Impian Tak Sejalan, Go Ahead!

November 12, 2012

Baca Juga


Saya senang ketika berbicara tentang impian. Karena itu menandakan saya masih hidup, saya masih bernapas, dan saya adalah manusia. Dari impian itu, saya memiliki semangat untuk terus berusaha, melangkah.

Lebaran yang lalu, saya pulang ke rumah orang tua saya di kampung. Sebenci apapun saya dengan hidup saya, tidak semestinya menjauhi keluarga saya. Se"rutin" apapun tugas maupun pekerjaan saya disini, berkumpul bersama keluarga masih merupakan momen-momen yang patut dirasakan. Yeah, adakalanya perasaan kalut bisa terobati cukup dengan menginjakkan kaki di rumah atau sekadar mencicipi masakan olahan ibu.

Suatu waktu, di pagi yang masih dingin-dinginnya, sambil menyeruput kopinya, ayah saya lantas bertanya,

"Bagaimana dengan pekerjaanmu sebagai guru privat?"

Ayah saya tidak tahu, saya telah beberapa bulan lamanya tidak lagi menggeluti pekerjaan itu. Saya agak direpotkan dengan minat dan pekerjaan saya di bidang jurnalistik kampus. Apalagi, keinginan saya yang begitu besar di bidang kepenulisan itu sendiri nantinya.

"Ehm...saya sudah tidak mengajar lagi," jawab saya singkat, agak ragu. Saya menyangka ayah saya bakal kecewa atau bahkan marah mendengar jawaban saya.

Dulu, ia begitu bangga ketika saya bisa mengatasi masalah keuangan saya sendiri dengan pekerjaan itu. Apalagi pekerjaan itu searah dengan jurusan kuliah saya di kampus. Ia selalu mewanti-wanti untuk tetap "baik-baik" dalam pekerjaan itu. Akan tetapi, tiba-tiba saja saya berhenti dan berbalik arah darinya.

Saya lantas menjelaskan semua padanya. Tentang dimana saya kini, seperti apa saya sekarang, bidang apa yang saya geluti sekarang, bagaimana proses yang saya jalani, dan segalanya... Saya tidak ingin impian yang saya miliki harus berhenti karena menuruti kemauan orang tua saya (yang bukan impian saya).

"Ooh...ya...tidak apa-apalah," Saya benar-benar tertegun mendengar jawaban ayah saya.

"Yang terpenting, apa yang kamu jalani sekarang, kamu betul-betul yakin bisa menjalaninya. Selama itu baik dan jelas menurutmu, kita sebagai orang tua ya hanya bisa memberikan kesempatan buatmu. Bukan lagi zamannya orang tua untuk melarang-larang anaknya menjadi sesuatu yang dikehendaki anaknya. Kita ya hanya berharap itu memang yang terbaik," ujar ayah saya ringan. "Selain itu, yang penting, jaga juga kuliahmu ya," lanjutnya mewanti-wanti saya.

Ada perasaan lega ketika mendengar ayah membiarkan saya menjadi diri saya sendiri. Meraih apa yang memang saya kehendaki. Tidak mengikat saya dalam peraturan yang dibuatnya sendiri. Mungkin, ia tahu kalau anaknya sudah dewasa. Bukan lagi anak kecil yang mesti diarahkan kesana kemari. Kedewasaan itu yang mengajarkan kita untuk berani mengambil langkah dan berani menanggung resiko dari langkah itu.

Terkadang, impian yang dimiliki memang tak sejalan dengan keinginan orang tua. Macam kisah Siti Nurbaya, yang dipaksa menikah dengan pilihan orang tuanya. Padahal ia memiliki pilihan sendiri. Kita punya impian, namun mungkin saja orang tua tidak tahu atau tidak mengerti akan hal itu. Ketika kita jarang mengomunikasikannya, maka orang tua cenderung memilihkan kita untuk "jadi apa" kita nantinya. Ada pula orang tua yang menganggap pilihannya itu terbaik dibanding apa yang dikehendaki anaknya. Ayolah, ini bukan zaman Siti Nurbaya lagi.

Lihatlah, jalan menuju impian itu terbentang begitu luasnya.
(Gambar: Google Search)


Memperjuangkan impian kita, posisinya di mata orang tua, memang adalah hal yang sangat sulit. Namun, melakukannya adalah satu langkah awal kita untuk melaju. Kita tidak akan berlari sebelum memulai satu langkah, bukan? Untuk meyakinkan orang tua tentang keinginan kita, seyogyanya kita mampu memperlihatkan "kelebihan-kelebihan" yang dimiliki oleh pilihan kita. Atau malah, lebih baik lagi, kita bisa memperlihatkan "prestasi-prestasi" yang diperoleh melalui keinginan itu. Meyakinkan orang tua bahwa jalan yang kita pilih memang benar adalah yang terbaik untuk diri sendiri. Dan yakinlah, buah manis dari keterbukaan orang tua ketika memahami apa yang kita inginkan itu benar-benar menyemangati. Restu orang tua selalu menjadi pokoknya.

"Oh ya, memangnya jurusan Matematika bisa masuk jadi wartawan ya?" Saya tersenyum dalam hati, lantas menjawab,

"Bisa kok, Pa',"

Yah, terkadang "kita harus berputar menjadi diri orang lain dulu sebelum menjadi diri sendiri".
(Perahu Kertas).


--Imam Rahmanto--

You Might Also Like

0 comments