Pertama dan Rindu

Mei 23, 2016

Baca Juga

Rindu momen damai-damai-sejuk-riang seperti ini.
(Imam Rahmanto)

"Bagaimana hari pertamamu?"

Rasa-rasanya, saya sudah punya anak yang masuk sekolah. Berseragam putih merah. Hari pertama, tentu selalu jadi pengalaman istimewa yang tak boleh dilewatkan. Sejatinya, kesan pertama (terhadap apapun atau siapapun) selalu menjadi kunci, apakah ingin melanjutkan atau berhenti sesegera mungkin.

Padahal, kenyataannya, tanya itu terlontar untuk adik saya. Ia sementara mengikuti salah satu program bimbingan belajar di kota Makassar. Itu hari pertamanya, lewat sehari ia menginjakkan kaki di kotanya suguhan coto ini. Ia sedang menyiapkan diri untuk mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi.

"Begitulah," jawaban yang singkat, padat, dan sebenarnya retoris. Adik saya memang tak tahu cara bercerita yang baik. Teramat berbeda dengan kakaknya yang terkesan cerewet dan masih suka kekanak-kananakan. #tepokjidat

Akan tetapi, di saat berhadapan dengan adik sendiri, ada paksaan untuk bersikap lebih dewasa. Tersadar sebagai peran anak sulung dalam keluarga. Kalau bukan saya, siapa lagi yang akan berperan sebagai "ayah kedua" baginya, yang juga baru menyelami dunia-jauh-dari-orangtua ini?

Tetiba pikiran saya menjurus lebih serius.

Rentang sebulan, adik perempuan saya akan menjalani studi di Makassar. Ia bakal berdampingan dengan rutinitas kakaknya yang saban hari bekerja mengepul berita. Oiya, sebagai kakak yang baik, saya juga semestinya mulai belajar meluangkan waktu untuknya. Minimal, antar-jemput ke lokasi bimbingan atau menunjukkan wajah eksotis kota ini.

Teringat bagaimana saya pertama kalinya menjejakkan kaki di ibukota provinsi ini. Semuanya terasa asing dan berwajah baru. Teman-teman masa sekolah berpencar dengan tujuan studi yang beraneka ragam. Persiapannya pun bertingkat, dari yang ikut bimbingan kelas bawah hingga terkarantina bimbingan kelas atas. Saya? Hanya bimbingan seadanya dengan jadwal begadang dan tahajjud yang ditambah setiap malamnya. Kalau sudah menghadapi perkara sulit, entah kenapa, barulah kita serius berdoa pada Tuhan.

Pengalaman pertama di Makassar selalu begitu istimewa. Bahkan jalan raya yang dikepung gedung-gedung tinggi membuat saya selalu memfokuskan pandangan. Minimarket yang tersebar di jalan-jalan sempit juga tak henti membuat saya berdecak kagum. Apalagi pusat perbelanjaan lebih besar, seperi mal yang dipenuhi eskalator.  Berkunjung kesana selalu menjadi ritual "cuci mata" mewah bagi anak-anak kampung sekelas kami. Semuanya terasa begitu "wow" di awal perjumpaan.

Sayangnya, hal mewah itu selalu berdampingan dengan keterasingan jauh dari orang tua. Rindu memang selalu bermula dari perpisahan. Berbanding lurus dengan jarak yang terukur oleh waktu. Semakin jauh, hati kadang kian rapuh. Benar kata Pidi Baiq, rindu itu (selalu) terlalu berat.

"Nah, sekarang kamu tidur. Jangan begadang. Dan, jangan rindu,"                      
"Kenapa?" kutanya.                                                                                                          
"Berat," jawab Dilan. "Kau gak akan kuat. Biar aku saja." ---Dilan, Pidi Baiq--

Seorang anak sulung lelaki, tentu bisa tegar menahan gelombang rindu. Pun saya, karena jiwa petualang yang sejak kecil melekat cukup baik. Anak lelaki justru ingin selalu mencoba dunia baru. Jika memungkinkan, mencipta dunia baru. Menjelajahi banyak tempat. Sama seperti kala si Sulung baru menjadi anak satu-satunya yang dilahirkan oleh bapak dan ibu. Sebelum adik-adiknya mulai berbagi kasih sayang dalam keluarga.

Bagi anak perempuan, rindu itu terkadang terlalu cepat mengusik. Ia rutin menusuk-nusuk ulu hati. Kalau tak kuat, suara halus orang tua di ujung telepon bisa jadi keran air mata yang tumpah sedikit-sedikit. Meski hanya sekadar menyapa, "Bagaimana kabarmu?"

Dan pagi ini, usai mengantarkan satu anak perempuan itu ke lokasi bimbelnya, saya menjumpai sebuah pesan singkat di timeline pribadi BBMnya, "I miss you papa mama," dengan emoticon bercucur air mata.


--Imam Rahmanto--



PS: Mungkin, pekan depan saya butuh membawanya berpiknik ke bioskop berhadapan dengan para Angry Birds.

You Might Also Like

0 comments