Not to Stalk

November 28, 2019

Baca Juga

Seorang teman menanyakan kabar. Katanya, lama tak berjumpa. Akh, bukan. Ia lebih menginginkan perbincangan dibanding pertemuan. Mumpung hujan belum sering-sering turun di kota kami.

"Long time no talk, Kak," tulisnya dalam pesan singkat.

Belum lama ini, ia bertemu dengan teman lainnya. Perasaannya melega usai bercerita panjang lebar. Keduanya tuntas berbagi resah. Bahkan, hal paling terdalam dari keduanya, yang tak pernah diceritakan ke orang lain, bisa meluber ke permukaan.

Benar.

Orang-orang kini disibukkan dengan dunianya masing-masing. Kecanggihan zaman semakin membuat kita tak ingin berbicara satu sama lain.

Kita "berbicara" dengan cara yang lebih berbeda. Melalui chat, status, story, atau unggahan foto. Masing-masing akan berakhir sebagai story viewer atau justru stalker viewer. Mengeja akun siapa saja yang mengintip story-nya.

Saya merindukan obrolan yang lebih hangat. Mata bersitatap. Pita suara yang bergetar. Tangan yang bergerak tanpa diminta. Senyum lebar yang bukan sekadar emoji. Gelak tawa yang tak terbatas rerangkai dua huruf. Semua ekspresi tersalurkan secara nyata. Bukan sticker, meme, atau gif.

"I have something to tell you."

"Okay. Let's talk, not stalk,"

Sebenarnya, urusan kopi di balik pertemuan hanya untuk melegakan kerongkongan. Bagian terpentingnya adalah saling bicara. Apa saja yang bisa jadi obrolan. Apa yang berasal dari hati akan sampai pula ke hati.

Saya agak bingung, terkadang orang menyalahartikan ke-kepo-an saya. Padahal, bagi saya, pembicaraan paling menarik memang selalu ada di sekitar kita. Dua orang (atau lebih) yang terlibat dalam obrolan membawa lebih banyak elemen pengalamannya sendiri. Sungguh jauh lebih istimewa.

Hampir setiap hari saya menghabiskan waktu duduk-duduk menyesap kopi di sebuah warkop langganan. Hampir setiap waktu pula, berjumpa dan duduk bersama teman-teman saya. Hanya saja, situasinya berbeda.

Kami menghabiskan waktu sekadar menanyakan kabar atau iseng membahas aktivitas terakhir. Sekali-kali membahas isu atau kejadian tertentu yang menjadi perbincangan khalayak. Pada akhirnya, kembali sibuk dengan dunianya masing-masing.

Ya, wajar. Teman-teman saya kebanyakan bekerja sebagai wartawan. Mereka menyisakan waktu ngopi hanya untuk menuntaskan naskah. Saya pernah merasakan bagaimana dikejar deadline itu. Dan lagi, obrolan kami tak menarik-menarik amat selain hanya berujung bully atau ledekan sebagai teman bangsadd.

Separuh hidup kita sudah dihabiskan dengan pekerjaan dan segala hal yang mengiringinya. Lantas, apakah kita tidak muak dengan pertemuan, yang justru kembali memperbincangkan tema seputar pekerjaan itu? Come on!

Terakhir kali, obrolan saya berbuah endorfin ketika seorang teman bercerita perihal hubungannya dengan kekasih yang bakal jadi calon istri. Saya tak bisa lupa raut wajahnya yang tembem berubah-ubah ketika menyebut rencana masa depannya. Atau senyum malu-malu atas cerita masa silamnya. Sungguh menyenangkan.

***

Mantan kekasih saya pernah berkata, memilih pasangan bukan lagi sekadar paras atau rupa. Semakin mendewasa, kita semakin sadar yang dibutuhkan adalah lawan bicara. Pasangan yang bisa menjalani peran itu, pantas dijadikan teman hidup.

Untuk itulah, ia akan selalu meminta diceritakan sesuatu. Saya baru akan berhenti ketika desah napasnya teratur di ujung telepon. Hingga saya juga ikut-ikutan terlelap oleh irama itu.

Perasaan bisa memudar seiring waktu. Fisik juga akan rusak oleh waktu. Harta yang dicari tak pernah menjamin komitmen di depan penghulu demi mengelabui waktu. Untuk bisa bertahan, kita perlu teman bicara yang mengasikkan untuk membahas apa saja. Tidak mesti dengan interest yang sama.

"Kemarin, aku baru saja nemu kucing di jalanan. Warnanya orens...."

"Oiya, bukunya Orwell yang baru itu bahas apa ya?"

Sembari duduk berdua di teras rumah. Membagikan senyum kepada matahari yang sudah ingin pulang ke pangkuan semesta. Hanya menyisakan suara azan dan warna langit yang merona.

Waktu-waktu "no something to do" saya sungguh mengajarkan hal demikian.

Saya jemu menggeser-geser jari di layar handphone. Buka-tutup aplikasi tertentu. Scroll timeline. Mencari musuh di gim PUBG. Bolak-balik membuka notif chat. Atau sekadar memastikan seseorang sedang aktif atau tidak.

Saya, sejatinya, memang hanya merindukan perbincangan...

So, how was your day? []

Senja di Losari. (Imam Rahmanto)


--Imam Rahmanto--

You Might Also Like

0 comments