On the Airship

April 29, 2012

Baca Juga



Menunggu.

Semua orang setuju jika "menunggu" adalah pekerjaan yang sangat membosankan. "Menunggu" jenis apapun itu, termasuk persoalan cinta.

Dan kini, saya sedang menunggu. Saya tidak sendiri. Bersama dua orang teman saya, Asri dan Anti, kami akan melakukan perjalanan ke Jakarta. Ya, Jakarta....



Hampir sebulan yang lalu, saya juga telah mengalami hal serupa. Namun dengan tujuan yang berbeda. Untuk kali ini, kami mendapatkan kesempatan untuk mengikuti Journalist Days di Universitas Indonesia (UI), Jakarta. Istimewanya, kami sebagai satu tim didaulat sebagai finalis kompetisi esainya. Dan kali ini, saya berangkat atas nama LPPM Profesi, lembaga jurnalistik kampus yang selama ini telah menggembleng saya.

Bermodalkan tiket pesawat (bolak-balik) dari universitas, kami bertiga berangkat menjemput asa masing-masing.

Jika waktu tempuh perjalanan sama dengan sebelumnya, maka kami akan tiba di Jakarta pukul 15.40 WIB. Beruntung, pihak panitia kegiatan berbaik hati untuk menjemput kami. Apalagi kita kan masih awam mengenai Jakarta.

Sensasi menikmati pemandangan dari atas pesawat sungguh menakjubkan. Pesawat yang mengawali lepas landasnya dengan pemanasan mengambil ancang-ancang. Bersiap untuk terbang, gemuruh turbin di kiri-kanan pesawat pun menderu. Menandakan pesawat siap menukik ke atas awan.

Meskipun saya tak mendapatkan kursi di sisi jendela dan justru tepat di sayap pesawat, saya masih bisa menyaksikan sensasi mengecilnya sawah-sawah beserta bangunan-bangunan di sekitarnya. Yang tampak ketika pesawat semakin tinggi hanyalah miniatur-miniatur kehidupan kota. Semakin tinggi. Makin kecil. Tak tampak. Hingga pandangan terbebas oleh awan-awan putih. Biru dan putih. Putih dan biru.

Awan di bawah pesawat tampak hanya seperti gumpalan-gumpalan kapas. Tak bergerak. Serasa pesawat lah bergerak lambat sekali. Tak secepat jika kita memandangnya dari bawah.

Ketika masih kecil, saya selalu menganggap awan itu terbentuk dari kepulan-kepulan asap di bumi. Beranjak remaja, saya pahami asap berasal dari uap-uap air. Namun tak beranjak dari tempat duduk saya kini, saya berandai-andai bisa menyentuh awan itu. Serasa menyentuh asap kah? Atau tangan saya akan basah oleh air? Entahlah..

Jika awan-awan tak lagi menggumpal, kan berganti birunya laut dan langit. Di atas dan di bawah. Terselip melayang diantara keduanya hanya segenggam awan, residu gumpalan sebelumnya. Langit cerah. Begitu juga harapan kami, secerah pertama kalinya kami menginjakkan kaki di kota seribu macet. Menunggu,.. asa itu kan menghampiri kami..



--Imam Rahmanto--

Jakarta, untuk yang kedua kalinya....



ImamR

You Might Also Like

0 comments