23# Berdiam Diri

Juli 10, 2015

Baca Juga

Ramadhan#23 |

Semalam, saya sempat menyendiri di masjid yang lampunya mulai redup dalam keremangan. Apa pasal? Saya terpaksa shalat di masjid yang masih dibiarkan terbuka lewat tengah malam itu lantaran sekretariat (redaksi) kami kehilangan kuncinya. Tak bisa masuk rumah. Sejam lebih hanya menunggu di luar rumah. Sementara saya belum menunaikan salah satu shalat fardhu.

Di saat menghadap ke haribaan, saya dilemparkan kembali ke masa silam. Di masa saya masih remaja dan sedang hangat-hangatnya menikmati Ramadhan beserta keistimewaannya.

"Saya pernah shalat lewat tengah malam seperti ini, diimami oleh seorang ustadz. Merasai udara lewat sepertiga malam di sepuluh hari terakhir Ramadhan," saya berujar dalam hati. Saya benar-benar tidak mampu menahan perasaan terlempar pada ingatan di sela sujud, mendaratkan kening di atas sajadah.

"Ayo kita coba yang namanya i'tikaf," ajak salah seorang teman yang sering menemani "bersaing" memperbanyak waktu tidur di masjid selepas Dhuhur.

"Kalau untuk kalian, tidak apa-apa 3 hari saja. Siapa tahu kalian beruntunh mendapatkan Lailatul Qadr di malam terakhir itu," pesan ustadz yang kini saya tak tahu dimana keberadaannya.

Meskipun sebenarnya, ia hanya menghibur kami dengan ajakan halusnya. Mungkin, ia yang saban tahun selalu menunaikan i'tikaf mencoba mencari teman. Mana ada anak remaja seperti kami yang sudah ketiban malam keberuntungan tetiba begitu? Kami hanya hendak belajar tentang agama.

"Boleh. Kita coba tinggal di masjid ya,"

Sekali itu merasai berdiam diri di masjid. Jarak rumah saya dan masjid  hanya sepelemparan batu. Akan tetapi, kami tidak boleh keluar dari lokasi masjid rentang 3 hari tersebut. Segala hal kami kerjakan di dalam masjid, bersama-sama. Makan, mandi, sahur, berbuka, dan semacamnya.

Kami banyak belajar darinya. Mulai dari hal remeh seperti adab menletakkan Alquran, tidur, duduk, buang air, hingga amalan-amalan fardhu lainnya. Bahkan untuk makan pun kami harus mengikuti sunnah. Akh, betapa berbedanya dewasa ini.

Setiap sepertiga malam, kantuk masih menggantung ketika ustadz membangunkan untuk shalat Tahajud. Apalagi menjadi makmum sujud yang nyaris menghabiskan waktu 15 menit lamanya. Kalau tak bertahan, bisa saja kami tertidur dalam keadaan bersujud. Lampu masjid yang nyaris gulita dan kesenyapan masjid semakin menambah khusuk ustadz kami dalam beribadah. Sementara kami lelah tiada terkira.

Saya takkan pernah lupa, secerah apa kami melewati pengalaman berdiam diri di masjid itu. Saya, seorang teman, dan ustadz yang saban hari memberi wejangannya buat kami. Terkadang saya selalu ingin berterima kasih padanya.

Betapa Tuhan tak lepas dari mengingatkan kita di bulan yang suci ini. Kita hanya mafhum, beberapa noda mulai menghalangi suara dari nurani. Kita paham, tapi kita menghindar. Seberapa bebal pikiran kita ingin selalu diempaskan pada ingatan masa silam?

Saya menyambar pintu masjid yang terbuka setengahnya. Menyisakan ruang kosong menganga diantara kesunyian malam. Masjid kembali senyap. Sembari berjalan, menyusun amalan yang sengaja terabaikan di kepala. Menyusun waktu yang hendak dilemparkan kembali.


--Imam Rahmanto--

You Might Also Like

0 comments