facebook twitter instagram spotify youtube
  • Home
  • Perjalanan
  • Jendela
  • Habis Baca
  • Saya

Cappuccino

Pagi itu indah.
Aroma segar udaranya selalu menggetarkan pori-pori kulit.
Hawa udaranya selalu mengingatkan masa-masa di belakang.
Sunyi sepi suasananya memberikan kedamaian. Luruh.

Pagi itu Indah.
Dari sanalah kita bisa menemukan kedamaian.
Menghirup tiap partikel murni embun paginya.
Lihat pula, embun menetes pelan membasahi bumi.
Selalu, ada tetes-tetes kecil berjatuhan di atas permukaannya yang hijau.

Pagi itu indah,
Berapa kali kita bisa bangun pagi?
Berita kecil, Ketika kanak-kanak ibu yang selalu membangunkan.
Seraya menyuruh membasuh muka
Dinginnya  terkadang menggetarkan langsung ke ulu hati.

Pagi itu indah.
Awal mula kita menyusun rencana-rencana kecil untuk tujuan-tujuan yang besar.
Langkah awal menapaki hari berikutnya.
Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu.
Minggu, kan jauh lebih indah.

Bukankah sudah kukatakan pagi itu indah?
Maka mengapa juga engkau masih tidur di pagi begini?
Bangunlah…
Tunjukkan rahasiamu pada dunia.
Sedikit senyuman akan memicu roda waktu berputar.
Dan sampaikan, Selamat Pagi!







--Imam Rahmanto--

Entah aku harus bereaksi apa
Sedihkah yang mesti kutunjukkan padamu? Meratap histeris.
Atau bahagia mungkin yang 'kan kau sematkan di hatiku? Melonjak.
Karena kau akan meninggalkanku jauh, jauh sekali
Engkau tak akan kembali lagi, takkan pernah sedetik pun
Bukan karena tak mau, tapi memang karena tak mampu

Teriak…
Sedikit, ku terbawa arus
Zonaku benar-benar nyaman buatku
Tanpa sadar, aku melupakan sesuatu
Tidak,
Aku tak lupa
Hanya soal prioritas
Dan kutahu itu akan buruk

Terkejut?!
Tentu tidak, prediksiku sudah kupasang
Penyesalan?!
Tentu iya, sesal selalu datang kemudian,kan..

Aku benci diriku!
Menguatkan untuk beban berat
Cih! Kenyataannya, aku mesti tertatih
Bahkan tenggelam semakin dalam dan terpuruk,…

Teriak, kulepaskan bebanku.
Aku ingin lepas!
Bodoh!! Kau teramat bodoh!
Ingat jalanmu! Ingat mimpimu!
Duniamu belum berakhir!
Kenapa mesti terpuruk!!
Bangun kembali! Pancang kembali!
Kau selalu yang terbaik!!

Tuhan, selintas kudengar bisikanMu…
“Aku melecutmu untuk suatu alasan,”
“Dan biarkan dirimu temukan alasan itu,”
“Aku menanti ketika kau akan berterima kasih padaKu…..”

Makassar, 30 Januari 2012


Saya bingung ketika dihadapkan pada laptop (teman) di hadapan saya meski dalam pikiran selalu saja ada dorongan untuk “menulis” sesuatu. Padahal, ketika saya tidak sedang dalam posisi ready to write, banyak hal yang ingin saya tuliskan. Akan tetapi, ketika sudah tiba waktunya saya akan menulis, maka segala ide tersebut memudar satu-persatu. Mungkin inilah akibatnya meninggalkan kebiasaan mencatat ide-ide penting dalam kehidupan sehari-hari.

Terlepas dari itu, saya tetap berpegangan pada prinsip saya;

“Bukan inspirasi yang membawa kita untuk menulis, namun menulis itu sendirilah yang akan membawa kita pada banyak inspirasi,”

Yes! It’s right! Dan kini, dengan segelas cappucino saya berusaha untuk menjemput inspirasi itu.
Sudah lama saya telah cuti dari kegiatan menulis seperti ini. Tidak hanya itu, bahkan mencatat di waktu kuliah saja, sudah mulai menjadi hal yang langka bagi saya. Bukan merasa sebagai orang pandai, hanya saja menulis diktat mata kuliah membuat saya rada-rada tegang. hehehe..

Saya rindu dengan menulis. Saya merasa menjadi orang yang miskin ketika berhenti dari menulis. Mengapa? Karena saya pun memiliki impian untuk bisa menjadi seorang penulis. Karena orang yang paling miskin bukanlah mereka yang tidak memiliki kecukupan harta sama sekali. Akan tetapi, mereka yang tidak berani bermimpilah yang pantas disebut sebagai orang miskin. (terngiang-ngiang dari sebuah novel)

Entah kenapa, ketika saya mendapati sebuah ide, saya selalu berharap bisa menuliskannya. Akan tetapi, karena kendala waktu dan tempat yang tidak tepat (dan tentunya fasilitas yang tidak memadai), maka saya selalu mengurungkan niat itu. Ah, sebuah alasan yang tepat bagi mereka yang tidak ingin berkembang, sebenarnya.

Sekali lagi, bukan inspirasi yang membuat saya menulis. Maka dari itu, dengan menulis akan membangun gairah menulis saya. Mood saya muncul. Dan akhirnya beragam inspirasi mendadak nongol di kepala.

Oh, ya, beberapa pembaca mungkin heran dengan judul yang saya tuliskan itu. Apa hubungannya dengan tulisan di dalamnya? Haha.., judul itu hanya terlintas di kepala saya. Makanya saya segera menuliskannya demikian, sebagai pemancing buat pikiran saya. Lagipula, saya menulis memang sudah terbiasa di waktu tengah malam dan ditemani dengan segelas (atau dua gelas) Cappucino hangat. Sebagai teman begadang. Memang keluarga kopi susu itulah yang selalu menjadi andalan saya. Tidak bermaksud promosi.

Menulis itu memang bisa dimisalkan dengan menyeruput segelas cappucino. Nikmatnya terasa ketika minuman masih dalam keadaan hangat. Dan terasa lebih nikmat lagi jika tidak diminum sekaligus. Demikian halnya dengan menulis.

Ketika dalam kepala kita terlintas sebuah ide, maka sangat mubazir ketika kita tidak menuliskannya. Ide yang masih “hangat-hangat”nya akan lebih baik jika dituangkan dalam sebuah tulisan. Menulisnya pun tidak perlu terburu-buru (karena takut kehilangan ide). Cukup nikmati saja proses menulis itu. Enjoy it! Buat apa terburu-buru? Semakin kita menikmati menulis sebuah ide, akan semakin banyak ide yang nantinya akan bermunculan. Menulis akan menimbulkan banyak inspirasi.

Dan ketika kita terus menulis dan menikmatinya, terkadang kita lupa waktu. Malahan saya sudah terbiasa begadang hanya untuk menulis.  Seperti cappucino bagi saya. Saya pun sering memanfaatkan waktu malam hari untuk menulis. Meskipun mungkin saja tulisan yang saya hasilkan jauh dari sebuah tulisan yang berkualitas. Yang terpenting, saya belajar....

Segelas cappucino. Membawa saya pada sebuah ide, bahwa menulis itu senikmat meneguk cappucino itu sendiri. Delicious...

Segelas Cappucino
Coklat dan berasa nikmat.
Tegukannya begitu hangat.
Di malam yang pekat.
Seakan ku teringat,
Lekat-lekat dan dekat di kepalaku.
Sebuah ide yang begitu hangat.
Singkat dan begitu padat.
Namun sarat hikmah untuk belajar.
Mari menulis.
Layaknya cappucino.
Membuat mata tetap terjaga.
Membuat batin berbangga diri.
Demi level satu tingkat
Lebih pesat dari hari kemarin.
 
Makassar, 19 November 2011, pukul01.57 WITA

Kini, musim hujan..
Ataukah kini musim kemarau..
Daun yang jatuh, kembali ke atas tangkainya.
Daun yang kering , kembali menghijau

Kini musim hujan,
Ataukah kini musim kemarau,
Bunga kemarin bersemi, semakin mewangi
bunga kemarin mengatup, terlihat mekar kembali

Kini musim hujan,
Ataukah kini musim kemarau,
Kupu-kupu terbang, kupu-kupu hinggap
Oh, bukan pada bunganya

Bukan musim hujan,
Ataukah bukan musim kemarau,
Kini musim gugur,
Ternyata kini musim semi

Tak ada bunga yang bersemi,
Hanya bunga yang merekah
Merah merona, tak dihinggapi sang kupu-kupu
Berpaling, daun yang kembali ke tangkainya

Mengapa?

Karena daun pun bersemi kembali………


Bersyukurlah karena belum punya semua hal yang kau inginkan.
Jika sudah, apa lagi yang akan kau cari?


Bersyukurlah saat kau tidak tahu sesuatu
karena kau berkesempatan untuk belajar


Bersyukurlah atas saat-saat sulit.
Pada masa itulah kau bisa berkembang.


Bersyukurlah atas keterbatasanmu
Keterbatasan itu memberimu kesempatan untuk jadi lebih baik


Bersyukurlah untuk setiap tantangan baru
karena tantangan itu akan membuatmu lebih kuat dan berkarakter


Bersyukurlah atas kesalahan yang kau lakukan,
kesalahan memberimu pelajaran berharga.


Bersyukurlah saat kau merasa letih dan jemu
Berarti kau sudah menemukan hal yang berbeda


Bersyukurlah atas masalah yang kau hadapi
dan masalah itu bias jadi karuniamu.


Sumber: The 7 Laws of Happiness (Arvan Pradiansyah)

Older Posts

Subscribe Us

About


Imam Rahmanto

Selamat berkunjung di rumah sederhana saya. Tempat saya bisa pulang dengan cara paling menenangkan.



@cappuccino_time
Created By SoraTemplates | Distributed by GooyaabiTemplates