Remeh-temeh Mimpi

Januari 17, 2013

Baca Juga


Ketika bermimpi, bukankah itu memang lazimnya sebuah fenomena di sela-sela kita sementara ternyenyak. Nyaris tak ada seorang pun di dunia ini yang tak pernah bermimpi ketika tertidur.Akan tetapi, untuk saat ini saya tidak hendak bercerita mengenai mimpi yang satu itu, melainkan tentang "mimpi" lainnya yang benar-benar bisa (saya realisasikan) menjadi kenyataan.

"Tahu tidak, dia ini hobinya apa?" Seorang teman meperkenalkan saya.

"Ia punya hobi bermimpi," lanjutnya lagi.

Entah darimana ia mendapatkan perihal "hobi" saya itu. Padahal hobi saya itu kan menulis, membaca, sepedaan, dan sebagainya.

Bagaimana ya? Hati saya ingin membantah, tapi kenyataannya saya memang punya (terlalu) banyak mimpi. Saya ingin membenarkan, akan tetapi ucapan seperti itu yang diselingi dengan kata "hobi" terkesan meremehkan hakikat mimpi itu sendiri. Terkesan agak meremehkan orang-orang yang selalu menggantungkan mimpi di depan keningnya (5 cm). Sejujurnya, saya benci hal itu...

Orang-orang yang diperkaya dengan mimpi memang akan menemui aral seperti itu. Apa yang diimpikannya dianggap remeh oleh orang lain. Bahkan ditertawakan banyak orang. Tak jarang, mungkin, salah satu diantara kita juga sering menertawakan teman-teman kita yang penuh pengharapan atas mimpi-mimpinya.

Saya sadar, memang terlalu banyak menggantungkan mimpi. Tapi, tahukah kalian, karena mimpi-mimpi itu maka saya lebih banyak membangun keberanian untuk mencoba. Apakah hal seperti itu dianggap tidak serius? Rasanya hakikat sebuah mimpi benar-benar diremehkan banyak orang.

Akh, apapun itu bentuk penghargaan orang lain pada mimpi-mimpi itu, kita cukup Percaya dengan mimpi itu.  Percayakan saja bahwa kelak kita benar-benar mampu mewujudkannya. Tuhan melihat kita, dan tahu apa yang kita lakukan. Just believe it!


--Imam Rahmanto--

You Might Also Like

0 comments