Percakapan Lajang

November 16, 2019

Baca Juga

"Adami memang targetku tahun depan menikah. Makanya bingung ka juga."

Seorang teman sedang mengutarakan kegelisahannya.

Teman-teman lain sudah angkat kaki dari meja kami. Minuman sudah tandas. Tagihan juga sudah lunas oleh seorang kenalan anggota dewan dari daerah. Kami kebetulan bertemu di kafe itu tanpa rencana.

Teman lama itu punya urusan di Makassar, tak jauh-jauh dari pendaftaran CPNS. Semalam, ia melabuhkan lelapnya di kamar. Berlanjut dengan acara ngopi-ngopi di kafe bersama teman lainnya.

Tentu saja, masih ada waktu bagi kami untuk menyesap kopi ekstra sebelum kembali ke indekos. Matahari juga terlampau terik untuk beranjak dari ruangan kafe nuansa industrial ini.

Suatu siang dengan secangkir cappuccino. (Imam Rahmanto)

"Kalau soal panaik, ada ji iya tabungan. Karena memang sudah lama ka sisihkan (uang) untuk itu," ungkapnya, yang sehari-hari bekerja sebagai wartawan media massa itu.

Hubungannya dengan sang pacar sudah berjalan delapan tahun. Bukan waktu yang singkat. Teramat nanggung pula jika harus berakhir karena persoalan panaik dan status keluarga itu.

Hanya saja, nominal panaik yang ditetapkan keluarga pacarnya terbilang melampaui jumlah yang diharapkan ibunya. Meskipun, kata dia, nominal panaik itu sebenarnya juga bukan masalah. Tabungannya lebih dari cukup untuk menutupinya. Tak ada kemungkinan berhutang hanya gara-gara bekal pernikahan. Ia cuma kebingungan soal rencana-rencana dan segala hal yang akan dihadapinya kelak.

Tentang dirinya yang akan melepaskan status pekerjaannya sekarang. Dirinya yang akan bertaruh tentang pendaftaran CPNS. Pacarnya yang sudah lebih dulu menyandang status PNS. Keluarga Bugis pacarnya yang tergolong keluarga berada. Bayang-bayang nominal panaik anggota keluarga dan kerabat lain sang pacar yang tak pernah di bawah standar. Hingga berbagai macam kemungkinan yang berkecamuk di kepalanya.

"Sebenarnya sempat ka mau ke rumahnya bulan lalu. Cuma ya tidak jadi. Orang tuanya juga sudah sempat bertanya-tanya, karena sudah na tahu mi," tuturnya.

"Untungnya, selesai ka S2. Seandainya cuma S1, mungkin tidak terlalu diperhitungkan ka," selorohnya lagi.

Dalam kepalanya, ia sudah lama menggantungkan niat menikah itu. Persiapan sudah cukup matang. Tersisa menjalankannya, dengan sedikit berhati-hati.

Sungguh berbeda dengan saya, yang masih terganjal alasan "masih membiayai kuliah adik". Pun, tanpa tabungan karena selalu habis untuk orang tua maupun kebutuhan sendiri. Hanya sedikit tabungan emas yang baru terkumpul nol-koma gram, yang terpaksa pula tersendat di tengah jalan.

Kondisi saat ini justru sedikit "mengenaskan". Keuangan nyaris mendekati titik nol. Selepas resign, belum ada kecocokan dengan tawaran lain. Saya masih menggantungkan harapan dari ajakan ngopi teman lain.

"Kalau kuingat dulu, waktu resign ka (dari pekerjaan pertama) dan sempat nganggur beberapa bulan, dia yang suruh ka ke Makassar,"

"Saya bilang, tidak ada uangku ke Makassar, tidak ada kosanku juga. Dia malah bilang mau menanggung semuanya. Asalkan tetap ka di Makassar sampai dapat kerjaan," kisahnya.

Saya menyukai bagian cerita ini.

Kekasihnya itu senantiasa memberikan dukungan. Saban pagi, sebelum berangkat bekerja sebagai honorer di RS, pacarnya akan mengetuk pintu kamarnya berkali-kali. Menyorongkan makanan. Sekali-kali membawa lauk lengkap dengan nasinya. Di lain waktu hanya lauk karena sudah tersedia nasi dari rice cooker. Padahal, perjalanan dari rumah pacarnya ke tempat kerja itu cukup jauh.

Saya mengagumi bagian itu. Kami, para lelaki, menjunjung tinggi harga diri, yang enggan disamakan dengan perempuan. Tak ingin terlihat lemah. Sekadar bantuan dari perempuan pun bisa sedikit melukai harga diri itu.

"Di satu titik, kita laki-laki memang tidak ingin terlihat lemah. Cuma, ya mau apa lagi kalau memang seperti itu. Setidaknya kita juga bisa memilah siapa perempuan yang benar-benar peduli dengan kita. Barangkali, memang begitu cara mereka mewujudkan kasih sayangnya," balas saya.

Saat ini, saya belajar bersahabat dengan kondisi "tak punya apa-apa" tersebut. Meski begitu, lingkungan pertemanan saya tersaring. Area jalan menyempit. Termasuk, untuk dekat dengan (perempuan), siapa pun, membuat saya harus berpikir dua kali. Memangnya, saya punya apa untuk mengajak jalan atau sekadar makan siang?

Momen masa lalu itu seharusnya menjadi salah satu suplemen menuntaskan kegelisahannya. Perempuan yang rela menemani di kala kesulitan, sudah selayaknya diperjuangkan. Menahan sakit bersama-sama. Tak sungkan bertahan lebih lama.

Saya mencerna lebih lama. Menghembuskan napas.

"Berarti seharusnya ada alasanmu untuk tetap lanjut. Saat kau kesulitan merangkai rencana (nikah) atau merasa berat dengan panaik, cukup ingat masa-masa sulit dari momen masa lalu itu," pesan saya, seolah-olah bijak.

***

Ia memang sudah punya effort untuk memperjuangkan kemungkinan masa depan itu. Apapun alasannya, tak perlu mencari alternatif lain. Ia dan pacarnya juga masih menjalin komunikasi sebisanya. Meski hanya sapaan harian, mengingatkan makan, atau teleponan, yang hanya berdurasi paling lama 10 menit.

"Jangan sampai suatu hari nanti, kita menjadi manusia-manusia yang hanya bisa mengintip kebahagiaan orang kesayangan dari jauh.

Lebih parah lagi, datang ke acara nikahan, berpelukan dalam tangis, dengan back-song Harusnya Aku," pesan saya sembari mengutip satu bait lagunya.

Hahahaha...

"Eh, eh, tapi, kalau itu betul kejadian sama kau, saya siap kok rekam biar viral seperti yang lain," sambung saya lagi, yang disambutnya dengan mengumpat. []



--Imam Rahmanto--

You Might Also Like

0 comments