Memilih Usia

Oktober 24, 2018

Baca Juga

Seandainya diberi kesempatan untuk memilih usia yang diinginkan, usia berapakah kita akan hidup selama-lamanya?

Salah satu anak tetangga kosan. (Imam Rahmanto)

Pertanyaan itu melintas begitu saja dari percakapan seorang teman via Whatsapp. Ia sedang dilema mencari pekerjaan yang cocok. Baru memutuskan hengkang secara formal dari dunia akademiknya.

Katanya, sebagaimana anak-anak kuliahan yang baru lulus, mencari pekerjaan begitu sulit. Bukan sekadar menyoal gaji atau honornya, melainkan apakah pekerjaan itu akan selalu menyenangkan dijalani dengan sungguh-sungguh. Atau, justru pekerjaan itu hanya bagian, alakadarnya, dari menggugurkan kewajiban dalam siklus kehidupan kita di dunia?

Yah, bisa dibilang, "bekerja" adalah kewajiban bagi hampir setiap orang yang menginginkan hidup. Bagaimana kita bisa hidup tanpa bekerja atau membanting tulang? Bekerja untuk hidup. Hidup, yang untuk menyongsong tujuan sebenar-benarnya hidup; kematian. Meski begitu, tak ada orang yang benar-benar menginginkan mati dalam keadaan pasrah, tanpa melakukan apa pun.

"Andai hidup ki bebas untuk memilih, kupilih jadi anak kecil saja. Ndak ada beban hidup, dicintai sama siapa pun, ndak paham bagaimana rasanya dikecewakan. Huahuaaaahuaaa," kata teman saya itu.

Tak ada yang menyalahkan pemikiran itu. Siapa pun menginginkan hal yang sama. Sejujurnya, saya juga mengidamkan kembali menjadi anak kecil. Kita yang tak perlu bersusah payah mengumpulkan pundi-pundi uang. Kita yang hanya perlu meminta dengan seringai lucu di depan orang tua masing-masing. Dan tentunya hanya memandangi orang-orang dewasa di sekitar dengan tatapan aneh dan penuh tanda tanya.

"Mereka sedang apa?" gumam anak-anak.

Akan tetapi, kita tak pernah bisa memilih. Usia merupakan hal yang berkorelasi sepadan dengan perjalanan waktu. Waktu terus maju, usia juga terus bertambah. Tak pernah berbalik. Kecuali, saya adalah tokoh fiksi dalam film Benjamin Button. 

Pada usia tertentu, kita dihadapkan pada gerbang kedewasaan. Setiap orang akan mengalaminya meski dalam porsi usia yang berbeda. Tak selalu usia yang sama. Sebagian dari kita, yang harus menghadapi "puzzle" kedewasaan itu lewat bekerja. Pun, bekerja bukan sebuah keharusan yang perlu dijalani. Hanya saja, lewat apa lagi kita bisa menunjukkan tataran kedewasaan untuk lepas dari orang tua, coba?

Saya pernah berpikir bahwa menjadi anak-anak itu sangat menyenangkan. Hal paling mendasar karena tak ada beban. Kalau pun berbuat salah, orang dewasa hanya berkata, "Namanya juga anak-anak."

Seiring waktu, saya sadar pemikiran demikian hanya emosi yang berjangka waktu. Temporal. Bukan usia anak-anak yang sebenarnya kita inginkan. Manusia hanya tak ingin sampai pada tahap yang lebih "tua" dan mempertemukannya dengan berjuta masalah.

Menjadi anak-anak, kita hanya akan mengabaikan perasaan-perasaan lainnya. Yah, perasaan-perasaan yang lebih subjektif dan bertanggung jawab. Melindungi. Mengayomi. Menyayangi. Memulai dan memikirkan sesuatu (inisiatif). Memeluk erat-erat.

Anak-anak memang hampir tak pernah kecewa. Itu sepadan dengan bagaimana mereka tak pernah mengambil risiko. Tanpa mengambil risiko, kehidupan akan stagnan. Hukum sebab-akibat selalu berlaku. Sebagaimana hukum jual-beli, yang mengisyaratkan usaha dan modal besar untuk menghasilkan keuntungan jauh lebih besar.

Anak-anak selalu dicintai. Namun, sejatinya hidup akan lebih berharga jika kita bisa balik mencintai dengan tulus. Kebahagiaan bukan soal personal atau individual. Bahagia itu "ada" ketika dibagi.

Alexander Supertramp,
Into The Wild (movie)

Saya masih menyimpan keinginan menjadi anak-anak itu. Tak heran, saya begitu mudah berbaur dengan anak-anak tetangga. Saya tak pernah segan bermain dengan mereka. Melihat senyumannya, lelah luluh seketika. Bersamaan itu pula, saya tak merasa terganggu dengan teriakan-teriakan mereka. Ketukan pintu di pagi hari. Atau nama saya yang diumbar-umbar di depan pintu.

"Kak Imam, nonton setang-setang (setan, red) lagi," ujar salah seorang anak yang melihat saya menyalakan laptop.

"Mau kemana?" ujarnya ketika melihat saya menyalakan motor.

"Iya, mau," jawabnya saat saya menawarkan coklat panas, yang barangkali akan menjadi minuman kesukaannya.

*Sayangnya, anak itu sudah tak tinggal lagi sebagai tetangga kosan saya. Ia dan ibunya (bersama temannya) sudah pindah ke kontrakan baru. Rumah yang lebih besar dan jauh lebih hemat ketimbang menyewa satu kamar.

Untuk saat ini, barangkali fenomena itu tak berhubungan langsung dengan sifat "kebapakan". Saya hanya menimbang dan mengenang bagaimana rasanya menjadi anak-anak, dengan menyelami kehidupan (pergaulan) mereka. Masa anak-anak menjadi kenangan indah, yang tak pantas dilupakan. 'Ingin"nya mereka harus selalu dipenuhi. Akan tetapi, waktu (dan usia) mengajarkan kita kerelaan bahwa tak semua "ingin" itu bisa terwujud.

Terus menjadi anak-anak hanya memupuk sifat keegoisan dalam diri manusia. Kita saja yang menganggap itu normal karena masih berada di usia sewajarnya. Bayangkan, bagaimana jadinya jika di usia seperti ini kita masih membawa jati diri "anak-anak"? Bakal dicap apa kita?

Bahkan, menjadi anak-anak pun membuat kita bercita-cita ingin menjadi orang dewasa.

"Enak ya mereka tidak sekolah?"

"Banyak uangnya. Nanti bisa beli apa saja,"

"Bebas melakukan sesuatu. Tidak dilarang-larang,"

adalah bayangan-bayangan masa silam, yang kelak hanya akan membuat kita ingin kembali ke pelukan orang tua.

Sejatinya, segala sesuatu ada masanya. Manusia harus rela menjalani siklus kehidupannya. Saya percaya, orang yang menginginkan keabadian (seperti di film-film) juga akan merasakan namanya kebosanan. Tidak ada orang yang benar-benar menginginkan "hidup abadi". Mereka hanya ingin "hidup lebih lama".

Arresto momentum~



--Imam Rahmanto--

You Might Also Like

0 comments