facebook twitter instagram spotify youtube
  • Home
  • Perjalanan
  • Jendela
  • Habis Baca
  • Saya

Cappuccino

Seperti biasa, pagi masih diselimuti hawa dinginnya. Ini masih pukul 7, namun aktivitas di perkampungan ini sudah menggeliat. Anak-anak sekolah berlau-lalang hendak melaksanakan kewajiban masa mudanya. Mobil ataupun motor turut menyela momen-momen pergi-ke-sekolah itu.

Sembari duduk-duduk di beranda, tentu saja dengan segelas cappuccino, saya mengamati. Kabut-kabut yang mulai melebur perlahan, hendak bertukar peran dengan matahari condong memanas. Hanya saja, saya memperkirakan, cuaca tidak akan secerah biasanya. Langit tertutup awan-awan putih menggumpal. Sewaktu-waktu bisa berubah menjadi mendung yang mencurahkan hujan, seperti kemarin.

Menuliskan ini, saya bersiap kembali. Momen libur lebaran nyaris berakhir. Sebenarnya sudah berakhir sejak beberapa hari yang lalu, namun saya saja yang menambah-nambahinya. Kapan lagi coba? hehe… Kesibukan di kota pun sudah membuka sapaannya sejak kemarin. Beberapa teman saya bahkan sudah kembali tepat arus balik, Sabtu-Minggu, kemarin. Yah, gampang ditebak dengan beragamnya update status di jejaring sosial. Tersisa saya dan beberapa orang yang masih nyaman saja mereka satu-satu kenangan yang menggumpal dan bebal di kepala.

#Saya mencopot earphone di telinga saya.

Sederhana. Saya menggantikan pendengaran dengan bunyi-bunyian yang sesungguhnya. Suara-suara membahana pagi lebih nyaman didengar seperti ini. Lebih alami dan mendamaikan, untuk sementara.

Suara ayam bersahutan membangunkan pemiliknya. Mobil-mobil yang melintas dan berpapasan dengan motor, menyuarakan klaksonnya. Terkadang suara motor lebih mendominasi ketika berpapasan dengan motor yang knalpotnya dimodifikasi. Arus sungai kecil di depan rumah, yang tak henti-hentinya mengalir hingga ke muaranya. Tetangga yang sedang menyapu halaman. Anak-anak kecil yang bergantian mengadu pada orang tuanya. Kernet-kernet mobil yang berlomba-lomba memanggil para penumpangnya.

#Saya menggapai gelas yang masih berisi setengah cappuccino.

Banyak hal yang banyak dipertaruhkan dalam hidup ini demi mencapai dan menggapai jalan yang diimpikan. Kalau orang berharapnya jalan yang dilaluinya itu lurus-lurus saja, namun Tuhan menunjukkan jalan berkelok agar kita memperoleh banyak pengalaman di dalamnya.

Semalam, kami baru saja mengunjungi seorang guru. Lama tak berjumpa. Seorang guru, yang telah banyak menginspirasi murid-murid lainnya. Bahkan saya mengadaptasi sedikitnya impiannya yang tertunda. Yah, terkait passion saya dalam menulis ini. Guru yang lebih banyak menyibukkan diri demi mengembangkan sekolah kami. Guru yang lebih banyak mengajarkan kami arti dari kerja keras.

Serius loh. Selama menjalani kepengurusan di lembaga sekolah dulu, kami banyak dibelajarkan tentang kerja keras. Bagaimana menjalankan kekompakan. Dari merencanakan kegiatan, hingga melaksanakannya. Salah satu kegiatan besar kami, dulu, saya sampai harus bermandikan omelan dan cercaan untuk pertama kalinya. #ngelus dada

“Haha…asalkan jangan cuma itunya saja yang diingat,” ujar Bunda, begitu sapaan akrab kami buatnya.

Tenang saja, Bunda. Saya hanya mengingat bagian itu sebagai bagian uniknya. Untuk hal-hal besarnya, seperti sekarang ini, apa yang telah tercapai dan dipelajari dalam hidup ini, semua berdasar dari pengalaman masa SMA itu, kan? Termasuk segala mimpi-mimpi yang saya rancang hingga kini. ;)

Saya percaya, setiap orang membangun pengalamannya masing-masing dari apa yang telah dilaluinya. Kesalahan hanyalah serupa cara yang benar untuk belajar. Tanpa berbuat salah, orang takkan pernah belajar.

Tak ubahnya dalam menjalani hidup, setiap orang harus menerapkan apa yang telah didapatkannya. Ilmu, pengalaman, keterampilan. Semuanya harus dijalankan sinergi agar mencapai hasil yang optimal.

“Ilmu yang diperoleh sejatinya tidak akan banyak diterapkan di dunia nyata. Padahal yang dibutuhkan dalam dunia nyata itu adalah keterampilan. Skill.”

Saya membenarkan perkataan Bunda.

“Perihal hidup adalah mempraktekkan. Hidup tak butuh orang-orang yang pandai. Hidup membutuhkan orang-orang yang terampil dan kreatif.”

Saya mengangguk. Benar yang dikatakannya.

Banyak dari teman-teman saya yang pada akhirnya hanya berlabuh di penyelesaian kuliahnya. Bagi mereka yang hanya berdiam diri, tidak mencoba berpikir kreatif, tidak akan banyak mendapatkan apa. Tuhan juga tahu siapa-siapa saja hamba-Nya yang akan dibantu. Tuhan punya parameter (pengukur) tersendiri, sejauh mana manusia-Nya sudah berusaha keras. Keajaiban = tekad + usaha keras + doa. Kalau sebatas harapan-harapan yang digantungkan tanpa usaha nyata (dan keras), sama halnya dengan “mengemis” pada Tuhan. Sementara Tuhan sendiri tak suka dengan kata “mengemis”.

Hm..pulang ke kampung, nyatanya tidak semata-mata menenggelamkan kami dalam “kengerian-ditanyakan-kapan-selesai-kuliahnya”. Toh, dari beberapa perjalanan kami, saya masih banyak menemukan teman-teman yang nganggur. Akh, padahal periode kelulusan mereka, jauh melampaui saya. Dan semalam, saya harus menawarkan sedikit bantuan kecil, sesekali diwarnai canda. ;)

#akh, cappuccino saya sudah sampai di tegukan terakhir.

Terampil. Terampil. Terampil. Kreatif.

Yah, ingatlah. Hidup tak membutuhkan kita yang hanya mengandalkan ilmu saja. Setiap orang harus bersaing dengan keterampilan yang mereka miliki. Kita butuh hal-hal demikian, selain tetap menyisipkan idealisme di dalamnya.

“Iya, pastilah. Semoga ketika kalian mencapai apa yang kalian impikan, Kalian masih dengan semangat dan idealisme yang kalian junjung,” tutur Bunda.

“Iyalah, Bunda,” balas teman saya, yang bercita-cita memasuki sistem pemerintahan. Aroma-aroma politisi. Sebelumnya sih sempat berdebat tentang idealisme dan tetek bengeknya yang akan luntur ketika terjadi tarik-menarik dalam sistem. Pokoknya seperti itulah. 

***

Sembari menunggu jemputan dari seorang teman, saya masih duduk di depan beranda ini. Sesekali menengok ayah atau ibu yang membutuhkan bantuan kecil. Jam sudah menunjukkan pukul 9 lewat beberapa menit. Saya harus bersiap-siap kembali ke Makassar.

Yah, saya akan kembali ke peraduan di kota. Sekembalinya saya dari sana, lagi, saya berharap akan membawa lebih banyak cerita dan pengalaman yang bisa dibagikan. Termasuk “kelulusan” yang sudah lama diidam-idamkan orang tua. #just believe it

*teman saya sudah menjemput, sekarang.

Ps: Maaf, Ayah. Saya membiarkanmu menyiramkan banyak omongan selama beberapa hari ini. Saya mendiamkannya. Beberapa hal, salah kau persepsikan. Dan ketika tiba waktunya, saya akan menyodorkan usaha saya, dan berkata “Inilah yang selama ini saya sembunyikan.”


--Imam Rahmanto--  
Hingga kini, masih disini, di tempat saya selalu menjemput kenangan.

Selain ingin menunggu kepulangan seorang guru (andalan) sekolah kami dari kampung halaman, saya juga memutuskan menetap lebih lama sekadar mengembalikan hawa keberadaan saya di rumah. Hm…meskipun pada kenyataannya saya lebih banyak menghabiskan waktu berkeliling di luar rumah.

“Takkala minggu depan paki  balik, Kak. Yah, kapan lagi lama-lama di kampung sama keluargae,” pesan seorang teman lewat messenger-nya.

Benar. Butuh waktu agak lama agar saya benar-benar kembali memperbaiki hubungan dengan keluarga. Dulu, nyaris setahun saya “menghilang” dari peredaran kehidupan keluarga. Bahkan, nyaris pula memutus komunikasi dengan teman-teman lama. Dan namanya perjalanan hidup, sudah seharusnya membelajarkan. Minimal, lebih baik dari sebelumnya. I got it!

Yah, selama menghabiskan waktu di kampung, kita tak akan pernah kehabisan kenangan. Menjemput kenangan. Dari pintu ke pintu. Dari mulut yang terbuka dan mengatup.


Tahu tidak, kenapa kita dianjurkan untuk merantau? Untuk mengubah hidupnya, setiap orang harus berani merantau, keluar dari kampung halamannya. Karena kampung halaman adalah ladang kenangan. Orang yang hanya berada di kampungnya, akan banyak mengaitkan segala hal dengan masa lalunya. Cenderung bakal susah move on. Sementara mereka yang merantau, keluar dari ladang kenangan, akan memulai dari awal dan membentuk kenangan-kenangan baru yang merupa jadi masa depan di tempat yang baru.

Kalau dianalogikan dengan asmara, ya miriplah dengan stay on dan move on. Orang yang senantiasa teringat masa lalunya, akan kesulitan memperoleh masa depan. Berdiam diri di tempat yang sama hanya akan mendramatisir kita untuk mengingat-ingat yang telah lalu dan menyesakkan dada. Nah, bergerak, berpindah, melompat, berlari adalah hal terbaik untuk merancang masa depan. Tentu saja, lebih baik. Dalam Islam pun kita dianjurkan untuk berpindah lewat kata “hijrah”, kan?

You can't have a better tomorrow if you don't stop thinking about yesterday,

Kampung halaman, serupa ladang kenangan, yang takkan tuntas dilibas waktu.

Menjemput kenangan itu…

Dalam dua-tiga hari libur lebaran ini, saya dan seorang teman menjemput kenangan lewat teman-teman lama. Beberapa dari mereka adalah teman-teman yang memang aktif di lembaga sekolah, Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Darinya, kami banyak menghidupkan “file-file” di kepala kami yang telah lama tertimbun “sampah-sampah” rutinitas.

“Itu dulu yang acara……….”

“Iya, dulu waktu itu, kita…..”

"Kalau tidak salah si A dan si B dulu...." -__- ada juga aroma-aroma GOSIP yang mulai diobrolkan. Haha...

"Katanya si C sudah anu ya?"

"Anaknya si Bapak X sudah...... "

"Jadi, kapan selesai kuliahnya?" #jlebb banget kan ini?

....dan masih banyak lagi.

Betapa menyenangkannya melintas “mesin waktu”, meskipun waktu sendiri takkan pernah cukup mengabadikan setiap momen pertemuan. Kita hanya berharap punya mantra sihir Harry Potter; Arresto Momentum…


--Imam Rahmanto--
Belajen - Kalosi – Cakke – Cece – Sudu – Matua – Wai Butu – Pana – Salubarani – Sangtempe

Nah, garis besarnya, rute seperti itulah yang saya lakoni di momen lebaran di kampung. Sudah saya katakan, bukan? Selagi di kampung, mari jalan-jalan. Bersama seorang teman, saya berkunjung door to door ke rumah teman-teman lain yang masih lekang di kepala. Mulai dari teman saya. Teman dari teman saya. Hingga teman-dari-teman-dari-teman-saya. Bingung, kan? Lah, saya juga agak bingung mutar2 di kampung.

Bagi orang-orang yang berdomisili di Enrekang, khususnya di daerah Duri, pasti mengenal beberapa dari tempat-tempat yang saya sebutkan tadi. Tempat-tempat, yang sebagian besar berada tepat di sisi jalan poros Makassar – Tator. Termasuk, Salubarani dan Tator, yang menurut teman saya, sudah termasuk dalam wilayah perbatasan kabupaten Toraja.

Saya agak menyesal tak punya kamera sekadar mengabadikan beberapa tempat yang saya rindukan di kampung ini. Melintasi jalanannya saja, lereng-lereng gunungnya sudah nampak begitu indah. Bagi orang-orang yang “gila-selfie”, pasti sudah ratusan frame yang bisa dihasilkan dari kampung sini.

Sembari menikmati momennya, saya ngikut dengan teman saya itu. Oke, namanya Taufik Hasyim. Ia ngebet banget untuk disebutkan namanya disini. Rute terdekat, hingga rute terjauh sekalipun. Saya justru berharap bisa sampai ke Tana Toraja, dan sedikit menikmati petualangan disana. Oiya, tanggal 11-13 nanti ada festival budaya disana. Pokoknya, kemana sms atau Ping! membawa kami, kesanalah motor kami menderu. Hahaha….

Dari pertemuan rumah ke rumah itu, saya menyadari bahwa sebuah hubungan memang sejatinya harus dijalin lewat pertemuan. Bukan sekadar berkirim-sapa lewat sms atau telepon. Dengan bertemu, berbagi cerita, saling menertawakan, diam menyimak, tatap mata, kedekatan akan jalin-menjalin begitu eratnya.

Akh, bahkan sekadar diamnya orang yang bertemu itu sudah menyiratkan banyak bahasa.

Nah, lebaran ini nyatanya memang diajarkan buat kita umat Islam saling menumbuhkan kekeluargaan lewat silaturahmi. Silaturahmi itu bertemu, tidak sekadar broadcast pesan “maaf” ke semua orang. Berkunjung, berjabat tangan, sembari meluangkan sedikit waktu untuk mengobrol segala hal. Kalau bisa sembari menyeruput cappuccino.

“Di hari lebaran begini, ya minumannya ya seperti ini,” tutur teman dengan segelas minuman dingin di tangannya. Biasalah, produk minuman berkarbonasi. -_-

Lewat pertemuan, hubungan antar satu sama lain bisa semakin erat. Sungguh ironi kiranya kala mengharapkan sebuah hubungan bisa terjalin tanpa ada tatap mata atau sekadar ucap lisan yang dibangun di dalamnya. Semakin akrab, semakin banyak pula tawa-tawa yang hendak ditularkan.

Hendaknya, kita tak terlena dengan perkembangan teknologi yang berusaha memecah seutuhnya silaturahmi. Tanpa perlu jauh-jauh bergerak, kita dimanjakan dengan fasilitas berkirim pesan secara instan. Padahal, bertemu dan mengobrol dengan teman-teman itu jauh lebih menyenangkan ketimbang hanya memasang emoticon.

Beberapa orang yang sempat menjadi destinasi lebaran kami, bukanlah orang-orang yang selama ini saya kenal di bangku-bangku kuliah. Beberapa diantaranya malah sebatas kenalan teman saya. Yang lainnya lagi, teman sekelas teman saya. Sisanya, ya, tentu kenalan saya, dan teman-teman dari lembaga sekolah, OSIS. Namun, dengan berkunjung atau menjalin lisan dengan mereka, saya merasakan nilai-nilai persahabatan yang cukup erat. Ada juga loh percakapan yang berlangsung selayaknya detak jam dinding yang bergerak perlahan. Heningnya lebih banyak ketimbang bicaranya. Hahaha…

“Langit malam disini serupa kain hitam yang dibentangkan dan ditaburi sinar-sinar kecil yang merupa gugusan samar-samar. Bonusnya, semalam, dengan bulan sabit yang bersinar tanpa malu-malu,” Saya suka memandangi langit malam disini...

“Besok, kemana lagi?” pertanyaan yang nyaris terulang setiap mengakhiri pertemuan.

"Oke, nanti saya Ping!" *sementara jaringan internet suka timbul-tenggelam


--Imam Rahmanto--
“Hei, apa kabar?”

Pertanyaan yang lumrah disampaikan ketika bertemu teman-teman lama. Apalagi kalau masih di kampung. Pertanyaan lanjutan pun tak ada habisnya. Sampai pada poin-poin mengulas masa-masa dulu, hingga tiba pada pertanyaan,”

“Apa kesibukanmu sekarang?” dengan kata lain, perihal pekerjaan atau profesi.

Saya, hingga kini masih berkutat dengan dunia perkuliahan. Di saat teman-teman seumuran saya sudah memboyong gelar sarjana ke kampungnyaa masing-masing, atau bahkan ada yang sudah bekerja seadanya, saya masih saja berada pada level “anak kuliahan”. Sejauh ini, saya masih sementara menyelesaikan tugas akhir yang baru di-acc-kan sekira tiga dua bulan lalu.

Wajarlah kalau orang-orang di kampung lantas menanyakan pertanyaan pamungkas, “Sudah selesai atau belum?”. Algoritma pertanyaan semacam itu terus berputar di kepala saya. Bagi kebanyakan orang di kampung, pertanda sukses stadium awal adalah lulus kuliah. Yeah, lulus kuliah. Tak peduli sehabis kuliah mau ngapain. Pokoknya, selesai kuliah dulu lah. Kalau ternyata jawaban yang diberikan adalah “Belum”, maka tidak akan berlanjut ke pertanyaan berikutnya seperti, “Apami mukerja?”

Namun, beberapa teman lainnya di kampung juga masih ada yang belum menyelesaikan kuliahnya. Saling bertukar cerita, mereka pun ternyata orang-orang yang punya kegiatan lain di luar sekadar ngampus saja.

“Masa bodoh kalau orang mau bilang apa. Yang penting kuliah ki bukan sekadar kuliah saja. Ada beberapa prioritas lain, kan? Yang ternyata akan sangat menjanjikan selepas kuliah ta nanti,” kata salah seorang teman.

Benar. Bagaimana pun, sulit mengubah paradigma yang berkembang di masyarakat. Yang kita lakukan cukup dengan berlalu saja, sebagaimana “Anjing menggonggong, kafilah berlalu”. Tak perlu mempedulikan desas-desus yang berkembang di tengah masyarakat. Pada akhirnya, yang dibutuhkan adalah dengan membuktikan bahwa kita pun mampu sukses, dalam taraf pengertian yang lebih baik. Dan bukan dalam kungkungan paraadigma di tengah masyarakat yang sudah kuat mengakar.

Setiap orang punya cita-cita, target, impian, yang digantungkannya tinggi-tinggi. (Sumber: google.com)

Hm…sukses ya? Sukses dalam definisi kepala setiap orang itu berbeda-beda. Apalagi dengan kepala yang sudah menyimpan puluhan, ratusan, bahkan ribuan impian yang siap dicapai.

“Wee…sukses mi tawwa saya lihat inie,” beberapa teman punya komentar yang beragam.

Seperti biasalah, bertemu dengan teman-teman menuntut kita untuk bercerita banyak hal, termasuk perbandingan-perbandingan yang dianggap kesuksesan itu.

Sukses apanya ya? Dari sisi studi? Belum layak.  Dari sisi proporsi tubuh? Sangat belum menampakkan hasilnya. Karena, mitosnya, orang-orang yang sejahtera itu bisa dilihat dari kurus-gemuknya badan. Semakin gemuk, katanya sih semakin sejahtera. Apalagi kalau yang gemuk itu adalah badan bagian depan, alias perut. Hahaha…tapi, jangan percaya sepenuhnya. -_-“ Saya justru tidak pernah bisa menggemukkan badan, meski berusaha makan sebanyak apapun.

Lantas, dari sisi pekerjaan? Hm...saya malah ragu, orang-orang di kampung mengerti tentang ruang lingkup pekerjaan sebagai jurnalis. Dari sisi gaji atau penghasilan? Nah, sebagian besar orang di kampung pada kenyataannya masih mengukur kesuksesan dari materi yang didapatkan (bahkan dipamerkan, biasanya dengan rumah mewah). Tak heran, pekerjaan polisi, tentara, dokter, atau PNS masih menempati posisi pertama dalam Hall of Fame sebagai profesi terbaik (orang di kampung). Jangan heran loh ya kalau berprofesi pada peringkat itu, maka untuk melamar anak gadis seseorang itu amat sangatlah mudah.

“Makanya saya mau cari perempuan yang orang Jawa,” tutur seorang teman saya, Taufik. Satu orang ini yang menjadi partner kekonyolan anjangsana selama lebaran.

“Benar juga sih. Bagus itu, tidak perlu panai' tinggi, apalagi titel borjuis,” saya membenarkan ucapannya.

“Iya, seperti kakakku. Menikah ki dengan orang Jawa. Acaranya sederhana sekali ji. Kayak cuma menikah ji di rumah,”

“Kayaknya panai’nya juga ndak tinggi ji deh,” lanjut saya lagi. Hahahaha… 

Setahu saya, turun-temurun, gadis Jawa itu memang terkenal dengan keramahan sekaligus sikap penerimaannya. Kalau kata keluarga saya, nrimo. Apapun pekerjaan suami, mereka rela menemaninya. Duh, romantisnya. Memang sih, seharusnya istri itu lah yang menjadi pemicu kesuksesan suami. Ada kan pepatah yang bilang, “Di balik laki-laki yang sukses, ada perempuan yang selalu berperan.” Jadi, perempuan tidak sekadar menikmati kesuksesan dini seorang laki-laki.

Saya menyukai lirik lagu dari Wali – Yang Penting Halal, tepat pada bagian seorang perempuan yang menyanyikannya,

“Walaupun abang tak punya uang, diriku akan tetap sayang. Yang penting abang selamat di jalan, itu cukup untukku, Sayang.”

Sebagaimana perumpamaan demikian, sukses itu punya pengertian yang relatif. Secara mendasar, sukses berarti mendapatkan apa yang kita inginkan. Sementara setiap orang punya keinginan yang berbeda-beda, kan? Jadi, tak usah mengukur sepatu sendiri di kaki orang lain deh. Cukup gapai saja apa yang diimpikan, diinginkan. Dan merasa bahagialah atas apa yang dicapai dan dimiliki itu. Melihat ke atas, kepada orang lain, cukup dijadikan modal melaju untuk berbuat lebih baik. Untuk bersyukur, kita perlu melihat ke bawah.

Beda kepala, beda keinginan, beda target, beda impian, beda pula kesuksesan yang ingin diraih. Kali saja, ketika saya yang ingin menyukseskan diri dengan mengelilingi dan menjelajahi banyak tempat, teman saya justru sibuk menyukseskan diri dengan mengumpulkan banyak uang. Ingat loh ya, tak semuanya bisa diukur dengan uang, meskipun uang juga sangat dibutuhkan. Atau sukses bisa juga berarti teman-teman saya yang sibuk jadi tim sukses, akhirnya sukses menyukseskan orang lain.

Akan tetapi, seperti kata teman saya, tak usah mempedulikan “desas-desus” orang di kampung. Jalani saja sesuatu yang paling baik demi mencapai impian dan target yang dipatok. Kalau bisa, setinggi-tingginya. Toh, pada akhirnya, orang-orang hanya ingin melihat hasilnya saja.

"Kalau kau mau hidup untuk cari nama di hadapan orang-orang, maka kau tak perlu jadi 'orang',"

Nah, di momen “pulang kampung” lebaran ini, ketika bertemu dengan teman-teman lama itulah, secara tak langsung kita membuat pemeringkatan acak atas kesuksesan-kesuksesan di dalam kepala. Perbandingan-perbandingan dilakukan. Secara tak langsung, ada persaingan yang kemudian tercipta. Meski berkelakar, perbandingan itu terus mengakar dan membuat kita banyak berpikir,

“Sudah sejauh mana saya mencapai kesuksesan sendiri?” 


--Imam Rahmanto--
Brrr….

Brrr…dinginnya minta ampun. Pernah mencoba mencelupkan tangan di air berisi bongkahan es pagi-pagi? Nah, begitu “rasa” air di kampung ini, “rumah” saya pulang melepas kerinduan. Brr…saking dinginnya, saya tak bisa tidur tanpa selubung yang menghangatkan badan. Minimal ya sarung atau selimut. Brrr…

Begini saja perbandingan suhunya. Cappuccino panas yang saya seduh di pagi hari, di rumah, hanya butuh waktu 3-4 menit untuk menghangat hingga menjadi suhu normal. Sementara kalau di Makassar, cappuccino panas bisa bertahan temperaturnya 7-10 menit lamanya. Makanya, menyeruput Cappie di rumah rasanya tak cukup jika hanya segelas. Tapi, kenikmatannya sungguh terasa loh. Apalagi berhadapan dengan udara pagi yang dinginnya..brrrr...membuat badan menggigil. Hahaha…. Apasih? Ini kok jadi kagak nyambung ya analoginya? -_-

Ini penampakan pegunungan ketika melakukan perjalanan ke Enrekang "Duri". Kalau punya waktu, berliburlah
ke kampung yang telah membesarkan saya. (Sumber: detik.com)

“Jadi, kita’ asli Enrekang ya?” tanya seorang teman lewat pesan singkatnya.

“Jadi, lebarannya di Makassar atau Surabaya, Mam?” pesan yang lain menyusul dari orang yang berbeda.

Akh, terkadang saya sendiri bingung mau menyebut saya aslinya berasal dari mana. Karena kenyataannya, kedua orang tua saya adalah orang Jawa tulen. Bahkan, semua anak famili ada di Jawa. Sementara, saya lahir dan dibesarkan di lingkungan orang-orang “Duri” di pegunungan Kabupaten Enrekang.

Jadi, kampung halaman saya ada dimana? Hm…entahlah. Bagi saya, kampung halaman bukan soal dimana kita pertama kali dilahirkan ke bumi. Bukan pula soal darimana orang tua kita berasal. Melainkan, kampung halaman adalah tempat dimana kita bisa melepas kerinduan dengan kedua orang tua hingga sanak famili.

Sejujurnya, di Jawa pun saya tak banyak mengenal sanak keluarga. Bapak dan ibu yang merantau hingga tempat kami bernaung sekarang, agak sulit untuk menjadwalkan “pulang kampung” setiap tahun. Biasalah, masalah finansial. Hingga kini, saya bahkan bisa menghitung jari berapa kali kami mengunjungi kerabat di Jawa. Terakhir kali, ketika saya menginjak tahun ketiga kuliah di Makassar. Gara-gara itu, saya menargetkan kelak akan mengunjungi kakek dan nenek di Jawa dengan modal sendiri, pengalaman sendiri, nge-backpacking ria. Seru sih nampaknya..

Brr…pagi-pagi mengetik postingan begini, jari-jari tangan rasanya tak mau bersahabat. Pagi hari, udara masih dingin. Udara biasanya baru mulai menghangat di atas jam 10-an.

Saya sendiri bingung mau mengepos tulisan ini kapan dan bagaimana. Perkaranya, untuk memperoleh jaringan internet di daerah perkampungan begini cukup sulit dan agak mahal. Saban hari saya hanya bisa memanfaatkan akses internet untuk Blackberry Messenger a.k.a BBM. Bayangkan saja, kuota 10-20 MB kalau dimanfaatkan untuk mengakses browser akan ludes dalam jangka……. tak-cukup-sejam! Kalau sudah habis, tanpa disadari, ikut raib pula pulsa yang tersisa. Itu hanya untuk penggunaan mobile saja ya. Saya agak ngeri kalau mau menghitung penggunaan internet lewat komputer atau notebook. #Cari modem. Modem, mana modem??!!

Kalau sudah di kampung begini, saya jadi ingat masa-masa sekolah dulu. Masa SD, SMP, SMA, bahkan hingga taman kanak-kanaknya. Kata teman, selagi di kampung, ya dimanfaatkan saja untuk reunian. Jarang-jarang loh ya bisa pulang kampung. Pekerjaan dan kuliah di Makassar begitu menyibukkan. Betapa rutinitas mampu mengambil alih ingatan (dan hati). Obat bius paling mujarab bagi orang yang ingin menghapus ingatan. Sampai-sampai kita tak ingat lagi kapan harus berkirim kabar ke kampung halaman.

Ada banyak tempat yang bisa di-nostalgia-kan. Teman lama. Sahabat lama. Geng lama. Sekolah lama. Warung-warung lama. Bukit-bukit usang dengan pepohonan yang masih sama. Pun, udaranya tak banyak berubah. Kisah lama. Otomatis, semua berlabel “DULU”.

Oh iya, karena pulang kampung jadi trending, maka ramai-ramailah orang di media sosial pasang/ ganti/ update/ upload segala hal yang berbau kampung halaman. Tak perlu heran, biar kesulitan memperoleh sinyal, banyak pula teman-teman saya di jejaring sosial yang ramai-ramai “tanding-status” ataupun “tanding-foto” demi menampakkan bahwa, “Saya sedang bersenang-senang di kampung halaman.” Hahaha…as tradition…

Pun, saya ingin memanfaatkan momen lebaran dan liburan ini untuk mengunjungi the old puzzles in my lifes. Kalau kata teman sih, merasakan “romantisme kampung halaman”.

Kalau yang dimaksud dengan romantismenya itu adalah sehubungan asmara anak-anak ABG dulu, saya perlu mengibarkan bendera putih deh. -_-. Haha...saya tak punya rekam jejak atas hal demikian. Namun, saya menganggap romantisme itu hanya sekadar tolok ukur kedekatan dan kekeluargaan di kampung halaman saja. It’s right!

Seperti saya katakan, ingin merasakan udaranya. Menginjak tanahnya, tempat saya dulu berpijak dan berlarian. Bangunannya, tempat saya biasa melewatkan pandangan. Jalan-jalan beraspalnya, yang masih saja sama lebarnya. Hangatnya persahabatan dan kekonyolan yang dilakukan dengan teman-teman. Biasalah, anak-anak ABG di kampung tidak se”dewasa” ABG di perkotaan. Pasarnya juga, yang sudah banyak mengalami renovasi disana-sini.

Apalagi, kata Pak Bupati kemarin, pasar sentral terbesar di Kebupaten Enrekang ini akan memperoleh gelontoran dana belasan miliar. FYI, Pak bupati yang belum genap tiga bulan menjabat adalah orang asli kampung disini. Bahkan, rumahnya (yang paling besar) tak jauh dari rumah kami. hanya terpaut belasan meter. Eh, eh, anak laki-lakinya juga adalah teman sekelas saya waktu SD dulu. Entah bagaimana kabarnya sekarang.

Selagi di kampung, beruntung, seorang teman dengan senang hati rela ikut-ikutan “menjadi muda” dengan saya. Teman saya satu ini, seperti yang saya duga dari perkembangannya lewat media sosial, aktif dengan kampanye politik sebagai seorang tim sukses. Ckck… Hari-hari setelah lebaran, kami lalui dengan berkunjung kesana-kemari. Mencoba memilah, kisah-kisah mana saja yang pantas untuk dikunjungi satu per satu. Sembari menertawakan kekonyolan-keonyolan masa labil dulu. Tak lupa, tentu saja, dengan membangun dan membagi impian lewat cerita-cerita yang dipertemukan di kampung ini.

“Eh, kayak jadi anak ABG ki lagi? Yang kerjanya habis lebaran pergi mang siara (anjangsana) kemana-mana. Icip-icip sajian lebaran,”

“Hahaha…maumi diapa,”

Rasa-rasanya, ketika menginjak kampung halaman, semua ingatan kembali disentak menuju masa silam. Semua hal pasti dihubungkan dengan kepingan masa silam. Apapun yang ditemui, se-sepele apapun, nampaknya selalu memiliki benang merah untuk menyeberang ke masa lalu. Time Warp. Pernah mengalaminya, bukan? Seperti halnya ketika kita hanya melewati sebuah bangunan, jalan, atau menyaksikan pohon, lantas pikiran akan berlomba-lomba mencari ingatan akan hal itu. Sama pula halnya ketika kita hanya mendengarkan sebuah lagu, dan lagu itu terasa spesial karena memiliki kaitan erat dengan masa-masa silam.

Selagi di kampung, nikmati saja sebanyak apa nostalgia yang dibutuhkan… 

Bukannya setiap orang butuh bahan bakar untuk merancang masa depannya ya? Butuh melihat ke belakang untuk menyeberang ke depan. Layaknya pegas yang harus ditarik dulu ke belakang, agar bisa memental jauh ke depan. Pun, untuk melompat jauh ke depan, para atlet juga butuh ancang-ancang dengan mundur beberapa langkah.

“Biar mi lama-lama di kampung. Kapan lagi ki bede bisa makan banyak daging, kalau bukan lebaran? Kapan lagi ki bisa ketemu teman-teman ta dulu, kalau bukan liburan begini? Nikmati mi saja.”


Ps: Untuk sementara, kita abaikan “algoritma” pertanyaan pamungkas setiap kali menginjak kampung, seperti, “Sudah selesai kuliahnya?” Erghh… -_-“


--Imam Rahmanto-- 
Older Posts

Subscribe Us

About


Imam Rahmanto

Selamat berkunjung di rumah sederhana saya. Tempat saya bisa pulang dengan cara paling menenangkan.



@cappuccino_time
Created By SoraTemplates | Distributed by GooyaabiTemplates