facebook twitter instagram spotify youtube
  • Home
  • Perjalanan
  • Jendela
  • Habis Baca
  • Saya

Cappuccino

Saya baru teringat, dalam perjalanan melewati masa sekolah, saya dulu berkeinginan menjadi seorang dokter. Setelah dipikir-pikir, bukan sebenar-benarnya cita-cita yang saya idam-idamkan sih. Meskipun di masa kecil dulu saya justru bercita-cita sebagai polisi. Melintasnya waktu, “kehebatan” polisi dalam benak saya sebagai seorang anak kecil lamat-lamat terhapus dan tergantikan dengan realitas yang ada. Apalagi masa-masa sekolah dulu, saya dikenal sebagai anak dengan tubuh “imut-imut”nya. Huahahaha…

Beranjak menjalani masa sekolah yang lebih tinggi, SMP dan SMA, saya akhirnya mematok (atau dipatok) untuk menjadi seorang dokter.

“Biasanya kalau anak seperti Imam, mendaftar di jurusan Kedokteran saja,” obrol-obrol ringan tetangga dengan bapak atau ibu saya kerap kali.

“Kamu mendaftar di jurusan Kedokteran saja ya?” ajak banyak guru di sekolah. Mungkin dalam benak mereka, setiap anak-anak yang berprestasi sudah sewajibnya masuk jurusan-jurusan favorit di kampus-kampus elit.

Karena belum tahu banyak tentang kehidupan kampus, saya mengiyakan saja tawaran dan usulan yang diberikan guru-guru di sekolah. Apalagi, saya juga belum banyak tahu passion seperti apa yang bakal saya jalani dan geluti.

Akan tetapi, ternyata dunia telah berkonspirasi dengan begitu manisnya hingga mengubah jalur hidup saya ke arah sini. Ketika saya tak lulus di jalur “bebas tes” untuk masuk perguruan tinggi di jurusan yang mendapat julukan “jurusan sejuta umat” itu, saya juga tak lulus di tes tertulis bersaing dengan ribuan calon mahasiswa lainnya. Hanya saja, Tuhan membuka kesempatan “perjalanan” saya, lulus di pilihan kedua dalam ujian tertulis itu. Sempat, saya agak kecewa dengan hasil yang telah saya dapatkan itu. Namun melihat perjuangan teman-teman lain yang hingga menghabiskan waktu dan tenaga di bimbingan-bimbingan belajar ternama, saya jadi bersyukur karena “masih” bisa lulus dan mengenyam pendidikan di kampus sekarang.

Manusia memang tidak akan pernah bersyukur jika selalu melihat segala hal yang ada di atasnya. Melihat ke bawah adalah cara sederhana untuk bersyukur setiap waktu.

#Sebenarnya sih, ada banyak juga orang yang pastinya bernasip serupa dengan saya ya?

Nah, mengakhiri #7days7posts, saya ingin berandai-andai bilamana lulus di jurusan yang kini sudah tidak begitu menarik di benak saya itu.

Tidak tahu seperti apa saya sekarang kalau saja saya dulu lulus di jurusan yang diidam-idamkan banyak orang itu. Mungkin, saya tak lagi bisa meluangkan waktu barang beraktivitas selain kegiatan akademik. Setiap ahri saya hanya akan belajar, belajar, dan belajar. Buku-buku tebal tentang anatomi dan semacamnya bertumpuk tinggi di kamar saya. Saban hari saya mungkin harus menghafalnya, agar tidak ketinggalan dengan teman-teman “pintar” lainnya.

Saya jadi mengingat-ingat seorang kakak dari teman saya. Ketika dulu saya menginap di rumah kostnya, kesempatan untuk menemani kami sekadar ngobrol atau urusan lainnya sama sekali tidak ada. Ia sibuk sendiri dengan buku tebal dan hafalannya. Saya jadi agak risih dengan jurusan itu kalau mengingat-ingat bakal jadi orang anti-sosial. 

Kemungkinannya, saya juga tidak akan bertemu dengan passion saya sekarang: menulis. Saya tidak akan memiliki banyak teman seperti sekarang. Pastinya, #Ben10 tidak ada. Apa yang saya jalani sekarang, segala kerumitan dan kebahagiaannya, tentunya akan menjadi hal berbeda kalau saya harus benar-benar lulus di jurusan calon dokter itu. Yah, meskipun terkadang muncul suara-suara lain dalam kepala saya, “jangan-jangan kehidupan saya disana lebih baik ketimbang sekarang.” Tak ada yang menjamin.

Saya selalu percaya, Tuhan mengabulkan doa kita lewat hal-hal yang diberikan-Nya sebagai sesuatu yang kita butuhkan. Semau apapun kita terhadap sesuatu, kalau Tuhan tidak mau, ya tidak akan mungkin bisa terwujud. Akan tetapi, Tuhan selalu tahu yang terbaik bagi kita.

Semenjak saya mendapatkan pengalaman di lembaga jurnalistik yang membesarkan saya sekarang, saya jadi tahu seperti apa rasanya menikmati hidup. Saya jadi tahu juga seperti apa rumitnya pikiran-pikiran. Rumitnya berkeluh kesah. Saya lantas tidak pernah menginginkan lagi jurusan yang pernah terpatok di kepala saya itu. Sejelas-jelas tidak ada penyesalan.

Kini, setiap ada adik-adik yang mengidamkan jurusan itu, terkadang saya agak prihatin. Sebagian besar dari mereka nampaknya hanya menjadi korban “obrol-obrol” tetangga di kampung. Mungkin, jauh dalam lubuk hati, mereka punya cita-cita yang jauh lebih baik, yang jauh lebih membuat mereka bahagia. Hanya saja, pengaruh orang tua dan lingkungan terkadang membuat kita tidak bisa berbuat apa-apa. Pandangan orang tentang dokter adalah profesi paling “mulia” sudah terlanjur melekat dan sulit diubah. Kita anak muda akan selalu dianggap anak kecil oleh para orang tua. Ada pandangan yang mesti diubah dan diluruskan.

Nah, seandainya menjadi dokter, saya bukan siapa-siapa. Saya lebih suka menjadi seperti sekarang, karena #Menjadi jurnalis itu hebat!


--Imam Rahmanto--
Hei, Dian, Dewie, Ai... Biar #7days7posts kita sudah berakhir, saya masih merasa berhutang 2 postingan di kepala. Saya tak ingin konsep di kepala ini hanya mengendap untuk berlalu lantas terlupakan. Sungguh sayang, bukan? Oleh karena itu, ketimbang melesap saja di kepala, maka saya tuangkan seperlunya lewat tulisan-tulisan ini. Di samping, saya pun tipe-tipe orang yang akan menyelesaikan apa yang mesti saya selesaikan. Menyelesaikan setiap janji yang pernah hinggap di kelingking saya. ;) Cekidot.

Apa yang akan kita ketahui dari dunia ini? Apa saja yang hendak diberitahu oleh dunia dan ingin kita ketahui.

Siapapun pernah menyadari bahwa kehidupannya sekarang adalah bentuk refleksi dari kehidupan kedua orang tuanya dulu. Dalam darah kita masing-masing, selalu ada elemen-elemen yang berasal dari ayah atau ibu kita. Baik berwujud maupun abstrak. Rambut. Hidung. Kulit. Bibir. Sikap. Perilaku. Kebiasaan. Pembawaan.

Saya banyak mempelajarinya. Heh, apalagi setelah melewati sedikit "pembangkangan" yang membuat saya menyadari hakikat sebagai seorang anak. Sesalah apapun orang tua, ada celah diantaranya yang menginginkan kita berbuat benar. Caranya saja yang terkadang salah, bukan esensinya.

Sebagai seorang lelaki, tentu saja kelak saya akan menjadi seorang ayah juga. Mempelajari hal-hal yang pernah diajarkan ayah, membuang keburukan yang diturunkan adalah cara menjadi ayah yang baik.

Your father...... (Sumber: google.com)
Kelak, saya adalah seorang ayah yang tak ingin membunuh diri dengan merokok. Pun, di tengah keluarga, saya tidak akan membiarkan siapapun merokok sebebasnya. Rumah saya adalah rumah tanpa asap rokok, alami, dan bernuansa terbuka dinaungi rerindang pepohonan di halaman rumah. Soal merokok itu, saya mempelajarinya dari seorang ayah yang perokok, yang sewaktu kecil saya setiap hari disuruhnya membeli sebungkus rokok.

"Belikan Pa'e rokok," suruh ayah saya kerap kali. Saya senang saja karena bakal mendapat uang tip dari hasil beli rokok itu, barang seribu atau dua ribu rupiah. Tapi, semakin saya dewasa, saya menyadari, ada pengaruh psikologis fan kesehatan pada setiap orang yang mencandui rokok.

Kelak, saya akan memenuhi rumah saya dengan bacaan-bacaan untuk anak-anak saya. Sedari kecil saya ingin membiasakan mereka membaca. Mungkin, di rumah akan ada perpustakaan kecil yang penuh dengan buku-buku menarik. Cerita bergambar. Novel. Komik. Motivasi. Islami. Terkecuali buku pelajaran. Itu 10 persen saja. Haha.. Siapa saja boleh berkunjung ke rumah sekadar untuk membaca.

Ayah saya, agak risih sebenarnya melihat kebiasaan membaca saya. Ia berpikir, orang yang menghabiskan waktunya hanya membaca tidak akan banyak mendapat pengalaman real atas hidupnya. Bacaan hanya teori. Beraktivitas di luar adalah sebenar prakteknya.

"Membaca terus. Mending kau kerja sesuatu yang berguna," ujarnya. Padahal, tanpa ayah tahu, saya sedang memandang dan mengunjungi dunia lewat membaca.

Karena berharap menjadi seorang ayah yang juga penulis, maka saya akan mendukung minat baca anak-anak saya. Keluarga saya adalah pembaca pertama saya. Oiya, saya juga akan menekankan mereka untuk gemar menulis. Mengabadikan setiap momen kehidupan mereka dalam tulisan. Tidak melulu facebook, twitter, atau sosmed.

Kelak, saya juga akan selalu mendongengkan anak-anak saya sebelum tidur. Perlahan memberikan karakter dan pembelajaran lewat cerita-cerita fiksi saya. Hingga suatu kali ketika mereka merindukan saya yang sedang sibuk menyelesaikan urusan jurnalistik, mereka akan bertanya, "Ayah, kapan lagi ada waktunya buat bercerita sebelum tidur? Kami kangen cerita-ceritanya ayah.

(Sumber: cokesbury.com)
Dari hubungan demikian, saya berharap bisa membangun kedekatan dengan anak-anak saya. Tanpa dinding. Tanpa jarak. Bahkan, anak saya bebas curhat tentang orang yang disukainya.

Setiap pekan, saya ingin membagi waktu dengan keluarga saya. Sekadar memilah quality time dengan istri dan anak-anak saya. Setidaknya, sembari menertawakan diri dan kelucuan anak-akan saya. Tak lupa istri saya akan menghidangkan makanan-makanan buatannya dengan segelas Cappuccino buat saya. Mm...anak-anak saya juga boleh menyukai Cappuccino seperti halnya saya.

Kelak, saya akan menjadi ayah yang menyayangi istrinya. Ayah yang mempercayai keteguhan hati ibu dari anak-anaknya. Sedikitpun, saya tak ingin melintaskan di benak saya untuk menyakiti hati wanita kesayangan saya. Apalagi sampai memukulnya. Cukuplah saya yang merasakan bagaimana sedihnya semasa kecil melihat orang tua kerap bertengkar. Bagaimana seorang ayah kerap menampar istrinya. Bagaimana ayah kerap memukul dan memaki istrinya. Kelak, semoga perempuan yang menyayangi saya juga bisa selalu menjaga hatinya seberapa sering pun saya berbuat salah.

Saya ingin menjaga anak-anak saya agar tidak merasai perpisahan kedua orang tuanya. Tidak merasai doa-doa untuk kedua orang tuanya yang dipanjatkan dengan air mata, "Tuhan, jangan biarkan ayah dan ibuku berpisah, ya Tuhan."

Hm...saya ingin menjadi ayah yang baik. Intinya menjadi ayah yang baik, jikalau Tuhan menggenapkan waktu dan kesehatan untuk dijalani...

#karena setiap laki-laki akan menjadi seorang ayah.


--Imam Rahmanto--
Khayalan, imajinasi, setinggi ia membumbung memberikanmu pengharapan tiada batas.

Saya pernah kecil. Pernah berkhayal. Seringkali malah. Apalagi kehidupan masa kecil saya selalu diwarnai dengan tontonan-tontonan anak kecil yang dulu masih marak. Berbeda sekali dengan sekarang, yang hari Minggunya hanya diisi dengan tontonan acara musik tidak berguna, membodohi penonton-penontonnya. Presenternya juga rela kelihatan bodoh demi meraih segepok uang honornya.

Tidak ada lagi film Chibi Maruko-chan, P-Man, Ninja Hattori, Digimon, Crayon Shincan, Power Ranger, Inuyasha, Beyblade, Let’s and Go (Tamiya), Ranma ½, Crush Gear, Gundam, One Piece,  dan semacamnya. Kini kita lebih sering menyaksikan goyangan-goyangan di atas panggung ketimbang film-fil animasi keluaran Jepang itu. Anak-anak zaman kini diajar untuk lebih cepat dewasa. Dewasa prematur atau istilah kerennya, dewasa “karbitan”.

Coba saja tanyakan kepada anak-anak kecil zaman sekarang, judul lagu apa yang mereka tahu? Siapa artis yang mereka tahu? Jawabannya memang beragam, tapi genre-nya tetap sama; lagu orang gede.


Anak zaman sekarang tidak tahu lagu-lagu anak kecil. Ckck...

Oiya, saya bukannya mau berbicara tentang film-film kartun itu. Hanya saja, dimandikan dengan film-film semacam itu membuat saya banyak berkhayal. Saya banyak berimajinasi tentang menjadi superhero. Ya, Superhero. :D Kadang-kadang menjadi Power Ranger, Ultraman, X-Men, Batman, Superman, Spiderman. Haha…

Kadang, di masa kecil, di masa-masa pengkhayalan akut, saya sangat keras berpikir,

“Kenapa orang-orang yang punya kemampuan khusus seperti itu selalu berpikir untuk tidak diketahui identitasnya? Seperti kebanyakan Superheroes, mereka selalu menutupi identitas mereka dengan topeng. Padahal kan enak punya kekuatan begituan.”

Saya kerap kali berkhayal tentang seseorang yang punya kelebihan, kekuatan super. Layaknya para mutan di X-Men. Seakan-akan bertanya pada diri sendiri, kekuatan seperti apa yang saya inginkan jika Tuhan menganugerahkan kekuatan seperti itu kepada saya? Kala itu, saya akan menjawab dengan lantangnya; kekuatan telekinesis. Sejauh ini, saya belum tahu nama apa yang hendak disematkan pada saya yang berkekuatan super memindahkan barang tanpa perlu menyentuhnya itu. Saya juga tidak tahu kostum seperti apa yang seharusnya saya kenakan biar kelihatan keren. Wow!

Bagi yang belum tahu seperti apa kekuatan telekinesis itu, coba nonton serial film Heroes. Ada 4 season. Namun, menurut kabar yang saya dapatkan, Heroes 2 akan muncul juga. Di dalamnya, ada tokoh antagonis Sylar yang memiliki kemampuan original; memperbaiki barang-barang rusak. Akan tetapi, karena haus akan kekuatan, maka ia membunuh satu persatu orang dengan kemampuan khusus, dan memeriksa mekanisme kerja kekuatannya lewat memotong batok kepala orang yang diincarnya.

Kekuatan pertama yang ia dapatkan adalah kekuatan telekinesis. Bahkan dalam beberapa kesempatan melawan tokoh protagonis, Peter, ia kerap kali menggunakan kekuatan telekinesisnya itu. Menggantung orang di langit-langit ruangan. Mementalkan lawannya. Menempelkan orang lain ke dinding. Hingga memotong batok kepala orang.

Atau tokoh Jean di film X-Men, yang mempunyai kekuatan super telekinesis. Magneto, iron telekinesis, saja kewalahan olehnya.

Telekinesis or pshycokinesis is the power to move something by thinking about it without the application of physical force

(Sumber: googling)
Nah, saya selalu berkhayal suatu waktu tiba-tiba saja punya kekuatan super itu. Atau di lain kesempatan, ketika tokoh jahat datang, di sekolah, saya menjadi lakon pemberani yang menantang kekejaman mereka, meskipun tanpa kekuatan apapun. Akan tetapi, di tengah kekalahan saya melawan musuh-musuh berkekuatan super juga, mendadak sebuah cahaya sepaket dengan halilintar menyambar saya dan memberikan kekuatan yang tanpa sadar saya gunakan saat itu juga.

Dalam kehidupan imajinasi saya itu, ternyata ada beberapa orang pula yang memiliki kemampuan khusus seperti saya. Ada yang mampu mewujudkan api. Ada yang mampu mengendalikan air dimana saja. Ada yang mampu berlari dengan kekuatan super cepat. Ada yang hanya bisa terbang. Ada yang mampu menyerap kekuatan binatang, dan menggunakannya berkali-kali lipat dibanding kekuatan hewan aslinya. Ada yang mampu mengeluarkan sinar laser dari matanya. Ada yang mampu menyembuhkan luka orang lain. Ada yang mampu membaca pikiran, sebagai pendeteksi pula. Ada yang mampu mewujudkan angin. Ada yang mampu mewujudkan senjata apa saja lewat benda yang disentuhnya.

Mereka, para pemilik kemampuan khusus itu, tersebar di seluruh wilayah nusantara. Setelah, pertarungan pertama itu, saya menjadi pokok perbincangan di sekolah. Namun orang-orang tidak menganggap kekuatan itu benar-benar origin dari saya. Pasalnya, di tengah pertarungan itu, saya tidak nampak seperti biasanya. Layaknya Super Saiya, rambut saya berdiri. Di sekeliling saya muncul gelombang-gelombang kekuatan. Selepas pertarungan, saya pun tak sadarkan diri.

Karena merasa ada yang telah berubah pada diri saya, maka saya mencari tahu. Melompat ke beberapa hari berikutnya, saya terlibat pertarungan tak disengaja lagi. Saya bertemu dengan orang iseng yang menggunakan kemampuannya untuk menjahili orang lain. Ia menguasai kemampuan mengendalikan udara di sekitarnya. Saya bertarung dengannya. Saya baru menyadari ternyata da orang yang punya kekuatan seperti saya.

Meskipun kami berduel, pada akhirnya kami bekerja sama, dan ia memperkenalkan saya pada beberapa orang lainnya yang punya kemampuan khusus. Dari orang yang mampu membaca pikiran orang lain, kami mendeteksi orang-orang lainnya. Kami membentuk sebuah kekuatan lebih besar guna menumpas kejahatan dari orang-orang yang ingin menyalahgunakan kekuatan itu.

Sekilas, imajinasi saya layaknya anak-anak yang memang masih gemar menonton Power Ranger. Lah, maklum saja. Saya masih mengonsumsi film-film masa kecil. Pikiran saya memang belum waktunya berpikir hal-hal sulit. Selain itu, asumsi saya, orang yang sering berkhayal di masa kecilnya nampaknya punya kesempatan yang bagus dalam pekerjaannya di masa depan. Einstein, Bapak Fisika yang gila, menekankan bahwa

imajinasi lebih penting daripada ilmu pengetahuan,

Dan di masa-masa kecil dulu adalah gudang kita berimajinasi. Di waktu dewasa kini, adalah lahan kita untuk mewujudkannya.Orang dewasa tidak dilarang untuk berkhayal, berimajinasi. Bahkan, tak perlu heran kalau kita masih banyak menemukan orang-orang dewasa di bangku kuliah yang masih gemar menonton film kartun Naruto, One Piece, atau Bleach. Konsumsi imajinasi seperti itu, selain memperkaya ide, juga meringankan beban kepala. Bayangkan saja kalau setiap hari kita hanya disodorkan hal-hal realistis, bisa jadi orang kaku sekaku-kakunya kita. Hahaha….

Terlepas dari itu, siapapun bebas berimajinasi, mau tua, anak kecil, laki-laki, perempuan, asalkan tidak kebablasan. So, ingin jadi apa kita sewaktu kecil?

Sekarang, ketika ditanya ingin menjadi Superhero apa selain Batman, Iron Man, Superman, Spiderman, maka saya lebih memilih menjadi YOURMAN ….. ^_^.b


--Imam Rahmanto--
Ingatkan saya untuk menjadi orang sebaik keinginan, mencapai setiap rencana, dan berjalan di alur yang seharusnya seorang "Saya" lakukan.

Saya agak kesal dengan tingkah beberapa orang teman saya, sebenarnya. Beberapa kali short message yang saya kirimkan tidak berbalas. Telepon yang saya udarakan tidak dijawab meski sekadar "Halo". Sejak kemarin. Keadaan seperti ini yang tak pelak membuat seseorang berpikir tidak.baik dan tidak jernih. Apa saya semenakutkan itu ya, sampai-sampai beberapa tak berani menampakkan batang hidunhgnya di hadapan saya?

"Come on! Kalian sudah dewasa, dan seharusnya tahu cara menyikapi sesuatu secara dewasa. Bukan justru dengan melarikan ataupun meninggalkannya sementara waktu."

Tekanan menjelang deadline memang senantiasa terjadi. Padahal semestinya semenjak sebelum deadline menggerogoti, saya sudah bekerja layaknya tukang tagih berita, bukan? Maaf, karena saya terkadang melupakan banyak hal, beragam hal bergantian mengisi batok kepala. Setiap dari kita seharusnya memang saling mengingatkan.

Kalau sudah banyak hal yang saya lupakan, saya mendadak berharap saja bisa menjadi sebuah alarm. Alarm, ia mengingat apa saja. Sedetail mungkin, ia akan berbunyi dan mengingatkan tanpa pernah mengeluh. Ia ingat segalanya. Berhitung hari, jam, menit, dan detik, bahkan sampai jadwal yang diatur sampai tahun kesekian pasti diingatnya.

Tapi...secara tak kasat mata, bukannya saya selama ini sudah menjadi alarm bagi pewarta lainnya ya? -_-

Ingatkan saya...

Menjadi alarm nampaknya akan selalu mendengar kata-kata itu, baik yang hanya dilafalkan dalam hati maupun mereka yang melafalkannya dengan pasti.

Ingatkan saya...

Setiap orang memanfaatkannya. Setiap benda menginginkannya terpasang sebagai pelengkap. Termasuk perangkat-perangkat canggih zaman kini, butuh "pengingat" bagi tuannya.

Akh, seandainya bisa saja kita beralih menjadi alarm, sekadar mempertajam ingatan dan refleks memory. Saya tak butuh lagi perangkat "pengingat" lainnya. Saya cukup menyetelnya di kepala, sampai suatu waktu, meski telah lupa, diingatkan kembali dengan melintaskannya lewat list memory.

Menjadi alarm "hidup" seharusnya bisa mengingatkan banyak hal pula. Tentu, tidak hanya sebatas agenda-agenda kegiatan, melainkan hal-hal yang kita berharap selalu dingatkan, setiap waktu. Mungkin saja lewat menjadi "alarm" kita tak akan mengenal istilah malas lagi.

Ingatkan saya untuk belajar banyak hal.

Ingatkan saya untuk menjadi pemimpin yang baik.

Ingatkan saya untuk banyak mempercayai.

Ingtkan saya untuk berpuasa Senin-Kamis.

Ingatkan saya untuk bekerja lebih giat.

Ingatkan saya untuk tak menunda-nunda sesuatu.

Ingatkan saya untuk melunasi janji.

Ingatkan saya untuk selalu tersenyum TING!

Ingatkan saya untuk mengingat keluarga. 

Ingatkan saya untuk menyelesaikan studi.

Ingatkan saya untuk berjalan lebih banyak.

Ingatkan saya untuk selalu berterima kasih.

Ingatkan saya untuk selalu mengingatkan...

***

Saya punya alarm yang disetel sampai 5 kali dengan bunyi yang berbeda-beda di handphone. Terkadang, bunyi-bunyiannya di pagi hari menjengkelkan orang-orang yang sudah terjaga. Pemiliknya sendiri, baru bisa bangun ketika ia baru menyadari ada banyak alarm yang telah berdering di jam-jam tertentu, ketinggalan momen berbunyinya.


--Imam Rahmanto--
Karena saya senang berjalan kaki, merasai setiap momen orang-orang yang bertemu dengan saya, maka kelak saya bermimpi pula bisa mengelilingi banyak tempat dengan backpacking. Serius loh, saya paling senang berjalan kaki.

Haha...pantas saja salah seorang teman perempuan kapok ngekor menjalankan peliputan dengan saya. Bagaimana tidak, saya lebih senang mengarungi kampus dengan berjalan kaki.

"Astaga, Kak. Lihat ini kakiku masih sakit gara-gara ikut kemarin kesana kemari keliling kampus. Naik turun tangga lagi," keluhnya diselingi canda. Salah sendiri ikut saya.

Sampai seorang teman lelaki pun harus ngos-ngosan jika menemani saya berkeliling kampus demi menunaikan tugas peliputan. Meskipun tak disampaikannya, dari raut wajah dan irama napasnya sehabis naik-turun tangga ke lantai 6 Menara Pinisi tampak jelas kelelahan. Hanya karena ia bawahan dan adik junior, ia tak berani mengeluhkannya langsung.

"Capek ya?" tanya saya sedikit tersenyum mengejek.

Sambil sedikit cengengesan, ia menjawab singkat, "Iya, Kak."

"Kalau ikut saya, konsekuensi dan resikonya memang begitu. Saya memang tipe-tipe pejalan kaki," sembari menertawakan wajah kelelahannya. Sedikit-sedikit ia meminta istirahat. Hahaha...maklum, sejak kecil saya dibiasakan pulang-pergi sekolah dengan berjalan kaki. Paling jauh 2 kilometer-an.

Yah, sudah hampir setahun saya mengenal pula istilah backpacking dari dunia maya maupun cerita teman-teman saya. Bahkan, satu, dua orang teman saya yang telah menyelesaikan kuliahnya sudah lebih dulu mengunjungi banyak tempat dengan hanya bermodalkan ransel atau backpack. Saya jadi iri ketika ia berkali-kali memposting foto-fotonya di daerah destinasinya. Ada ala selfie. Ada ala skenario. Ada ala banyak. Hah??

Teman saya yang lain malah menabung cita-citanya hingga tahun depan. Lebih ekstrem, ia bahkan menasbihkan diri bakal mengunjungi separuh daratan Asia, sampai jazirah Arab. Ia, kini banyak membekali diri dengan bacaan-bacaan Traveling. Tak terlepas pula dari bekerja paruh waktu mengumpulkan sejumlah uang. Sesering mungkin ia mengecek penerbangan promo pula dari sejumlah destinasinya di luar negeri. Kalau ketemu yang cocok, langsung dipesannya meski harus menunggu hingga tahun mendatang. Luar biasa. Saya kagun dengan rencana matangnya.

Sejak lama, saya memang ingin mengunjungi banyak tempat. Merasainya satu-satu. Berharap saja ada momen-momen yang mampu dituliskan dan dibagi untuk orang lain. Karena menulis adalah pekerjaan membagikan "sesuatu" kepada orang lain. Mengabadikan. Membekukan.

"Ayo, menabung dari sekarang, supaya suatu waktu nanti kita meluangkan waktu untuk backpacking berdua saja kemana gitu. Ke Lombok, ke Bali, atau kemana saja," Saya sangat senang dan trenyuh mendengarnya. Semoga saja, janji saya (dan dia), bisa ditunaikan di waktu yang tepat.

Melakukan perjalanan ala bacpacker memang menjadi salah satu impian saya. Apalagi berdua dengan orang yang disayangi. Sejujurnya, saya memang mengidamkan seseorang yang bakal bersedia mengikuti saya kemana saja, Indonesia, maupun hingga ke luar negeri. Dalam kepala sudah saya tanamkan, mengunjungi banyak tempat sebelum menjalani kehidupan berkeluarga yang sesungguhnya bersama anak-anak kelak. Haha...entah seperti keseruan dan kekonyolan yang akan terjadi dalam setiap perjalanan, terlepas dari menguji rasa saling menjaga satu sama lain. Benar, sebagaimana saya ingin selalu berlama-lama dengannya.

(Sumber: forum.jalan2.com)
Melakukan perjalanan kecil saja sudah membuat saya menemukan banyak hal baru. Pernah suatu kali saya dan kedua orang teman saya harus mengarungi hampir setengah kota Jakarta demi menemukan lokasi keberadaan kakak senior kami. Disana, kami baru saja selesai mengikuti acara pelatihan jurnalistik Journalist Days di kampus Universitas Indonesia (UI).

Ia menunggui kami di kantornya, sebuah media, yang terletak di pusat kota. Berbekal kesotoy-an dan barang-barang bawaan (lengkap dengan koper salah seorang teman perempuan), kami menumpang kereta selama beberapa menit. Bertanya kesana kemari. Menghubungi nomor teleponnya. Menunggu. Dan akhirnya sampai di kantornya, yang ternyata tidak jauh dari Monumen Nasional (Monas). Padahal teman perempuan saya itu sudah mengeluh bukan main.

Meskipun senang mendengar cerita-cerita perjalanan orang lain, saya agak miris melihat teman-teman lainnya yang hanya ingin menikmati keseruan "jalan-jalan" lewat backpacking. Seharusnya lewat banyak pengalaman perjalanan itu, ada banyak hal pula yang pantas diceritakan. Ditulis. Dibagikan. Dibekukan. Dipelajari. Minimal, kenapa tidak dituliskan lewat blog?

Pun, keinginan utama saya kelak jika bisa mencapai perjalanan mengelilingi banyak tempat adalah menuliskannya. Saya senang menulis. Senang bercerita lewat tulisan. Alhasil, berharap suatu hari nanti menyimpan buku dengan tulisan-tulisan yang bisa diceritakan buat anak cucu saya kemudian. Lantas dengan bangga berkata: Ini ceritaku!


--Imam Rahmanto--
Dua orang anak kecil sedang berjalan beriringan di depan saya. Berseragam merah putih. Lengkap dengan topi merahnya. Keduanya berjalan pelan sembari menyicipi makanan yang baru saja dibelinya. Satu orang memegangi lengan tangan yang lainnya. Waspada, memandang jauh ke depan.

"Disini, disini mi. Jalan pelan-pelan maki dulu biar tidak ketahuan," ujar yang satunya. Matanya tetap memandang awas jauh ke depan.

"Ah, ayo kesini. Duduk disini maki saja sebentar biar tidak diliat," ujarnya lagi setelah beberapa meter berjalan dan menemukan persimpangan lorong.

Saya mengerti, dan menahan tawa memandangi kedua anak laki-laki itu. Jauh di depan sana, kerumunan teman-temannya sedang bekerja bakti membersihkan sekolah. Satu, dua orang mengeruk-ngeruk selokan. Lainnya lagi mengangkat-angkat sampah. Beberapa guru pun kelihatan mengarahkan siswa-siswa Sekolah Dasar yang berada di seberang jalan itu.

Saya meninggalkan mereka berdua.

Pagi ini, kemarin, saya memutuskan untuk berjalan kaki ke redaksi. Waktu tempuh dari kost saya hanya sekitar 20 menit. Seperti biasa, saya senang merasai setiap detik dan suasana dengan berjalan kaki. Asalkan matahari tak terik. Ada banyak momen-momen yang bisa direkam mata. Ada banyak waktu bagi kepala untuk berpikir tentang banyak hal.

Lantaran mengawasi gerak-gerik kedua anak kecil itu, saya lantas berpikir betapa menyenangkannya menjadi seorang anak kecil. Seandainya waktu bisa diputar, saya kembali ingin merasai momen-momen masa kecil dulu.

Betapa menyenangkannya menjadi anak kecil. Setiap waktu, kita bisa tertawa tanpa perlu dipahami orang dewasa. Kita tak peduli orang dewasa mau ikut menertawakannya. Selama kita bisa menikmati sesuatu dengan tertawa, ya sudah, kita akan tertawa saja. Menangis, ya menangis saja.

Saya pernah menjadi anak kecil yang cengeng. Sewaktu SD, hanya gara-gara diejek teman lain bahwa gambar jelek, saya mengancamnya dengan batu sebesar kepalan tangan orang dewasa. Tentu saja teman saya itu langsung lari tunggang-langgang.

Kalau saya cengeng, ayah justru menyuruh saya diam. Terkadang, saya iri dengan teman-teman lainnya yang senantiasa dibela ayahnya. Saya, justru disuruh ayah untuk menghentikan tangisan saya sembari berujar, "Anak laki-laki itu tak boleh menangis. Harus kuat."

Seandainya waktu bisa diputar ulang, tanpa mesti mengulang isi kepala, sepertinya menjadi anak kecil adalah hal paling menyenangkan.

Menjadi anak-anak, membuang segala hal yang rumit-rumit di kepala kita. Masa kecil ya seharusnya menjadi masa bermain. Kita masih belum dibebani beragam tanggung jawab dan kewajiban. Yang kita tahu hanya bagaimana cara bermain secara menyenangkan.

Saya membayangkan, diri saya berlarian di tanah lapang menerbangkan layangan. Mengadu ketinggiannya dengan teman-teman lain di kaki langit. Kalau kalah, berusaha mencurangi teman lainnya. Kalau layangan putus, bersama-sama mengejarnya hingga kelelahan menghampiri. Jika sudah begity, saling menyalahkan dan bergumul. Tangis memuncak bagi yang kalah dalam perkelahian. Namun, selalu saja ada maaf yang sederhana dari senyum yang dikembangkan. Usai itu, kami lupa kalau pernah bertengkar. Tertawa lagi kita, sederhana saja.

Di sekolah, berteman dengan siapa saja. Bertengkar lagi karena hal sepele. Bahkan hanya gara-gara nama kita disandingkan dengan nama teman lawan jenis. Bersungut-sungut mengajak berkelahi. Teman-teman lainnya justru menyoraki. "Ayo, ayo!" lantas bergumul lagi. Dilerai guru. Selanjutnya, saling meminta maaf karena disuruh guru. Bersalaman. Tersenyum. Tertawa. Bermain bersama, lagi. Melupakan pertengkaran yang mungkin baru beberapa jam berlalu.

Chlid(rain). (Sumber: wallsave.com)
Akh, seandainya menjadi orang dewasa sesimpel itu. Sesimpel alasan kita ketika diomeli orang tua karena berhujan-hujanan di luar.

"Sudah berapa kali dibilangi, jangan main hujan," omel ibu, yang tentu saja belum kita pahami bentuk kekhawatirannya. Meski demikian, ia tetap menyuruh kita salin baju, melap badan kita yang hanya cengar-cengir dengan handuk.

Coba saja sekarang, kalau di usia seperti ini kita sengaja bermain hujan sambil membawa sabun mandi, apa kata orang? Saking rumitnya pikiran kita atas pikiran orang lain, ada banyak "malu" dan etika yang mesti dipatuhi. Soal tanggung jawab, kewajiban, masa depan, kebutuhan, dan semacamnya yang terkadang membuat kepala hampir meletup.

Segala hal yang dipahami anak kecil selalu dalam bentuk sederhana. Sesederhana satu-ditambah-satu-sama-dengan-dua. Sesederhana mereka menyukai suatu barang. Sesederhana anak kecil berbaikan usai bertengkar. Sesederhana mereka menari dalam hujan, dancing in the rain. Sesederhana mereka cengar-cengir jika ditanya perihal alasan sesuatu. Seharusnya, saya berpikir, setiap orang dewasa pun saling mencintai dengan sederhana pula, sesederhana mengucapkan "aku cinta kamu" saja.

Sejatinya, kita tak akan benar-benar bisa menjadi anak kecil lagi kan? Meskipun sifat dan pembawaan kita masih bisa diputar layaknya anak kecil. Terkadang, saya merasai menyenangkannya menjadi anak kecil. Tertawa dan berpikir lepas seadanya saja. Akan tetapi, di balik keinginan menjadi anak kecil, kita seharusnya sadar bahwa masa dan momen itu berputar. Waktu berjalan maju. Kalau kita pernah menjadi anak kecil dan merasa dilindungi, seiring bertambahnya usia diri, kelak kita pun harus menjadi orang dewasa yang mampu melindungi anak-anaknya, memberikan kebahagiaan di masa kecilnya.


--Imam Rahmanto--
Older Posts

Subscribe Us

About


Imam Rahmanto

Selamat berkunjung di rumah sederhana saya. Tempat saya bisa pulang dengan cara paling menenangkan.



@cappuccino_time
Created By SoraTemplates | Distributed by GooyaabiTemplates