Rekam Wawancara

April 30, 2012

Baca Juga


Menulis berita bagi sebagian orang tidaklah sulit. Cukup bermodalkan 5W + 1H, jadilah sebuah berita, asalkan diceritakan secara tepat dan berdasar pada fakta.

Akan tetapi, mempertahankan sebuah berita itu yang lebih sulit. Terlebih jika berita yang dituliskan adalah kontrol. Mau tidak mau kita sebagai penulis berita menyiapkan "tameng" untuk bertahan. Apalagi jika beritanya sudah begitu dalam menginfeksi sang objek berita.

Salah satu "tameng" yang bisa disiapkan adalah sebuah REKAMAN wawancara. Di zaman yang serba digital ini tentu tidaklah sulit untuk merekam sebuah wawancara. Apalagi kini tiap orang sudah dibekali dengan handphone, yang seharusnya bisa untuk recording.

Ketika melakukan proses wawancara, tidak lantas saya hanya sekadar merekam saja. Jika memungkinkan, saya akan merekam sekaligus menulis poin-poin penting wawancara itu. Saya harus merekamnya, namun di sisi lain saya juga tidak ingin lepas dari menuliskannya. Menulis berita melalui sebuah notes jauh lebih cepat ketimbang harus mendengarkan ulang isi wawancara melalui rekaman.

Saya pikir, dengan adanya rekaman maka kita bisa mempertahankan kebenaran berita yang dituliskan. Segala hal yang disebutkan narasumber tidak akan terbantahkan. Jikalaupun harus berurusan hingga pihak kepolisian, rekaman bisa jadi sebuah barang bukti.

Oleh karena itu, sebelum melakukan proses penggalian informasi, ada baiknya untuk mempersiapkan diri terlebih dahulu. Menulis berita pun ternyata tak hanya sebatas 5W + 1H, namun juga harus dipikirkan keamanan beritanya, Secure. Sehingga 5W + 1H + S (Secure) = berita yang baik.*

*berdasarkan ilmu yang didapatkan dari orang lain.

--Imam Rahmanto--



ImamR

You Might Also Like

0 comments