Menulis itu Butuh Proses

November 06, 2012

Baca Juga

“Menjadi seorang penulis adalah sebuah proses, bukan seketika bisa 
diwujudkan dengan simsalabim.”
 --Nur Alim Djalil, penulis dan jurnalis--

Putra Gara menyampaikan motivasi-motivasinya. (Foto: Nurjannah)
Ya, benar sekali. Menulis adalah sebuah proses. Nur Alim Djalil, seorang penulis dan jurnalis yang menjadi pembicara dalam workshop kepenulisan kemarin begitu jelas menggambarkannya. Dimulai dari bagaimana ia ketika muda dulu begitu membenci menulis, namun kemudian proses itu sendiri yang kemudian membawanya untuk mencintai dunia tulis-menulis. Meskipun motivasi awalnya menulis bukanlah murni karena ia senang menulis. Ssst…menulis pun ternyata bisa digunakan untuk menarik perhatian seorang wanita.

Untuk bisa menjadi seorang penulis, tidak bisa didasarkan hanya pada bakat semata. Pada dasarnya, menulis itu adalah keinginan hati. Keinginan untuk berbagi. Bahkan, menurut Putra Gara, yang juga seorang novelis, menulis itu sudah menjadi sebuah kebutuhan baginya.

Saya juga sempat (terharu) mendengar ceritanya melalui workshop kemarin (4/11) tentang bagaimana perjalanannya bisa menjadi seperti seorang penulis “sejati” seperti sekarang ini. Kami atau kalian tentu tidak akan menyangka, seorang anak jalanan yang tiap harinya harus menyetor uang ke preman-preman jalanan bisa menjadi seorang penulis yang kini bisa berpenghasilan jutaan. Malah sekarang untuk membuat satu buah novel yang berates-ratus halaman saja, bang Putra Gara bisa menyelesaikannya hanya dalam waktu seminggu. Ckckck…salut buat bang Putra Gara! outstanding applause.

Ada kalanya memang kita dituntut untuk bisa bersabar menjalani proses itu. Seraya menjalaninya, sedikit demi sedikit kita belajar di dalamnya. Entah proses itu lama atau sebentar, hasilnya selalu menjadi akibat dari proses yang kita jalani itu. Selama kita menjalankan proses itu dengan baik, memberikan makan, tentu saja hasilnya akan baik.

“Kata-kata “nanti”, “tunggu”, “besok”, “lusa”, sebenarnya adalah sebuah 
perencanaan kita untuk gagal.”
--S. Gegge Mappangewa--

Sebenarnya, apapun itu, memang butuh proses untuk bisa mencapainya. Orang-orang yang ingin bisa mendapatkan apa yang diinginkannya tanpa usaha sedikitpun alias simsalabim tidak akan pernah merasakan “buah manis” dari keberhasilan itu sendiri. Believe it!


--Imam Rahmanto--

*Ps: baru sempat menulis lagi setelah beberapa hari di"rutin"kan dengan permak website lembaga.

You Might Also Like

2 comments

  1. masya Allah,
    benar sekali bukan sekedar bakat tapi proses itu sendiri. Like it

    BalasHapus
  2. @Annur eL Karimah: Maka itu perlu bersabar. Hehe...
    Terima kasih sudah bekunjung. ^_^

    BalasHapus