yang cukup sulit untuk bangun tidur lebih awal. Jika sudah terlelap, maka saya sudah tidak bisa lagi mengendalikan jam tidur saya. Apalagi jika saya habis begadang. Berapa banyak pun jam weker yang sudah saya pasang, tidak bakal membangunkan saya. Benda-benda itu hanya sekadar mengubah posisi tidur saya, mata dibuka - tangan mematikan suara alarmnya – lanjut tidur. Bahkan beberapa orang yang sudah mencoba membangunkan saya di pagi hari via telepon juga tak berhasil. Maka dari itu, saya merasa terbantu dengan kehadiran nyamuk-nyamuk itu di malam hari. Saya akan terbangun ketika merasakan gigitan-gigitan mereka di sela-sela kulit saya. Mungkin di jari-jari kaki atau paha, sampai pada bagian muka sendiri.  Ya, meskipun pada akhirnya mereka harus menemui ajalnya akibat kena tepukan saya.

Oleh karena itu, wajar jika saya membiarkan sedikit nyamuk berkeliaran di kamar saya. Bukan karena saya suka goreng nyamuk loh. Bukan! Tapi, lebih pada usaha saya agar bisa bangun pagi. Saya mesti belajar untuk memanajemen waktu. Waktu sepanjang malam yang sudah saya habiskan tidak mungkin harus tersia-siakan hanya gara-gara saya tertidur di pagi harinya. Ketika saya terlelap di pagi hari, sama saja bahwa saya menggantikan waktu tidur malam saya. Nah, jika seperti itu apa gunanya saya terjaga hingga larut malam?

Saya ingin belajar mengatur waktu. Saya sudah terlalu sering dikelabui oleh waktu itu sendiri. Yah, meskipun dengan mengorbankan setetes kecil darah yang saya miliki. *Wuihh, ekstreemnya!


--Imam Rahmanto--

You Might Also Like

0 comments