Meminta = Ikhlas Menerima

Oktober 13, 2012

Baca Juga

Sumber: Google Search

"Imam?" (tatapan tak percaya)

"Kamu sudah tinggi ya...?" (masih dengan tatapan yang sama, berusaha mencerna ingatannya baik-baik).

Sekian lama saya tidak berjumpa dengan teman-teman SMA, membuat saya agak lupa dengan raut wajah masing-masing. Terkadang saya menemukan teman-teman yang perawakannya sangat jauh berbeda ketika sekolah dulu. Ada pula yang dari remaja hingga dewasa sikap dan wajahnya tidak berubah sama sekali.

Termasuk salah satu sapaan di atas, yang selalu saja dilontarkan pada saya. Nyaris semua teman lama (ataupun sekadar kenalan lama) yang saya jumpai melontarkan pernyataan pembuka yang serupa. Saya cukup menanggapinya bebas.

Maklum jika seruan-seruan kaget seperti itu sering saya temui dari teman-teman lama. Beberapa dari mereka malah lebih memilih untuk tidak percaya akan perkembangan "pesat" yang terjadi pada saya. Bahkan, saya disebut-sebut memakai obat-obatan untuk meninggikan badan. Hahaha.... Come on! It's me! The real me!

Memang, saya yang sejak duduk di sekolah dasar hingga beranjak SMA dulu tergolong siswa paling kecil diantara teman-teman yang lainnya. Tidak jarang loh teman-teman melabeli saya dengan "si kecil" karena pertumbuhan saya yang mungkin agak terlambat. Karena ada sedikit prestasi yang bisa saya raih, mungkin agak memberikan saya sedikit tameng dari ruang olok-olokan yang jauh lebih ekstrem. Kecil-kecil cabe rawit.

Jikalau bukan karena saya adalah wakil ketua kelas di masa SMA dulu, maka tidak mungkin saya bakal berdiri dengan leluasanya di barisan agak depan ketika apel senin. Atau mungkin teman-teman saya saja yang memang lebih suka untuk berdiri di barisan belakang agar bisa bersantai di sela-sela upacara. (_-") Makanya saya selalu dipinta di depan. Hmm...

SMP, cari tuh anak yang paling kecil. (Dok. Pribadi)
Ketika agustusan tiba, semua sekolah di kabupaten saya ikut meramaikan perayaan HUT Proklamasi dengan berpartisipasi dalam beberapa event perlombaan, termasuk lomba gerak jalan. Malang, saya lagi-lagi harus bersabar "diselipkan" dalam tim gerak jalan yang dikhususkan buat siswa-siswa yang berpostur tubuh kecil. Ckck...nasib, nasib.... Saya merasa lebih beruntung ketika beranjak semester akhir, diikutkan sebagai tim gerak jalan Pramuka dari sekolah saya. Meskipun saya lagi-lagi harus rela menempati posisi barisan paling di belakang, setidaknya tim gerak jalan saya bukanlah yang berlabel "tempatnya siswa-siswa kecil".

Pernah suatu kali (sebenarnya sering kali), ibu saya berbincang dengan salah satu pelanggannya.

"Mbak, Imam sekarang kelas berapa?" tanya ibu itu bersemangat.

"O, kelas dua, Bu," jawab ibu saya ringan.

"O, kelas dua SMP ya?" ujar ibu itu kemudian memperjelas pernyataan ibuku. Hah? Padahal yang dimaksudkan ibu saya adalah kelas dua SMA! Percakapan selanjutnya tentu sudah bisa ditebak, ketika ibu saya berusaha memperjelas pernyataannya yang kemudian menimbulkan "efek" rasa tak percaya dari ibu tadi.

Meminta adalah Menerima
Nah, beberapa masa lalu "kelam" itulah yang kemudian membawa saya selalu berharap untuk bisa "lebih" tinggi. Soal kisah kasih di sekolah, jangan ditanya, saya tidak sedikitpun terbersit keinginan untuk menjalinnya. Perasaan minder akan postur tubuh membuat saya selalu lebih berhati-hati masalah hati. Dari situ pula kemudian saya menjadi orang yang paling pandai memendam atau bahkan mengubur perasaan.  Harapan-harapan saya itulah yang kemudian, entah kapan, dikabulkan oleh Tuhan...

Entah kapan...

Saya tidak pernah menghitung-hitungnya. Karena ketika di sekolah dulu saya selalu mengharapkan "ketinggian" itu; membanding-bandingkan ketinggian saya dengan teman lain, menggantung-gantung di palang pintu, bermain basket, malah tidak pernah terwujud. Semua yang saya lakukan sia-sia, tidak mengubah kondisi saya. Namun, barulah ketika saya mulai melupakan harapan itu, melepaskannya, dan ikhlas menerima sesuatu yang telah dianugerahkan Tuhan pada saya, perlahan setitik kepastian itu datang. Tanpa saya sadari, Tuhan mulai mengabulkan pinta saya.

Aneh? Memang. Saya lantas berpikir, hakikat meminta itu sebenarnya adalah mengikhlaskan. Yah, meminta adalah mengikhlaskan. Ketika kita meminta sesuatu pada Tuhan, tidak akan dipenuhi harapan kita jika belum mampu ikhlas dengan keadaan. Mungkin, kita meminta tapi dengan tuntutan untuk segera dikabulkan. Secepat-cepatnya diwujudkan. Kesannya, kita terlalu memaksa permintaan kepada Tuhan, yang sesungguhnya membenarkan ketidak-ikhlasan kita pada keadaan. Padahal, sebelum meminta yang lain, kita mesti bisa menerima dulu sesuatu yang sudah ada pada kita itu. Karena jika tidak, kemungkinan kita bakalan meminta jauh lebih banyak lagi tanpa diiringi rasa syukur.

Yah, nyaris sama dengan sebuah kalimat yang saya dapatkan dari novel,
"Kau tahu Syahdan, hakikat cinta adalah melepaskan. Semakin sejati ia, semakin tulus kau melepaskannya. Percayalah, jika memang itu cinta sejati kau, tidak peduli aral melintang, ia akan kembali sendiri padamu. Banyak sekali pecinta di dunia ini yang melupakan kebijaksanaan sesederhana itu. Malah sebaliknya, berbual bilang cinta, namun dia menggenggamnya erat-erat."
--Eliana, Tere Liye--


Beranjak memasuki dunia perkuliahan, saya bukan lagi "si kecil" yang selalu menempati barisan paling belakang. Bukan lagi saya yang harus berjinjit ketika menghapus papan tulis di ruang kelas. Atau yang selalu dianggap anak kecil oleh orang yang sepintas lalu melihat saya. Dan ketika saya bertemu dengan teman-teman lama saya yang mengungkapkan sapaan "biasa" serupa, saya lantas bingung mau menjawab apa ketika mereka bertanya, "Kenapa bisa setinggi ini?


--Imam Rahmanto--

You Might Also Like

0 comments