21# Bukan Perkara Tempat

November 03, 2014

Baca Juga

Usai saya menerima revisi dari pembimbing dan mendiskusikannya dengan pembimbing lainnya, ada jeda yang menyela proses penulisan saya berikutnya. Pembimbing saya benar-benar menepati janjinya. Alibinya, “tidak-menemukan-tempat-yang-cocok” mengerjakan proposal.

“Kerjakan di kamar kost?”

“Aduh, kalau di kamar kost, saya tidak bisa fokus. Ada perasaan selalu mau tertidur, karena suasananya yang benar-benar cocok untuk menyendiri dan mengantuk. Yah, selain karena sumpek juga sih,” pikiran-pikiran saya menjawab sekenanya.

“Kerjakan saja di kamar kost teman, atau di rumah teman,”

“Aduh. Saya justru lebih senang berbagi cerita disana,”

“Kalau begitu, bagaimana dengan kampus?”

“Di kampus? Saya memang sudah sering ngampus. Hanya saja, saya menikmati obrolan ringan bersama teman-teman senasib disana. Di samping itu, saya lebih suka mengamati (sembari duduk-duduk menunggu) di selasar kampus. Oiya, sambil nge-doodle,”  

“Kerjakan di perpustakaan? Ada banyak referensi buku loh”

“Hm..waktu yang disediakan disana terbatas, dari jam buka sampai jam tutup. Apalagi disana tidak punya terminal listrik yang memadai. Emm…disana saya juga lebih tergoda membuka-buka novel dan sastra,”

“Kalau di redaksi? Dilengkapi jaringan internet sebagai referensi pula,”

“Terlalu ramai. Malah tidak bisa fokus. Sedikit-sedikit dapat gangguan. Sedikit-sedikit menarik perhatian. Sedikit-sedikit menjelajahi dunia maya tak henti. Selalu ada godaan bercengkerama dan berdiskusi disana,”

“Di Coffee Shop atau kafe langganan?”

“Hm…agak meragukan. Dulu, saya menyelesaikan proposal-skripsi di kafe dekat-dekat redaksi. Namun, di momen-momen hari berikutnya, saya justru lebih banyak membuang waktu, tanpa memulai mengerjakan perbaikan proposal tersebut. Nyatanya lebih banyak menguras kantong juga, kan? Saya lebih suka menikmati “reading-time” atau “lonely-time” disana. Hehe…”

“Jadi??”

Berdebat tanpa berbuat justru akan semakin menghabiskan waktu yang berguna untuk bertindak. Sebaiknya, memulai yang perlu dimulai. Bagi saya, mencari-cari alasan termasuk salah satu perkara paling mudah setelah urutan ”mencari-cari kesalahan orang lain”. Lazimnya, saya memang terlalu bodoh untuk mencari-cari alasan atas kemalasan yang selalu berkumpul di sekeliling saya.

Akhirnya saya sadar, tempat yang paling baik mengerjakan sesuatu bukan tempat yang mahal, sepi, sejuk, berpemandangan menarik, hingga berfasilitas lengkap. Tempat yang paling nyaman, sejatinya, ada di dalam hati dan pikiran saya. Kalau pikiran mampu ditata dengan baik, apa pun akan dikerjakan dengan sepenuh hati. Karena tempat yang dirindukan ada di dalam diri sendiri…


***

“Jadi, bagaimana?”

Saya tanpa sengaja bertemu dengan pembimbing di jurusan. Seperti yang sudah saya katakan, ia mengenali saya.

“Emm…saya sudah ketemu dengan beliau kemarin, Bu. Dan memang ada seikit perbaikan di judulnya, dan beberapa masukan atas proposal saya. Tapi selebihnya, tidak mengubah isinya. Saya juga sudah memperbaiki proposal saya, Bu,”

Saya menyorongkan lembaran draft proposal yang baru dicetak pagi sebelumnya. Lembaran yang dituai dari mempertahankan kantuk semalaman sembari bernyanyi keras-keras sendirian – berbekal earphone - di redaksi. Saya memaksa diri mengerjakannya di redaksi. Lembaran yang harus diselesaikan demi menekan angka kemalasan saya, dan mengebut skripsi. Lembaran yang sempat terancam gagal-setor akibat charger laptop yang rusak di sepertiga malam, dan membuat saya harus memaki-maki di dunia maya. #fiuhh

“Hmm..” gumam pembimbing melihat sekilas judul yang sebelumnya telah ia permak habis.

Tak lupa saya melampirkan draft proposal sebelumnya yang penuh dengan coretan tangannya + coretan tangan pembimbing satunya lagi.

“Bagaimana dengan instrumennya?” tanyanya kemudian, menyerahkan kembali proposal itu.

Sekadar catatan, instrumen adalah kelengkapan bahan yang akan digunakan dalam proses penelitian. Untuk penelitian saya, instrumennya berupa pedoman wawancara dan angket.

Dengan jawaban yang telah dipersiapkan sebelumnya, saya menjwabnya biasa-biasa saja. Perihal instrumen, saya sebenarnya belum menyelesaikannya. Namun di depan pembimbing, saya bersikap seolah-olah telah menyelesaikannya. Nah, ini dia keterampilan ala jurnalis dipakai.

“Apalagi, instrumen itu baru divalidasi usai seminar nanti, kan, Bu?” saya meyakinkannya.

“Ya.. Kalau begitu kau mendaftar mi saja dulu seminar. Maju lah,” sarannya, “Mana persetujuanmu untuk saya tanda tangani?”

Saya sumringah. Kata-kata “majulah” terngiang-ngiang di kepala saya. Padahal, saya menyangka akan mengalami sekali lagi perbaikan sebelum disetujui mengikuti seminar proposal. Pun, tujuan saya ke kampus mulanya hanya untuk menyetorkan perbaikan draft proposal yang saya kerjakan semalaman itu. Tanpa dinyana, saya justru didorong lebih maju.

Akh, manis sekali! Tahap yang semakin manis ketika bisa diselesaikan dengan baik. Usaha keras memang tak pernah sia-sia. Seperti kata lagu, semua akan indah pada waktunya. Syalalalala….

“Emm…… saya belum print, Bu,”

#nahloh??


--Imam Rahmanto-- 

You Might Also Like

2 comments