facebook twitter instagram spotify youtube
  • Home
  • Perjalanan
  • Jendela
  • Habis Baca
  • Saya

Cappuccino

Saya meninggalkan tempat ini sudah begitu lama. Tak kembali-kembali, seperti yang sudah-sudah. Padahal, ada banyak hal yang ingin saya bawa pulang ke "rumah" ini. Tentang kehilangan, tentang pertemuan.

Saya dipeluk rasa kehilangan, dua bulan lalu. Kehilangan yang begitu besar bagi saya. Di antara semua kehilangan yang pernah saya rasakan, mungkin kehilangan ini yang paling menyayat dan selalu berhasil membuat mata saya sembap hingga berlinang air mata.

"Mam, tidak ada mi Bunda..." sebuah kata-kata di ujung telepon yang membuat mulut saya kelu. 

Saya tahu betul siapa yang dimaksudnya dari ujung telepon kala itu. Teleponnya terpaksa saya terima karena ia tak ingin berhenti membunyikan handphone saya. Padahal, saya sudah membalas telepon itu dengan sebaris chat pertanyaan "ada apa". 

Namun, dering itu tak berhenti. Membuat kepala saya berusaha menebak-nebak jawaban dari pertanyaan itu. Salah satu jawaban yang saya pilin di kepala ternyata menjadi kenyataan.

"Na tinggalkan mi ki, Bunda..." suaranya sekali lagi menggema dari ujung telepon. Sesenggukan.

Seketika, memori saya tentang Bunda berputar begitu cepat. Berganti-ganti sekelebat waktu. Kenangan-kenangan bersamanya sebelum saya berpindah ke Bogor. Janji-janji terakhir saya lewat video call.

Apakah dunia seakan runtuh? Ya, memang tidak seperti di film-film. Tak ada air mata setelah mendengarkan kabar sahabat saya dari ujung telepojn itu. Hanya lidah yang kelu. Sedikit berusaha mencerna apa yang terjadi. Suara-suara di ruang rapat kantor mengendap.

Rasa yang tertahan itu tampaknya baru membuncah belakangan ini. Air mata saya tiba-tiba mengalir jika bercerita sedikit hal tentang Bunda. Mata saya sembap hanya karena mengingat sesuatu tentangnya. Tak peduli saya lelaki, saya bahkan bisa sesenggukan jika harus memaksakan lidah menceritakan segalanya.

Barangkali, kehilangan Bunda itu yang paling tertancap di relung hati saya. Meski bukan anak kandungnya, saya sudah menganggapnya sebagai ibu sendiri. Orang tua yang lebih orang tua bagi saya. 

Untuk itu, janji mempertemukannya dengan istri saya kelak harus tetap dipenuhi. Apalagi percakapan terakhir kami di kolom WhatsApp adalah screenshot video call kami bertiga; saya, Bunda, dan kekasih. Dia yang mengirimkannya langsung tanpa saya tahu. Ia begitu semringah ketika bertemu (virtual) dengan orang yang akan menjadi istri saya kelak. 

A memory


Karena kepergian Bunda, saya pun membulatkan tekad untuk memulai fase kehidupan baru ini. Tak peduli dengan segala kekurangan menjelang hari sakral pernikahan kami. Banyak pelajaran hidup, wejangan, percakapan yang semakin memantapkan tekad saya untuk mengawali fase baru itu. 

Saya ingin cepat-cepat menjumpai pusara Bunda. Meski tidak bisa saling tatap lagi, tertawa receh di dapur, saya tetap ingin menuntaskan rindu. Menceritakan segala waktu yang terlewat 4 tahun belakangan ini. Sekaligus, memperkenalkan teman hidup itu kepada Bunda. 

Tahu tidak, Bunda. Apa yang engkau lihat dari layar smartphone dulu, secantik itulah perempuan yang akan menjadi pendamping hidup saya.

--Imam Rahmanto--
Hai...

Apa kabar? 

Sebuah tanya usang yang akan selalu terpakai di semua dimensi. Entah itu untuk diri sendiri atau rumah tempat tinggal ini. 

Yah, rumah yang dulu pernah begitu subur dan hijau. Rumah yang membesarkan segala tekad dan semangat. Rumah yang membelajarkan siapa diri saya sesungguhnya. Rumah yang menguatkan segala perasaan.

Hai, saya kembali. Mungkin, kembali untuk ke sekian kalinya. 

Ini juga sebuah niat yang usang. Dalam tiga tahun terakhir, saya selalu mengungkapkan hal yang sama. 

"Saya kembali dan akan memelihara rumah ini."

Tapi kenyataan yang terjadi justru lebih banyak menampar ingatan-ingatan saya. Kepala saya terlalu riuh untuk pulang ke tempat ini. Jemari saya, mungkin, terlampau malas. Apalagi dengan alasan-alasan yang begitu menjemukan di dunia nyata.

Lihat saja, betapa rumah ini kembali kepada alamat yang sebenarnya, bukan? Hanya untuk memperbaharui alamatnya seperti semula, tak ada waktu yang tersisa. Alhasil, alamat yang lama akan hilang untuk sementara waktu. Berganti dengan alamat lainnya.

Saya harus menerima kenyataan itu. Berdamai.

Saya tak habis pikir. Bisa konsisten menulis untuk pekerjaan saya. Ribuan kata mengalir setiap hari menjadi beberapa berita. Bahkan, bisa saja melewati batas kesanggupan pekerjaan yang ada.

Sementara, saya akhirnya menyadari, tidak ada ruang menulis lagi untuk diri sendiri. Berceritalah seperti diri yang dulu. Yah, persetan dengan kesibukan.

"Saya menulis berita sebagai pekerjaan dan mengisi perut. Sedangkan, menulis cerita sebagai ke(se)nangan untuk mengisi kepala dan hati," begitu kata saya, dulu.

Pada akhirnya, saya rindu berada di rumah ini. Sekadar menuangkan segala kekesalan, kegelisahan, kebingungan, atau harapan akan masa depan.

Oiya, mungkin ke rumah ini pula saya akan banyak bercerita tentang seorang perempuan yang sekaligus menjadi tempat pulang saya di masa depan. 

Hai, saya kembali.

Dan tak ada yang lebih melegakan dari menuangkan sedikit hal itu. []


Dunia Fantasi Ancol, pada kali kedua. (Foto: Imam Rahmanto)

---Imam Rahmanto--

Kaki saya begitu berat. Permukaan es di bawahnya membuat semakin sulit melangkah. Bukan cuma licin. Saya waswas terjatuh dan gedebuk jika melangkah dengan sembrono. Bukan soal sakit seluruh badannya. Cuman malunya bisa sampai ke sumsum tulang jika terjatuh di antara orang-orang yang juga mondar-mandir di dalam arena es itu.

Saya memaksakan sepatu untuk bergesekan dengan permukaan es. Pelan-pelan saja di pinggir lapangan. Ada pagar yang bisa menjadi pegangan sementara. Sesekali, saya melepas pegangan itu sambil menjajal kaki yang mulai terbiasa.

Saya bisa melangkah dengan normal. Namun, jangan minta berlari, (apalagi dari kenyataan). Serius, saya tak bisa.

Saya terkadang hanya bisa nyengir melihat anak-anak kecil yang meluncur di antara permukaan es itu. Kaki-kaki mungil mereka begitu lincah. Berkelok-kelok menyusup di antara orang dewasa, yang sebagian seperti saya; menyusuri pinggir lapangan. 

"Yaang, masa kalah sama mereka?" saya berbicara kepada gadis manis di depan saya.


Kekasih saya hanya bisa tersenyum malu-malu. Manis sekali. Ia masih kesulitan melepaskan pegangan pagarnya. Wajahnya degdegan. Ngeri juga membayangkannya jatuh di atas permukaan yang padat itu. Cukup jatuh ke pelukanku saja~ 

Sepanjang waktu permainan, saya ikut membantunya dengan mengulurkan tangan sebagai pegangan. Yah, sekalian juga biar romantis sih. Sedikit-sedikit, ia bisa mengimbangi dengan berjalan kaki. Sisanya, masih harus lebih mantap lagi. Setidaknya, sudah bisa berdiri di atas es, agak ke tengah, biar punya kesempatan juga berfoto untuk feed di  Social Media. Hahaha...

Bagi kekasih saya, bermain di dalam arena es adalah hal yang baru. Benar-benar baru. Oleh karena itu, ia langsung mengiyakan ketika saya ajak ke salah satu event Cibinong City Mall (CCM). Tak peduli jaraknya butuh waktu 30  menit dari tempat tinggal kami.

Sebenarnya, bermain di lapangan es pun bukan pertama kalinya bagi saya. Belasan tahun lalu, saya pernah menikmatinya bersama teman-teman kuliah di salah satu mal di Makassar. Namun, pelajaran berselancar di atas es itu berakhir hanya sampai ke tingkat "melangkah". Saya belum sampai ke level advanced yang bisa berlarian kesana kemari.

Pengalaman itu pula yang membuat saya ingin kembali menjajal iced skating. Apakah keterampilan "berjalan" saya masih kekal? Atau justru kaki saya sudah lupa bagaimana cara melangkah dengan benar di atasnya? 

Ketika tahu Cibinong City Mall menyediakan arena ice skating itu, saya langsung menyambarnya. Tidak lupa mengajak kekasih tersayang. Itung-itung sekalian ngedate.  



***

Arena ice skating itu menjadi salah satu ingatan paling lekat di kepala saya mengenai Cibinong City Mall. Dua tahun tinggal di Bogor, saya baru menjumpai hiburan ice skating itu di Cibinong City Mall. Banyak mal lainnya di Kota Bogor dan Kabupaten Bogor, namun tak satupun yang menyediakan permainan menarik tersebut dan berhasil mengangkat kembali ingatan masa-masa kuliah saya dahulu. *Ini serasa saya sudah agak tua ya?

Cibinong City Mall sendiri sebenarnya bukan mal dengan jangkauan paling dekat dengan tempat tinggal saya saat ini di Kota Bogor. Banyak akses mal lainnya. Namun, Cibinong City mall menjadi mal yang pertama kali berkenalan dengan saya. Mungkin, didukung faktor pekerjaan saya yang sempat harus rutin berkomunikasi dengan bagian Public Relation (PR)-nya, hampir saban pekan.


Akan tetapi, seperti hidup kita, bukankah segala yang pertama selalu punya tempat istimewa di kepala? Entah itu soal sekolah tempat tinggal, teman, pekerjaan, gaji, hingga apa saja yang menjadi paling pertama datang dalam hidup kita. 

Cibinong City Mall adalah yang pertama bagi saya.

Saya tak perlu memuji-muji isi mal yang sering disapa warga dengan label CCM ini. Sebagai tempat berbelanja, sudah sangat lengkap. Sarana penunjang juga sudah memadai. Pun, lokasinya sangat strategis karena berada di antara warga kabupaten dan kota. *Humasnya pun gercep. Uhuk!!

Toh, saat ini Cibinong City Mall juga sedang bersolek. Bisa dilihat di sebelah mal, sedang dikebut salah satu proyek ekspansinya. Ini bikin CCM bakal sangat sulit disaingi dari sisi mana pun. 

Pembangunan itu akan "beranak" menjadi Cibinong City Mall 2 dan Harris Hotel. Secara otomatis, tentu menjadikan Cibinong City Mall sebagai lifestyle mall pertama yang terintegrasi dengan hotel di Kabupaten Bogor.

Ketika rampung, CCM 2 sudah menyiapkan 70 unit toko yang akan menaungi brand-brand high-end. Jumlah itu mendongkrak total pertokoan Cibinong City Mall menjadi 300 unit. 

Kalau sudah begini, Cibinong City Mall tak terbendung lagi. Bisa semakin eksis sebagai mall terbesar di Bogor Raya.


Satu hal yang paling saya sukai dari mall ibu kota Kabupaten Bogor ini adalah terobosan dan kreativitasnya. Saya ingat, pertama kalinya pandemi Covid-19 melanda tanah air dan memaksa semua mal harus tutup untuk sementara. Semua tenant di dalam mal pun harus gigit jari karena potensi kehilangan pendapatan sangat besar.

Untuk membantu para tenant itu, ternyata manajemen Cibinong City Mall mulai mengakselerasi pemasaran melalui media sosial (medsos). Tidak sekadar promosi, mereka menggilir tenant  untuk "aksi" promosi secara live melalui Instagram. Tak peduli berapa biji orang yang menonton siaran langsung dari mal itu. 

Namun, konsistensi itu terus dijalankan dan bertahan sampai kini. Bahkan, beberapa mal yang saya kenal juga mulai mengadaptasi konsep semacam itu untuk memperkenalkan tenant-tenant mereka.


Event-event unik dengan tema tertentu juga rutin diselengarakan di Cibinong City Mall. Salah satunya, permainan ice skating tadi yang diramu dalam event City of Ice, akhir tahun lalu. Tak disangka, saya akhirnya bisa menyelami pelajaran tertinggal dari masa lalu.

Meski hanya sehari, kami begitu menikmatinya. Bisa dilihat dari raut wajah kekasih saya yang selalu berseri-seri setelahnya. Bahkan, adiknya yang masih SD sampai merengut kesal saat melihat foto sang kakak dengan perlengkapan ice skating itu. *Padahal, foto itu juga diambil dalam keadaan menahan keseimbangan maksimal pake banget.

"Ahhhh....kenapa Ena gak diajaaaak??" teriak perempuan kecil itu. Wajahnya yang manyun hendak menangis.


***

Di luar sedang turun hujan.

Kata orang, hujan selalu bersisian dengan kenangan. Setiap tetesnya yang turun ke bumi, menjadi suplemen ingatan bagi siapa saja. Genangan adalah kumpulan kenangan yang tak bertuan. Aroma petrichor adalah bagian kenangan yang hancur-lebur.

Sungguh kebetulan, hujan tiba terlalu sering di kota ini. Orang-orang harus selalu merapatkan tubuh dan jaketnya. Mendung pekat begitu kurang ajar meniupkan hawa dinginnya tanpa permisi. Sekali hujan, tempias berlarian tanpa arah. 

Namun, hujan-hujan itu ternyata membuat kenangan saya kembali menggantung. 

Saya belajar banyak hal dari kota ini. Layaknya bermain ice skating, saya harus terseok-seok, perlahan, sambil berpegangan di sisian arena. Kalau tak beruntung, bisa saja terjerembab di atas permukaan es yang solid. 

Akan tetapi, semua pengalaman itu sepadan dengan hasil yang diperoleh. Bisa berjalan di atasnya saja sudah membuat bangga. Apalagi, jika sudah bisa meluncur dan menari-nari.

Dua tahun lalu, Kota Bogor adalah pengalaman pertama bagi saya. Semuanya menjadi yang pertama dalam kepala saya. Namun, sepertinya saya akan menancapkan lebih banyak keping ingatan lagi dari sini. Ingatan untuk diri sendiri, bersama kekasih, atau bahkan untuk anak-anak saya kelak. []




--Imam Rahmanto--


*Photos Copyright by Imam Rahmanto
 
Newer Posts
Older Posts

Subscribe Us

About


Imam Rahmanto

Selamat berkunjung di rumah sederhana saya. Tempat saya bisa pulang dengan cara paling menenangkan.



@cappuccino_time
Created By SoraTemplates | Distributed by GooyaabiTemplates