23# Branding

November 09, 2014

Baca Juga

Saya sedang tak ada kerjaan di kamar kost. Ketimbang merenung-mengharap-merenung, saya lebih baik menuliskan sesuatu. Ada banyak hal yang perlu dibekukan. 

Proposal penelitian yang telah saya daftarkan untuk ujian seminar proposal, masih belum nampak hasilnya. Yah, jadwalnya belum ditetapkan. Menurut petugas administrasi di jurusan, jadwal ujian beserta pengujinya baru bisa diketahui Senin. Padahal, saya sudah mendaftarkan proposal jauh hari sebelumnya. Mengecewakan.

Seandainya saja para pengelola administrasi jurusan bisa sedikit lebih mengutamakan pelayanannya, tentu saya tidak perlu menunggu sampai sejauh ini. Saya tidak perlu bolak-balik-naik-turun tangga hanya untuk ke lantai dua gedung jurusan. Saya tidak perlu berlari-lari kecil (saking semangatnya) mengecek di ruang administrasi. Sayya tidak perlu mengumpat di dalam hati. Segalanya, hanya berujung pada kata “belum”. Saya butuh melampiaskannya.

Saya sudah lama tidak memprakarsai desain-desain grafis. Sebenarnya, graphic design juga menjadi salah satu keterampilan saya di lembaga jurnalistik yang menaungi saya 4 tahun terakhir. Meskipun, sejak dulu, saya tidak berambisi menjadi seorang desainer ataupun ilustrator. Pasalnya, saya lebih jatuh cinta perihal “menulis” dan segala tetek-bengeknya.

“Saya lupa” atau “Saya tidak tahu” terkadang menjadi tameng tersendiri untuk menghindari segala hal yang berhubungan dengan desain jikalau teman-teman bertanya atau meminta sesuatu. Lagipula saya juga bukan manusia-serba-tahu. Bahkan, beberapa kali ada teman-teman yang meminta bantuan bantuan sebagai pemateri layout/ graphic design di acara-acara kepelatihan dasar, saya menolaknya mentah-mentah. Saya terkadang kesal ketika teman-teman masih mengidentikkan saya sebagai seorang layouter.

Tak hanya itu, saya bahkan belum lama ini ditawari bekerja sebagai layouter di sebuah media lokal. Namun saya menolaknya.

"Seharusnya kau berpikir tentang kerja dulu. Apalagi pekerjaan begitu tidak akan memberikan pengeluaran banyak. Amat berbeda dengan pekerjaan sebagai wartawan," banding seorang teman.

Untuk saat ini, saya mencari pekerjaan yang cocok dan sesuai dengan kesibukan saya mengurus proposal penelitian skripsi. Sebelum saya menamatkan skripsi itu, saya tidak akan mengambil pekerjaan yang menyita banyak waktu. Apalagi yang tidak sesuai dengan passion saya. Jam kerja di media lokal itu tidak sesuai dengan kriteria alokasi waktu saya.

“Syukuri saja. Namanya juga anugerah. Tidak banyak orang loh yang diberi kesempatan untuk menguasai banyak skill sekaligus,” kata teman. Saya selalu mensyukurinya. Selalu. 

Belajar dari businessman, saya tak ingin membangun branding diri sebagai seorang desainer. Saya justru ingin dikenal sebagai penulis, jurnalis, wartawan, travel-writer, editor, copywriter, blogger, atau apapun yang erat kaitannya dengan passion saya di bidang ini. Untuk saat ini, saya belum memutuskan bakal berprofesi sebagai apa. Maklum, saya belum menamatkan kuliah. Sadar atau tidak, sedari awal, setiap orang sudah seharusnya membangun branding diri sebelum memasuki dunia kerja yang lebih profesional.

"Just do it and you will find a way. It’s not about money, It’is dignity" --Ainun Chomsun, Founder Akademi Berbagi

Perihal graphic design, saya hanya menjadikannya sampingan. Sama halnya ketika saya begitu menyukai fotografi. Kelak, saya ingin memiliki kamera DSLR pribadi. Saya butuh banyak hal yang direkam dengan kamera.

***


Ide ini muncul begitu saja. karena terkadang ide memang muncul dadakan, dan secepatnya butuh divisualisasikan dalam realisasi. Dipendam lama-lama, justru membikin ide bakal memudar.

Berenam, kami dipersatukan dalam lembaga jurnalistik kampus dengan latar jurusan yang berbeda-beda. Tahun ini, sudah seharusnya menjadi tahun ideal kami menamatkan kuliah. Hanya saja, kami memiliki kesibukan yang berbeda-beda, dan punya impian yang digantung 5 cm di depan kening kami. *ala-ala film 5 Cm.

Dan tersebutlah kami berenam yang menunggu impian dipulangkan pada waktu masing-masing. Yang menunggu, pada seberapa besar usaha berputar di kepala kami.

Dhiny, si Cengeng yang menyimpan banyak ingatan, dan kerap menjadi ladang “rahasia” bagi kami. Asri, si Cambang yang punya potensi menjadi politikus handal karena keahliannya melobi. Ical, si Kadal yang gandrung bermain game dan dinanti-nanti kekasihnya untuk menyelesaikan kuliah. Cinno, si Poligami, yang kelak di kemudian hari mungkin menggunakan keahliannya beretorika untuk menikahi banyak gadis. Iyan, si Buaya perencana yang punya sejuta tempat untuk dikunjungi dalam perjalanannya sebagai gembel-packer.

“Imam, buatkan juga untuk semua personil #Ben10. Biar nanti saya mau cetak dan buatkan baliho,” tukas seorang teman.

Hmm…masih ada 4 orang dari kami yang tersisa. Sayangnya, mereka sudah lebih dulu “lulus” ketimbang kami. Nantilah kita genapkan. Saya harus mengurusi proposal penelitian dulu…


--Imam Rahmanto--

You Might Also Like

0 comments