Menjadi Dewasa Sudah Pasti

Juli 18, 2012

Baca Juga

Mari memutuskan untuk bersikap dewasa

Saya sebenarnya tidak tahu persis bagaimana esensi menjadi dewasa itu sendiri. Ketika usia bertambah, apakah itu yang dimaksud menjadi dewasa? Karena pada hakikatnya semua orang usianya akan bertambah. Atau ketika kita sudah baligh maka sudah dianggap dewasa? Atau ada titik tertentu dalam bersikap sehingga kita bisa disebut “dewasa”? It’s the problem.
 

Kalau dewasa diidentikkan dengan wibawa, jaim (jaga imej), tidak malu-maluin, dan sebagainya, saya tampaknya tidak termasuk dalam golongan itu. Sifat kekanak-kanakan saya masih terbawa hingga sekarang, bahkan masih suka apa yang disukai oleh anak-anak. Hehehe…
 

Persepsi saya, dewasa diidentikkan dengan pengalaman yang telah kita lalui. Bukan apa yang terjadi pada kita yang disebut pengalaman, melainkan bagaimana cara kita menghadapi apa yang terjadi pada kita itu yang dimaksud pengalaman. Melalui pengalaman itu, kita belajar menyelesaikan sebuah masalah. Melalui pengalaman itu, kita tahu cara menyelesaikan sebuah masalah. Seseorang yang dewasa tentu punya banyak penyelesaian. Ia telah berhitung dari beberapa pengalamannya. Oleh karena itu, pertambahan usia biasanya sejalan dengan level kedewasaan seseorang.
 

Akibatnya, menjadi dewasa itu tidak lantas berupa "pilihan". Pernah tidak, mendengar sebuah idiom, “Tua itu pasti, Dewasa itu sebuah pilihan”?
 

“Saya tidak mau dewasa,” Atau “Saya pilih dewasa”. Ah…tidak semudah itu (kali) kita memilih MAU atau TIDAK. Percaya atau tidak, sebenarnya masing-masing dari kita sudah dipilihkan waktu yang tepat oleh Tuhan untuk menjadi dewasa. Kita ya tinggal nrimo (terima) saja. Tidak ada satupun orang yang tahu pasti kapan dia menjadi dewasa. Proses waktu dalam menjalani kedewasaan tiap orang pun berbeda-beda. Saya yang (misalnya) dewasa di usia 60-an, tidak akan sama dengan orang-orang yang dewasa di usia 20-an.

Semakin dewasa, semakin bijak dalam menghadapi sesuatu. Ada banyak hal yang dipertimbangkan sebelum memutuskan sesuatu. Sama halnya ketika saya (dulu masih sekolah) begitu mudahnya merutuk seseorang hanya gara-gara caranya berkomunikasi dengan saya. Namun, ketika saya bertemu kembali dengannya (beberapa waktu lalu), saya mulai sadar bagaimana cara yang baik untuk berkomunikasi dengannya. Dan tidak ada lagi perasaan merutuk atau "mau menjauh" darinya. Saya sendiri yang harus belajar cara bersikap untuk menghadapinya. Jika saja saya masih membawa-bawa cara saya bersikap terhadapnya di masa lalu, tentu saja tidak fair, kan? Meskipun dia masih tidak berubah, saya mesti menyesuaikan diri. Dan ternyata, bersikap dewasa itu sungguh menyenangkan... ^_^.


Dewasa itu bukan sebuah pilihan, melainkan sebuah kepastian yang akan dianugerahkan Tuhan kepada manusia-Nya.


Makassar, 18/7
--Imam Rahmanto--

You Might Also Like

6 comments

  1. Dewasa, juga berarti berani mengambil tanggung jawab yang beresiko.

    BalasHapus
  2. @Ka Baran: Yup. Ternyata tiap orang punya versi dewasanya sendiri ya.... Hehe...setuju.

    BalasHapus
  3. Cara berpikirnya kak imam unik...:)

    BalasHapus
  4. @Yeni: hahaha...unik darimana? Thanks. Ada istilah tuh, "I'm not special, but unique".

    BalasHapus
  5. Saya sedikit goyah dengan pendapat saya sebelumnya. Bagaimanapun, saya makin suka tulisan ta hehe

    BalasHapus
  6. @Awal Hidayat Jangan berlebihan sukanya ya.... Haha....

    BalasHapus