facebook twitter instagram spotify youtube
  • Home
  • Perjalanan
  • Jendela
  • Habis Baca
  • Saya

Cappuccino

"Hei, bagaimana dengan pacarmu? Artinya kamu menduakan pacarmu dong?"

"Ah, kamu kalau ke rumah pasti mau ketemu dia. Halah....nanti saya pertemukan deh,"

Anak-anak Baru Gede sedang riuh berdebat di atas mobil pete-pete. Mereka saling menertawai satu sama lain. Membahas hal yang remeh-temeh hingga yang tidak pantas diperbincangkan anak di bawah umur, semisal: pacaran. Ah, anak zaman sekarang terlalu berkiblat dengan tivi jaman modern.

Saya bukannya terganggu, malah diam-diam menikmati perbincangan itu. Obrolan dari anak-anak yang masih bebas menentukan jalan masa depannya. Lucu, meskipun tak jarang membuat saya mengelus dalam diam.

Angkutan umum yang saya tumpangi harus berputar dari jalur resminya. Ia terpaksa mengantarkan seorang penumpang ke daerah pemukiman pinggir kota. Berlawanan dengannya, saya harus melipir ke pinggir stadion, seperti biasa, bertemu dengan teman lain dan bersiap mengolah bahan liputan.

Sementara itu, 6 orang siswi (seingat saya) itu salah naik angkutan. Keluar dari sekolah mereka tadi, seharusnya mereka mengambil jalur ke arah tujuannya di terminal di ujung kota. Bukan sebaliknya. Mau tak mau, sang supir tetap mengangkut mereka demi mendapat sejumlah rupiah dari sekelompok ABG itu. Ia mengiyakan saja trayeknya, dan kemudian langsung berputar balik seusai mengantarkan saya tepat di depan stadion.

Ada yang menyenangkan mendengar perbincangan antar-siswi itu. Sembari tersenyum-senyum sendiri, saya menyimak perbincangannya. Hiburan tersendiri dari pengapnya kota Makassar.

"Oiya di, saya baru lupa!"

"Lupa? Ingat keleuss!" jawab yang lainnya membenarkan yang disambut tawa serentak. Plesetan yang baru saya dengar.

"Itu loh yang di grup itu, ada kicker, bagaimana itu......," pembicaraan yang juga saya tak mengerti arahnya.

"Oh...kickers itu yang di iklan wafer,"

"Snickers!" disambut dengan tawa lagi. Riuh di atas mobil.

"Oi, ini bukan kelas. Jangan ribut begitu," tegur seorang lainnya. Tapi tetap saja keramaian itu berjalan melintas kota.

***

Tiga jam sebelumnya...

Siang ini, saya baru saja berkunjung ke kampus. Meniti sisa-sisa kehidupan dari kampus. Saya ingin menyibak aromanya, yang mungkin tak lagi dibaui oleh teman-teman saya. Ah, kami, generasi yang mulai terlupa. Sepi.

Sebuah undangan mendarat di tangan saat saya menanyakannya pada pegawai kampus. Yah, undangan ini yang bakal mengakhiri kisah saya di kampus. Setelah sekian lama, saya bakal tak berjumpa lagi dengan kesibukan mengejar SKS. Kampus juga bakal tertinggalkan dari ingatan. Hanya tersisa keping-kepingnya saja yang terbenam jauh...mungkin jauh sekali.

Kata teman, "Oiya, telepon saya saja ya kalau kau mau ambil punyamu."

Lantaran bosan menunggui kantor dharmawanita buka, saya menitipkan nota pembayaran padanya. Nota itu untuk ditebuskan pada sebuah pakaian formal terakhir penanda kelulusan saya. Ia menelepon sebagai pertanda sudah mendapatkannya. Oiya, semoga teman saya itu juga secepatnya menemui ujian akhirnya.

Kini, di mata saya, kampus sudah sepi. Tak lagi seramai dulu. Pelan-pelan, saya menyadari, keramaian adalah perihal hadirnya orang-orang yang dikenal dan mengenal kita. Selalu berlaku dua arah.

***

Berhitung hari, saya akan melepas gelar sebagai mahasiswa. Sebenarnya sudah sejak beberapa bulan lalu saat saya diyudisiumkan. Namun seremoninya baru akan berlangsung dalam waktu dekat ini.

Hal itu otomatis menjadi penanda saya bakal meninggalkan waktu-waktu muda menjalani "sekolah" formal. Saya akan menanggalkan sifat-sifat kekanakan yang tak dibutuhkan lagi. Seharusnya saya sudah mendewasa satu level lebih jauh lagi. Iya, seharusnya...

Saya akan merindukan saat berkumpul dengan teman sekolah, belajar kelompok, bergosip tentang "siapa-suka-siapa", bercerita guru paling killer, pergi bareng, hang-out bareng, pulang bareng, atau semua pekerjaan dan kegembiraan yang dilakukan ramai-ramai.

Di dunia yang berbeda, semuanya juga ikut berubah. Kalau dulu kita yang selalu berharap dipenuhi kebutuhannya, maka kini kita lah yang bakal memenuhi kebutuhan keluarga. Kalau dulu kita yang selalu dikuatkan keluarga, maka kita berganti menjadi penguat keluarga. Semua bakal berubah, tak lagi seperti saat kita umur belasan dan masih bebas merapal kiasan tak penting.

Masa kita menghadapi dunia di luar "pagar" pendidikan tak lagi sama. Kita akan dihadapkan pada momen yang lebih kompleks. Kita tak bisa lagi sekadar tertawa tanpa alasan seperti yang kerap kita lakukan di masa sekolah. Seperti anak-anak perempuan yang saya temui di angkutan kota itu. Segala hal mulai butuh alasan. Tertawa; apa yang kau tertawakan?

Suatu hari kelak, kita akan merindukan masa-masa bebas itu.

Saya mendapati seorang teman yang malam ini sedang membutuhkan pelukan dari ibunya. A hug. Ia merindukannya. Sementara ia sadar, kehidupannya tak lagi seperti anak kecil dulu. Mungkin, sewaktu kecil ia banyak mendapat "big hug" dari ibunya. Rengkuhan lembut menyembuhkan segala luka.

Lantas, kita kemudian sadar, waktu terus berjalan. Dalam persepsi keterbatasan manusia, ia melaju. Dalam kekuasaan Tuhan, waktu justru berhitung mundur. Masa kecil mulai menghilang selepas sekolah, selepas kuliah, selepasnya lagi, selepasnya lagi, selepasnya lagi, hingga jiwa kita yang terlepas dari dunia ini.


--Imam Rahmanto--
Apa yang terjadi belakangan ini adalah di luar kehendak saya.

Dua hari yang lalu, saya telah selesai menggelar ujian akhir. Seharusnya, beberapa jam setelahnya dilanjutkan dengan yudisium alias penyematan gelar baru. Tentang gelar itu, aya tidak benar-benar menginginkannya, sesungguhnya. Saya hanya ingin keluar dari kampus dengan baik-baik. Itu saja.

Akan tetapi, salah satu penguji nampaknya mengusulkan agar yudisium saya ditunda dulu hingga merampungkan revisi atas skripsi saya. Sungguh malang. Padahal, kebanyakan mahasiswa lainnya, tak perlu menunggu hingga revisi dulu baru bisa di-yudisium-kan. Pada momen kebanyakan, revisi dikerjakan setelah yudisium. Lah, saya? Nampaknya, saya berhasil benar menjadi unik dan “satu-satunya”. Dasar nasib.

“Tak usah berkecil hati,” kata salah seorang pembimbing.

Saya memang tak pernah berkecil hati. Saya sudah terlatih untuk patah hati. #ehh. Kecewa, maksudnya. Dalam beberapa hal, memang di luar kuasa kita sebagai manusia. Hasil itu akan menjadi refleksi sejauh mana usaha abstrak dan material yang telah kita lakukan.

Ujian yang seharusnya berlangsung jam sepuluh pagi, nyatanya harus ditunda gegara kedua pembimbing ujian saya absen. Salah satu pembimbing baru bisa hadir di kampus menjelang Ashar. Terpaksa, daripada ditunda lagi, saya memaksakan diri ujian lewat dari jam empat. Sungguh malang. Sudah, saya katakan, saya terlatih pat…eh…kecewa.

Setidaknya, saya telah selesai dengan ujian meja. Tak perlu mengulang lagi. Hanya tersisa revisi dan yudisium.

Karena mengkhawatirkan revisi ini, saya agak ragu untuk melanjutkan pekerjaan yang sejak seminggu lalu bertengger di kepala. Bahkan teman-teman juga seenaknya sudah melabelkan pekerjaan itu pada saya. Ckck..

Setelah “disidang” oleh redaktur akibat ulah bandel saya sebagai calon reporter, saya memutuskan hengkang dari pekerjaan ini. Saya tak perlu berpikir terlalu panjang. Suasana pekerjaan akibat “kebandelan” saya itu pada kenyataannya sudah menyulut  kejengkelan beberapa redaktur senior. Hm…benar kata guru saya dulu. Kalau mau jadi orang terkenal, cukup jadi salah satunya; terpintar atau terbandel.

“Sebenarnya hal semacam itu bisa ditaktisi lah. Apalagi kan kau juga sudah selesai ujian meja,” tawar salah seorang redaktur.

Akh, pada banyak perjalanan ini, saya telah belajar untuk memasang prioritas. Beberapa hal yang bertumbukan berpengaruh pula pada perjalanan akademik saya. Setidaknya, saya hanya ingin melangkah keluar dulu dari kampus, secara baik-baik. Selepas itu, barulah saya boleh memasang banyak target lagi.

Seandainya saja saya bisa menggunakan jurus Kage Bunshin-nya Naruto ya, mungkin semuanya bakal lebih mudah. Ada banyak hal di luar sana yang ingin saya lakukan. Sejauh ini, nampaknya hanya pikiran saja yang bisa dilipatgandakan.

Nah, selanjutnya, mari mengerjakan beberapa hal yang tertunda. Firstly, tarting to smile…


Ps: lagu dari One Republic, Counting Star, sedang mengalun dari notebook teman saya. Selain karena, sepagi ini, sembari saya menunggu balasan pesan dari seseorang.


--Imam Rahmanto--
Aku rindu…

Pada akhirnya, saya akan mencapai "pos pemeriksaan terakhir" sebelum membuka pintu keluar dari dunia kampus. Jelang beberapa hari ke depan, saya akan merasainya. Yah, merasainya sebagai sesuatu yang selama ini diidam-idamkan sekaligus ditakuti setiap mahasiswa seperti kami.

“Kamu mau ujian tutup?”

Seorang dosen seketika bertanya saat melihat saya melintas di koridor jurusan sambil membopong tumpukan skripsi. Sambil cengengesan, saya hanya menjawab singkat, “Iya, Pak. Jumat ini. Hehe…”

“Wah, cepat sekali ya,” lanjutnya lagi agak keheranan. Mungkin, ia agak terkejut, lantaran baru dua bulan yang lalu saya menyelesaikan ujian proposal yang juga ikut dihadirinya. Dosen muda itu hadir sebagai peserta, yang tak ketinggalan melemparkan pertanyaan demi “menguji” saya. Maklum, ia tahu latar belakang saya sebagai seorang pegiat pers kampus.

“Mm…ya begitulah, Pak.” Sementara dalam kepala saya berpikir, “Memangnya itu tergolong cepat ya?”

“Memang. Karena ujian proposalmu baru dua bulan yang lalu. Itu tergolong cepat, dibanding yang lainnya,” jawab seorang teman ketika saya langsung menanyakannya.

Saat memulai, untuk mengakhiri.. (Foto: ImamR)

Hm…kalau dipikir-pikir, beberapa hal memang berjalan begitu lancarnya. Beberapa rencana yang saya patok cukup ampuh untuk ngebut di pengerjaan skripsi ini. Saya belajar dari teman-teman yang pernah menjalaninya. Banyak bertanya, banyak menyimak solusi. Pekerjaan seorang wartawan memang lebih banyak bertanya. Itu menjadi satu-satunya “senjata” yang pantas kami miliki, bukan? 

Kalau saya tak mampu "bekerja" lebih baik dan ekstra, apa pula yang membedakan saya dengan teman-teman mahasiswa original lainnya? Sudah sepatutnya latar belakang saya, yang sempat menyita waktu bertahun-tahun itu, bisa menjadi pembeda dan "kelebihan" dari perjalanan mahasiswa mainstream lainnya.

Dan tentang studi akhir ini, memang sudah menjadi prioritas di atas segalanya. Demi mengakhirkan studi, saya harus rela “menutup” pintu segala kemungkinan pekerjaan yang menghampiri. Saya pernah mengalami, the comfort zone ketika kita sudah mencicipi pekerjaan. Zona nyaman itu justru melenakan, dan menggantikan prioritas studi itu. Yeah, namanya bekerja atas dasar passion itu memang selalu menyenangkan.

Mungkin, hanya satu-dua side-job menjadi pondasi bagi saya menyokong penyelesaian studi ini. Maklum, kata orang, jelang tamat kuliah, banyak pembiayaan yang mesti dipenuhi. Saya serasa berkejaran dengan waktu. Pun, pikiran berlaku demikian. Di satu sisi memikirkan urusan skripsi, di sisi lain memikirkan cara untuk mengongkosinya. Haha... Serius, saya nyaris ngos-ngosan gegara itu.

Saya (atau siapa pun) semestinya mulai memahami prioritas. Kewajiban. Kepantasan. Tuntutan. Tugas. Tanggung jawab. Atau apa pun orang-orang menyebutnya. Segala hal yang tak berhubungan dengan kewajiban, ya mesti dikesampingkan dulu. Just focus on it!

“Ingat, pelatihan minggu ini. Semua reporter wajib datang. Dimulai hari Senin. Jangan terlambat!”

Akh, maaf. Saya harus menyelesaikan tugas akhir dulu sebagai mahasiswa tingkat akhir. Mengenai sanksi atas absennya saya, itu belakangan.

“Jadi, nanti Anda yang akan jadi penulisnya. Kami sudah kontrak dengan media itu. Terbitnya akan dua kali sebulan.”

Baiklah. Tapi, dalam rentang seminggu ini saya masih belum akan mengajukan “proposal”nya. Lagipula, tak ada deadline pengajuannya kan, Bu?

“Kalau bisa dipermak sebagus-bagusnya. Secepatnya ya. Orang-orang tak sabar membukanya.”

Pasti! Secepatnya, usai tetek-bengek skripsi ini, saya akan mengerjakannya. Anggap saja saya “berhutang” pelayanan. Terima kasih untuk sokongan materinya.

“Kapan pulang kampung? Ingat, kau janji untuk ke sekolah mau bangun ekskul itu.”

Emm…semoga sempat menunaikannya. Apalagi, selepas menyandang gelar nanti, saya harus langsung terjun ke dunia nyata berikutnya; pekerjaan.  Tapi, saya benar-benar penasaran ingin membantu dan mengembangkan pers di sekolah. Sejauh ini, perasaan challenged saya telah diaktifkan.

“Cepatlah kau selesai. Kita mau backpacking, kan?”

Hahaha…semoga ada waktu untuk berjalan-jalan. Untuk yang satu itu, sungguh menyenangkan bisa menyegarkan kepala yang terlanjur suntuk.

“Kapan pulang, nak? Kami sudah rindu…”

Rumah memang akan selalu menjadi tempat pulang saya. Tak ada yang lain. Maka biarkan saya menyelesaikan benih kebahagiaan kalian dulu, Pak, Bu. Percayalah, anakmu ini akan selalu menunaikan janjinya untuk kembali.

Maka mendoalah...

***

Aku merindu…
Kebebasan atas hidup yang siap merengkuhku
Tangan-tangan yang siap dijabat dan digenggam
Wajah-wajah yang siap dicumbu dan dipeluk

Aku (akan) pulang…
Pada rumah yang selalu terbuka
Untukku,
Dan “untuk semua orang”


--Imam Rahmanto--

Verbatim oh verbatim.

Saya baru mengenalnya seminggu belakangan. Sebenarnya, dulu, saya pernah mendengarnya. Hanya saja, sekarang baru menyadari bahwa dalam jenis penelitian kualitatif, melampirkan verbatim adalah hal yang cukup penting.

“Apa itu verbatim?” tanya seorang teman.

Mungkin, orang-orang tak mengenalinya secara nama. Hanya tahu perihal melampirkan draf mentah wawancara yang ditulis kata per kata, berdasarkan wawancara yang sesungguhnya. Orang sering menuliskannya, mengerjakannya, hingga meramunya, namun tak pernah tahu (atau mau cari tahu) apa nama yang sesungguhnya. Akh, perangai orang Indonesia memang begitu: ikut-ikutan, padahal tidak tahu esensinya. 

“verbatim /ver•ba•tim/ /vérbatim/ a kata demi kata; menurut apa yg tertuang dl tulisan.”

Pengertian di atas berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Saya cantumkan, biar bahasa saya agak (sok) ilmiah.

Menuliskan ulang percakapan wawancara penelitian sungguh melelahkan. Meskipun tak jauh berbeda dengan menuliskan ulang percakapan dalam wawancara untuk kepentingan liputan berita, namun sungguh menguras waktu. Lucunya, di bagian saya melambatkan kecepatan audio agar bisa diketik secara sempurna. Suara saya, maupun suara narasumber sebagai responden, agak mirip dengan suara tersangka bakso boraks atau berformalin di tivi-tivi yang suaranya disamarkan. Hahaha.. 

Para jurnalis pemula juga terkadang menulis semi-verbatim sebelum menulis beritanya. Dalam menuliskan liputan atau berita, percakapan yang dituangkan hanya seperlunya saja. Percakapan yang tidak penting tak perlu dituliskan dalam outline mentah tulisan. Sangat berbeda dengan verbatim sebagai lampiran skripsi (ecieee…sudah lantang meneybutnya skripsi), yang harus dituliskan kata demi kata.

Intinya, semua yang terhimpun dalam percakapan harus dituliskan. Tak peduli hanya menuliskan kata “Ohhh…” atau “Ehh…”, bahkan mimik berpikir atau melakukan sesuatu ketika percakapan sementara berlangsung.

Ternyata dalam penelitian kualitatif, verbatim cukup dibutuhkan. Apalagi penelitian yang berkaitan dengan fenomena sosial-kemasyarakatan. Bukan sekadar penelitian yang meluangkan waktu mengajar (lagi) di sekolah loh.

“Memangnya jurusan apa? Kok bisa ambil judul seperti itu?” orang-orang biasanya bertanya tentang judul skripsi saya, yang sebenarnya tak berkaitan langsung dengan kependidikan.

Entahlah. Mungkin, keberuntungan menyertai saya. Dulu, didorong rasa ingin tahu dan kejenuhan melihat jenis-jenis skripsi di jurusan yang “itu-itu saja”, maka saya mencoba peralihan lain. Salah satunya, judul penelitian (skripsi) yang saya ajukan lebih condong ke fenomena sosial, meskipun masih dalam ranah kependidikan.

Dan ingat, fenomena sosial-kemasyarakatn bukan hanya milik mahasiswa ilmu politik dan sosial. Fenomena kependidikan juga menjadi bagian dari sosial-kemasyarakatan kita.

Mahasiswa cenderung di-setting dengan mindset judul penelitian yang selama ini banyak beredar di jurusannya. Apa yang dilakukan oleh banyak orang, maka individu cenderung akan mengekor kesana. Menganggap hal itu satu-satunya yang benar. So poor. Padahal, kalau kita mau melihat keluar, out of the box, ada banyak hal yang bisa dijadikan bahan agar kita “berbeda” dari yang lain. Come on! Be Unique or The First!

Yah, sekadar saran saja bagi teman-teman mahasiswa lainnya. Terkhusus yang sedang menyelami bidang kependidikan. Kalau mencari judul skripsi, kalau bisa mbokya yang “keren-keren” tah. Biar perpustakaan punya ragam judul yang variatif pula. Apa tidak bosan dengan skripsi yang terkesan “itu-itu saja”? Sementara sebenarnya ada banyak bahan penelitian yang bisa diajukan demi memenuhi beban “sekadar lulus” kuliah itu. Look out!

Nah, kini, saya sedang berpacu dengan segala hal yang berkaitan dengan penyelesaian studi. Mulai dari pengurusan ujian akhir, pemenuhan syarat kelulusan, hingga penulisan hasil penelitian yang menjadi lanjutan Bab IV di skripsi.

Tahu tidak, saya menulis bagian itu dengan cukup luwes. Layaknya ketika saya dulu sedang menulis liputan dan mengolah riset berita. Bedanya cuma di sisi bahasa dan penyajiannya. Kalau berita, isinya dibalut bahasa populer. Kalau skripsi, harus benar-benar berbahasa (sok) ilmiah, kaya data-data mentah, dan sedikit berhitung (banyaknya) halaman. Hahaha…sesekali saya juga menyisipkan opini pribadi. Yeah!


--Imam Rahmanto-- 
Yang namanya mahasiswa tingkat akhir itu, nyeseknya ada banyak rasa. Salah satunya ketika ditanya, “Semester berapa?”, dan saya hanya bisa mengingat-ingat sudah semester berapa sekarang? Saya merasa amnesia-ringan.

“Sudah semester berapakah saya sekarang?”   

Dan jawabannya, entah. Satu-satunya hal yang lekat dalam ingatan: saya sudah semester akhir!

Sudah tak penting lagi nominal semester yang sekarang saya emban. Misi paling penting untuk bulan ini, ya menyelesaikan tunggakan tugas akhir studi. Tugas akhir yang sementara on going dalam waktu dekat, kini sudah tiba di tahap penelitian. Sedikit lagi, saya akan sampai pada tahap selanjutnya; ujian meja. Kalaupun penelitiannya berjalan dengan lancar.

Buktinya, dalam agenda #Program24hari yang telah disusun, saya baru bisa menyelesaikan satu wawancara dengan narasumber (baca: subjek penelitian). Sementara masih ada 29 orang lainnya yang mesti diwawancarai. Kebayang tidak, waktu yang harus saya sisihkan demi mewawancarai mereka satu per satu?

Pengumpulan data yang melalui proses wawancara terbuka tersebut sebenarnya bukanlah tanpa alasan. Jauh hari sebelumnya, saya telah menyiapkan kuesioner (beserta pilihan jawaban tertutupnya) untuk dibagikan dalam proses penelitian nanti. Akan tetapi, di sisi lain, pembimbing – yang tahu bahwa saya merupakan demisioner persma (pers mahasiswa) – mengusulkan untuk mengumpulkan data dengan teknik wawancara terbuka.

“Lebih bagus ketika kamu melakukan wawancara terbuka saja. face to face. Kau bisa menggali informasi lainnya yang lebih spesifik,” usulnya.

Sebelumnya, saya juga lebih senang ketika mengumpulkan data dengan cara demikian. Sebagaimana passion yang telah saya bangun sejak dulu. Pemilihan judul skripsi pun berdasarkan kemampuan dan ketertarikan saya sebagai seorang persma. Unik. Punya koneksi. Berbeda dari judul-judul mainstream lainnya: Pengaruh… Perbandingan… Komparasi… Efisiensi… Analisis… Efektivitas… Peningkatan… Argh, sungguh judul yang berat!

Yowis, biar agak berat, mbok ya dijalani saja. Kalau ada kemauan, pasti selalu ada jalan. #justbelieveit. 

Saya bersyukur, hingga kini diberikan beberapa kelancaran dalam pengelolaan tugas akhir itu. Sedikit demi sedikit saya menyelesaikan beberapa pekerjaan atau persyaratan yang sudah bisa dikerjakan sejak dini. Tak perlu mengambil pasca penelitian. Yang namanya ngebut, ya harus mengambil segala kesempatan yang dimiliki.

Bagian-bagian dari skripsi, semisal kata pengantar, halaman judul, halaman pengesahan, motto dan persembahan, daftar isi,  daftar riwayat hidup, semuanya sudah rampung. Beberapa persyaratan pendaftaran ujian meja juga sudah mulai saya persiapkan dari sekarang. Saya tak peduli kalau penelitian saya masih sementara berlangsung. Lagipula, hal-hal semacam itu bisa dikerjakan tanpa menunggu rampungnya pengumpulan data. Sambil menyelam minum air. 

Yeah, saya tinggal menaklukkan penelitian ini. Penelitian yang akan cukup menguras tenaga dan pikiran. Jangan pernah berpikir bahwa membuat judul skripsi yang “beda-dari-yang-lain” itu mengenakkan. Beberapa bagian harus dibuat a la pemikiran sendiri.

“Jadi, bagaimana caramu nanti analisis datanya?” tanya beberapa orang yang takjub penasaran dengan judul skripsi saya.

Hm..dipikirkan lain waktu saja. Paling penting, saya cukup bergerak saja mengiringi watu yang semakin melaju. Move. Move. Move. Saya tak mau lagi ketinggalan hidup yang seharusnya mulai dicicipi dari sekarang. Ini sudah 2015, Men!

Screenshot by film The Secret Life of Walter Milty. 


--Imam Rahmanto-- 
Hujan baru saja mengguyur kota ini tiada henti. Sambung-menyambung. Di momen tertentu hujan itu menderas dan tak memperbolehkan siapa pun melintas di bawahnya. Di momen lainnya, hujan itu menderai menjadi rinai, namun tak mereda.

Hujan nampaknya sedang melampiaskan kerinduannya pada bumi. Seingat saya, dua-tiga hari ini teriknya mentari memang mengambil alih posisinya di bumi. Sedikit memberikan waktu bagi hujan untuk menabung rindu, lantas menumpahkannya kemarin.

Saya sedang berada di kampus ketika hujan berderai. Ada banyak hal yang kemudian harus dilanjutkan, mengingat status sebagai mahasiswa tingkat akhir. Terlalu lama saya berdiam, dan berperang sendiri dengan pikiran-pikiran bodoh lainnya. Bukankah rentang satu bulan selepas ujian proposal itu lama sekali ya?

Seperti inilah yang dinamakan rehat. Akh, beruntungnya lagi, saya cepat tersadar. Ada banyak wake up call. Teman-teman seangkatan, yang pernah mengenyam bangku sekolah yang sama, bergiliran menyelesaikan studinya. Lainnya lagi, sudah berumah tangga. Saya? Masih disibukkan pikiran sendiri akan kemana selepas ujian proposal ini. Hah!

Mengerjakan apa yang bisa dikerjakan, mungkin sepertinya menjadi pilihan untuk mempercepat jam terbang saya di kampus. Target bulan ini tak terkejar, seharusnya bisa bergeser ke bulan berikutnya. Paling tidak, saya sudah merencanakan. Katanya, kalau gagal merencanakan berarti gagal pula mengerjakannya. Yeah, kita, manusia, memang hanya bisa merencanakan tanpa tahu bahwa Tuhan lah yang selalu menentukan. Plus, orang lain yang mengomentari.

Saya masih berada di kampus sesaat bentrokan mahasiswa nyaris dimulai lagi. Entahlah. Saya juga heran melihat kebiasaan kampus saya, yang saban minggu (nyaris) bentrok. Hujan mungkin saja berhasil melerai kedua fakultas yang sudah siap saling lempar itu. Sebagaimana hujan pula yang menahan saya berjam-jam di beranda masjid. Di dalam masjid sedang berlangsung kajian, sementara saya hanya berdiri memandangi hujan dengan telinga yang terpasang earphone bervolume maksimal.

Saya memandangi orang-orang yang mempercepat langkahnya menghindari hujan. Ada yang berjalan di bawah naungan payung. Sepayung boleh berdua. Di atas motor, orang-orang mengenakan mantel tak tertebus air. Laju motor dipercepat demi menghindari hujan yang nampaknya tak ingin berhenti barang sebentar. Di pinggir bangunan-bangunan yang menjanjikan keteduhan, orang menunggui hujan. Hujan, kapan kau mereda? Ada banyak urusan hari ini? Begitu kata hati masing-masing, mungkin.

Lewat pukul lima, hujan mulai merinai dan membolehkan saya beranjak dari masjid. Saya harus berjalan pulang. Hujan, tak apalah. Hujan seperti ini tak akan pernah menyakiti saya. Sejatinya, manusialah yang membuat-buat sakitnya dan menyalahkan hujan. Hm…hujan sedramatis dan seromantis ini dikatakan membawa penyakit?

Apa guna kesempatan jika tak digunakan. Saya sudah cukup lama beristirahat dari pekatnya kepala. Ini sudah sampai pada akhir tahun. Meski kampus bakal diliburkan lagi (pastinya), sudah saatnya saya berjalan lagi. Mengerjakan apa yang memang bisa dikerjakan. Berjalan lebih jauh, kata Banda Neira, karena hujan hanya di mimpi…

Now playing: Banda Neira - Berjalan Lebih Jauh




--Imam Rahmanto--
Usai melangsungkan ujian seminar proposal, ada jeda yang berlangsung dalam proses studi akhir. Pikiran dan perasaan menyatu mendorong kata: rehat. Saya jadi terlalu pongah hanya gara-gara baru menyelesaikan tahap pertama itu. Sementara abai terhadap tahap berikutnya, yang katanya, jauh lebih sulit dan kerap membuat ingin “berhenti” cukup lama.

Ck…saya harus mencerabut lagi kebiasaan lama saya yang mulai tumbuh perlahan: menunda-nunda.

Masa-masa rehat saya juga didukung dengan “kebetulan” luar biasa. Mengingat kota kami sedang berada dalam taraf ricuh luar biasa akibat kenaikan harga BBM. Demonstrasi terjadi dimana-mana. Mahasiswa bergerak demi rakyat, katanya. Tak pelak, saking seringnya berakhir onar, maka pengamanan besar-besaran dikerahkan. Polisi dan TNI. Begitulah rupa kota kami, yang mendapat julukan kota demontrasi, pelopor gerakan-gerakan mahasiswa.

Hampir semua kampus diliburkan dalam rentang dua minggu belakangan, tak terkecuali kampus saya. Karena libur, saya makin terlena tak melakukan apa-apa. Bagaimana tidak, kampus begitu ketat ditutup untuk kehidupan-kehidupan sebagaimana biasanya. Pagar dan aparat berdampingan. Setiap mahasiswa yang hendak melintas masuk, harus berakhir dengan tanya ini-itu. Apa pula?

Tak perlu saya ceritakan bagaimana kronologis aksi-aksi demonstrasi yang senantiasa merentang di kota kami. Silakan ketikkan saja kata kunci kota kami di kolom pencarian dunia maya, maka banyak ditemukan referensi dari media-media lokal hingga nasional. Pagi ini, bahkan, media massa lokal menerbitkan hadline tentang kerusuhan (demonstrasi) di kampus swasta kota kami. Benar-benar rusuh. Parahnya, untuk kedua kalinya, setelah kampus kami, aparat main nyelonong saja masuk ke kampus sana. Menyisir. Membekap. Memukuli. Duh, ini bukan lagi aparat, tapi keparat! Bayangkan saja, masjid pun dilempari gas air mata!

Aduh, saya terbawa emosi. Saya tak bermaksud membahas kerusuhan di kota kami. Tapi, khusus di kampus saya, aktivitas perkuliahan telah dimulai kembali hari ini.

Dua hari yang lalu, berturut-turut, kampus kami menghelat seremonial penamatan mahasiswa. Entah mengapa, kepala saya kok suka berdenyut-denyut ya melihat teman-teman lain di-wi-su-da? Ini hanya majas metafora saja sih. Meskipun pada kenyataannya, saya benar-benar diburu waktu agar bisa menyelesaikan studi tepat waktu. Ada banyak hal yang ingin saya capai setamat kuliah ini. Harus!

Perihal tenggat pribadi, saya sendiri merumuskannya di akhir tahun nanti. Jadi, di bulan Desember mendatang, saya telah memperoleh gelar “di atas kertas” yang diidam-idamkan banyak orang itu. Tak peduli jika saya mesti menantikan seremoni penamatannya (baca: wisuda) di bulan tiga atau empat mendatang. Di sela-sela saya menunggu itu, saya akan mempunyai pekerjaan selayaknya. Hingga kelak melalui seremoni penamatan itu, saya tak punya waktu sekadar menyematkan diri pada kata “pengangguran”.

“Seperti halnya pindah rumah. Sebelum memindahkan barang dan perabotan, terlebih dahulu kita harus menemukan rumah baru. Kalau sudah dapat, barulah barangnya dipindahkan semua. Kalau belum dapat,, ya disimpan saja dulu di rumah, sembari mencari-cari rumah yang dianggap tepat.” 


Saya (memaksa) yakin pada diri sendiri. Segala target yang ditetapkan harus ditepatkan. Kalaupun tak, setidaknya saya telah meniatkan berbuat baik dengan rencana-rencana itu. Sebagaimana prinsip, apa yang telah saya mulai harus saya selesaikan.


--Imam Rahmanto--


NB: Di tengah berondongan teman-teman “pembimbing” yang menanyakan kabar-kabar perkembangan skripsi, saya baru memulainya lagi malam ini. Asli, baru mengacak-acak proposal penelitian beserta instrumennya. Padahal besok hari libur kampus, ya? Sudahlah, setidaknya saya hanya ingin membuang perasaan “menunda-nunda” saya.
Tentang hujan kedua, saya merasainya di sela-sela luapan seremonial selaku mahasiswa tingkat akhir. Sebagaimana riuhnya atap dijatuhi bulir-bulir air dari langit. Sejenak, orang-orang mengalihkan fokusnya, sekadar menegaskan bahwa hujan benar-benar turun, untuk kedua kalinya di kota yang meradang ini.

“Ya, hujan pun tiba di seremonial kecil itu, menegaskan diri sebagai teman.”

***

Saya kini cukup berlega hati lantaran telah melalui tahap pertama menyelesaikan studi di kampus; seminar proposal. Pun, seminar proposal dikategorikan sebagai salah satu mata kuliah di jurusan saya yang menghimpun 2 satuan kredit semester (sks). Namanya Tugas Akhir I (TA I). 

Bagi sebagian besar mahasiswa, menjalani seminar proposal adalah hal yang biasa-biasa saja. Tidak ada yang cukup istimewa. Tidak bagi saya, yang tercatat sudah lama menunda-nundanya. Akh, tahap itu, saya menganggapnya sebagai suatu loncatan yang cukup menyenangkan sekaligus membahagiakan. Saya menghargainya, teruntuk diri sendiri. Saya hanya selalu berusaha memberikan penghargaan atas usaha apapun yang telah dilakukan, baik orang lain maupun diri saya sendiri.

Wajar saja ketika jadwal ujian seminar telah ditetapkan, betapa hebohnya saya menyampaikannya kepada teman-teman lainnya. Tak lepas saya menginformasikan jadwal ujian kepada siapa saja yang saya temui. Layaknya orang yang hendak menikah, undangan disebar kemana-mana. Huahaha…

Untuk ujian seminar yang telah berlangsung hari itu, saya ingin mengucap terima kasih kepada siapa saja yang menyempatkan diri duduk seruangan memperhatikan saya mengoceh kepada para penguji. Saya justru lebih menghargai teman-teman yang hadir demi menghabiskan konsumsi di dalam ruangan ketimbang mahasiswa-mahasiswa yang hendak memenuhi kartu kontrolnya. Dan kenyataannya, mereka yang hadir tidak lebih dari 20 orang di ruangan saat itu, merupakan teman-teman yang secara sukarela hadir mendampingi ujian singkat saya itu. Yeah, saya membanggakan kalian! 

Hihihi...keren banget presentasinya. #ehh (Foto: Dhiny)
Saya mencatat yang hadir diantaranya, adalah teman-teman sejurusan, seangkatan, yang kini juga tengah menyelesaikan skripsi seperti saya. Yang telah sarjana juga ada. Ada teman-teman sejurusan yang selalu berbagi pengalaman skripsinya dengan saya. Ada beberapa orang teman dari jurusan lain. Ada teman-teman yang merupakan rekan kerja di lembaga pers. Bahkan ada dosen yang selang beberapa menit kemudian ikut nimbrung di dalam ruang ujian dan memberikan pertanyaannya kepada saya. Hm…dosen itu pernah menjadi pembimbing di masa KKN saya, dulu.

Kepada mereka, saya ingin berterima kasih. Hadir dan berjibaku mata, sungguh memberikan daya tiada terkira dalam ruangan sempit itu. Bagaimanapun, banyak semangat yang saya peroleh dari sana, dari teman-teman itu. Sekadar mengangguk-angguk atas pendapat saya. Atau sekadar bertanya dan menanggapi apa yang tersampaikan dalam presentasi singkat.

Masa-masa sulit itu bisa terlalui dengan cukup baik. Bagaimana saya harus dibangunkan pagi-pagi oleh seorang teman. Dipaksa menyiapkan segalanya lebih awal ketimbang hari-hari biasanya. Teman saya yang mengurusi konsumsi itu juga sempat ditilang polisi lalu lintas. Menyisakan perasaan deg-degan bagi saya yang menanti-nanti kehadiran dosen penguji dan pembimbing di kampus. Saya mendapati pula teman-teman lain yang telah lebih dulu hadir di jurusan ketimbang saya yang empunya acara.

Saya juga harus bertaruh dengan keadaan, dimana kampus baru saja mengalami dukanya yang begitu mendalam. Insting UNM. Puluhan polisi, sehari sebelumnya, baru saja menyerang kampus kami dengan brutal, merusak segala fasilitas kampus, fasilitas mahasiswa, motor, kendaraan, hingga mengusir dan bertindak kekerasan kepada warga kampus, gegara demonstrasi penolakan kenaiikan BBM oleh mahasiswa di kampus kami. Yang paling bikin kesal dan geram adalah tindakan mereka melukai beberapa wartawan media yang hendak meliput penyerangan itu. Damn! 

Kampus di Pettarani harus diliburkan selama beberapa hari. Berbeda, di kampus saya yang terpisah dengan kampus pusat, perkuliahan masih terus berlangsung. Alhasil, ujian saya masih bisa tetap berlanjut.

Ketika penguji memberikan penutupnya, menyampaikan sedikit hal yang butuh perbaikan dalam proposal yang saya ajukan, senyum lebar mengembang di wajah. “Ternyata selesai juga,” saya membatin. Senyum itu menular kepada teman-teman lainnya sembari berucap selamat. Kalau kita mau, ternyata selalu ada jalan, kan?

"Nah, selanjutnya kita akan bertemu untuk perbaikanmu ya?" ujar pembimbing saya. Ia tersenyum memberikan selamat sesaat meninggalkan ruangan seminar. Saya mengangguk.

Terima kasih. Selanjutnya, giliran kalian! (Foto: Dhiny)

***

Saya sedang berbahagia, namun bingung bagaimana membahasakannya. Karena sekadar terima kasih mungkin tak sepadan. Cukup lama saya harus menyiapkan diri menuliskan ini. Selain karena laptop kesayangan sedang bermasalah, saya sedang ingin bersantai dengan perasaan-perassan lega ini, sejenak waktu. Dan tulisan ini hanya sebagian kecil menggambarkan kebahagiaan saya. Anggap saja saya sedang tersenyum-senyum sendiri sepanjang waktu.


--Imam Rahmanto--
Saya lagi-lagi harus berterima kasih pada keajaiban yang tiba hari ini. Keajaiban yang membawa saya pada bidang-bidang semu merupa nyata. Di kala saya nyaris kehabisan napas karena terlalu lama menunggu, mengosongkan harapan untuk hari ini, kesempatan itu datang. Tepat ketika saya nyaris tak acuh padanya.

Siang kemarin, saya banyak menghabiskan waktu di kampus. Jadwal seminar proposal yang tertunda harus diurusi kelangkapannya hari itu. Sebenarnya bukan kelangkapan sesuatu-bagaimana. Hanya saja, saya butuh mengecek secara berkala apakah-jadwal-dan-undangannya-sudah-keluar? Jadi, saya cuma menunggu. Yah, hanya menunggu.

Saya hanya butuh memastikan siapa dosen yang akan bertanggung jawab menjadi penguji. Adalah momok mendapati dosen yang disegani dan ditakuti banyak mahasiswa akan menguji kajian proposal penelitian saya.

Di kampus, seperti biasa, saya banyak bertemu dengan teman-teman yang merupakan adik angkatan saya. Mencari teman-teman seangkatan yang masih berdiam di kampus itu bak mencari jarum di tumpukan paku. #ehh. Berbincang dan berbagi dengan mereka setidaknya memberikan saya banyak wawasan baru dan semangat untuk memperjuangkan calon-skripsi saya. Bahkan untuk penantian keputusan seminar proposal, saya harus bolak-balik dari lantai 2 gedung jurusan sampai 4 kali.

Bagi sebagian orang, menjalani seminar proposal masih jauh panggang api dari kata “selesai”. Anggapannya, seminar proposal itu tidak begitu sulit. Mudah.

“Baru ki seminar proposal?”

“Iya.” Sepolos-polosnya saya menjawab. Selugu-lugu mungkin.

Ditanggapi saja dengan “O” yang panjang oleh mereka yang sudah menyelesaikan kuliahnya dari berbulan-bulan lalu. Namun masih saja mereka betah mondar-mandir di kampus saya. Iya, kampus saya dong! Mereka yang sudah lulus kuliah seharusnya sadar akan kampus “kehidupan” yang lebih besar lagi. Maaf saja kalau nganggur. :P

Saya sungguh bahagia bisa menjalani seminar proposal beberapa hari kelak. Betapa menggembirakannya usaha yang berbuah hasil. Kalau dipikir-pikir, saya sudah lama teralih dari dunia “penyelesaian” seperti ini. Saya tidak banyak mengurusinya. Namun, dalam tempo dua bulan ini, saya sudah bisa mencicipi sulitnya berurusan dengan skripsi. Sebenarnya tak sulit juga sih. Asal ada kemauan saja.

Wajar kalau saya berusaha mengapresiasi diri sendiri. Sedikit memberikan penghargaan atas usaha keras yang saban hari dipraktekkan. Seberapa sepele jalan yang disusuri, setidaknya “terima kasih” bukan barang langka untuk diucapkan. “Terima kasih” paling sederhana, ya dengan mengembangkan senyum. Saya tersneyum lebar malah sepanjang hari. :D Tak ada kata terlambat untuk menghargai diri sendiri.

Bagi orang lain, seminar mungkin hal sepele. Tidak bagi saya. Sungguh prestasi luar biasa setelah lama teralihkan dari dunia kampus. Beberapa minggu kesana-kemari mengorbankan (membuang) waktu membuahkan hasil yang sungguh manis. #prokprokprok

Apalagi saya juga pernah bersepakat dengan seseorang tentang penyelesaian kuliah di jadwal wisuda bulan ini. Meskipun saya tak mungkin mengejarnya lagi. Saya hanya butuh bulan terakhir di tahun ini. Saya ingin menuntaskan, dan mulai mengisi resolusi baru di tahun berikutnya.

Bosan menunggu (nyaris) seharian, saya hendak pulang. Niat mundur demi menyusun strategi esok hari. Eh, di tengah jalan persimpangan fakultas, saya yang mengendarai motor melintasi dosen pembimbing yang sedari lama saya tunggui. “Akh, ini dia!” teriak saya dalam hati.

Tanpa perlu diolah otak dan rasa lebih lama, masih sempat mengabaikannya juga sih, saya menghentikan kendaraan di tepi jalan. Memarkirnya di sembarang tempat. Saya hanya meniru motor lainnya yang terparkir serampangan di pinggir jalan, tepat di belakang gedung sekretariat BEM fakultas.

Bayangkan saja adegan di film-film…

Saya mengejar dosen tempat ia tadi berhenti sebentar karena mengobrol dengan mahasiswa. Akan tetapi saya tak menemukannya.

“Kemana Ibu dosen tadi?” saya random saja bertanya kepada adik angkatan, yang saya sama sekali tidak mengenal mukanya. Masih botak. Lagipula, statistik peluang matematis untuk mendapatkan jawaban dari mereka adalah 99,999... persen.

“Oh, kesana, Kak. Ke jurusan!” beberapa dari mereka yang saya temui nyaris berbarengan menunjukkannya.

Selang beberapa menit, saya menunggunya di jurusan. Menit berlalu seiring dengan pesta kecil-kecilan salah satu program studi baru di jurusan saya atas dikukuhkannya status prodi tersebut oleh Dikti. Di tengah-tengah kerumunan anak prodi tersebut, saya duduk-kalem-manis menunggu sambil mengikutkan mata pada sosok dosen pembimbing yang saya tuju.

Di tangan saya hanya terselip bacaan lama untuk menemani, yang belum pernah saya tuntaskan; buku karangan Raditya Dika. Wajar ketika orang-orang di samping kiri-kanan saya melongo melihat saya terkadang tertawa-tawa hah-hihi sendiri.

Karena bosan menunggu, hingga waktu beranjak selepas Ashar, saya mengusulkan kepada dosen pembimbing untuk menitipkan saja instrumen yang niatnya mau dikonsultasikan langsung. Ia nampak sibuk berbenah sajian pesta. Saya sungkan mengganggunya (dan menunggu terlalu lamai). Pada sela-sela waktunya itu, ia menemui saya. Alhasil, ia mengiyakan dan jadilah saya “memanjat-lagi” ke lantai 3 gedung jurusan sekadar menyimpan instrumen itu di meja kerjanya. Lagi-lagi jiwa jurnalisme saya bisa dimanfaatkan. Hahaha…

Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Saya memutuskan untuk mengecek lagi jadwal di ruang administrasi lantai 2 sebelum benar-benar pulang. Biarpun sudah empat kali mencoba sepanjang hari dan hasilnya nihil, tak ada salahnya mencoba lagi. Keep trying! Dan taraa!! Staf tata administrasinya mengenali dan memperlihatkan undangan yang usai dicetak. #bernapas lega

Tertera: Jumat, di waktu pagi, saya harus siap menantang para penguji. Oleh karena itu, siapa pun, dari dekat, dari jauh, teman, kenalan, keluarga, mari berbagi dukungan. Tak perlu voting: Aku YES, Aku NO! Karena kata Tuhan, partikel doa di langit tak pernah ada batasnya.


--Imam Rahmanto--
Saya sedang tak ada kerjaan di kamar kost. Ketimbang merenung-mengharap-merenung, saya lebih baik menuliskan sesuatu. Ada banyak hal yang perlu dibekukan. 

Proposal penelitian yang telah saya daftarkan untuk ujian seminar proposal, masih belum nampak hasilnya. Yah, jadwalnya belum ditetapkan. Menurut petugas administrasi di jurusan, jadwal ujian beserta pengujinya baru bisa diketahui Senin. Padahal, saya sudah mendaftarkan proposal jauh hari sebelumnya. Mengecewakan.

Seandainya saja para pengelola administrasi jurusan bisa sedikit lebih mengutamakan pelayanannya, tentu saya tidak perlu menunggu sampai sejauh ini. Saya tidak perlu bolak-balik-naik-turun tangga hanya untuk ke lantai dua gedung jurusan. Saya tidak perlu berlari-lari kecil (saking semangatnya) mengecek di ruang administrasi. Sayya tidak perlu mengumpat di dalam hati. Segalanya, hanya berujung pada kata “belum”. Saya butuh melampiaskannya.

Saya sudah lama tidak memprakarsai desain-desain grafis. Sebenarnya, graphic design juga menjadi salah satu keterampilan saya di lembaga jurnalistik yang menaungi saya 4 tahun terakhir. Meskipun, sejak dulu, saya tidak berambisi menjadi seorang desainer ataupun ilustrator. Pasalnya, saya lebih jatuh cinta perihal “menulis” dan segala tetek-bengeknya.

“Saya lupa” atau “Saya tidak tahu” terkadang menjadi tameng tersendiri untuk menghindari segala hal yang berhubungan dengan desain jikalau teman-teman bertanya atau meminta sesuatu. Lagipula saya juga bukan manusia-serba-tahu. Bahkan, beberapa kali ada teman-teman yang meminta bantuan bantuan sebagai pemateri layout/ graphic design di acara-acara kepelatihan dasar, saya menolaknya mentah-mentah. Saya terkadang kesal ketika teman-teman masih mengidentikkan saya sebagai seorang layouter.

Tak hanya itu, saya bahkan belum lama ini ditawari bekerja sebagai layouter di sebuah media lokal. Namun saya menolaknya.

"Seharusnya kau berpikir tentang kerja dulu. Apalagi pekerjaan begitu tidak akan memberikan pengeluaran banyak. Amat berbeda dengan pekerjaan sebagai wartawan," banding seorang teman.

Untuk saat ini, saya mencari pekerjaan yang cocok dan sesuai dengan kesibukan saya mengurus proposal penelitian skripsi. Sebelum saya menamatkan skripsi itu, saya tidak akan mengambil pekerjaan yang menyita banyak waktu. Apalagi yang tidak sesuai dengan passion saya. Jam kerja di media lokal itu tidak sesuai dengan kriteria alokasi waktu saya.

“Syukuri saja. Namanya juga anugerah. Tidak banyak orang loh yang diberi kesempatan untuk menguasai banyak skill sekaligus,” kata teman. Saya selalu mensyukurinya. Selalu. 

Belajar dari businessman, saya tak ingin membangun branding diri sebagai seorang desainer. Saya justru ingin dikenal sebagai penulis, jurnalis, wartawan, travel-writer, editor, copywriter, blogger, atau apapun yang erat kaitannya dengan passion saya di bidang ini. Untuk saat ini, saya belum memutuskan bakal berprofesi sebagai apa. Maklum, saya belum menamatkan kuliah. Sadar atau tidak, sedari awal, setiap orang sudah seharusnya membangun branding diri sebelum memasuki dunia kerja yang lebih profesional.

"Just do it and you will find a way. It’s not about money, It’is dignity" --Ainun Chomsun, Founder Akademi Berbagi

Perihal graphic design, saya hanya menjadikannya sampingan. Sama halnya ketika saya begitu menyukai fotografi. Kelak, saya ingin memiliki kamera DSLR pribadi. Saya butuh banyak hal yang direkam dengan kamera.

***


Ide ini muncul begitu saja. karena terkadang ide memang muncul dadakan, dan secepatnya butuh divisualisasikan dalam realisasi. Dipendam lama-lama, justru membikin ide bakal memudar.

Berenam, kami dipersatukan dalam lembaga jurnalistik kampus dengan latar jurusan yang berbeda-beda. Tahun ini, sudah seharusnya menjadi tahun ideal kami menamatkan kuliah. Hanya saja, kami memiliki kesibukan yang berbeda-beda, dan punya impian yang digantung 5 cm di depan kening kami. *ala-ala film 5 Cm.

Dan tersebutlah kami berenam yang menunggu impian dipulangkan pada waktu masing-masing. Yang menunggu, pada seberapa besar usaha berputar di kepala kami.

Dhiny, si Cengeng yang menyimpan banyak ingatan, dan kerap menjadi ladang “rahasia” bagi kami. Asri, si Cambang yang punya potensi menjadi politikus handal karena keahliannya melobi. Ical, si Kadal yang gandrung bermain game dan dinanti-nanti kekasihnya untuk menyelesaikan kuliah. Cinno, si Poligami, yang kelak di kemudian hari mungkin menggunakan keahliannya beretorika untuk menikahi banyak gadis. Iyan, si Buaya perencana yang punya sejuta tempat untuk dikunjungi dalam perjalanannya sebagai gembel-packer.

“Imam, buatkan juga untuk semua personil #Ben10. Biar nanti saya mau cetak dan buatkan baliho,” tukas seorang teman.

Hmm…masih ada 4 orang dari kami yang tersisa. Sayangnya, mereka sudah lebih dulu “lulus” ketimbang kami. Nantilah kita genapkan. Saya harus mengurusi proposal penelitian dulu…


--Imam Rahmanto--
Atas apa yang telah terjadi hari ini, ada dorongan membuncah melemaskan tangan saya. Ada perasaan di kepala saya yang ingin terbebaskan. Apa saja, tak acuh. Sesederhana saya hanya ingin menulis. Itu saja.

Saya menantikan senja, yang amat manis dalam kenyataan di awang-awang pikiran. Tak peduli ketika lapisan awan putih menutupi hampir semua permukaan langit. Masa bodoh dengan matahari yang telah menggelap jelang setengah jam lagi di batas cakrawala. Lebih cepat dari lazimnya. Pun, rumah yang berjajar dan berimpit di kompleks perumahan ini menghalangi sekadar memperoleh satu garis cahaya sore.

Saya membayangkannya. Sendirian, saya duduk di beranda redaksi yang sudah berteman empat tahun lamanya lamanya. Dalam banyak hal, kesunyian di petang beranda membawa saya pada alur yang mendamaikan. Udara sepoi-sepoi memilin lembut di perantara jemari ini. Kelak, saya memimpikan rumah dengan beranda yang menghadap matahari terbit dan halaman belakang yang menantang matahari tenggelam. Di setiap sesi penghubung waktu itu, saya akan menyisipkan waktu bersantai meracuni diri dengan beberapa mili kafein cappuccino dan latte.

Entah mengapa senja di petang ini tak secerah biasanya. Orang-orang akan berharap hujan meluncur dari atas langit sana. Gerimis pelan atau lebat sekaligus. Dikarenakan, kabar hujan datang dari teman-teman yang berdomisili di pinggiran kota. Hujan, katanya. Meski disini pertanda hujan belum menemukan pangkalnya sama sekali.

Bukan main, kemarau terlampau lama. Orang-orang serasa terpanggang di siang bolong. Para pedagang minuman dingin dan es-es di luar sana tertawa kegirangan. Keuntungan mereka sebanding dengan tingkat kecerahan matahari. Semakin cerah, semakin gerah, semakin laris.

Namanya kerja keras, tak pernah berakhir sia-sia. Bukankah manusia terlahir untuk memenuhi hasrat hidupnya? Manusia harus bekerja atas keinginan-keinginan yang ingin diwujudkannya. Tanpa itu, hidup takkan berputar lama.

Ah, tentang kerja sungguh-sungguh itu... Saya nyaris kehilangannya.

Kenyataan senja yang manis itu hanya betul-betul bersumber dari kepala saya. Pikiran saya terlampau girang hari ini. Senja itu merefleksikan kesungguhan yang manis. Bagaimana saya nyaris lumpuh dan tak berbuat apa-apa lagi karena dihentikan pencarian tanda tangan yang tak berujung. Satu tanda tangan terakhir itu, nyaris tertunda karena si empunya sedang berada di luar kota. Ketua jurusan saya itu, baru kembali Jumat, lusa. Sementara, saya punya deadline pada diri sendiri menyelesaikan proposal dalam tempo seminggu ini.

Nyaris, nyaris saja saya, lagi-lagi, harus menunda keinginan mengejar deadline tugas akhir. Kalau saja saya tidak berbagi dengan seorang teman, maka saya akan benar-benar menganggap bahwa usaha maksimal saya sudah berujung disini. Segitu saja.

Nyatanya tidak. Di tengah-tengah saya melarikan kesal ke secangkir besar es tongtong, chat singkat dari teman saya itu membuka jalan lain. Usaha yang seolah-olah sudah saya kerjakan secara maksimal, ternyata masih bisa dimaksimalkan lagi. Di balik belukar itu, ada jalan pintas!

“Di balik rencana A, masih ada rencana B, rencana C, rencana D, hingga abjadnya benar-benar habis dikombinasikan. Tidak boleh terpaku pada satu rencana yang gagal saja.”

Sejujurnya, saya selalu terharu mendengar pesan itu diulang-ulang oleh salah seorang teman redaksi. Seorang perekam yang baik. Ia mengingatkan atas apa yang pernah saya ajarkan padanya, dan teman-temannya.

“Tanda tangannya bisa kok diwakili oleh sekretarisnya. Saya dulu begitu,” secercah petunjuk dimunculkan teman kampus saya, lewat pesan singkat di BBM.

Atas petunjuknya, saya ingin bertaruh lagi. Saya mengenyahkan segala “alasan-pembenaran” yang menghadang di kepala. Just move and try it!

Nyatanya benar. Saya menyelesaikan remeh-temeh tanda tangan itu. Kesungguhan yang berlanjut. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan yang berpangkal mula itu, saya melanjutkannya ke jenjang tahap berikutnya. Saya lantas menutupnya dengan manis. Puas dan menang telak terhadap ego malas yang merongrong saban hari. Malas butuh ditentang hingga ditendang.

Sungguh. Saya senantiasa mengembangkan senyum jikalau mengingat-ingat kejadian hari ini.

Bagaimana saya semenjak pagi harus duduk sendirian di lorong jurusan, memprediksikan si empunya tanda tangan bakal mengajar sesuai jadwal pagi itu. Bagaimana saya kemudian pulang karena tak menjumpainya sejam-dua jam ke depan. Bagaimana saya datang lagi, berharap lazimnya menemukan ia beristirahat di kantornya. Bagaimana usaha itu nihil dan mendorong saya mengirimkan pesan singkat yang dibalas dengan pemberitahuan bahwa dirinya sedang berada di luar kota. Kesal? Tentu saja. Bagaimana saya kesal dan melampiaskannya dengan pulang dan menahan pedagang es tongtong yang lewat, memborongnya segelas besar, segelas kecil, beberapa roti. Terakhir, bagaikan oase di padang gurun, petuah dari teman saya itu muncul begitu saja usai mengomentari gambar es tontong yang saya unggah di media android.

Lantas, segaris senyum itu menularkan semangat untuk terus bekerja  dan bersungguh-sungguh. Partikel senyum merupakan hal paling mendasar untuk menularkan semangat kepada siapa saja. Kesungguhan selalu menemukan jalannya. Di samping saya mempercayai pula betapa keajaiban selalu hadir nyata di kehidupan kita. Racikannya sedernana; percaya dan bersungguh-sungguh.

Saya teringat dengan pepatah masa kecil dulu, “Where is the will, there is a way.” – Dimana ada kemauan, disitu ada jalan. Sejak dulu, saya ingin menambahkannya, “Kalau sudah ada jalan, maka harus mau!”

Betapa menguatkannya harapan itu ketika dituntaskan di tengah-tengah momen nyaris kehilangan harapan. Dan itulah sebenar-benar semangat. Di kala nyaris terjatuh, masih ada kekuatan untuk terus bangkit dan membuahkan hasil. Manis. Teramat manis. Dan karenanya, saya siap menantang seminar proposal skripsi pekan depan… ^_^

Ini juga dikerjakan di sela-sela menunggu. (Doodle by ImR)

Dan kenyataan paling membuat saya terharu adalah; saya belum mandi sejak pagi “menunggu” tersebut hingga jelang petang bolak-balik memenuhi pertaruhan tanda tangan itu. Hahaha…apalah arti mandi. Yang terpenting itu…ada disini. *nunjuk dada.


--Imam Rahmanto--
Usai saya menerima revisi dari pembimbing dan mendiskusikannya dengan pembimbing lainnya, ada jeda yang menyela proses penulisan saya berikutnya. Pembimbing saya benar-benar menepati janjinya. Alibinya, “tidak-menemukan-tempat-yang-cocok” mengerjakan proposal.

“Kerjakan di kamar kost?”

“Aduh, kalau di kamar kost, saya tidak bisa fokus. Ada perasaan selalu mau tertidur, karena suasananya yang benar-benar cocok untuk menyendiri dan mengantuk. Yah, selain karena sumpek juga sih,” pikiran-pikiran saya menjawab sekenanya.

“Kerjakan saja di kamar kost teman, atau di rumah teman,”

“Aduh. Saya justru lebih senang berbagi cerita disana,”

“Kalau begitu, bagaimana dengan kampus?”

“Di kampus? Saya memang sudah sering ngampus. Hanya saja, saya menikmati obrolan ringan bersama teman-teman senasib disana. Di samping itu, saya lebih suka mengamati (sembari duduk-duduk menunggu) di selasar kampus. Oiya, sambil nge-doodle,”  

“Kerjakan di perpustakaan? Ada banyak referensi buku loh”

“Hm..waktu yang disediakan disana terbatas, dari jam buka sampai jam tutup. Apalagi disana tidak punya terminal listrik yang memadai. Emm…disana saya juga lebih tergoda membuka-buka novel dan sastra,”

“Kalau di redaksi? Dilengkapi jaringan internet sebagai referensi pula,”

“Terlalu ramai. Malah tidak bisa fokus. Sedikit-sedikit dapat gangguan. Sedikit-sedikit menarik perhatian. Sedikit-sedikit menjelajahi dunia maya tak henti. Selalu ada godaan bercengkerama dan berdiskusi disana,”

“Di Coffee Shop atau kafe langganan?”

“Hm…agak meragukan. Dulu, saya menyelesaikan proposal-skripsi di kafe dekat-dekat redaksi. Namun, di momen-momen hari berikutnya, saya justru lebih banyak membuang waktu, tanpa memulai mengerjakan perbaikan proposal tersebut. Nyatanya lebih banyak menguras kantong juga, kan? Saya lebih suka menikmati “reading-time” atau “lonely-time” disana. Hehe…”

“Jadi??”

Berdebat tanpa berbuat justru akan semakin menghabiskan waktu yang berguna untuk bertindak. Sebaiknya, memulai yang perlu dimulai. Bagi saya, mencari-cari alasan termasuk salah satu perkara paling mudah setelah urutan ”mencari-cari kesalahan orang lain”. Lazimnya, saya memang terlalu bodoh untuk mencari-cari alasan atas kemalasan yang selalu berkumpul di sekeliling saya.

Akhirnya saya sadar, tempat yang paling baik mengerjakan sesuatu bukan tempat yang mahal, sepi, sejuk, berpemandangan menarik, hingga berfasilitas lengkap. Tempat yang paling nyaman, sejatinya, ada di dalam hati dan pikiran saya. Kalau pikiran mampu ditata dengan baik, apa pun akan dikerjakan dengan sepenuh hati. Karena tempat yang dirindukan ada di dalam diri sendiri…


***

“Jadi, bagaimana?”

Saya tanpa sengaja bertemu dengan pembimbing di jurusan. Seperti yang sudah saya katakan, ia mengenali saya.

“Emm…saya sudah ketemu dengan beliau kemarin, Bu. Dan memang ada seikit perbaikan di judulnya, dan beberapa masukan atas proposal saya. Tapi selebihnya, tidak mengubah isinya. Saya juga sudah memperbaiki proposal saya, Bu,”

Saya menyorongkan lembaran draft proposal yang baru dicetak pagi sebelumnya. Lembaran yang dituai dari mempertahankan kantuk semalaman sembari bernyanyi keras-keras sendirian – berbekal earphone - di redaksi. Saya memaksa diri mengerjakannya di redaksi. Lembaran yang harus diselesaikan demi menekan angka kemalasan saya, dan mengebut skripsi. Lembaran yang sempat terancam gagal-setor akibat charger laptop yang rusak di sepertiga malam, dan membuat saya harus memaki-maki di dunia maya. #fiuhh

“Hmm..” gumam pembimbing melihat sekilas judul yang sebelumnya telah ia permak habis.

Tak lupa saya melampirkan draft proposal sebelumnya yang penuh dengan coretan tangannya + coretan tangan pembimbing satunya lagi.

“Bagaimana dengan instrumennya?” tanyanya kemudian, menyerahkan kembali proposal itu.

Sekadar catatan, instrumen adalah kelengkapan bahan yang akan digunakan dalam proses penelitian. Untuk penelitian saya, instrumennya berupa pedoman wawancara dan angket.

Dengan jawaban yang telah dipersiapkan sebelumnya, saya menjwabnya biasa-biasa saja. Perihal instrumen, saya sebenarnya belum menyelesaikannya. Namun di depan pembimbing, saya bersikap seolah-olah telah menyelesaikannya. Nah, ini dia keterampilan ala jurnalis dipakai.

“Apalagi, instrumen itu baru divalidasi usai seminar nanti, kan, Bu?” saya meyakinkannya.

“Ya.. Kalau begitu kau mendaftar mi saja dulu seminar. Maju lah,” sarannya, “Mana persetujuanmu untuk saya tanda tangani?”

Saya sumringah. Kata-kata “majulah” terngiang-ngiang di kepala saya. Padahal, saya menyangka akan mengalami sekali lagi perbaikan sebelum disetujui mengikuti seminar proposal. Pun, tujuan saya ke kampus mulanya hanya untuk menyetorkan perbaikan draft proposal yang saya kerjakan semalaman itu. Tanpa dinyana, saya justru didorong lebih maju.

Akh, manis sekali! Tahap yang semakin manis ketika bisa diselesaikan dengan baik. Usaha keras memang tak pernah sia-sia. Seperti kata lagu, semua akan indah pada waktunya. Syalalalala….

“Emm…… saya belum print, Bu,”

#nahloh??


--Imam Rahmanto-- 

Kalau ada yang bertanya tentang kabar anak-pinak-calon-skripsi saya, secara meyakinkan saya akan menjawabnya, “Semua baik-baik saja.” Namun pada kenyataannya, banyak hal yang selalu berlaku di luar rencana kita, bukan? Nyaris mirip dengan orang-orang yang memilih menyembunyikan luka ketimbang menampakkannya kepada orang lain.

Saya tidak begitu mengeluhkan keribetan yang kerap kali menjadi momok bagi sebagian besar mahasiswa. Dosen pembimbing saya orang baik-baik. Salah satunya justru langsung meng-accepted proposal saya tanpa perlu mengoreksi isinya. Dia bahkan bersedia menandatangani apa pun sayang butuhkan ditandatangani olehnya. Saya jadi berpikir, bagaimana kalau sekali waktu saya menyetor rekening cek yang berjumlah jutaan rupiah? Hahaha…

Yang satunya lagi, malah menyarankan untuk segera mengajukan permohonan ujian, meskipun proposal yang telah saya setor padanya belum disentuhnya sedikit pun. Sekadar corat-coret untuk direvisi, saya meyakininya; belum. Sudah nyaris sebulan lamanya. Ergh...

“Aduh, saya belum periksa,” ujarnya setiap kali kami bertabrakan dan ia menjatuhkan buku yang dibawanya dan kemudian tangan saya bersentuhan dengannya dalam adegan slow-motion bertemu.

Ia sudah hafal benar saya sebagai anak bimbingannya. Oleh karena itu, sering kali, motivasi utama saya datang ke kampus hanya untuk “setor-muka” agar ia tersadar betapa lamanya proposal saya teronggok di ruang kerjanya.

“Kapan kamu mau ujian proposal?” tanyanya basa-basi.

Ia menghentikan langkahnya di selasar jurusan di saat menjumpai wajah saya yang cukup “manis”(?) untuk dikenali. Saya sedang duduk-duduk (menunggu) bersama teman lainnya. "Teman” disini adalah adik-adik junior di bawah angkatan saya. Di semester akhir begini, amat-teramat sulit menemukan teman-teman seangkatan di kampus. Sama sulitnya dengan mencari uang receh di tumpukan pakaian kotor. Sebagian besar sudah berbahagia dengan kehidupannya selepas kuliah. Nganggur, atau bekerja, hingga berkeluarga.

“Emm…secepatnya sih, Bu,” jawaban yang standar.

“Mungkin bisa kalau kau masukkan saja dulu format persetujuannya, biar nanti saya tanda tangani,” lanjut pembimbing saya.

Tuh kan! Pembimbing saya baik-banget. Dia tidak ingin mengekang mahasiswa bimbingannya terlalu lama di kampus. Tapi...

Saya pikir tak segampang itu. Proposal penelitian yang tak direvisi dalam proses konsultasinya dengan para pembimbing bukan berarti dalam keadaan “baik-baik saja”. Justru kebalikannya. Kalau koreksi hanya kecil-kecilan di proses konsultasi dengan pembimbing. Maka di ujian nanti, bisa jadi para penguji yang akan “mengoreksi” besar-besaran. Ckck…

Seminggu lalu, saya ogah-ogahan masuk kampus. Dalam benak saya sudah terpatri bahwa proposal saya pasti belum diperiksa oleh pembimbing yang satu itu. Agak malas juga harus duduk-duduk sepanjang siang di jurusan hanya untuk menunggu satu-dua orang dosen, yang sering kali lupa bahwa ada yang sedang menunggunya.

Baru di minggu ini saya kembali gigih “maen” ke kampus. Saya, lagi-lagi, harus menyesuaikan diri dengan nuansa kampus agar tak kehilangan ruh-nya. Semakin sering saya menjauhi kampus, maka semakin mudah pula setan akan menggoda saya dengan kesibukan-kesibukan di luar sana.

Sumber gambar: 1cak.com

Seorang teman baru-baru ini bertanya pada saya,

“Mam, ada nggak temenmu yang susah buat mulai penelitian? Kalau kayak gitu, gimana ngedorongnya?”

Salah satu sahabatnya sama sekali belum berproses pada penyelesaian studinya. Bahkan, menurut dia, semester kemarin sahabatnya itu absen ke kampus. Waduh! 

Seandainya mau masa bodoh, saya pasti juga bakal melakukan hal yang sama. Kesibukan-kesibukan selepas kuliah terasa memanggil-manggil di luar sana. Apalagi kalau kita sudah punya pekerjaan yang lebih “menghasilkan”. Ijazah terasa asing lagi. Sebagian besar pekerjaan keren kan memang tak butuh ijazah kuliah. Karena pun menyadari, ketika saya terbiasa tidak ngampus, lamat-lamat saya akan melupakan kampus sampai isi-isinya.

Wajar, dalam tahap penyelesaian studi ini, metode "maksa-ngampus" adalah hal utama. Bagi saya, untuk menumbuhkan minat nye-kripsi, harus dibiasakan ngampus dulu. Analoginya seperti calon dokter. Dibiasakan dulu membaui aroma obat-obatan, melihat darah, dan semacamnya, baru bisa jadi dokter. Jauhh!!

Saya kerap menghubungi teman-senasib-lainnya untuk ngampus. Tak peduli jika hanya sekadar jalan-jalan tanpa arah di lorong-lorong jurusan. Duduk menatap kosong pada setiap orang yang lewat. Memilah satu-satu sambil ngarep, ada ndak yah teman seangkatan saya yang senasib? Atau bahkan sekadar menimbang-nimbang maba-cewek yang melintas; beautiful or not. Intinya, ya, merasakan suasana kampus dulu lah. Alah bisa karena terbiasa. 

Pepatah Jawa mengatakan, Weting Tresno Jalaran Soko Kulino. Cinta tumbuh karena terbiasa. Cinta pada skripsi tumbuh karena terbiasa ngampus. Halahh…

Seribet-ribetnya pembimbing, selalu ada titik kelemahannya. Ngampus juga bisa memberikan banyak petuah bagi kesulitan-kesulitan proses itu. Ada teman-teman yang berpengalaman menyelesaikan studinya. Ada pula mereka yang sekadar mendengar desas-desus, namun selalu menyemangati untuk selalu berjuang. Tak jarang ada yang justru menawarkan pertolongan. #terharu. Semuanya patut dipelajari.

Serius loh. Di kala saya sedang tak bersemangat dengan proses penyelesaian akhir itu, justru teman-teman itu yang selalu menyemangati. Karena ngampus tak pernah bikin mampus.

Nah, Tuhan, saya sudah berusaha, meski saya sadar seminggu kemarin dan kini belum maksimal. Tapi Engkau Maha Melihat ke dalam hati setiap hamba-Mu, bukan? Emm..kini saya akan berusaha sekuat hati dan tenaga. Selebihnya, saya selalu percayakan pada-Mu. Just believe it! 

***

“Nanti hari Jumat, yah,” pesan pembimbing terakhir kali saya berjumpa dengannya, Rabu kemarin.

Tak masalah. Kini, duduk-duduk sendirian menunggu dosen tak lagi membosankan. Saya menemukan hobi baru. Saya mengisi waktu menunggu itu dengan mencorat-coreti lembaran blocknote saya. Doodling. Hasilnya? Kapan-kapan lah saya pamer disini. (*)


--Imam Rahmanto--
Sudah nyaris dua minggu saya tak berkunjung sembari “meneguk cappuccino” di “rumah” ini. Perasaan saya rasanya diliputi kegelisahan jikalau sekali saja, dalam seminggu, tak pulang ke tempat ini. Sebagai tempat pulang, “rumah” memang menawarkan banyak kerinduan. Ketenangan. Kedamaian.

Sebelum mengisinya lagi, saya harus membenahi sudut-sudut “rumah”. Membersihkannya. Menambahinya perabot-perabot baru. Saya kok jadi kepengen tidur.

Hm…memang sih beragam kesibukan dan pikiran membelit di kepala. Termasuk, deadline tugas akhir kuliah yang seminggu belakangan ini harus dikebut. Padahal, tak jarang ada beberapa ide pula yang tetiba melintas di kepala, berharap sekecil apapun disetor ke “rumah” ini. Efek sok-tak-punya-waktu.

Beruntung, saya telah menyelesaikan proposal penelitian yang menjadi awal penyelesaian tugas akhir kuliah. Sesuai target, minggu ini saya sedang menyelesaikan proses konsultasinya. Kedua pembimbing sudah saya hampiri untuk proses tersebut. Hanya saja, agak kurang seru menurut saya. Pasalnya, keduanya nampak tidak begitu banyak mencoret-coret print-out proposal saya. Saya berharap mendapatkan banyak perbaikan. Pembimbing pertama justru hanya menekankan pada “ruh” proposal saja.

“Soal tata penulisan dan skemanya, tidak perlu saya perbaiki. Saya cuma butuh kita diskusi soal ruh penelitianmu. Intinya adalah isinya. Itu saja,” tuturnya. Ia malah siap kapan saja meng-acc-kan proposal yang baru minggu kemarin saya garap.

Bagi sebagain orang, semakin cepat proses accepted proposal oleh pembimbing, maka semakin baik. Saya cuma khawatir, jalan menuju ujian proposal terlalu mudah. Jangan-jangan, saya mesti bersiap-siap "dibantai" di ruang ujian oleh para penguji, yang hingga kini saya belum tahu siapa orangnya. Dari pembicaraan dengan teman-teman, kami sangat menghindari salah seorang dosen “killer” untuk menjadi penguji dalam ujian nanti.

Proses kebut-kebutan ini, sungguh di luar dugaan. Saya butuh pembimbing lainnya untuk mengecek kebenaran karya-tulis-ilmiah-menjemukan itu. Seperti halnya beberapa orang teman, yang akhir-akhir ini saya todong untuk mengoreksi kesalahan-kesalahan yang didapatinya dalam karya-tulis-ilmiah-menjemukan itu. Tak perlu heran ketika saya menyebutkan jumlah pembimbing: ada banyak. Hahaha…

Tahu tidak, melalui urusan tugas akhir ini, saya semakin percaya bahwa tekad atau kemauan keras itu memang selalu membuahkan proses yang baik. Dalam perjalanannya, saya banyak memperoleh bantuan “tak kasat mata”. Bisa dibilang, keajaiban kecil. Anggap saja seperti itu. Disadari atau tidak, manusia memang sejatinya selalu menjadi musabab atas keajaiban-keajaiban yang ada. Oleh karena itu, untuk siapa saja yang merasa “tak-mungkin” atas segala hal, selalu ada celah “pasti-bisa” di dalamnya. Bukannya Tuhan sudah menegaskan dalam ayat-Nya, “Bersama kesulitan, selalu ada kemudahan”? 

Di samping urusan tugas akhir, saya masih ingat, ada urusan lain yang mesti diselesaikan dan dipenuhi. Ini urusan hidup. Dan juga urusan masa depan. Bagaimanapun, saya tak ingin berakhir kuliah seperti teman-teman lainnya, yang hanya menyandang status kelulusannya, dan masih bingung mencari “arah”. Luntang-lantung tak tentu melangkah kemana. 

Untuk saat ini, mereka cukup beruntung. Atas keputusan pemerintah memalui beberapa kementeriannya, mereka bisa sedikit bernapas lega. Pemerintah sedang membuka peluang untuk menjadi pegawainya a.k.a Pe-en-es. Entah kenapa, saya justru tidak begitu tertarik menjadi bagian dari itu. I am not a mainstream.

Urusan pekerjaan, ya selalu menjadi tolok ukur bagaimana menghargai hidup. Kata orang tua, kita takkan pernah tahu rasanya hidup sebelum kita mampu menghidupi diri sendiri maupun orang lain. Simpelnya, cari uang sendiri. Ugh, saya sudah paham rasanya, sedikit. Lebih jauh, tentu saja untuk menikahi seorang gadis, kita butuh penghasilan yang memadai. #ehh??

“Dan kau bekerja keras bukanlah untukku, tapi menunjukkan pada ayahku, bahwa putrinya berada dalam perlindungan pria tepat yang bertanggung jawab atas hidupnya.”

Hadduh, apaan ini? Ngelantur ya?

Pokoknya, sebulan ke depan, saya akan menenggelamkan diri dalam beberapa kesibukan. Saya butuh “obat bius” itu. Untuk sementara, proses tugas akhir yang sedang berjalan, lancar-lancar saja kok. Nothing to worried. Hanya soal penundaan-penundaan pribadi saja yang terkadang masih mencemari usaha itu.

Karenanya, terima kasih bagi siapa saja yang telah memanjatkan doanya dalam urusan ini. Diam-diam atau terang-terangan. Secara langsung maupun tak langsung. Karena tak ada doa yang dipanjatkan, menguap sia-sia. Semoga doa itu masih terus menggema di sekeliling saya hingga prosesnya berakhir. Tengkyu.



--Imam Rahmanto-- 


Ps: Saya kini punya barang ke(saya)ngan tambahan. Seminggu yang lalu, saya memperoleh hadiah jam tangan dari seseorang, yang juga baru saya kenal sebulan belakangan ini. Ia, bukan orang istimewa. Pemberiannya itu justru mungkin hanya sebatas balas budi untuk secuil bantuan yang saya berikan.
"Bagaimana skripsimu?" 

"Kapan wisuda?"

Biassaa.... Saya sudah "kebal" dengan pertanyaan-pertanyaan demikian. Kepala saya secara otomatis sudah membentuk "sistem imunnya" sendiri. Sudah terlalu banyak dicekoki dengan virus "skripsi", maka otak di kepala saya menjalankan fungsi pertahanan sebagaimana mestinya. Kekebalan emosi pun meningkat drastis. 

Momok? Sudahlah. Saya tak peduli lagi. Ketika pertanyaan diajukan, maka jawaban cukup dilontarkan. Sederhana. Sesederhana melebarkan bibir ketika tersenyum. Dan lagi, selalu menghindar atas pertanyaan seperti itu hanya akan menjerumuskan pada penjara diri sendiri. 

Melawan ketakutan, itu yang terpenting. Setiap masalah harus dihadapi, bukan dihindari. Yang namanya masalah, tidak akan berhenti ketika dihindari. Not to escape. Just face it! Lha wong pertanyaannya cukup dijawab saja, susah amat!

Yah, meski tak dipungkiri, mengurus tugas akhir kuliah itu sebenarnya bukan perkara mudah. Butuh sedikit kesabaran dan keuletan. Serius!

Saya juga butuh sedikit kepercayaan... Sebagaimana saya tahu betapa menyakitkan rasa tak dipercayai, saya menghindari untuk tak mempercayai orang lain. Kepercayaan yang diberikan kepada orang lain, adalah memilin harapan di kepalanya. 

Seperti halnya judul proposal saya yang akhirnya bisa di-accepted oleh kedua pembimbing, yang sudah semenjak sebulan lalu dipatok. Hanya.....saya baru memulai (memerangi kemalasan) seminggu belakangan ini. Hahahaha....

Alamat beruntung bagi saya. Pasalnya, kedua pembimbing saya merupakan dosen yang cukup "mempermudah" proses bimbingan mahasiswanya. Apalagi salah satu diantaranya merupakan orang yang sudah jauh mengenal saya ketika masih aktif di lembaga pers kampus. Tak ada proses yang mblibet. 

"Saya ingin sedikit mengubah redaksi kata.....bla...bla...bla, karena.... bla...bla...," saya menerangkan pada salah satu pembimbing yang juga merangkap sebagai Penasehat Akademik di kampus saya. Tak lupa, saya menyertakan dua judul proposal skripsi, judul before dan judul after.

"Ya, saya setuju dengan usulanmu itu. Bagus. Saya juga pernah dengar itu. Sudah bagus. Saya lebih cenderung memilih itu....," tanggapnya lugas.

Haha....tak butuh waktu lama untuk menerapkan "proses-penanaman-wacana" kepada dosen saya itu. Dengan sedikit keahlian "iseng", proses inception itu berhasil. Yeah!! Untuk sementara, saya tak perlu khawatir. Asalkan ulet dan ada kemauan, Tuhan selalu menciptakan keajaiban-Nya. 

Saya jadi ingat dengan kalimat bijak di buku-buku catatan masa sekolah dulu,

"Where there's a will, there is a way" --- dimana ada kemauan, disitu ada jalan

Setiap keinginan yang kuat selalu menemukan pintunya. 

Perkara tugas akhir mahasiswa, katanya, hanya persoalan "mampu atau tidak" "mau atau tidak". Sebobrok-bobroknya kuliah seorang mahasiswa, selama ia "mau" menyelesaikan kuliahnya, nothing impossible. 

Seperti halnya salah seorang kakak senior saya yang baru-baru ini sudah memasuki deadline drop out. Masa tujuh tahun kuliah, pada akhirnya bisa diselesaikannya dengan tersenyum lebar menenteng toga. Padahal, bagi sebagian orang yang mengenalnya, kelulusannya sungguh di luar dugaan. Tak ada satu ihwal pun yang mendukung sisi positifnya. Dan toh ia dengan mulusnya bisa selesai tepat waktu. Luar biasa!

Asalkan mau....

Asalkan ulet...

Asalkan gigih...

Asalkan pantang menyerah...

Belajar dari sana, sedikit demi sedikit, saya mulai memupus momok "skripsi" itu di kepala. Saya ingin bersahabat dengan momok itu. Membangun hubungan emosional yang mutualisme. Menghindarinya dan membangun benteng pertahanan, justru semakin memantulkan refleksi terburuk atas keinginan yang ingin dicapai. 

Minimal, saya tidak perlu mengerutkan kening ketika ada orang yang menohok dengan pertanyaan semacam itu. Setidaknya, saya menuai semangat dari orang-orang yang masih peduli pada saya karena memepertanyakannya. Kepedulian itu beragam versi.

"Bagaimana skripsimu?"

"Sudah, sudah... sudah sampai Bab II, kok," sambil melemparkan senyum. Tentu saja, senyum yang teramat tulus. :)



***

Makassar dirundung kekeringan. Saya agak prihatin dengan kondisi teman-teman saya yang beberapa hari tidak menemukan air untuk MCK. Sejak dua hari lalu, PDAM Kota Makassar menghentikan distribusi air bersihnya, dan akan berlangsung hingga Sabtu. Termasuk saya juga sih...

Di kost-kost, termasuk di pondok saya, orang berbondong-bondong mengangkat air dari sumur. Menampungnya di bak. Menghabiskannya. Mengangkat air lagi. Begitu seterusnya. Bagi yang tidak beruntung karena tak memiliki sumur, maka kost tetangga menjadi tempat menciduk air. Pun, larut malam, kegiatan "bertamu" itu tak bisa dihentikan.

Ps: "now playing" di handphone saya adalah siaran horor tengah malam salah satu radio di kota Makassar. Iya, ini Malam Jumat, Men!!


--Imam Rahmanto--

 

Maaf. Judul di atas bukanlah untuk menggambarkan kelulusan saya. Yah, seperti yang sebelum-sebelumnya, saya masih saja berkutat dengan tahap awal penyelesaian kuliah. Di Kartu Rencana Studi (KRS) – yang baru hari ini saya acc-kan – sudah resmi terpampang dua mata kuliah wajib semester akhir; proposal penelitian dan skripsi. Ckck...baru segitu udah bangga banget ya? -_-

“Bagaimana? Sudah ada perkembangan skripsinya?” pertanyaan yang seringkali saya dapati dari teman-teman seangkatan maupun adik-adik junior saya.

“Sudah dong!” jawab saya bangga.

“Wow! Jadi, tinggal ujian proposal, dong?”

“Hm…tidak begitu juga,”

“Lha kok???”

“Baru juga sampul proposalnya yang jadi,”

#gubrakk!!!

Setidaknya, saya sudah mulai memaksa diri saya sendiri. Judul dan pembimbing sudah oke, kok. :D. Sedikit demi sedikit. Perlahan tapi pasti. Alon-alon asal kelakon. Pun, beberapa pekerjaan di luar penyelesaian skripsi, saya (berpikir) tanggalkan sementara. Kalau diri sendiri tak bisa memaksa, maka orang lain seharusnya bisa menjadi titik pertolongan. Saya mengaplikasikannya pula pada diri sendiri, dengan menarik banyak support dari teman-teman sekampus, meskipun terkadang malah jadi bahan ledekan. Yo wis lah, itu pertanda mereka masih sayang dengan saya. #ceilahh

Sumber: Kartun Ngampus
Esok hari, teman-teman saya akan merayakan kemenangannya menaklukkan belantara kampus. D-i-w-i-s-u-d-a. Ergh, saya sebenarnya agak malas nge-bold tulisannya. Dicoret aja kali ya??

Mereka lah yang telah melalui belantara kampus. Telah berjalan lebih dahulu di depan. Sebagian dari mereka melalui jalan setapak yang sudah saban hari dilalui orang-orang pada umumnya. Ada pula yang melalui jalan hasil temuannya sendiri. Ada yang melalui jalan dengan memanfaatkan juru kunci belantara. Tak ketinggalan mereka yang ngos-ngosan mencari jalan setapak setelah tersuruk kesana-kemari oleh semak-belukar. Namun seperti apapun bentuk jalan yang mereka lalui, setidaknya mereka telah sampai pada tujuan akhir yang mereka inginkan. Yah, melampaui...

Sejujurnya, saya iri dengan keberhasilan teman-teman yang mencapai gelar kesarjanaannya. Terlepas apakah siap lulus atau tidak, mereka sudah menunjukkan bahwa mereka "mau" lulus, khususnya untuk kedua orang tua. Sebagaimana orang tua yang sangat menginginkan melihat anak-anaknya lulus dengan membawa gelar pendidikannya ke kampung halaman. Betapa mengharu-birunya orang tua melihat anaknya berdiri berjejer dengan mahasiswa lainnya yang memakai toga sambil menghadap rektor beserta dewan guru besar.

Perasaan iri itu adalah hal yang tak bisa dipungkiri. Lumrah. Namun, tak perlu pula diperluas dalam pengertian negatif. Sebagai seorang mahasiswa yang juga sama-sama mengenyam pendidikan di tahun yang sama, di satu sisi, tentu saja saya merasa “kalah”. Tak perlu lah saya mencari pembenaran atas “kekalahan” itu. Sementara di sisi lainnya, ada terselip perasaan “menang” jika memikirkan teman-teman yang akan memakai ijazahnya itu untuk berseliweran mencari kerja, dengan peluh bersusah payah.

FYI, bagi saya, ada tiga muara yang akan dihadapi mahasiswa selepas kuliahnya; kasur, karir, atau studi. Akh, tanpa perlu saya jelaskan, orang-orang juga akan mengerti arah dari ketiga istilah itu. Kalau tidak dari ketiganya, ya pastilah masuk dalam kategori nganggur. :P

Untuk kalian yang akan diwisuda esok hari, saya mengucapkan selamat. Happy graduation! Kalian mesti berbangga atas hal yang telah diraih selama menjalani kuliah. Ilmu. Pengalaman. Teman. Perjalanan. Kisah. Semua terekam jelas dalam memori yang akan kalian bawa hingga uzur kelak.

Seperti apapun rencana, target, impian, dan cita-cita kalian selepas menanggalkan toga nanti, jangan tanggalkan pula idealisme kalian sebagai mahasiswa. Tak perlu menambah-nambahi beban rakyat Indonesia. Seharusnya kita yang telah melalui proses pendidikan terus berupaya membangun Indonesia lebih baik. #tsaahh

Post by Shiro Ngampus.

Lulus kuliah itu….

Ibarat hendak berpindah dari rumah yang lama ke rumah yang baru. Kita baru bisa memindahkan barang-barangnya ketika sudah menemukan rumah baru yang sudah tepat dan pasti dihuni. Kalau belum, ya sebaiknya barang-barangnya disimpan dulu di rumah lama sembari mencari-cari rumah yang tepat untuk ditinggali kelak. Tidak lucu kan ketika kita sudah sibuk memindahkan barang sementara belum menemukan rumah baru yang hendak dihuni?

Tak jauh berbeda dengan kehidupan kampus. Karena kuliah adalah langkah awal untuk mencapai dunia kerja, maka sudah seharusnya setiap mahasiswa menyiapkan “bekal”nya masing-masing sebelum melulusi studinya. Sebaiknya telah menyiapkan planning yang apik sebelum lulus. Alangkah beruntungnya mereka yang sudah memperoleh pekerjaan sebelum meninggalkan kampus. Seolah-olah, mereka memang sudah menemukan “rumah baru” untuk segera menjadi tempat dipindahkannya “barang-barang” dari rumah yang lama.

Nah, sudahkah kita menemukan rumah baru itu? Saya, sudah.


--Imam Rahmanto--



PS: Sesaat saya sempat mengalami writer’s block. Apa itu? Itu loh, sejenis makanan instan yang dimasak pake air mendidih. #apasih? Haha…hanya sedikit kendala yang membuat kepala “buntu ide” ketika menulis. Tapi, saya selalu berpikir bahwa ide bukan untuk dicari, melainkan diciptakan lewat proses menulis itu sendiri. Seperti kata film yang pernah saya tonton, “Finding Forrester”,


"You write your first draft with your heart and you rewrite with your head. The first key to writing is to write. Not to think!"

Skripsi oh skripsi. Beberapa hari ini saya sudah mulai berkejaran dengan tuntutannya. Apalagi di pembukaan tahun akademik yang baru. Seperti seminggu yang lalu, saya baru saja menyelesaikan proses pengisian Kartu Rencana Studi a.k.a KRS yang menyisakan dua mata kuliah wajib: Proposal Penelitian dan Skripsi. Di kampus pun, tak jarang saya harus bertemu dengan salah seorang teman untuk sekadar memperbantukan proposal penelitian saya.

Sebelum lebaran Idul Fitri tempo hari, dua orang (dari 11 orang teman sekelas yang belum lulus) baru saja meneguk gelar sarjananya. Kemungkinan, untuk prosesi wisuda bulan ini, mereka akan turut serta. Hal ini tentu saja semakin mengurangi populasi teman-teman sekelas saya yang belum menyelesaikan kuliahnya. Eits, jangan salah dulu. Kebanyakan teman-teman yang belum selesai ini justru adalah orang-orang yang berprestasi di kelas kami. 

Kini, tersisa 9 orang saja, termasuk saya. :(

Rasa-rasanya, melihat fenomena itu, saya jadi kepengen mebentuk forum resmi diantara teman-teman yang belum menyelesaikan kuliahnya, namun sudah dalam tahap penyelesaian skripsi. Sungguh keinginan yang mulia, bukan? Kelak, di forum itu, kami akan bertemu sembari ngopi dan membahas perkembangan skripsi masing-masing. Memberi dorongan kepada yang belum selesai. Sekaligus memberikan bantuan kepada yang memiliki kesulitan. Wow, betul-betul keinginan yang mulia! Haha… #miris

Agak sulit juga sih menyelesaikan tulisan yang ilmiah-pake-banget. Rasanya seperti mendaki bukit per bukit. Bagaimana tidak, dalam kehidupan jurnalistik saya sehari-hari, kami tidak begitu ditekankan harus menulis ilmiah, seperti unit kegiatan mahasiswa “sebelah” yang memang lebih fokus pada penelitian ilmiah. Selain itu, tulisan-tulisan yang saya dalami kebanyakan bergaya “lepas”, tidak begitu terikat dengan aturan baku. Ya, seperti di “rumah” ini. Jadi, kaidah-kaidah keilmuan-pake-banget-nya tidak seintim karya tulis ilmiah. Saya mending disuruh nulis berita 3 halaman penuh, ketimbang menulis latar-belakang proposal saya meski satu halaman.

Kalau diandaikan ya, perbedaan mendasar antara tulisan jurnalistik, ilmiah, hingga fiksi itu seperti berikut. Karya tulis ilmiah yang semacam jurnal itu bahasanya cenderung ilmiah-pake-banget. Sementara untuk tulisan fiksi, bahasa yang digunakan adalah bahasa-bahasa populer (non-ilmiah). Jadi, secara umum jenis tulisan ada dua; tulisan ilmiah dan non-ilmiah.

Nah, tulisan jurnalistik menjadi penengah antara keduanya. Sebagian elemen penulisan jurnalistik itu ada yang condong ke arah penulisan ilmiah, ada pula yang condong ke arah penulisan non-ilmiah (fiksi). Secara garis besarnya, keduanya dirangkum oleh tulisan bergaya jurnalistik.

Wajar ketika insan jurnalistik lebih cenderung disebut sebagai orang-orang yang memang banyak tahu, meskipun sedikit.

"Apa perbedaan antara profesor dengan wartawan?"

"Profesor, sedikit tahu tapi banyak. Sementara wartawan, dituntut untuk banyak tahu meskipun sedikit."

Tulisan jurnalistik harus mengambil titik tengah antara fiksi dan karya tulis ilmiah. Tidak ilmiah-banget dan tidak fiksi-banget. Oleh karena itu, menulis ala jurnalis memang cukup menyenangkan. Terbiasa melaporkan kejadian, ataupun kronologis, melatih kita untuk mampu menulis narasi. Selain itu, karena harus berdasarkan fakta, maka diperlukan pula proses wawancara ataupun observasi lapangan. Merdekalah jurnalisme!

Di akhir masa kuliah saya ini, saya alhasil menemui pula keruwetan memikirkan tulisan-tulisan ilmiah itu. Untuk lebih mudahnya, kata teman-teman sih, “copy-paste” saja. Tapi, perkara menyalin seperti itu bukan menjadi gaya saya. #jiahh.

Oiya, saya juga nyaris dibuat kaget dengan peraturan baru yang dikeluarkan Kemendikbud terkait kuliah maksimal yang kini dibatasi hanya hingga 5 tahun saja. Alamak! Di tahun ini, kuliah saya sudah mencapai tahun kelima! Saya jadi dibuat bingung sendiri. Beruntung, peraturan tersebut tidak berlaku surut. Dengan kata lain baru mulai diberlakukan untuk maba angkatan 2014. Syukurlah. #sembari mengelus dada

Sebenarnya, saya juga sudah menargetkan untuk selesai kuliah di akhir tahun ini. Apalagi kuliah saya tersisa dua (wajib) itu. Saya tak ingin lagi berlama-lama di kampus tanpa berbuat apa-apa. Dunia di luar cukup luas untuk dijelajahi. Dikarenakan sudah punya tujuan yang paten selepas kuliah, maka saya sudah siap menamatkan kependidikan sarjana saya. Bravo!

***

Tadi sore, saya dan beberapa orang teman mengunjungi bukit di pinggiran Kabupaten Sungguminasa. Namanya Bukit Manggarupi, sesuai dengan nama dusunnya. Setelah beberapa kali meminta seorang teman menunjukkan jalannya, saya baru bisa menyambanginya kemarin. Dan tanpa dinyana, rute menuju bukit itu ternyata adalah jalan sehari-hari saya ketika hendak mengajar les privat 2 tahun silam. Tentu saja, saya langsung hafal rutenya.

Pemandangannya cukup menjanjikan. Terkhusus bagi orang-orang yang ingin mendramatisir kegalauannya. Ada area nan luas di kaki langit sana yang bisa menjadi pijakan mata untuk memandang. Batu-batu besar juga tersebar berselang-seling dengan rerumputan kering di kaki bukit. Kelak, ketika ingin berteriak lantang membuang kerumitan isi kepala disana, bisa mencari tempat yang agak sunyi. Bukit itu juga menjadi tempat melepas penat beberapa orang yang bermukim di sekitar wilayah sana.

Berbekal kamera milik teman - yang beberapa hari ini menemani proses peliputan saya - kami sekadar melepas kegembiraan di bukit itu. Anggap saja ikut merayakan sedikit gegap gempita Kemerdekaan RI ke-69, selain dari membuang kekecewaan atas pekerjaan saya.

Beberapa momen foto memang sengaja saya jejalkan untuk bisa diabadikan dalam dinding “rumah” ini.

Untuk menyendiri, banyak tempat yang bisa dijadikan pilihan.
Di sebelah timur ada perkampungan dan danau kecil, yang kayaknya keren juga.
Sedikit-sedikit, senja mulai datang.
Mereka yang berusaha membunuh waktu.
Di sela-sela reranting yang meranggaskan daunnya.
Di atas perkampungan itu, ada senja yang menguning.
Disini juga.
Saya paling suka mentari senja yang membulat sempurna ini.
Dan akan terbenam melintasi awan-awan yang berarak.
Tidak tahu siapa. Sejoli yang juga menikmati nuansa. Saya, hanya mengambil titik untuk dijurus kamera. 


--Imam Rahmanto-- 
Older Posts

Subscribe Us

About


Imam Rahmanto

Selamat berkunjung di rumah sederhana saya. Tempat saya bisa pulang dengan cara paling menenangkan.



@cappuccino_time
Created By SoraTemplates | Distributed by GooyaabiTemplates