Doa Seorang Alif Kecil

Mei 20, 2012

Baca Juga

Anak kecil itu mondar-mandir di depan sebuah mushallah kecil. Sebuah karung dijinjingnya. Pakaiannya kumal. Tubuhnya dekil diterpa terik matahari. Beberapa mata sedari tadi selidik mengamati gerak-geriknya. Wajah polosnya tentu tidak mengurangi sedikit pun kecurigaan pada dirinya. Pemulung kecil itu tidak tahu, berapa orang tengah mengikutkan ekor mata padanya.

Ada sesuatu yang mengganjal pikirannya. Sejak tadi, ia terkatung-katung antara YA dan TIDAK. Seperti manusia kebanyakan, malaikat dan setan tengah berkonflik di hatinya.

"Sudah, pergi saja dari sini. Kau tidak pantas berada disini. Lihat, mereka menganggapmu sampah!" Tak henti-hentinya setan menggerogoti kepolosan hatinya.

"Bukankah kau seorang muslim? Sudah sepantasnya kau menjalankan kewajibanmu. Allah tidak menilai atas penampilanmu. Engkau bisa berbuat baik kapan saja," tutur suara hatinya lembut.

Seseorang datang menghampirinya. Orang itu mengenakan baju koko lengkap dengan peci yang hitam. Takut-takut, anak kecil itu bermaksud menjauh. Tak biasa ia berhadapan dengan orang yang lebih bersih darinya. Bahkan, suci hendak bermunajat kepada penciptaNya.

"Kamu kenapa, dik?" Orang itu mendekat. Beberapa orang lainnya di sekitar mushallah hilir-mudik.

Gerak-geriknya terhenti. Diam. Ia hanya menunduk. Tidak berani menatap wajah teduh di depannya. Ia rapat-rapat menggenggam karung yang ukurannya lebih besar dari tubuhnya.

"Saya..... sa...ya, cuma pengen......" ujarnya takut-takut. Laki-laki asing itu menunggu.

"Shalat disini," anak kecil itu, Alif, berkata lirih dan pelan. Sangat pelan.

Matahari makin meninggi, namun menyejukkan. Langit membisikkan keagungan pencipta-Nya.

*******

12 jam sebelumnya...

Alif gelisah. Ia tak bisa tidur malam ini. Malam terasa mencekam baginya. Sudah tiga hari ia tak lagi bekerja. Sudah tiga hari pula teman-teman sepermainannya menjauhi dirinya. Ia sedih. Ia bingung dengan penolakannya seminggu yang lalu.

"Ah, kamu tidak asik lagi," Salah satu teman mencibirnya.

"Iya. Kamu tidak mau lagi kerja bareng kita, Kamu bakalan nyesel deh," ancam seorang temannya lagi.

Ia hanya bisa diam. Tertunduk. Teman-teman bergantian menuding-nudingnya. Mengancam.

Namun keputusannya sudah bulat. Ia justru lebih menyesal jika tak berhenti dari pekerjaannya. Meskipun, ia tahu, tak mudah meninggalkan pekerjaan yang selama ini ia geluti. Dan satu-satunya yang selalu memberikannya penghidupan sesuap nasi.

Kini, ia sendiri menempati rumah semi-kardusnya. Tak ada lagi Nek Iteh yang makan bersamanya. Nenek yang satu-satunya menjadi keluarganya di pinggiran rel kereta api ini. Sejak kecil, ia tidak tahu siapa bapak-ibunya. Bahkan ia juga tidak tahu mengapa ia mesti dilahirkan. Nek Iteh lah yang perlahan mengajarinya untuk memaknai hidup. Tidak terlepas hingga di akhir ajal menemui tua renta itu.

"Nak, aku tidak ingin memaksakan sesuatu padamu. Kubiarkan kau cari sendiri pemahamanmu. Kebaikan pasti akan selalu menemui jalannya padamu. Cukup bagiku untuk selalu mengajak dan mengajarimu arti kebaikan itu. Meskipun nenek tak mau menerima hasilmu yang seperti itu," tutur Nek Iteh lembut sambil mengusap kepala Alif. Ia bersikukuh tak ingin menggunakan uang hasil copetan Alif untuk berobat sakitnya. Lama, Nek Iteh terbaring sakit. Alif yang cemas berusaha memperoleh uang sebanyak-banyaknya. Ia ingin neneknya sembuh.

"Tapi....Nek, kalau nenek tidak berobat, nenek bisa sakit terus," Suara Alif bergetar. Tangannya menggenggam tangan neneknya yang keriput. Tangan yang lainnya masih memegang uang hasil "buruannya".

Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Nek Iteh hanya tersenyum. Dengan sisa-sisa kekuatannya, senyum itu menyiratkan sebuah makna bagi Alif kecil. Sebening embun, setetes air mengalir dari kedua pelupuk mata Alif.

Ia bangun. Mengingat neneknya hanya menyisakan penyesalan bagi dirinya. Sesal itu datang, sesak itu hadir begitu saja. Ia terisak menangis. Sendu.

Perlahan ia menengadahkan tangannya ke atas. Ia sering melihat orang-orang di masjid melakukannya.

"Tuhan.....aku bingung bagaimana mereka berdoa pada-Mu,"

Langit yang kelam tiba-tiba menunjukkan blitz cahayanya. Kilat menyambar diikuti gemuruh berlipat-lipat. Pertanda akan turun hujan.

"Aku, a...ku ingin berdoa buat Nek Iteh, Tuhan..." Ia terisak. Air mata telah membanjiri kedua pipi polosnya itu, "Aku menyesal, sudah, mencuri... Ampuni Nek Iteh, Tuhan,"

Hujan pun turun. Berdenting di atap-atap rumah penduduk. Guyuran air itu membasahi rumah kecilnya yang terbuat dari kardus. Sekaligus, hatinya basah oleh siraman hujan penyesalan dari dalam hatinya. Menyejukkan.

*******


"Kamu sudah ada disini, kan? Trus, kenapa ndak ikut masuk?"

Malu-malu, sambil tetap tertunduk, ia menjawab, "Saya masih belum tahu caranya shalat,"

"Kamu kesini mau belajar, kan?" Lelaki itu mengerti. Ia lantas tersenyum. Duduk dan merangkul bahu Alif kecil. Ia tak perlu merasa risih sedikitpun dengan tatapan-tatapan orang yang lalu-lalang di sekitarnya. Ia paham, ada secercah keikhlasan yang hari ini ditemukannya.

Alif mengangguk pelan. Masih tak berani menatap wajah orang di hadapannya itu.

"Kalau begitu, tunggu apa lagi?" ujar laki-laki itu. Ia menuntun Alif mendekat ke arah mushallah. Alif, diam-diam melihat raut wajah orang yang menuntunnya. Lamat-lamat ia merasakan keteduhan di wajahnya. Ia mengangguk, mengusir kegundahan hatinya. Ia kini bisa mendoakan neneknya. Susah payah ia mengusap air matanya. Kebaikan ini baginya benar-benar menyejukkan.



--Imam Rahmanto--

Makassar, 20/5.2012



*inspired by song Alif Kecil

Ketika malam datang mencekam
Kulihat si Alif kecil yang malang
Duduk tengadah ke langit yang kelam
Meratapi nasib diri
Kilat menyambar hujan pun turun
Semakin basah hatinya yang resah
Kapankah semua ini kan berakhir
Di jalanan penuh duri


ya Allah, tunjukkan jalanMu pada si Alif kecil
Agar ia dapat menahan cobaan dan rintangan yang datang menghadang
Menuju cahaya Ilahi

You Might Also Like

0 comments