"Merasa" dari Kacamata Berbeda

Mei 27, 2014

Baca Juga

Judul Buku  : Antologi Rasa 339 mg
Penulis        : Ika Natassa
Penerbit      : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2011, Cetakan ke-9 (2013)
Tebal Buku : 344 halaman

Dua sampul Antologi Rasa, dalam edisi yang berbeda. (Sumber: google.com)

Antologi Rasa. Baru membaca judul bukunya, banyak orang yang akan menyangka bahwa buku satu ini seperti kebanyakan buku lainnya yang dilabeli dengan "antologi". Yah, semacam buku kumpulan (cerpen, puisi, esai, dan sebagainya). Saya pun sejujurnya pertama kali menatapnya di rak-rak toko buku menganggapnya demikian.

Di toko buku, saya paling identik dengan buku satu ini. Sampulnya yang putih polos, dan seolah-olah menunjukkan resep obat dokter (dosis dan peringatan), membuatnya lekat dalam ingatan saya. Tapi, dasar mahasiswa, saya hanya bisa lewat saja diantara sehimpitan buku lainnya yang menyalak-nyalak. "Hei, hei! Aku disini! Pilih aku! Lihat sampulku! Aku ditulis oleh penulis terkenal!" begitu hidupnya setiap buku dalam imajinasi saya.

Hingga tibalah ketika salah seorang teman saya "memamerkannya" di redaksi, membacanya. Saya merasa beruntung punya banyak teman yang gemar membaca. Mereka punya cukup banyak koleksi buku. Darinya, saya bisa leluasa meminjam tanpa perlu mendaftarkan diri layaknya di perpustakaan resmi. Darinya pula, saya bisa tahu apakah buku yang dibacanya itu "recommended" atau "no". Pokoknya, sebaik atau seburuk apapun teman yang kita miliki, teman dalah aset paling berharga.

Oke, singkirkan pikiran yang menganggap buku ini sebagai sekadar buku-kumpulan-entah -apalah. Karena, ternyata buku ini adalah novel tulen. Karena, baru membaca pembukanya....dan saya tersenyum-senyum sendiri. Saya menyukai buku ini!

"As we grow up, we learn that even one person that wasn't supposed to ever let us down, probably will. You'll have your heart broken and you'll break others' hearts. You'll fight with your best friends or maybe even fall in love them, and you'll cry because time is flying by.

So take lots of pictures, laugh a lot, forgive freely, and love like you've never been hurt. Life comes with no guarantees, no time outs, no second chances. You just have to life to the fullest, tell someone what they mean to you, speak out, dance in the pouring rain, hold someone's hand, comfort a friend in need, fall aslepp watching the sun come up, stay up late, and smile until your face hurts.

Don't be afraid to take chances or fall in love and most of all, LIVE IN THE MOMENT because every second you spend angry or upset is a second of happiness you can never get back."

Itu baru pembuka atau halaman ucapan terima kasih penulisnya, Ika Natassa. Akan tetapi, halaman itu pulalah yang kemudian mengajak saya untuk lebih menyelami keseluruhan isi novel. Setiap halaman dan babnya, membuat saya penasaran dan membawa saya untuk terus menyelesaikan isi novel.

Ceritanya sebenarnya hanya berputar pada kisah asmara orang-orang kosmopolitan. Benih-benih asmara yang tumbuh diantara keempat orang sahabat; Haris, Keara, Ruly, dan Denise, yang tak bermuara ujungnya. Haris, seorang player, yang sudah banyak menaklukkan wanita, memendam perasaan pada Keara. Hanya saja, Keara juga seorang player seperti halnya Haris justru tertambat hatinya pada Ruly, lelaki baik-baik yang tidak suka hidup hedon. Akan tetapi, Ruly malah memendam perasaannya juga pada Denise yang sudah bersuamikan orang lain. Beuhh, betapa tahannya mereka menantikan orang yang sama sekali tak menyadari keberadaannya.

Klise, sebenarnya. Namun Ika mampu mengubahnya menjadi cerita dengan alur menarik. Salah satunya, seperti yang ditawarkan dalam novel ini, ia menceritakan beberapa alur cerita melalui sudut pandang setiap tokoh. Dengan demikian, kita bisa melihat perangai-perangai yang tersirat dari gaya bertutur tokoh melalui sudut pandangnya. Seandainya kita menonton film, seolah-olah kita berpindah otomatis dari channel satu ke channel lain. Bagi saya, novel ini menawarkan konsep membangun konflik dengan cara berbeda. Semakin kita tahu cara berpikir masing-masing tokoh, melalui kacamatanya, semakin dalam kita akan dibuat tenggelam dalam setiap perasaan tokohnya. Saya sesekali dibuat greget oleh tokoh-tokoh yang memendam perasaannya.

Serius. Meskipun sebagian orang malah mengkategorikan novel ini sebagai teenlit, namun alurnya benar-benar sulit ditebak. Gara-gara penasaran, saya harus menyelesaikan secepatnya, yang ternyata bikin nyesek juga, ending-nya agak "menggantung". But, it's still ok. Karena ending-nya ternyata tidak bisa kita tebak pula sebagaimana novel picisan lainnya, yang selalu happily ever after. But this novel, truly "out of the comfort zone"! Kalau saja novel ini punya kelanjutan kisah, di novel berikutnya, saya mau the first recommendation deh untuk membacanya.

Shit. Gara-gara baca novel ini pula, saya jadi sering berbicara (sendiri) dengan Bahasa Inggris. Speak English, please! Bagaimana tidak, dari awal sampai akhir novel, kita banyak disuguhi percakapan tokohnya, yang memang golongan orang-orang "atas", dengan bahasa Internasional itu. Apalagi si tokoh utama, Keara, yang bisa digolongkan sebagai perempuan-perempuan sosialita "berkelas". Tapi, ternyata ia diam-diam kepincut juga dengan Ruly, sahabatnya yang pernah didapatinya shalat Subuh di ruang tamunya usai mengantarkan dirinya dan Haris pulang karena mabuk berat.


"All you'll know for sure is the more she makes you suffer, the more you find you love her."

So, saya sebenarnya tidak merekomendasikan novel ini bagi orang-orang yang tidak begitu paham dengan percakapan bahasa Inggris. Sebagaimana yang dikatakan teman saya, yang justru meminjamkan novelnya pada saya,

"Kalau ada bahasa Inggrisnya, dan panjang, saya langsung lompati saja," akunya. Saya jadi bingung, bagaimana caranya dia mengerti keseluruhan isi novel ini?

Dan, gara-gara novel ini pula, saya jadi kenal dengan salah satu penyanyi, John Mayer. Saya mencoba searching beberapa lagunya, dan ternyata keren juga. Coba yang Heart of Life. :) or one of them, just play below of my posting.

"Isn't there a period in your life where you feel that every song written in the universe is about you?"

Salah satu kelebihan novel ini juga menuliskan setiap judul babnya dengan bahasa latin. Saya jadi punya jadi perbendaharaan kata baru.

- Tempus fugit, non autem memoria - Time flies, but not memory

- Eram quod es, eris quod sum - I was what you are, you will be what I am

- Omnia causa fiunt - Everything happens for a reason

- Amare et sapere vix deo conceditur - Even a God finds it hard to love and be wise at the same time

Finally, saya benar-benar suka novel ini. Bahasanya ringan (dan biaya membacanya juga ringan #ehh). Di sela-sela padatnya tekanan deadline, ya membaca novel adalah salah satu hiburan bagi saya. Sebaik-baik tempat melarikan diri, "an escape way", adalah dengan membaca novel. Ada dunia lain disana yang tak pernah kita kunjungi di dunia nyata. Tidak menutup kemungkinan, dari membaca itu pula kita akan menemukan dunia baru yang hendak kita jelajahi. Bukankah sejak sekolah kita diajarkan bahwa buku adalah "window of world" - jendela dunia ya? #tuh kan, bahasa-bahasa saya sekarang agak-agak gaul Inggris gimana gitu. 


"What if in the person you love, you find a best friend of a lover?"

"...in the end, you gotta pick your happiness. Satu hal yang bukan cuma bisa bikin lo bahagia, dan kalau satu hal itu nggak ada, hal-hal lain yang ada di hidup lo nggak ada artinya."


--Imam Rahmanto--



You Might Also Like

2 comments