Bau Surga, Kata Saya

Juni 11, 2020

Baca Juga

Suatu siang yang cerah, saya tanpa sengaja mendapati sebuah lapak kecil di area SPBU. Meski mata saya agak rabun, saya tahu ruang kecil itu penuh dengan buku. Luasnya tak sampai 2x2 meter. Namun tetap saja menggerakkan saya untuk berhenti sebentar sebelum melanjutkan ke selang-selang pengisian bahan bakar.

"Toko ini sudah lama ya, bang?"

Saya bertanya pada seorang pemuda yang menunggui lapak itu di antara buku-buku dengan lembaran yang kian menguning. Saban hari, sejak bertugas di Cibinong, saya melintasi jalan di seberang SPBU Sukahati ini. Tak pernah rasanya melihat toko buku dari pinggir jalan.

"Iya, bang. Cuma memang kemaren-kemaren lagi tutup selama PSBB. Ini juga baru buka," jawab lelaki itu, yang sebenarnya hanya menjagai lapak.

Kata bapaknya, namanya ya Toko Buku Lawas. (Imam Rahmanto)

Mata saya memelototi setengah buku yang ada. Tangan saya menjelajah dari tumpukan satu ke rak lainnya. Judul-judul buku lawas membawa ingatan saya ke masa kecil. Novel stensilan, novel populer, majalah terbitan dulu, buku pelajaran, komik Paman Gober, Naruto, Shonen Jump, hingga poster pahlawan. Sungguh, endorfin saya naik drastis.

Selama enam bulan menjejakkan kaki di Kota Hujan, saya belum pernah berjumpa toko buku selain di mal. Padahal, saya menyangka kota dengan kampus tertua ini seharusnya masih menyisakan toko-toko buku legendaris.

Dua hari berikutnya, saya kembali mampir di lapak buku itu. Saya punya banyak waktu menikmati sore karena bahan liputan sudah rampung. Kenapa tidak, main sebentar ke toko buku lawas itu.

Ternyata, saya berjumpa dengan pemilik toko buku yang sebenarnya, Edi Linarto. Seorang lelaki paruh baya, 41 tahun, yang menyandang tiga gelar sarjana sekaligus. Komputer, Agama, dan Hukum. Saya tahu, karena sempat berbincang lama dengannya di depan toko buku itu. Latar belakang pendidikan dan kehidupannya sudah cukup mengukuhkan, kenapa toko buku kecil itu tetap berdiri di tengah zaman serba digital ini, nyaris enam tahun lamanya.

"Ya, mau gimana lagi ya. Namanya hobi, tidak boleh dimatikan," ucapnya.

"Selain itu, saya juga bisa dapat berkahnya dari sini. Kalau ada yang datang lihat-lihat saja, mau sambil baca-baca, silakan. Secara tidak langsung kan saya dapat berkahnya," tambahnya lagi.

Saya menghabiskan satu gelas Iced Cappuccino instan dalam perkenalan dengan lelaki asli Yogya itu. Kebetulan, ia juga mengelola kedai kopi-kopi saset di sebelah toko buku kecil itu. Kedai kopi itu pula yang "meniupkan" sedikit tambahan kehidupan keluarganya di tengah terpuruknya pamor buku-buku saat ini.

Bukunya. (Imam R)
Kungfu Boy, Dragon Ball, Naruto dkk juga ada. (Imam Rahmanto)

Meski begitu, saya takkan pernah menganggap buku hanya kumpulan kertas semata. Tulisan-tulisannya bisa digantikan dengan layar sentuh di ujung jemari. Sejatinya, berjumpa dengan buku selalu menerbitkan rasa menyenangkan dalam hati. Mau ia lawas, aroma pabrik, tipis, tebal, isinya lelucon, hingga yang bernuansa filsafat.

Bagi saya, buku selalu menyimpan misteri-misteri tak kasat mata. Oleh karena itu, barangkali, hanya orang-orang terpilih tertentu saja yang bisa terikat dengan buku. Apalagi di zaman serba digital seperti ini. Buku seolah menjadi barang "antik" yang kehilangan peminat. Ruhnya melanglang buana tak terjangkau manusia yang tersedot oleh dunia maya.

Orang-orang seperti Pak Edi, yang masih betah berjualan buku, sebenar-benarnya pahlawan zaman sekarang. Toh, siapa lagi yang mau susah-susah membeli buku di tengah zaman yang menawarkan kemudahan dan kemurahan versi digital?

Sedangkan kami, anak-anak yang tumbuh dengan bacaan majalah Bobo, beranjak remaja dengan tabloid Gaul dan Aneka Yess, melahap cerpen-cerpen dari Horison, hingga masa dewasanya mengoleksi novel, selalu rindu dengan atmosfer toko-toko buku.

Saya teringat dengan salah seorang tokoh, Debut, dalam novel Orang-orang Biasa-nya Andrea Hirata. Ia menamai toko bukunya dengan "Heroik". Karena baginya,

“Berjualan buku di negeri yang penduduknya tidak suka membaca adalah tindakan heroik." (Hal.37)

***

Saya pernah ingin "melelang" semua koleksi buku di Makassar, beberapa waktu sebelum ke Bogor. Namun, saya urungkan.

"Kalau buku, mending tidak usah (kamu jual), nak. Buku itu akan besar sekali nilainya. Mending kamu jual barang yang lain saja," pesan Bunda Roroh, kala saya menikmati hari terakhir menginap di rumahnya.

Karena itu, saya akan tetap mencintai buku-buku, dalam hidup yang sederhana atau bergelimang harta. Seusang apapun lembarannya, biarkan kelak anak-anak saya menemukannya sebagai "harta karun". []


--Imam Rahmanto--

You Might Also Like

3 comments