Impian yang Fluktuatif

Januari 06, 2016

Baca Juga

Oiya, ini masih aroma tahun baru, kan? Meski suara kembang api sayup-sayup tak terdengar lagi. Seiring kemilaunya yang juga mulai meredup.

Biarlah, gawean tahun baru memang sudah menjadi rutinitas anak muda di kota ini. Kian tahun, jembatan fly-over di kota ini sesak oleh ratusan pemuda-pemudi. Esok harinya, kota ini kembali mati rasa. Orang-orang mulai disibukkan urusan dunianya. "Dunia ji ini weh," kata orang Makassar kekinian.

Dulu, sebelum menjejakkan kaki di dunia perkuliahan, saya punya target yang cukup besar. Target yang sebenarnya cukup geli jika harus digingat-ingat.

"Lulus kuliah empat tahun. Setahun setelahnya, punya motor. Setahunnya lagi, sudah beli mobil."

Beberapa hal memang agak melenceng dari harapan yang sudah dipancang. Akh, patoknya juga waktu itu belum begitu kuat. Hanya sebatas semangat yang agak meluap-luap lantaran masih terbawa usia lepas remaja. Saya saat itu belajar menggantungkan impian setinggi apapun pikiran bisa membawanya.

Urusan dapat atau tidak, itu belakangan.

“Kekhawatiran terbesar saya bukan ketika generasi muda tidak berhasil mencapai impian mereka, melainkan ketika mereka berhasil mencapai impian mereka. Akan tetapi, ternyata impian mereka itu teramat rendah,” -- Anies Baswedan, dikutipnya dari ucapan seoran pesohor Indonesia. Saya mendengarnya saat membawakan seminar di kampus kami, dulu.

Nah, apa yang saya targetkan teramat melenceng. Kuliah? Saya justru selesai lebih lama, 3 bulan 30 bulan (baca: hitung baik-baik. Kebanyakan orang pandai tak tahu bedanya).

Saya punya teman sekamar, yang masih sementara menyelesaikan tahap akhir studinya. Masa-masa pening kepalanya itu nyaris serupa dengan yang saya alami dulu. Bedanya, saya tidak banyak menyelingi urusan kebut skripsi dengan menonton film seperti dirinya.

Soal kendaraan? Saya masih lebih sering menumpang kendaraan teman atau angkutan umum (pete-pete).

Dua tahun silam, saya masih punya kendaraan yang senantiasa menemani langkah kaki di kampus. Hanya saja, motor usang itu sudah berpindah tangan, dijual bapak untuk pengobatan sakitnya.

Mengawali tahun ini, saya juga menargetkan bisa menggantikannya dengan yang lebih anyar. Sebenarnya, sudah dalam tahap penyelesaian. Pun, profesi saya di media kini, sedikitnya bisa membantu beban untuk persoalan kebutuhan semacam itu.

Keterbatasan menjalani pekerjaan itu, justru membuat saya tertantang.

Saya sudah banyak "mengorbankan" banyak tumpangan kendaraan untuk kepentingan liputan. Motor teman di lembaga pers kampus, motor senior, motor teman dari media yang sama, motor teman dari media yang berbeda, motor teman sekamar, motor tetangga kamar, motor pemilik warkop, motor kekasih.

Lebih sering mengendarai angkutan umum untuk urusan-urusan yang tak mendesak. Sesekali terhibur dengan musik yang berdentum dari speaker belakang. Apalagi kalau genre musiknya masih populer dan punya lirik yang bikin senyum-senyum sendiri. Terkadang bisa membosankan pula, jika disesaki penumpang (perempuan yang sebagian besarnya, ibu-ibu).

Akan tetapi, perjalanan saya di mobil pelat kuning itu justru membawa saya melihat banyak kawasan di kota ini. Belajar merekamnya di kepala dan kelak mendatanginya sendirian, kalau sudah punya kendaraan pribadi.

Teman saya pernah bertanya,

"Kalau kamu diberikan mobil, maunya mobil apa?"

Saya memikirkannya agak lama. Lagipula, siapa juga yang mau menghadiahkan mobil secara cuma-cuma? Alhasil, saya hanya bisa terdiam cukup lama yang berujung pada jawaban, "Tidak tahu."  

Hal-hal yang mustahil secara logika memang cenderung membuat kita tumpul mengasah impian.

"Itu artinya kamu masih belum siap punya mobil, belum siap jadi orang kaya. Kamu belum punya ancang-ancang mobil mana yang akan kamu miliki,"

Cukup terguncang juga mendengarnya. Di lain waktu, saya mulai memikirkan mobil apa yang hendak saya miliki. Sehingga kelak, ketika punya banyak uang, saya akan langsung membelinya tanpa perlu banyak pertimbangan. Coba saja tanyakan pada saya sekarang.

Meski belum punya kesempatan memilikinya, saya masih punya banyak waktu mengusahakannya. Toh, rencana bisa berubah. Rencana bisa direvisi. Ikut perkembangan zaman. Seperti skripsi, revisi demi revisi, acc demi acc, hingga berujung pada acungan jempol sang penguji.

***

Saya belajar lebih banyak memasang target. Target liputan. Target menjelajah. Target teman. Target olahraga. Target buku. Target kekayaan. Kendati mustahil (bagi sebagian orang), setidaknya kita sudah menyimpannya dalam lobus temporal sembari menunggu keajaiban terpaut lima senti dari kepala.

Meminjam perkataan Andrea Hirata, "Kita memang tak boleh hidup dalam mimpi, tetapi tak apa-apa banyak bermimpi dalam hidup."


--Imam Rahmanto--

You Might Also Like

0 comments