Isyarat Pertemuan

November 18, 2019

Baca Juga

"Di Makassar ki? Acara apa? Oke, besok saya ke sana jalan-jalan."

Saya menutup panggilan telepon singkat itu. Seorang teman sedang berada di kota ini. Ia mengikuti pameran di bawah naungan Bank Indonesia (BI). Usaha kafenya, yang dulu jadi tempat belajar saya tentang perkopian, memang menjadi UMKM binaan BI. Setidaknya, saya melepas rindu dengan orang-orang yang pernah berjasa di masa tugas itu.

"Mau kopi apa? Saya bikinkan nah. Sekalian kau coba juga ini bede."

Ia menyambut saya di lapak pameran BI. Salah satu minuman yang disorongkannya adalah cascara. Minuman semacam teh yang diolah dari kulit kopi. Meski tanpa gula, rasanya agak manis. Malah lebih manis dari teh biasanya.

Di tengah kesibukannya melayani pengunjung lain, ia sengaja meluangkan waktu mengobrol. Bahkan antusiasmenya masih terlihat seperti biasa. Saya dan dia memang masih diikat pengalaman bersama menanjak di Pegunungan Latimojong, dulu.

***

"Mau ka besok ke Makassar. Dimana kosanmu? Saya sekalian nginap disitu saja nah?"

Seorang teman fotografer ke Makassar untuk menuntaskan pesanan cetaknya. Ia, yang punya usaha digital printing di Enrekang, juga ingin mencari kelengkapan sepeda yang kini jadi hobi barunya.

"Saya sudah buktikan. Ternyata, bersepeda itu bisa membakar kalori jauh lebih banyak dibanding jogging," bebernya, sembari memperlihatkan ukuran perutnya yang tak lagi buncit.

Teman saya itu, memang punya masalah soal perut yang menggelembung. Karena takut mengidap kolesterol, ia memutuskan berolahraga rutin. Rokok juga sudah ditinggalkannya. Sayangnya, kebiasaan olahraga bersepeda itu sekaligus bertransformasi menjadi hobi mahal dengan modal jutaan rupiah.

Saya memang mengenalnya sebagai orang yang tak main-main mengeluarkan uang untuk hobi-hobi barunya. Itu belum dengan hobi utamanya, memotret. Dari dia pula saya belajar tentang fotografi. Kami juga bersama-sama mengabadikan indah dan ekstremnya jalur Pegunungan Latimojong.

Perjalanan kami pada suatu masa. (Imam Rahmanto)


***

"Ada kenalanmu di UNM untuk bikin TOEFL? Mau ka sekalian juga nanti ke Makassar ambil sertifikatku."

Giliran teman lainnya yang ingin mendaftar CPNS. Ia sempat menawari saya untuk ikut mendaftar bersama-sama. Sayangnya, saya masih menutup diri untuk satu pekerjaan itu. Setelah lulus S2, teman saya, yang masih menyandang label wartawan itu, hendak mengejar status sebagai dosen.

"Setidaknya kucoba dulu. Kalau pun tidak lolos, ya masih ada kesempatan tawaran lain di Kalimantan," bebernya, yang juga sudah mulai jenuh dengan pekerjaannya sebagai kontributor daerah.

Ia menghabiskan dua malam di indekos. Banyak cerita yang luluh dalam waktu yang singkat. Sesama laki-laki juga bisa "curhat" dalam momen pillow talk. Apalagi kalau bukan soal perempuan?? Haha.

***

"Dimana ki? Ada ka di Makassar. Mau ka makan ini, lapar."

Di hari yang sama, seorang teman menyapa lewat Whatsapp. Seperti kebiasaannya, tak ada basa-basi. Ia baru saja menghadiri rapat organisasinya. Sejak saya mengenalnya dulu, ia memang sudah aktif di organisasi diskusi itu. Kini, organisasi itu pula yang memaksanya menempuh perjalanan bermotor hingga puluhan kilometer dari Parepare, tempatnya kini bekerja.

"Barusan tadi Wais disini. Tapi, pulang mi tadi siang," ucap saya saat menyambutnya di warung kopi (warkop) langganan.

Ia tak banyak berubah. Hanya status pekerjaannya saja yang tak lagi berhubungan dengan dunia jurnalistik. Pekerjaan barunya sudah berjalan enam bulan. Sebenarnya, itu juga tergolong baru karena pekerjaannya sebagai wartawan sudah lama tanggal. Sejak saya telah hengkang dari tugas di Enrekang, perlahan ia juga sudah jarang terlihat mencari berita.

"Kenapa ki keluar?" Pertanyaan yang hampir sama dilontarkan oleh teman lain, sebelumnya.

Pertemuan. (Imam Rahmanto)

***

Semesta berjalan tanpa bisa ditebak arahnya. Saya dipertemukan dengan beberapa orang dari kampung kelahiran itu. Ada yang dalam waktu berdekatan. Ada pula yang butuh rentang hingga seminggu.

Entah kenapa, circle mereka tepat beririsan dengan waktu jeda saya selama sebulan belakangan. Selama putaran jeda itu, mereka bergantian memilin benang yang sama dari masa lalu.

Mengabarkan kedatangan. Merencanakan temu. Bercerita masa lalu di hadapan gelas-gelas kopi. Menertawakan kebodohan. Hingga bertaruh rencana-rencana berikutnya.

"Yah, kita memang tidak bisa lepas dari segala hal berbau masa lalu," ungkap seorang teman lain via pesan singkat saat saya menceritakannya.

Meski begitu, orang-orang yang bertemu dengan saya sebenarnya masih terbilang cukup baru. Saya berkenalan dengan mereka, tiga tahun silam. Hidup mereka beririsan dengan saya kala menjalani tugas "dinas" sebuah media massa di kabupaten berjuluk Bumi Massenrempulu itu. Media yang kini saya tinggalkan.

Selama masa tugas itu, saya bermukim di pusat kota. Jauh dari tempat kelahiran saya, yang masih berjarak satu jam perjalanan. Tentu saja, banyak orang yang kemudian menjadi rangkaian hidup baru bagi saya. Mereka punya perannya masing-masing dalam membagikan pengalaman atau mengajarkan keahlian baru.

Lantas, kenapa semesta mengatur alur pertemuan-pertemuan tersebut? Tak hanya itu. Berbagai kabar juga berkelindan di telinga saya selama sebulan terakhir. Kabar duka di kampung kelahiran, yang menimpa beberapa teman. Sebagian darinya merupakan orang-orang yang beririsan cukup dekat dengan keluarga kami. Dan yang saya lakukan hanya mengamati dan mengirimkan ucapan dari jauh.

Tak ada yang namanya kebetulan. Barangkali, itu jadi isyarat agar saya pulang, menjenguk ingatan-ingatan yang berharga. []


--Imam Rahmanto--

You Might Also Like

0 comments