Dua Perbandingan

Desember 29, 2019

Baca Juga

Mata ayah berbinar-binar mencoba speaker bluetooh yang saya paketkan dari indekos Makassar. Karena tak sanggup membawa beberapa barang, saya mengirimkannya melalui jasa logistik. Barang itu tiba kemudian, sehari setelah kedatangan saya di rumah.

"Bagaimana cara pakainya?"

Pertanyaan itu tersirat dari raut wajahnya. Sembari tetap berbaring, senyumnya sumringah. Matanya tak bisa lepas dari speaker berukuran kaleng jajanan hari raya itu. Yang perlu saya lakukan hanya menyambungkannya ke sumber listrik.

"Cuma speaker ini tidak bisa (berfungsi) kalau tidak disambung ke listrik. Karena dulu ada fungsi charger-nya sudah kupreteli, karena malas kalau cas-casan gitu," terang saya, sambil mendekatkan colokan listrik yang berada di samping ranjang ayah.

Saya langsung meminta ayah menyalakan bluetooh di smartphone-nya. Gegas memintanya memilih lagu kesukaan yang sudah disimpannya begitu lama.

Aroma lawas mengudara pada siang yang panas. Betharia Sonata dan Koes Plus bergantian mengipasi. Senyum ayah semakin sumringah. Matanya masih memandangi smartphone di atas wajahnya. Terlihat beberapa lagu diputar bergantian dengan berbagai macam pertanyaan terkait speaker "ajaib" itu.

Sedikitnya saya tahu, salah satu benda elektronik itu akan memberikan efek menyenangkan bagi ayah saya. Sejak dulu, ia memang sangat tertarik mengutak-atik perlengkapan elektro maupun elektronika. Kehidupannya lekat dengan alat-alat listrik dan perlengkapan montir. Namun, semenjak lumpuh setengah badan, ia hanya bisa mengerjakan "hobi"nya yang tak berat-berat. Kadang kala mengutak-atik barang rumah yang rusak, terkadang juga menjajal variasi baru dari bekas-bekas spare-part barang lainnya.

"Terus, ini ada equalizer-nya, Im? Atau cuma nyambung suara saja?" lanjutnya lagi, yang meniti tombol-tombol perangkat tersebut.

Saya memutuskan tak butuh penguat suara itu lagi di tempat yang baru. Cukup meninggalkannya di rumah. Betapa membahagiakannya bisa melihat senyum ayah. Biasanya, ia akan lebih banyak memberi wejangan. Sesekali membuat saya jengah. Malah, di lain waktu saya pernah berpikir, tak usah pulang.

Ternyata kepulangan saya yang mendadak dan singkat tak membuat ayah selalu kooperatif. Beberapa "kebiasaan" dengan nenek dan keluarga lain masih harus saya penuhi. Tak peduli waktu di rumah hanya sehari, cuma jadi persinggahan sebelum melanjutkan perjalanan sebenarnya ke Jakarta hingga Bogor.

"Namanya orang merantau, kalau setiap pulang ya memang harus begitu. Apalagi kau tahu kebiasaan buruk nenekmu itu, kan?" ujarnya dalam wejangan yang teramat lama, pagi sebelumnya. Kalau sudah tiba wejangan panjangnya, saya menahan diri dari keinginan berargumen yang meronta-ronta.

Saya belum tahu bagaimana kehidupan baru akan menyambut saya. Pun, persoalan tempat tinggal masih menghantui. Saya berkali-kali membuka medsos dan browsing sana-sini hanya demi memastikan lokasi domisili tak jauh dari kantor baru. Perihal harga, tentu ikut membuat jengah.

Taste pekerjaan juga belum bisa dibandingkan. Entah lebih baik atau lebih buruk. Rate tinggi atau lebih rendah. Kesenjangan bisa saja terjadi. Hanya saja, di dalam hati, yang menyemangati adalah pengalaman baru. Barangkali, semacam itulah sebenar-benar petualangan.

"Saya lagi yang coba itu, Pak," sambar adik saya yang duduk di kursi ruang tamu.

"Bagaimana caranya, Im?" Ayah bertanya.

"Matikan saja bluetooth-nya. Nanti Dewi yang nyambung lagi..."

Segera saja lagu yang tak asing di telinga menggantikan lagu-lagu lawas tadi. Saya langsung mengenalinya sebagai lagu populer yang tengah hits di kalangan anak muda. Tones and I.

Sungguh, dari selera musik keduanya sudah menunjukkan kesenjangan usia. Satunya nyaris menyentuh seperdua abad. Satunya lagi baru lewat dua dasawarsa.

Seperti dua perbedaan itu, saya juga akan menjumpainya di tempat baru. Perbandingannya akan membuka lebar setelah saya merasainya. Entah semakin baik atau justru memburuk.

Meski begitu, saya tak bisa meragu. Saya juga sadar, hal-hal baru tak selalu menyenangkan. Setidaknya, saya sudah mencoba. Sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.

***

Menunggu di stasiun. (Imam Rahmanto)

Oh ya, kereta saya sudah tiba di Stasiun Babat, Lamongan. Sesuai jadwal. Deru di atas rel menggema di sepanjang peron. Orang bersiap-siap. Mereka mengemasi barang. Menggendong anak-anaknya. Pemberitahuan di ujung pengeras suara juga menuntun ke peron seberang stasiun.

Kami menyeberangi rel kereta api. Menunggu di masing-masing peron. Pintu terbuka dan akan membawa saya ke chapter of life yang baru.[]


--Imam Rahmanto--

You Might Also Like

0 comments