Pulang ke Halaman

November 08, 2016

Baca Juga

Seperti biasa, pesawat mendarat sempurna. Guncangan dari dalam kabin menyadarkan beberapa penumpang yang tengah tertidur. Padahal perjalanan sejam tidak cukup untuk mengkhatamkan satu episode mimpi indah. Hanya saja, faktor nothing to do jadi pemicu utama kantuk secara otomatis.

Dewi, adik perempuan saya, berada tepat di kursi sebelah. Di sebelahnya juga kosong melompong sejak meninggalkan landasan di Bandara Sultan Hasanuddin. Tanpa pemilik. Jadinya, kami bisa mengobrol sesukanya meski hanya berbau bualan dan kabar terbaru (yang lama tak terdengar di telinga saya) dari kampung halaman.

Kampung halaman? Entahlah. Saya juga bingung mau menyebutnya apa.

Kata kamus, kampung halaman adalah tanah dimana kita pernah meneriakkan rasa sakit untuk pertama kalinya. Tentu saja, bersamaan dengan bahagia dan haru sang lelaki yang berujar, "Akhirnya aku jadi ayah."

Akan tetapi, bukankah kampung halaman juga menjadi tanah dimana kita pulang meluluskan segala tumpuk kerinduan kepada keluarga? Barangkali sekadar memeluk tawa bapak dan mamak di rumah. Atau menjahili adik yang sudah mulai bertumbuh sejak pertama kita meninggalkannya. Hingga meniti satu-satu bauran warna dinding rumah yang memudar karena dituakan waktu.

Saya dilahirkan di pelosok pegunungan Kabupaten Enrekang. Sekali waktu, jika punya kesempatan berkunjunglah kesana. Kamu akan menemukan ratusan kelokan jadi pemanis bagi lembah dan pegunungan di sisi jalan. Besar dan bersekolah disana. Meramu kenangan dari santapan hasil bumi Tanah Massenrempulu. Bisa dibilang, dalam darah saya sudah mengalir berbagai jenis santapan dari hasil agronya yang melimpah. Saya sudah hafal betul kelak-keloknya jika ingin pulang dari kesibukan menata hidup di Makassar.

Sampai jumpa, kelak, dengan rindu yang menggunung. (Imam Rahmanto)

Sayangnya, itu dulu...

Bapak dan mamak telah menuntaskan kisahnya bersama tetangga-tetangga yang menyayanginya disana. Tiga hari lalu, bapak mencukupkan 27 tahun perantauannya di tanah Sulawesi. Itu hanya berselisih dua tahun dari usia putra sulungnya. Berselisih 9 tahun dari putri bungsunya. Keduanya pulang menyemai rindu di kampung halaman kepada keluaraga dan sanak saudara yang telah lama menanti. Tentu saja, dengan hadiah kedua anaknya yang kian memasuki usia dewasa.

"Anakmu sudah besar begini, dulu masih kecil sekali," sambutan para tetangga tak berhenti menyambangi rumah. Apalagi kabar tentang bapak yang pulang dengan kondisi penyakit paraplegia-nya telah menyebar ke seanterro desa.

"Lah, kok yang ini pinter bahasa Jawa?"

Nyaris seumur hidup tak pernah merasai keramahan penduduk desa, tak membuat saya lupa dengan bahasa Ibu. Toh, di rumah, bapak dan mamak selalu menodong dengan bahasa keluarganya. Meskipun masih kagok. Berbeda dengan adik saya, yang hanya paham secara pasif.

Dengan begitu, tempat saya menyemai rindu pun berganti. Sebutan kampung halaman juga akan bergeser bagi saya. Tak lagi ke pelukan tanah kelahiran, melainkan berlabuh ke pelukan keluarga yang sebenanrya. Dimana lagi muara rindu anak perantauan jika tak pada keluarga?

"Syukurlah, Cung. Bapakmu sudah pulang disini. Tak kemana-mana lagi. Rumahnya ya disini. Lha wong, semua keluarganya disini. Kalau ada apa-apa kan, tidak susah," ungkap simbah. Selain itu, kelak, saya masih harus belajar menghafal setiap nama dan raut wajah yang menjadi silsilah keluarga besar kami.

Bagi saya, menilas kampung halaman sebenarnya hal yang membingungkan. Tidak sesimpel mengikuti tafsiran kamus berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Tak sekadar menuntaskan rindu pada keluarga.

Lahir dari rahim keluarga bergaris Jawa, sementara alam bersekongkol mengajarkan saya segala adat dan perilaku masyarakat Duri (sebutan kesatuan suku di Enrekang, bukan Bugis ataupun Toraja). Saya memahami dua bahasa, namun tak berdialek (logat) membahasakan keduanya.

Jika ada yang bertanya tentang asal daerah, saya akan menyebut dua tempat itu dengan penjelasan sedetailnya. Saya takkan pernah lepas dari bayang-bayang tempat lahir. Kami, sekeluarga juga punya ladang kenangan disana. Bahkan, kelak, bisa saja tanpa segan menyebut rindu sebagai hal yang pantas dituntaskan dengan temu. Itu karena di sekeliling kami, ada banyak orang baik. Tak pantas rasanya jika saya tak mengirim ucapan terima kasih atas seluruh keakraban seumur hidup itu.

Jika ada yang bertanya padaku, kemanakah akan pulang? Aku hanya perlu menjawab, kemana saja rindu memenangi hatiku.

Terima kasih, yang tak terkira. Yakinlah, saya akan selalu rindu..


--Imam Rahmanto--

You Might Also Like

0 comments