Terminal Rasa Bandara

November 12, 2019

Baca Juga

Rem bus berdecit halus. Roda-rodanya berhenti. Sementara mesinnya yang masih menderu. Kendaraan Damri yang kami tumpangi langsung disergap gempita wajah-wajah asing di pelataran parkir kedatangan Terminal Purabaya. Mereka menyahut berbagai nama kota yang tersebar di Jawa. Sesekali menanyakan tujuan para penumpang yang baru saja turun dari atas bus bandara tersebut.

"Bojonegoro, Pak? Malang? Mau ke mana, Pak?" sahut-menyahut berlangsung cepat, sembari menyejajari langkah para calon penumpang.

Saya mengangkat tangan sebagai isyarat penolakan secara halus. Barangkali, karena wajah saya terlihat polos dan muda, banyak sopir yang menyejajari langkah saya dengan terburu-buru. Ransel gunung di punggung sudah cukup kuat mengindikasikan perjalanan jauh yang akan saya tempuh dalam beberapa jam ke depan.

Keriuhan tawaran itu menghilang seiring langkah kaki yang diteruskan ke ujung lorong. Berganti aroma makanan menggiurkan dari lapak-lapak kecil di sepanjang lorong terminal. Beberapa penumpang lain yang belum mengisi perutnya bisa mampir sebentar untuk mencicipi berbagai makanan khas kota Surabaya.

Tak sulit menemukan tujuan perjalanan saya di terminal ini. Berbagai papan atau pelat penunjuk terminal bisa terbaca begitu gamblang di atas kepala. Arahnya terlihat jelas. Hanya mata saya saja yang agak minus sehingga memaksa sedikit memicingkan mata. Ini juga karena saya terlalu keras kepala masih menghindarkan diri dari aksesoris kaca mata.

Meski telah kesekian kalinya melakukan perjalanan jauh, saya tak pernah bisa lepas dari membaca petunjuk. Pasalnya, pangkal perjalanan saya itu juga tidak berlangsung saban hari. Butuh waktu hingga berbulan-bulan untuk kembali menjejakkan kaki di tanah Pahlawan ini. Saya hanya bisa meluangkan waktu di hari-hari penting dalam setahun untuk menjenguk kedua orang tua di kampung halaman. Apalagi, jadwal pekerjaan saya biasanya tak mengenal waktu libur.

Saya berhenti sejenak. Banyak kursi untuk mengistirahatkan bahu yang terlampau penat memanggul ransel. Jejeran kursi itu menghadap langsung ke luar melalui lapangnya kisi-kisi jendela. Sejumlah bus terlihat mondar-mandir di bawahnya. Di beberapa titik ruang tunggu itu, saya juga bisa melihat kota-kota tujuan beserta jadwal keberangkatannya. Sebagian keterangan disajikan dalam bentuk lebih modern; digital.

"Kalau dari bandara, kamu ambil bus ini. Lalu, naik di terminal ini....."

Saya ingat, bagaimana ayah menerangkan detail rute via telepon saat pertama kalinya saya menjejak terminal yang lebih akrab disapa Bungurasih itu. Biasanya, saya hanya mendengarkannya selintas. Itu karena saya lebih mengandalkan pengalaman pertama. Yah, setidaknya kemajuan teknologi sekarang juga menyediakan banyak informasi untuk perjalanan-perjalanan jauh.

Kekhawatiran orang tua itu adalah hal wajar. Ia masih mencemaskan saya yang akan kesasar. Perjalanan Enrekang - Makassar - Surabaya - Lamongan bukan sesuatu yang biasa saya lakukan seorang diri semenjak keluarga memutuskan pindah ke Jawa. Apalagi, kehidupan saya yang lebih banyak dihabiskan di tanah Sulawesi. Waktu-waktu saya menghirup udara Jawa pun bisa dihitung jari. Oleh karenanya, perjalanan di tanah Jawa menjadi sesuatu yang masih terasa asing.

Meski begitu, pengalaman pertama kala itu justru berjalan dengan cukup manis. Tiga tahun silam itu, saya tak merasa kesulitan dalam menentukan alat transportasi ke kampung halaman. Terminal Purabaya sudah menyediakan seluruh jasa transportasi maupun bus ke segala jurusan. Cukup membaca papan informasi, mengikuti tanda panahnya, turun dari tangga lorong, dan menunggu bus yang lewat bergantian di depan gate jalur keberangkatan masing-masing.

Saya pun tak perlu buru-buru dalam perjalanan pulang ke kampung halaman. Tak ada kemungkinan tertinggal bus atau transportasi antar kota dan kabupaten. Jadwal keberangkatan bus berlangsung hampir setiap jam. Bahkan, banyak bus yang terparkir dan siap mengangkut penumpang di terminal kelas A itu.

Suasana terminal terpadat se-Asia Tenggara itu juga sangat memadai. Betapa nuansa bandara terasa cukup familiar di terminal tersebut. Kursi-kursi di ruang tunggu. Papan pengumuman. Kebersihan yang terjaga. Hingga keteraturan jadwal dan tujuan masing-masing bus. Wajar jika Kementerian Perhubungan (Kemenhub) pernah menyarankannya sebagai percontohan terminal bergaya modern bagi terminal lainnya di Indonesia. Bahkan, sempat diwacanakan pula menerapkan e-ticketing.




Sebagai salah satu terminal andalan, Purabaya mengalami beberapa kali renovasi. Saya sempat merasakannya dalam beberapa waktu persinggahan. Salah satunya, pintu jalur keberangkatan yang sempat berubah. Meski begitu, tak mengganggu penumpang karena masih bisa menemui papan nama maupun papan informasi yang sangat membantu. Petugas-petugas terminal yang berjaga akan sangat antusias memberikan keterangan. Bahkan malu bertanya pun, takkan sesat di terminal.

Ongkos yang dikenakan bagi setiap bus juga bergantung jurusan yang ditempuh. Untuk jarak Kabupaten Lamongan, dengan menumpang bus jurusan Bojonegoro, saya hanya perlu merogoh kocek di bawah Rp20 ribu.

Tiketnya masih sobekan manual di dalam bus. Berharap saja e-ticketing yang sempat diwacanakan Kemenhub ke semua jurusan bisa terwujud di masa mendatang. Setidaknya, transportasi bus juga bisa bersaing dengan sistem yang diterapkan perkeretaapian Indonesia. Kita membayangkan, moda transportasi darat bisa diakses melalui sentuhan ujung jari.


***

Pengalaman menyusuri terminal seperti itu membuat saya semakin tenang untuk bepergian antar kota. Kenyamanannya tentu menjadi pangkal utama para penumpang mencari transportasi. Kegiatan menunggu bukan lagi hal yang membosankan. Tak ada suasana kumuh sama sekali.

Saya benar-benar menyenangi perjalanan dalam waktu lama semacam ini. Waktu merenung justru lebih banyak diperoleh dari kegiatan menunggu itu. Saya bisa memikirkan banyak hal sambil berjalan, sambil menunggu, atau sambil memandangi keramaian penumpang lain. Kalau tidak, saya biasanya akan membekali diri dengan satu atau dua buku bacaan.

Berbagai raut wajah manusia juga silih berganti menghidupkan terminal. Ada yang menjadikannya sebagai pangkal perjalanan hidup, untuk berjuang. Ada pula yang menjadikannya sebagai muara perjalanan panjang, menginginkan pulang. Semuanya berkontemplasi dalam ruang yang sama.

Sebenar-benarnya esensi berkontemplasi ternyata terkandung dalam perjalanan itu sendiri. Bukankah kehidupan kita juga merepresentasikan kisah perjalanan itu sendiri?

Sumber: Instagram @surabayabusstation


--Imam Rahmanto--

You Might Also Like

0 comments