Butterfly Effect

Februari 16, 2016

Baca Juga

Udara tak menghembus. Di bawah rindang pepohonan, panas tak begitu menyengat. Dahan dan ranting nampak sedang tersenyum pada saya. Di sepanjang kokohnya pohon berjejer, muda-mudi bersantai. Mungkin, berbicara perkara pendidikan yang menghabiskan setengah isi kepala.

Saya sedang mencari tempat nyaman sekadar mengetikkan tugas deadline. Di penghujung kebisingan kota, saya melintaskan diri ke dalam kampus terbesar di kota ini. Butuh beberapa menit untuk menyelesaikan satu naskah tulisan. Saya juga agak jengah melintas di sepanjang ruas jalan Perintis. Saban sore, macet tak.kira-kira. Tahu, tidak. Lamanya mengendarai motor di tengah kemacetan setara dengan rampungnya satu-dua naskah berita.

Tanpa teman, saya sesekali hanya mampir di masjid kampusnya. Membiarkan orang-orang lalu lalang beribadah sembari sibuk sendiri dengan gadget. Di depan kepala seolah ada tulisan "deadline" yang menggantung-gantung tak ingin ditinggalkan. Kalau sudah begini, ibadah jadi belakangan. Duh, Gusti.

Suasana adem di kampus ini cukup menenangkan bagi saya. Saya menyukainya. Apalagi dilengkapi dengan landscape sebuah danau buatannya.

Suasana kampus Unhas mirip dengan kampus kuning di ibukota negara sana, Jakarta. Saya pernah berkunjung dan mendapati suasananya yang tak jauh berbeda. Danau. Pepohonan. Area publik. Jalanan melingkar. Sepeda gratis. Mirip.

Adaptasinya nyaris sempurna jika saja pihak kampus berhasil meloloskan kebijakan terkait bus kampus. Alih-alih sebagai trasportasi gratis mahasiswa, para supir angkutan umum (baca: pete-pete) justru protes. Mereka terancam kehilangan pekerjaan jika bus merah (seperti di UI, sebutannya Bus Kuning) menjajah lingkungan kampus.

Ah, kasihan juga. Tetapi, saya sebagai (mantan) mahasiswa justru lebih senang kalau ada transportasi semacam itu.

Pertama kali menginjakkan kaki di kota Makassar, saya pernah mengidamkan bergelut dengan kehidupan layaknya mahasiswa disana. Sayangnya, jalan hidup justru berbelok ke arah kampus negeri lainnya. Kampus yang sudah melahirkan banyak guru dan dosen. Nyatanya, arah hidup saya kembali berbelok untuk kedua kalinya.

"Seandainya dulu........ tentu tidak begini, kan?"

Saya sudah terlalu banyak mendengar keluhan semacam itu. Seolah berharap masa lalu berubah, dan tidak memberikan kesialan seperti di masa sekarang. Siapa yang bisa menebak masa depan?

Seberapa yakin kita, hidup bakal lebih baik jika jalur hidup di masa lalu sesuai dengan apa yang diinginkan?

Setiap elemen kehidupan saling bertautan. Sedikit saja hal berubah, tentu mempengaruhi banyak hal lainnya. Tak jarang, hal paling kecil sekalipun menjadi penyebab terjadinya sesuatu yang paling besar.

"...satu kepakan sayap kupu-kupu di Indonesia bisa mengakibatkan badai Tornado di belahan dunia yang lain…" -- Butterfly Effect Theory
Sebuah teori chaos mengatakan, kondisi sekarang adalah pengulangan berkali-kali kondisi yang pernah terjadi di masa lalu. Hal sekecil apapun, mungkin sepele, bisa berakibat pada kehidupan yang dijalani sekarang.

Saya tak lagi ingin terlalu lama berpikir, "Seandainya Tuhan meluluskan doa saya berkampus disini, saya akan......" Tentu, siapa yang mampu menebak jalan berikutnya?

Sebagaimana hidup saya sekarang, banyak hal yang telah berlalu. Ia bertautan satu sama lain. Jalur-jalur anyar tercipta lewat pengalaman dan keinginan kelak. Butterfly effect terbentuk. Seperti orang-orang yang girang berbicara mimpi, saya garang ingin meraupnya.

Udara masih terasa sejuk. Sebenarnya, saya ingin duduk berlama-lama di pinggir danau itu. Seperti beberapa mahasiswa disana. Menunggui matahari yang membias di permukaan air bergelombang. Sekadar bercerita, atau hening merenung.

Hanya saja, agak canggung terlihat sendirian. Saya butuh teman sekadar bercerita hal-hal di luar "kantor". Kepala sudah terlampau penuh disesaki segala macam urusan kantor dan berita.

Hm...mungkin, kapan-kapan saya akan mengajak perempuan saya kesana.



--Imam Rahmanto--

You Might Also Like

0 comments