Ujian Nasional, Ujian Kejujuran

Juni 08, 2013

Baca Juga

Penontonnya masih menanti.... (ImamR)
*dari diskusi dan pemutaran film ‘Temani Aku Bunda’

Ruangan bioskop Panakukkang XXI masih menyisakan banyak seat kosong pagi itu ketika kami berjalan ke arah jejeran seat paling belakang. Maklum, untuk acara nonton-menonton di bioskop, tempat duduk yang paling nyaman menurut saya ya di belakang. Dari tempat kami berada, jelas terlihat orang-orang masih sibuk dengan aktivitasnya masing-masing, sembari menanti pemutaran film Temani Aku Bunda, yang rencananya bakal diputar lepas pukul 09.00 pagi ini.

Sebenarnya, film ini bukan tergolong film baru di ranah film per-dokumenter-an Indonesia. Sudah hampir dua bulan sejak pertama kalinya film ini diluncurkan di layar lebar Studio XXI Jakarta. Akan tetapi, Makassar menjadi kota kesekian kalinya dalam proses perjalanan roadshow film bertema pendidikan ini. Apalagi, pihak manajemen roadshow tidak mematok biaya sepeser pun bagi para penonton yang bermaksud menyaksikan film itu alias gratis. Cukup dengan mendaftar via sms/ BBM/ email lewat poster yang disebar panitia di social media jauh hari sebelum acara itu berlangsung.

Film ini berkisah tentang kecurangan Ujian Nasional yang dilakukan oleh sekolah SDN 06 Petang Pesanggerahan, Jakarta Selatan. Dalam film itu, seorang anak menceritakan kejadian tersebut kepada ibunya, karena merasa tidak kuat menanggung kebohongan tersebut. Mendengar hal itu, ibunya menyampaikan keberatannya atas kecurangan yang dilakukan sekolah anaknya. Apalagi ketika ia tahu anaknya merasa sangat terpukul dengan kecurangan itu dan sempat dikucilkan oleh teman-temannya.

Oleh karenanya, Winda memutuskan untuk mengklarifikasi hal tersebut. Akan tetapi, pihak sekolah merasa melakukan kecurangan, seperti yang diceritakan Abrar sendiri. Berlanjut, ia menempuh jalur hukum untuk menggugat peristiwa tersebut, dan mendorong dilakukannya investigasi terhadap kejadian itu. Adalah Wanda Hamidah yang merupakan anggota DPR RI, Kak Seto sebagai pemerhati anak yang juga turut mengulurkan tangan atas masalah ini.

Akan tetapi, hingga film ini selesai, hasil yang diperoleh nihil. Pemerintah seakan-akan menutup mata dan telinganya terhadap kejadian memalukan ini. Bahkan, menteri pendidikan Muh. Nuh tidak terlalu berminat untuk membahas persoalan tersebut. Lagi, pemerintah tahu, dan pemerintah tidak mau membahasnya. Mungkin, tabu.

Usai pemutaran film tersebut, digelarlah diskusi lepas atau talkshow bersama penonton di tempat yang sama. Talkshow tersebut menghadirkan pembicara Luna Vidya selaku aktivis literasi kota Makassar, perwakilan dari Kampung Halaman yang memproduseri film dokumenter itu dan juga ibu dan anak yang menjadi tokoh dalam film tersebut, Muhammad Abrary Pulungan dan Irma Winda Lubis.

Dalam diskusi yang berlangsung singkat itu, Luna Vidya mengungkapkan kegelisahannya akan sistem pendidikan di Indonesia. Ia membenarkan kisah yang sempat digambarkan dalam film tersebut memang sering terjadi di lingkungan pendidikan. Menurutnya, pendidikan di Indonesia memang sudah nyaris bobrok. “Negeri ini hanya mengukur kita dari yang mempunyai hubungan atau tidak dengan penguasa,” tuturnya melihat pendaftaran-pendaftaran sekolah negeri yang bersistem LetJen alias “Lewat Jendela”.

Irma Winda Lubis, yang juga menjadi sutradara film dokumenter itu hanya bisa mengucapkan terima kasihnya kepada masyarakat kota Makassar. Antusiasme itu bisa menjadi penyemangatnya untuk tetap berjuang melawan ketidakjujuran terhadap keberlangsungan pendidikan di Indonesia. “Kalau kita ingin anak kita berperilaku kesatria, maka tugas kitalah sebagai orang tua untuk menunjukkan sikap-sikap kejujuran. Bukan malah menutupi kebohongan-kebohongan yang ada,” ungkapnya didampingi oleh anaknya, Abrar.

Dalam acara tersebut banyak pula dihadiri oleh penggiat-penggiat komunitas di Makassar. Selain itu, mereka para pelaku pendidikan, guru-guru di kota Makassar, anak-anak, dan mahasiswa turut meramaikan ajang perlawanan terhadap “penindasan” sistem pendidikan Indonesia itu. Berani Jujur itu Hebat! 

Menyaksikan film dokumenter itu, mengingatkan saya tentang Ujian Nasional yang pernah saya jalani di sekolah. Sudah menjadi rahasia umum, memang, ujian seperti itu dijadikan ajang “bocor-bocoran jawaban” oleh pihak sekolah. Tentunya, demi meningkatkan popularitas sekolah bersangkutan menjadi peringkat atas.  Maka jalan “curang” menjadi alternatif yang sengaja ditutup-tutupi pihak sekolah, namun menjadi fenomena “tahu sama tahu” bagi seluruh aparatur pemerintah. Tanggapannya? Mata ditutup, telinga tertutup.

Buktinya, seperti kasus yang pernah menimpa seorang anak SD, Alif yang diusir bersama keluarganya oleh masyarakat setempat gara-gara berlaku “berani”. Kejadian ini beberapa kali menjadi headline media-media pemberitaan nasional. Alif dan keluarganya yang melaporkan kecurangan ujian nasional di sekolahnya dimusuhi warga sekitar. Hanya untuk berlaku berani, anak sekecil Alif harus menerima perlakuan tak bersahabat dari lingkungannya.

Saya juga sangat tersentuh dengan ucapan polos yang dilontarkan Abrar dalam film dokumenter itu, “Bunda, saya tidak mau ada siswa bodoh dapat nilai bagus. Kalau pemimpinnya orang bodoh, nanti Indonesia bisa roboh” 


--Imam Rahmanto--



*Note: berikut cuplikan puisi dalam film dokumenter tersebut.

Temani Aku Bunda
--karya Elvira Yanti Mahyor--

Bunda,
aku ingin menangis di pelukanmu,
aku ingin bercerita kepadamu.
Karena saat ini aku sendiri, bunda.

Semua kawan menatapku penuh benci,
mengejekku sebagai anak yang sok jujur.
Aku tidak melakukan apa-apa.
Aku hanya melakukan apa yang seharusnya.
Aku hanya melakukan apa yang selalu dinasehatkan oleh orang tua,
yaitu JUJUR.

Bunda,
aku tidak pernah menyangka jujur butuh keberanian baja,
butuh kekuatan hati yang luar biasa,
butuh kerja keras dan air mata
Aku hampir tidak kuat, bunda.

Bunda,
kini aku sedih melihat engkau,
orang yang melahirkan aku ke dunia,
orang yang membesarkan aku dengan penuh cinta,
orang yang selalu hadir di saat aku terluka,
harus menerima ejekan dari mereka,
hanya karena aku ingin JUJUR saja,
padahal JUJUR membuatku lega, bunda.

Maafkan aku, bunda
Salahkah sikapku?
Apakah aku tidak usah jujur saja?
Agar engkau tak lagi terluka.
Aku bingung, aku gelisah, aku cemas, aku takut.
Tolong temani aku, bunda.
Tolong lindungi aku, bunda.

Aku hanya ingin jujur, karena jujur membuatku lega.


**diterbitkan sebagai Citizen Reporter  
pada surat kabar Tribun Timur, edisi  Minggu, 9 Juni 2013.

You Might Also Like

0 comments