Lelaki dan Bunganya

Februari 14, 2017

Baca Juga

Seorang laki-laki baru saja menyerobot antrian saya. Terlihat salah tingkah, ia langsung saja menyerahkan barang belanjaannya pada kasir minimarket. Hanya berselang detik, sembari menahan senyum aneh, ia berdiri di belakang saya. Masih juga dengan salah tingkah.

"Ikat atau bagaimana bagusnya ya," pintanya langsung pada dua kasir perempuan di depan.

"Dimasukkan saja di dalam, sama cokelatnya?" jawab salah satunya, yang juga tak bisa menahan senyum.

"Yah, bagaimana bagusnya. Perempuan ji yang lebih mengerti itu," singkat laki-laki itu lagi. Meski masih agak malu-malu, ia sudah bisa sumringah.

Saya ikut tersenyum melihat tingkah laki-laki yang berperawakan seperti polisi itu. Barang keperluan saya juga masih dalam perhitungan kasir, saat salah satunya mulai merangkai sebatang cokelat Silv**queen itu. Cokelat dimasukkan saja dalam selubung (tabung) plastik yang membungkus setangkai mawar.

"Begini saja. Biar mereknya tertutupi kan?" ujarnya menggoda sambil mulai mengangsurkan harga barang itu.

Saat hendak beranjak dari parkiran, lelaki itu juga berpapasan dengan seorang temannya. Kedapatan membawa setangkai mawar, ia mendapat ledekan.

"Ciee....foto dulu, bilang kalau kau mau bawa bunga,"

Tak hirau. Laki-laki itu hanya membalas dengan tawa singkat. Ia melanjutkan memggeber motornya menjauh diantara titik gerimis yang tak pernah malu-malu.

Kota kami, Enrekang, memang sedang basah malam ini. Sudah hampir seminggu aroma-aroma petrichor selalu menguar di udara. Tiada hari tanpa suara gemerisik daun yang dijatuhi tetesan kecil. Meski belum meluapkan aliran sungai, intensitasnya sudah bisa membuat kami berpikir dua kali keluar rumah tanpa mengenakan sweater atau jaket.

Alam seolah berkonspirasi menciptakan suasana seromantis itu. Di antara batas-batas pegunungan, masih saja ada yang merayakan hari kasih sayang. Bunga dan cokelat jadi simbol utamanya.

Bunga yang dibeli malu-malu oleh lelaki itu ikut menampar saya. Tak ingin menampik, kasmaran memang selalu menumpulkan logika. Keberanian dan nekat terkadang tak bersekat. Perasaan selalu menggebu-gebu. Wajah selalu sumringah. Tak heran jikalau saya pun pernah menghadiahkan bunga, untuk pertama kalinya.

Foto seabad lalu ternyata masih ada. 
(Imam Rahmanto)

Tidak seperti hari ini, yang disebut-sebut sebagai hari kasih sayang. Saya membawa tiga tangkai mawar untuk hadiah ulang tahun perempuan itu.

Saya dipaksa menjelajah Makassar lewat Google. Mencari toko kembang yang masih buka jelang petang. Melipir dari sela-sela kesibukan menuntaskan deadline. Ujung-ujungnya, tiga bunga yang telah dirangkai apik itu hanya mampir sebentar di tangan saya. Lebih banyak tersimpan di dalam ransel dengan akhir pemberian yang teramat jauh dari kesan romantis dan tidak dramatis. Bagaimana lagi? Saya terlalu gengsi untuk jadi lelaki kasmaran apa adanya.

Betapa saya harus geleng-geleng kepala mengingat kepolosan itu. Saya tak ingin menyebutnya sebagai kebodohan. Justru dengan memutar satu kenangan (lucu) masa silam itu bisa memberikan hiburan yang melegakan di kepala. "Ternyata, saya juga pernah (nyaris) ala-ala film romantis."

Saya mengakui, banyak hal yang serba pertama terjadi saat benar-benar menyukai seorang perempuan. Hal yang sebelumnya tak pernah terbayangkan bakal saya lakukan. Hal-hal yang menurut orang waras tak perlu dilakukan. Hingga melakukan sesuatu yang bisa jadi memalukan.

Bagi orang kasmaran, segalanya memang selalu terlihat indah. Penglihatan normal sudah tak berlaku lagi. Tak peduli soal usia. Logika selalu terkubur jika sudah berbicara asmara. Uniknya, melakukan segala hal yang berkorelasi dengan orang terkasih justru memicu keberanian berlebihan. Bahkan sampai melahirkan pepatah: cinta bisa mengubah segalanya.

Tak ada salahnya kok mengikuti kata hati yang sedang berbunga-bunga. Nikmati saja. Toh, setiap orang akan merasakan hal yang sama di fase itu. Wanginya bisa semerbak sampai ke ubun-ubun.

"Bapak kamu tukang kebun ya?"

"Kok tahu?"

"Karena kamu sudah menumbuhkan bunga-bunga di hatiku."

(Imam Rahmanto)


--Imam Rahmanto--

You Might Also Like

2 comments

  1. "Saya membawa tiga tangkai mawar untuk hadiah ulang tahun perempuan itu" wuih seromantis itu kah dirimu sekarang?

    BalasHapus