Lapang

Januari 13, 2014

Baca Juga

Pagi ini saya bangun pukul 6. Di luar sana masih gelap.Mungkin sisa-sisa hujan semalam.  Semalam, samar-samar saya mendengarkan gemericik hujan. Deras. Amat deras. Pantas saja jikalau saya terlelap begitu lama. 12 jam! Aduh! Saya lalai lagi menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim. Astaghfirullah!

Kemarin, saya bersama teman-teman pewarta kampus lainnya baru saja menyelesaikan laporan pertanggungjawaban yang digelar tiap triwulannya. Rapat yang merupakan evaluasi kinerja tiap tiga bulan. Rapat untuk perbaikan-perbaikan yang akan datang. Perbincangan sekaligus perdebatan alot yang menyita waktu hingga semalaman tanpa lelap. Secara kasarnya sih, momen untuk kena cerca dan marah. Haha..

Bagaimanapun juga, beberapa tahun mengalami hal serupa, saya belajar untuk legowo. Seburuk apapun hasil kerja yang menjadi penilaian bagi kinerja kami, saya cukup menganggapnya sebagai suatu pelajaran. Sakit hati? Ah, itu hanya akan menambah beban pikiran. Memperkeruh suasana hati. Cukup menghadapinya dengan anggukan dan senyuman (jika dibutuhkan). Just so simple. :)

Yah, adalah manusiawi ketika kita sakit hati. Menangis juga adalah hal manusiawi. Sekejam-kejamnya seorang manusia, ia juga masih mempunyai air mata yang siap menetes kapanpun ia bertemu dengan hal yang paling ditakutkannya.

“Jangan lihat. Saya malu dilihat menangis,” ujar salah seorang teman perempuan saya usai ia “dihakimi” dalam pertanggungjawabannya.

Saya hanya tertawa melihatnya. Sekilas, tetap memandanginya sampai ia kesal sendiri. “Saya cuma penasaran saja mau lihat kau menangis,” tutur saya selanjutnya. Haha…di tengah-tengah penghakiman kami, saya bersyukur masih bisa tertawa-tawa lepas seperti itu.

Meski usaha yang dilakukan telah maksimal, belum tentu akan membuahkan hasil yang maksimal pula. Terkadang, usaha kita tidak begitu dihargai. Namun, bukankah apa yang kita kerjakan untuk orang lain memang sudah seharusnya dinilai orang lain? Baik atau buruk penilaiannya, kita cukup menerimanya saja dengan lapang dada. Tak perlu merasa sakit hati.

***

Saya jadi ingat cerita tentang seorang pertapa bijak yang didatangi oleh orang yang kesal karena kehidupannya selalu dirundung masalah. Ia lantas bertanya, “Wahai pertapa yang bertuah pengalaman, tolonglah aku. Hidupku penuh dengan kemalangan. Saban hari saya selalu dirundung masalah.”

Pertapa itu balik bertanya, “Apa yang bisa dibantukan oleh diriku yang sudah renta ini wahai anak muda?”

“Mohon petunjukmu, apa yang bisa kulakukan untuk mengatasi setiap permasalahanku? Apa kau punya obat untuk membuatku lupa setiap masalah itu datang?” tanya pemuda asing itu lagi.

Pertapa itu hanya tersenyum. Ia lantas mengajak si pemuda ke sebuah danau yang terletak tak jauh dari rumahnya. Di tangan kirinya, ia menggenggam sejumput garam. Di tangan satunya lagi, ia membawa gelas berisi air. Dicampurkannya garam itu ke dalam gelas yang berisi air. Diaduk hingga larut.

“Sekarang, coba kau minum air ini,” pinta pertapa ke pemuda itu. Tanpa banyak tanya meskipun terhean-heran ia meminum air itu. Namun, baru beberapa teguk, ia memuntahkannya.

“Wahai pertapa, tidakkah kau tahu sendiri bahwa air yang kau berikan ini rasanya asin?” gerutu si pemuda.

Tanpa mempedulikan kekesalan si pemuda, pertapa itu kemudian mengambil garam dan mencampurkannya ke dalam air danau. Setelah mengaduk-aduknya sebentar, ia lantas menciduk airnya dengan gelas yang tadi. Diberikannya gelas berisi air danau itu kepada si pemuda.  “Nah, minumlah.”

Masih agak ragu-ragu, kemudian pemuda itu meminum air sampai tegukan terakhir.

“Bagaimana rasa air itu?” tanya pertapa.

“Biasa-biasa saja. Pastinya, air ini tidak asin seperti air yang pertama kali kau berikan wahai pertapa,” ujar pemuda itu jujur.

“Seperti itulah seharusnya kau memandangi hidup ini. Untuk semua permasalahanmua, tidak ada obat yang bisa menyembuhkannya. Bahkan jikalau ada obat untuk membuat kita lupa kepada segala pelik kehidupan kita, itu hanya berlangsung sementara. Kita harus mensyukuri diberikan ingatan yang bisa membuat kita belajar.

Seperti air tadi, adalah wadah hati untuk permasalahanmu, garam. Segelas air itu berasa asin karena dicampurkan garam. Namun air danau yang dicampurkan garam pada jumlah yang sama, tidak akan terasa asin sama sekali. Kalau kau senantiasa melapangkan hati, maka kesusahan apapun yang menimpamu, akan kau anggap biasa-biasa saja. Bahkan, setidaknya kau bisa menjemput pelajaran berharga dari sana,” tutur pertapa yang kemudian meninggalkan pemuda itu sendirian di tepi danau.

***

Seperti danau itu, hati pun harus dilapangkan untuk mempersiapkan diri, belajar menerima, terhadap segala hal-hal baru yang akan mengganggu perjalanan hidup kita. ^_^.


--Imam Rahmanto--

You Might Also Like

0 comments