DC_03

Januari 05, 2013

Baca Juga


Akh, bukannya aku ingin melupakannya. Karena toh pada kenyataannya, setelah nyaris setahun ini aku bergelut di dunia "itu", aku tidak mungkin bisa melupakan hari yang selalu dianggap penting oleh anggota-anggotanya.

"Ingat, hari Sabtu adalah hari untuk kita," selalu terngiang-ngiang dalam benakku untuk "menghormati" hari itu.

Praktisnya, aku harus berbagi waktu akhir pekanku dengan seabrek aktivitas yang menantiku disana. Terlebih dengan jabatan baru, usai melepas masa pelatihanku nyaris delapan bulan. Katanya, jabatan itu bakal menjadi pengganggu hari-hariku. "Huh, dengan menjalani keseharian sebagai pewarta kampus saja sudah nyaris membuatku sibuk," ujarku selalu dalam hati kala menanggapi imbauan senior-senior disana.

Setelah menjalaninya, ternyata benar-benar telah mengubah pola hidupku. Makan, kuliah, mencuci pakaian, mencuci sepeda motor (memang permah ya??), nongkrong dengan teman-teman kuliah atau teman-teman SMA, bahkan hubungan dengan keluarga pun harus sedikit dikompromikan. Jika orang bertanya sperti apa? Sigh, banyak hal yang harus diceritakan... Maka biarkan aku berkisah.

"Oh ya, hari ini tidak rapat seperti biasanya ya?" tanya Salam seketika. Ia meletakkan gelasnya yang tersisa setengahnya.

"Menurutmu?" Aku balik bertanya memandanginya seraya memperlihatkan handphone yang baru saja menyela acara pagiku.

"Setidaknya aku mau menyempatkan waktu untuk bersantai dulu disini, sebelum kepala dijejali dengan yang berat-berat," usulku yang kemudian melepas pandangan ke depan. Seorang anak kecil berlari keluar rumah dikejar ibunya. Sang ibu hendak memakaikan celana buatnya. Kami berdua hanya tertawa kecil menyaksikannya.

"Ah, dari dulu kamu memang suka dijejali dengan pikiran yang berat-berat. Aku cuma heran, bagaimana bisa kepalamu ndak botak-botak sampai sekarang?" timpalnya lagi sambil tertawa.

Aku hanya nyengir. Tidak dipungkiri, ia telah lama mengenalku. Sejak kami belum menginjakkan kaki di kota Makassar ini.

Jika aku mengingat-ingat masa SMA-ku dulu, ada sesuatu yang selalu ingin menarikku kembali kesana. Berharap pada mesin waktu yang tak kunjung diciptakan oleh profesor-profesor tingkat tinggi. Mungkin, profesor ahli mesin waktu memang benar-benar hanya ada di film-film. Saran: film hanya untuk hiburan. Waktu yang diputar bakal menjadi kesempatanku untuk berputar menjadi orang yang berbeda. Setidaknya, bisa sekadar berucap hal-hal "tabu" itu...

Aku hanya berharap, di kesempatan yang satu ini aku bisa melukis sesuatu yang berbeda. Entah itu baik atau buruk.

Pagi masih enggan menjauh dari kami. Matahari sendiri nampaknya malu-malu ingin menganggu kami. Sesekali, semilir angin lembut semakin mutlak menghembuskan hawa pagi. Dingin. Cukup dingin. Bekas-bekas hujan kemarin masih menyisakannya. Hanya saja takkan mampu menandingi dinginnya udara pagi di kampung kediaman kedua orang tuaku sekarang. Tapi cukup dingin untuk memaksa kami enggan beranjak menikmati sisa-sisa kehangatannya.

"Trus, berapa lama kamu akan menyimpannya rapat-rapat?"

***

bersambung...


--Imam Rahmanto--


You Might Also Like

0 comments