Pejuang Kopi yang Berpulang
[In Memoriam]
![]() |
| Rahim dan pengawalannya~ |
Belakangan ini, kabar duka selalu datang tak terduga.
Dua hari lalu, seorang kawan mengirimkan video detik-detik kecelakaan mobil yang bikin bulu kuduk merinding.
Sebenarnya, kabar itu terkirim subuh. Namun, saya baru membuka ponsel dua jam berikutnya, usai membersamai anak saya, Arunika, yang baru pulang dari Rumah Sakit.
Benar, kabar duka selalu datang tak terduga.
Lewat kiriman itu, ucapan belasungkawa meluncur.
Korban di dalam tragedi itu ternyata adalah kawan kami, Rahim, yang hampir setiap malam kami nongkrong di kafenya, yang setiap nongkrong memberikan eksperimen-eksperimen minuman baru, yang setiap kami mencoba minumannya akan ditertawakan karena lidah kami masih asing dengan rasa, hingga dia pula yang sukarela membersamai petualangan kami ke Puncak Rante Mario.
Akh.
Lidah saya tercekat. Pikiran saya bertaut. Ingatan kembali ke masa-masa bertugas di Kabupaten Enrekang. Daerah ini sudah terlalu dekat di urat nadi dan begitu lekat. Sungguh familiar rasanya kabar-kabar yang tiba dari daerah pegunungan tersebut.
_Orang-orang pergi, entah kapan kembali
Kepergian Rahim membuat saya kembali membuka tulisan-tulisan lama terkubur di blog pribadi. Bagaimanapun, kisah saya di tanah Massenrempulu itu tidak lepas dari sosoknya.
Kafenya masih di pinggir jalan saat saya pertama kali bertemu. Namanya orang baru dan tak punya teman, saya sering "mengungsi" ke kafe Rahim. Masih sepi, karena di zamannya, 2017, belum banyak kafe seperti sekarang. Kedai kopi masih bisa dihitung jari. Apalagi, orang-orang jarang nongkrong di kedai kopi di daerah perkampungan seperti ini.
Meski begitu, Rahim tetap tak gentar menjalankan usaha kopi di tengah sunyi. Ia rutin memperkenalkan Arabika kepada siapa pun, bahkan, kepada saya yang baru dikenalnya.
Kabupaten Enrekang kaya akan kopi Arabika, tidak kalah dengan tetangganya, Toraja. Pun, dari segi kualitasnya. Akan tetapi, selalu kopi Toraja yang unggul pamor di tingkat nasional hingga mancanegara. Hal ini yang selalu menjadi akar kegelisahan Rahim mengenai kopi.
"Rahim yang mencintai kopi seperti istrinya sendiri. Saya selalu menjumpa mata yang selalu berbinar. Seperti kopi, warnanya hitam dan sederhana, tetapi diburu sebagai minuman strata tinggi." --tulisan saya, 2017
Bisa dibilang, Rahim juga begitu gigih memperjuangkan para petani kopi dari Enrekang. Sudah tak terhitung berapa kali dia naik-turun gunung sekadar mencari kualitas kopi terbaik arabika. Hampir semua petani kopi mengenalnya. Salah satu petani kopi dari Nating, pinggiran Enrekang, juga sering menginap di tempatnya. Saya mengenal petani ini sama gigihnya dalam mendobrak keterbatasan.
Yah, bicara tentangnya memang tak bisa jauh-jauh dari kopi. Biji hitam ini sudah menjadi separuh napasnya. Sepertinya, jejak namanya pun terukir dalam sejarah Arabika Kalosi Enrekang.
"Kopi itu digiling, bukan digunting,"
Rahim yang "meracuni" quotes itu kepada saya, yang akhirnya abadi dalam setiap perbincangan-perbincangan kopi saya kepada teman.
Gara-gara itu pula, di masa itu, saya mogok minum kopi sasetan. Saya beralih mulai belajar minum kopi yang lebih "afdhol". Melengkapi alat-alatnya sendiri di rumah. Kalau sekarang nongkrong di kedai kopi, V60 atau Japanese sudah rasa-rasa seperti air minum saja buat saya. Hahaha...
***
"Kekuatan paling dahsyat yang dimiliki kematian bukanlah karena kematian bisa membuat seseorang mati, melainkan karena itu bisa membuat orang-orang yang ditinggalkan ingin berhenti hidup." (Fredrik Backman, My Grandmother Asked Me to Tell You She's Sorry)
Duka selalu menyimpan luka.
Kepergian Rahim tentu menyisakan luka bagi orang-orang tersayangnya.
Beberapa hari di linimasa, saya melihat betapa banyak doa dan "kasih sayang" yang dikirimkan oleh teman-teman maupun rekan kerjanya. Betapa banyak duka atas kepergiannya.
Dalam kepala saya, akan selalu terbayang mata Rahim yang berbinar dan tertawa lepas di antara kepulan asap-asap seduhan kopi.
Saya akan mengenangnya sebagai pejuang kopi dari Bumi Massenrempulu.
Dan selamat jalan, "guru perkopian" saya.
Tabik.
--Imam Rahmanto--
.jpg)
0 Comments