Yang Terlewatkan*

Maret 25, 2015

Baca Juga

Tanpa disadari, kegagalan hari ini terkadang menjadi refleksi atas kesalahan yang mungkin pernah kita lakukan di masa lalu. Bisa jadi kesalahan pada orang lain menghambat setiap langkah dewasa ini. Kita tak pernah menyadari bahwa ada orang-orang yang merasa teraniaya karena kita. Ia mendoakan keburukan untuk kita yang baru berlaku di masa sekarang atau masa mendatang.

Cappuccino di kafe itu, di suatu senja. (Foto: ImamR)
Di suatu sore yang nyaris menenggelamkan mata, saya dan dua orang teman berhenti di sebuah kafe. Ngopi (baca: cappuccino). Menikmati sore. Menatap senja yang memantul dari jendela gedung di seberang tempat kami menatap beranda. Sembari menanti teman lama lainnya yang hendak melepas kangen. Akh, dibilang kangen pun tak biasa. Hampir setiap minggu kami bisa bertemu seperti ini di sela kunjungannya ke Makassar dalam rangka pekerjaan atau sekadar bisnis.

Tempat yang sudah lama saya tak kunjungi. Tepat di belakang sebuah franchise junk-food di tepi jalanan kota. Terakhir kali, saya berkunjung kesana bersama teman-teman dari lembaga jurnalistik. Namanya pun dalam ingatan saya tak lagi sama dengan namanya sekarang. Sungguh berbeda.

“Ada banyak hal yang saya lewatkan ya?” kata seorang teman.

Perihal lama ia tak berjumpa dengan kami, sungguh memekakkan kepala. Yah, ada banyak kehidupan yang memang selalu dilewatkan. Tak hanya ia. Pun, saya merasa demikian. Setiap momen yang telah berlalu, nyaris sepelemparan masa ke belakang. Tak bisa lagi diraih. Hanya berbaur menjadi cerita-cerita biasa diantara kami. Seharusnya begitu.

Sebagaimana seorang teman perempuan, di malam itu, menjelaskan perihal masa lampaunya dengan teman lelaki itu. Mendetail, menjelaskan perkara muaranya. Jangan pernah membayangkan kami ada di dalam situasi film-film televisi dengan pertengkaran yang ditingkahi air mata. Berpikirlah yang biasa-biasa. Hanya saja,di balik masa lalu yang diulang, terkadang ada penyesalan yang hendak dibuang. Bukankah setiap orang ingin menjalani kehidupan lebih baik? 

Kesalahan teman lelaki saya yang mengambang di masa kemarin itu, mungkin memang ditanggapi dalam diam oleh si perempuan. Nyatanya, saya paham, dalam diam termaktub sejumlah kekecewaan, serupa menahan diri untuk membangun harapan yang lebih besar. Pun, tak berbeda, saya belakangan ini lebih banyak diam. Lumrah, manusia punya ego tak ingin menyakiti dirinya lebih jauh.

Dua orang teman saya itu, dipertemukan dalam keadaan canggung. Sekali waktu, dengarkanlah lagu Sheila On 7, berjudul Canggung. Tanpa tahu masing-masing akan datang berbagi cerita. Ada kekecewaan yang hakikatnya ingin disembunyikan. Tak perlu diumbar-umbar kepada orang lain di luar hubungan mereka dulu.

Sebetulnya, hal menarik untuk menjabarkan perjalanan asmara semacam itu. Menarik. Sebentuk pengakuan atas kekecewaan seorang perempuan menguap bersama cerita-cerita di masa lalu. Hal itu mendorong saya mengingat-ingat beberapa hal secara mendetail. Dan memaksa pengakuan lainnya lewat cerita yang telah saya bumbu-bumbui. Hahaha…maaf, terkadang rasa ingin tahu saya kelewat batas.

Ah, wajah-wajah yang masih kelihatan muda...
(Foto: mbak waitress, makasih)
Akan tetapi, saya belajar untuk menjadi orang yang tak ingin tahu. Sedikit saja. Karena terkadang, keingintahuan itu hanya berujung pada kekecewaan.  Saya berusaha tidak merepotkan keduanya dengan tingkat penasaran yang lebih jauh. Cukuplah perjalanan panjang itu diketahui lima-anak-muda-tak-ada-kerjaan.

Kesalahan bukan untuk diumbar, melainkan lahan belajar demi membuka masa mendatang yang lebih baik.

Di balik temu singkat itu, tetap saja ada rencana yang hendak dibukukan sepekan ke depan. Semoga terlaksana. Di ujung temu waktu yang nyaris menunjuk angka sepuluh itu, kami akan berjumpa lagi. Saya mempercayainya.

Pertemuan memang selalu menjadi waktu terbaik menjaring kenangan. Ingatan yang saling merangkul satu-satu. Dipilih bersamaan demi membangunkan ingatan yang lain. Berbagi kebahagiaan. Berbagi kekecewaan. Berbagi keresahan. Berbagi kesalahan. Berbagi kejujuran. Hingga berbagi kerinduan, yang mungkin selama ini dipendam dalam diam.

Untuk itu, mari bertemu, sembari meningkahi kehangatan secangkir cappuccino … ^^


*Now Playing: Sheila On 7 – Yang Terlewatkan


--Imam Rahmanto--


Di waktu yang sekian lama itu, pada kenyataannya tak ada dari kami yang berubah. Kami masih saja kami yang dulu. Di mata saya, setiap orang seharusnya berubah. Atau mungkin sekilas pandangan mata saja, tak ada yang berubah. Namun dalam hati, setiap orang mulai mengembangkan potensi dirinya masing-masing. Entahlah. 

You Might Also Like

0 comments