Bi(a)sakan Diri

Februari 01, 2014

Baca Juga

Selamat pagi!

Yah, tidak peduli kapan saya menuliskan postingan ini, sejatinya waktu masih pagi. Untuk beberapa bulan ini, kondisi yang terlihat selalu nampak pagi. Langit di atas kota saban hari tertutup awan gelap, menghalangi sinar matahari untuk berbagi panasnya. Kalau tiba waktunya, garis-garis hujan akan berkejaran turun menghunjam atap-atap bangunan. Sesekali, disertai angin kencang yang siap menerbangkan dahan-dahan lemah di atas pohon. Namun berkali-kali menggenangi jalan-jalan besar di kota.

Lazimnya pula, kondisi di luar turut mempengaruhi mood seseorang. Yah, seperti saya. Tak jarang, hanya gara-gara hujan yang tak kunjung mereda, saya malas untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang menuntut untuk diselesaikan. Belum lagi dengan beberapa urusan yang sejatinya harus mendapatkan penanganan segera. Ditambah dengan kewajiban saya untuk memperbaiki hubungan keluarga yang agak merapuh.

Akan tetapi, bagaimanapun kondisinya, saya juga terbiasa untuk memaksakan diri. Karena saya percaya dari pemantik berupa “terpaksa” itu, lamat-lamat saya akan menemukan kerelaan untuk mengerjakannya. Yah, kerap kali saya menemukan hal serupa demikian.

Hm…akhirnya saya bisa lagi mengisi “rumah” ini. Saya sempat melupakannya, meski sebenarnya masih tetap berkutat dengan “rumah” milik orang lain. Namun saya memutuskan, sebelum saya kehilangan lebih banyak ingatan di kepala, tidak ada salahnya jika saya membekukannya sedari sekarang. Seperti hari-hari kemarin ketika saya bermaksud menuliskan kejadian-kejadian dalam tulisan, menunda-nundanya membuat saya banyak lupa. Saya tidak ingat lagi hendak menuliskan apa. Sebelum lupa, tuliskan! 

Sedikit memaksakan diri untuk segala proses liputan yang sementara berujung pada deadline. Yah, terkadang saya menemukan diri tidak bisa kemana-mana. Selain cuaca yang senantiasa mengubek-ubek mood, mobilisasi pun agak terbatas. Sebagai pimpinan yang baik, saya seyogyanya memberikan contoh yang baik pula. Oleh karena itu, sejelek apapun kondisi pikiran yang sementara berputar di kepala, saya memaksakan diri untuk berjalan lebih jauh dan bertemu lebih banyak orang mapun narasumber. Terbukti, banyak hal yang segera menular di tengah perjalanan saya memaksakan diri.

Cerita-cerita sesama pewarta. Senyum dan tawa yang menular secepat kilatan cahaya. Percayalah, senyum itu bisa menular lebih cepat ketimbang penyakit menular manapun. Hingga semangat yang mencuat setelah melihat teman-teman lain yang berkejaran dengan liputannya masing-masing. Yeah, saya belajar untuk tidak dipengaruhi oleh mood, melainkan kita sendiri yang menciptakan mood yang diperlukan. 

Menjelang petang, sambil berkeliling dan mengecek keadaan di seputar gedung kebanggaan kampus, saya memutuskan untuk menunaikan shalat Ashar yang hanya menyisakan tidak lebih dari satu jam lagi. Saya baru saja dari menyambangi gedung rektorat yang telah lama ditinggalkan para penghuninya, rektor dan jajarannya. Bersantai dan berbincang sebentar dengan salah satu staf kampus yang lama tidak saya jumpai.

“Semester berapa?” tanya seseorang sembari menyalami saya. Ia memang lebih dulu shalat di mushalla kecil di lantai 2 Pinisi dan saya belakangan mengikutinya sebagai makmum. Waduh! Ternyata ada yang bertanya “semester” pada saya.

“Mm…semester 8,” ujar saya asal sembari mengembangkan senyum. Gubrak!! Yah, beruntung wajah saya masih mendukung dianggap sebagai mahasiswa muda. Hahaha…dampak kebanyakan ngumpul dan kuliah dengan mahasiswa-mahasiswa lebih muda. :P

“Jurusan apa?”

“Tinggal dimana? Ngekos atau tinggal bersama orang tua?”

“Asal darimana?”

Saya menjawab semua pertanyaan itu seadanya tanpa balik bertanya seperti biasanya (saya). Saya agak malas menimpali percakapan itu. Pasalnya, saya agak khawatir gejala perbincangan tersebut bakal menjebak saya dalam penawaran Multi Level Marketing (MLM). Hahaha….

Selebihnya, karena saya tidak banyak bicara, mahasiswa yang mengaku angkatan 2012 itu berlalu dan berpisah dengan saya. Hm…padahal saya justru menyangka dia adalah salah satu pegawai atau staf di kampus saya. Ckckck….

Atas dasar apapun, semangat tidak bisa muncul menyesuaikan dengan kondisi. Sejatinya, kita memang harus sedikit memaksakannya. Seperti halnya ketika kita kecil dipaksa untuk shalat lima waktu. Meski ogah-ogahan, lambat laun kita akan belajar untuk terbiasa dan membiasakan. Beranjak dewasa, sebagian dari kita mulai menjalankan kewajiban muslim itu dengan sukarela. Bahkan mulai menyerukannya pula pada orang lain.

Bahkan untuk urusan menulis pun kita harus memaksakan diri agar bisa…

Surely! Saya juga memaksakan untuk menjalankan proses akhir dari studi saya. Sebentar lagi, jika saya mampu belajar dan terus menyesuaikan diri, maka saya akan segera menapaki dunia luar, yang tentunya lebih menjanjikan banyak pengalaman “liar” lainnya.

Bagi siapa saja yang sedang tak bersemangat hari ini, ayo, ayo, ayo memaksakan diri!!



--Imam Rahmanto--  

You Might Also Like

2 comments