Ini 2016

Januari 01, 2016

Baca Juga

Saya sedang berada di sebuah kafe yang tidak banyak dikenal. Orang-orang lebih mengenal kafe tetangga yang berada di kompleks perumahan cukup mewah. Maklum, kafenya sedang tutup. Yah, termasuk saya, yang baru ketiga kalinya menjejakkan kaki di kafe bernuansa klasik ini. It's name, Black Box Cafe.

Di tanggal merah ini, saya tak mengira beberapa warung kopi (warkop) dan kafe tutup. Salah satunya yang tutup, warkop yang sering jadi tongkrongan saya di sela-sela menyelesaikan liputan olahraga. Kapan-kapan lah kuceritakan padamu bagaimana aroma kopinya begitu memikat dan mengikat. Tak biasanya. Mungkin, orang-orang terlalu berhura-hura semalam, hingga lupa lagi mencari rezeki (atau sekadar bangun pagi) keesokan harinya.

Saya tak begitu menikmati perayaan pergantian tahun semalam. Hanya bersantai di kamar kontrakan (kost) sepanjang hari. Menyelesaikan bacaan buku yang baru dibeli sehari sebelumnya. Selagi rezeki masih di tangan, buku mesti ditambah, tambah, dan ditambah. Mini-library must go on…

Liputan juga tak sepadat biasanya. Itu karena di tanggal pertama tahun 2016, hari libur, surat kabar terbit dengan halaman terbatas. Saking santainya, saya juga nyaris kelewat abai hadir “setor muka” di kantor. Telepon dari redaktur baru menghentakkan saya untuk bergegas ke ruang redaksi. Ada seseorang di seberang sana juga yang harus mengakhiri teleponnya.

Di ruang redaksi, ada rapat dadakan menyambut pergantian tahun. Wejangan-wejangan disampaikan Pemimpin Redaksi kami. “Di tahun yang baru, segalanya harus lebih baru dan lebih baik,” semacam itulah pesan pokok yang hendak disampaikan pimpinan kami. Pun, saya datangnya telat.

Jelang pergantian tahun, lepas dari kantoran, saya menyempatkan diri mampir di redaksi lembaga pers kampus kami. Menengok dan memenuhi undangan makan-makan ikan bakar. Rezeki tak kemana, perut saya memang sedang keroncongan jelang tengah malam.

***

Saya tak berharap banyak dari edisi “tahun baru” ini. Toh, apa yang saya ingin kejar terkadang berlari terlalu kencang. Saya mesti memacu dan melatih lari saya agar tak ketinggalan. Hal lainnya, saya juga begitu prestisius melampaui target yang digadang-gadang ingin dicapai.

Tuhan membaca setiap harapan makhluk-Nya. Sekali saja kita memasang target dan mengatur laju tetap konsisten ke arah sana, yakin saja, itu bakal terwujud. Saya pernah mengejar target semacam itu, tentang keinginan melangkahi kota di luar Sulsel.

“Teman saya pernah kesana, masa saya tidak?”

Atau saat saya mengawalinya dengan kedongkolan setengah hidup karena batal diberangkatkan ke luar kota demi meliput pertandingan tim sepak bola Sulsel. “Lihat saja. Kalau saya gagal karena itu, saya bisa cari cara lainnya tanpa perlu dibatalkan kembali dengan alas an yang sama,” tegas saya pada diri sendiri, suatu ketika.

Nah, Tuhan menyimpan segala harapan yang memang sudah dibungkus bulat-bulat. Walhasil, alam berkonspirasi membawa saya ke arah sana. Saya tak pernah menyangka, liputan event futsal yang sempat saya kerjakan ogah-ogahan karena harus bangun pagi, menjadi akar dari keberangkatan saya dua bulan berikutnya.

Sebenarnya, saya masih punya banyak tempat tujuan yang harus dicetuskan. Usai (tak puas) menikmati suasana kota Tanah Deli, saya beralih menargetkan kunjungan ke kota di tanah Jawa, Yogyakarta. Saya tak pernah tahu bagaimana dan kapan saya bakal kesana. Satu hal yang penting, saya tetap menggantungkannya di depan mata.

Dan lagi-lagi alam mulai berkonspirasi membuka jalan itu. Tanpa sengaja, saya mendapatkan jalur itu di akhir tahun kemarin. Melanjutkannya di awal tahun. Mari berharap, Tuhan kembali menghadiahkannya pada saya. :)

Ah ya, orang-orang berbicara soal resolusi. Target apa yang belum terkejar di tahun sebelumnya, dan target baru yang dicanangkan di tahun ini. Saya tak muluk-muluk, hanya ingin…

...banyak membaca.

...banyak menulis (apa saja)

...banyak menabung

...banyak beli buku (mungkin dua-tiga per bulan)

...banyak bekerja (tambah segmen)

...banyak berdoa dan beribadah

…banyak bangun pagi (atau dibangunkan)

…banyak waktu luang (sekalian liburan)

...banyak bersyukur

...banyak berpikir positif

...banyak bergerak (tak lagi dengan jalan kaki)

...banyak makan (biar berat badan bertambah)

...banyak bercakap dengan orang tua (utamanya bapak)

...banyak ke luar daerah (borong target liputan)

...banyak mengenal orang baru (apalagi cewek, #ehh)


Sebagian besar sebenarnya sudah pernah saya sebutkan di awal tahun 2015 silam. Hanya saja, beberapa darinya juga sudah mutlak tercoret dan dikhatamkan. Sebagiannya lagi, hanya berjalan secara berkesinambungan.

Terlepas dari semua target yang ingin dicapai, saya, kamu, kita, kalian, mereka hanya bisa selalu berharap, "let's be better than yesterday..."



--Imam Rahmanto--

You Might Also Like

0 comments