Sambil Jalan, Sambil Belajar

Februari 01, 2014

Baca Juga

Ada orang-orang yang takut dengan hal-hal baru. Ada orang-orang yang tak ingin melangkah meninggalkan zona nyamannya. Ada orang-orang yang hanya berusaha menerka-nerka tanpa berani mencoba. Ada orang-orang yang begitu lama mempersiapkan diri, berharap segalanya lebih mudah ketika ia sudah mahir dan mengasainya. Sementara mereka tak pernah sadar betapa pengalaman belajar itu adalah proses yang dijalaninya.

"Saya pelajari dulu, baru nanti buka usahanya," ujar seseorang.

Betapa seseorang tidak menyadari bahwa menjalankan suatu pekerjaan-pekerjaan kreatif di masa sekarang itu tidak butuh diawali dulu dengan belajar, melainkan dijalani sembari belajar. Ya, jalani saja, lantas belajar segala hal yang dibutuhkan selama menjalaninya!

Saya banyak menemukan, para pemenang di luar sana memulai pekerjaannya dengan modal nekat saja. Keterampilan? Mereka bahkan tidak memilikinya sama sekali. Hanya saja, mereka melihat sedikit peluang di dalamnya dan memberanikan diri mencoba menjalaninya. Urusan belajar keterampilan yang dibutuhkan, mereka memegang prinsip sambil menyelam minum air. Alhasil, mereka memperoleh keterampilan yang memang dibutuhkan.

"Saya tidak bisa. Saya tidak tahu melakukannya,"

Mereka mempelajarinya ketika mereka berani menjalaninya. Dalam proses perjalanan itulah mereka memaksakan diri untuk belajar tentang suatu hal yang ingin mereka bangun. Mungkin itu yang dinamakan belajar autodidak. Tidak heran ketika di luar sana banyak orang-orang yang memiliki keahlian di luar dari pendidikan yang selama ini mereka tempuh.

Dalam lembaga yang saya jalani pun berlaku demikian. Untuk menguasai sesuatu, kita harus berani mengerjakannya terlebih dahulu. Kita punya keterampilan di bidang itu atau tidak, adalah urusan belakangan. Yang terpenting adalah tekad dan kemauan. Bahkan kerap kali bukan kemauan sendiri melainkan dipaksa untuk mengembannya.

"Kau, jadi layouter," ujug-ujug ditunjuk langsung. "Waduh, saya tidak tahu apa-apa," jawabnya.

"Saya mau buka usaha pembuatan website, tapi saya cuma tahu sedikit," ujar orang lainnya lagi.

Gambling saja! Mencoba bertaruh. Eits, bukan taruhan yang diharamkan. Maksudnya, bertaruh dengan diri sendiri, melawan ketakutan-ketakutan dalam diri.

Selama ada kemauan, Tuhan akan selalu membukakan jalan. Toh, keterampilan itu pada akhirnya akan kita peroleh dalam perjalanan menyelesaikan pekerjaan itu.

Memang sih, resiko kesalahan dalam menjalani pekerjaan itu memang teramat tinggi. Namun, percaya saja, kesalahan itu lamat-lamat akan menghilang seiring kita gigih mempelajarinya. Bukankah sama halnya dengan Thomas Alfa Edison yang harus berkali-kali melakukan kesalahan sebelum akhirnya menemukan lampu pijar? Lantas, kenapa mesti takut? Orang-orang cenderung selalu mendramatisir rasa takutnya terhadap hal-hal baru yang sama sekali belum dicobanya.

Kebanyakan orang-orang gagal bukan karena mereka tidak bisa melakukan yang terbaik. Mereka gagal karena tidak berani mencoba dan berhenti berusaha. Keep trying!

Jadi, ingat, untuk menjalani pekerjaan tertentu, kita sejatinya tidak butuh keterampilan cukup banyak. Segalanya cukup diawali dengan niat, tekad, dan usaha keras.

"Belajar dulu, baru mengerjakannya," -- SALAH

"Kerjakan saja, sembari mempelajarinya," -- BENAR


--Imam Rahmanto--

You Might Also Like

0 comments