Ilalang Senja

April 15, 2017

Baca Juga


Di kampung kami, ada banyak lekuk gunung yang bisa kamu temui. Asalkan sanggup berjalan kaki minimal satu kilometer, pandanganmu bakal menyapu gunung. Kalau beruntung, bisa bertemu senja yang menelusup di balik pertemuan lereng. Jika belum beruntung, tak usah gundah. Tak perlu buru-buru. Karena begitu cara kami memperpanjang perjumpaan, demi mengalamatkan rindu.

Beberapa minggu belakangan, orang-orang baru sadar tentang keindahan Bumi Massenrempulu. Sementara belasan tahun silam saat kami masih suka berjemur di batu-batuan sungai, memanjat bukit savana, bergelantungan di dahan pohon kering, tak ada yang mau sekadar mengabadikannya lewat sentuhan kamera. Mereka hanya asal lewat mensejajari riwayat masa tua Tana Toraja. Padahal, perbatasan kabupaten itu selalu jadi lalu-lalang kami di masa SMA demi sepenggal nilai agama.

Kami baru menyadari, berbagai tem(u)an masa silam itu punya kenangan yang luar biasa indahnya. Seumpama puzzle, berwarna, disusun, cocok, ternyata bisa menjadi kenangan baru bagi orang baru. Keindahan memang menjadi bahan baku parsial agar ingatan lekang di otak kanan. Sisanya, tentu kesenangan. Dan, kampung kami punya segala keindahan yang dibutuhkan. Sedikit dibumbui senyummu, pasti lebih manis.

Ehem... 

...kecuali jika kamu meminta laut, ombak, dan senja dari garis pantai. Kami terpaksa harus mengangkat bendera putih. 

Kata leluhur kami, Dewa pernah mengutuk Bumi Massenrempulu hanya karena perkawinan terlarang garis darah Kaum Langit. Air laut dihempas beratus-ratus kilometer jauhnya karena dipasrahi patahan Gunung Bambapuang. Yah, patahan Bambapuang! Cobalah tengok, patahan gunung itu membentang sepanjang utara Gunung Bambapuang. Di Torajalah puncak patahan itu berujung. Kalau kamu punya kenalan peneliti dan pakar Arkeologi, Geologi, Ekologi, Edafologi, atau Antropologi kelas kakap, cobalah ajak untuk membuktikan kebenaran itu. Kami pun di zaman ini masih dibuat penasaran dan telanjur bangga.   

Tetapi, tunggu dulu...

Kami tidak ingin pasrah jika kamu mencari laut. Marilah kami ajak menemui anak sungai, air terjun, danau, hingga menyibak senja di batas cakrawala. Jika kamu rela berpeluh mendaki, kami akan memperkenalkan laut dalam versi gumpalan awan dari langit Gunung Latimojong; salah satu The 7 Summits of Indonesia

Seandainya pemerintah kami berasal dari lulusan pariwisata, barangkali kami tak pernah lagi menandai Toraja sebagai perkampungan lelap para bule. Berganti tanda "rival" saja sebagai tetangga. Itu bakal lebih fair. Sayang (sungguh sayang), pemerintah kami lebih paham mengelola bisnis di garis pertanian. Sebut saja bawang merah dan cabe. Tak ada yang bisa menyangkal jika kampung kami menjadi tiang penyangga ekonomi nasional agar tak kebanjiran inflasi. 

Sungguh, kami berandai-andai kapan lekuk pegunungan yang damai itu bisa ramai hiruk-pikuk. Jam tidur masyarakat berganti lebih larut. Tebing-tebing di pinggir jalan ditanami rumah penduduk karena tak ingin lagi merantau ke Kalimantan. Turis-turis yang kecapekan mendaki jadi pemandangan lazim. Barangkali, satu-dua ambe atau indo juga sudah paham cara melafalkan "Yes" atau "No" secara proporsional. Kami tentu akan melupakan tahun-tahun kekurangajaran para bule yang keasikan menggowes sepeda di jalan poros hanya untuk memintas ke negeri tetangga.

Duh, alam Massenrempulu sudah nyaris menggerogoti separuh jiwa kami. Seumpama apel Putri Salju, kehidupan saya sudah diracuninya lebih dari setengah. Sejak belasan tahun silam. 

Darah saya sebenarnya malah masih milik kaum pedesaan pinggiran aliran Bengawan Solo. Sayangnya, telah lebih dulu diracuni aroma kopi arabika dengan senyawa padi, tomat, bawang merah, cokelat, kubis asal Bumi Massenrempulu. Benarlah jika saya disebut sebagai "penulis yang belajar mencintai tanah kelahirannya". Akh, hampir terbawa suasana, toh, pekerjaan saya sebenarnya jurnalis; mengabadikan momen dan kenangan.

Sudahlah. Datang saja. Kan kami jamu sedikit ruang kepalamu dengan sebukit kenangan.

Ceracau ini juga gara-gara perjalanan sore tersisa di bukit penuh ilalang...

(Foto: Imam Rahmanto)



--Imam Rahmanto--

You Might Also Like

0 comments