facebook twitter instagram spotify youtube
  • Home
  • Perjalanan
  • Jendela
  • Habis Baca
  • Saya

Cappuccino

Hari ini, bertepatan dengan berpulangnya salah seorang seniman kawakan Sulsel, Asdar Muis. Dunia seni, sastra, dan budaya lagi-lagi harus berduka karena kehilangan seorang maestronya. Semoga Tuhan menghadiahkan amalan terbaik untuknya. Aminn.

Saya mendapat tantangan untuk menulis postingan perihal "kesenian" dari seorang teman Bimo Aji Widyantoro. Tantangan Blogbucket ini digelar dalam rangka memperingati #SewinduAM Blogger Angingmammiri. Tentang kesenian itu, bukan suatu kebetulan saya sedang menjajarinya (iseng) belakangan ini. Merupa-rupa dan membuka alur baru untuk otak kanan saya.

***

Surat kabar di pagi hari. (Foto: ImamR)

Saya kini punya kebiasaan baru. Doodling. Disebut doodle art. Salah satu seni menggambar ala anak kecil, dengan beberapa objek yang tak jelas, dan cenderung bermakna abstrak. Di masyarakat umum, gambar doodle juga lebih banyak dipakai untuk mural, yakni menggambar atau menghiasi dinding dengan lukisan-lukisan abstrak.

Doodle Art sendiri adalah suatu gaya menggambar dengan cara mencoret, terlihat abstract, ada yang tidak bermakna juga ada yang bermakna, terkadang karya yang dihasilkan tidak memiliki bentuk yang benar namun terlihat unik dan menarik. --Desain Art Studio--

Nge-doodle lebih banyak saya lakukan di tengah pekerjaan menunggu, terutama menunggu dosen. Apalagi di masa-masa saya sekarang, akan lebih banyak menghabiskan waktu menunggu dosen demi proses bimbingan dan konsultasi calon-skripsi. Selain itu, saya juga kerap kali menggambar doodle di kala mengisi waktu yang membosankan alias tak ada kerjaan.

Kebiasaan baru ini dimulai semenjak tiga mingguan yang lalu. Seorang teman memperkenalkannya, meskipun sebenarnya saya sudah seringkali mendengar istilah doodle. Di sela-sela tak ada kerjaan, saya mencoba mencorat-coret blocknote yang biasanya saya ramaikan dengan catatan tangan wawancara. Satu-dua gambar berhasil diselesaikan dengan nasib mengenaskan. Amatir.

Mungkin melihat gambar yang mengenaskan itu, seorang teman iba dan menghadiahkan sebuah pena gambar (drawing pen) pada saya dan seorang teman lainnya. Pemberian yang sederhana sih, tapi mampu mendorong rasa tanggung jawab saya untuk menghabiskan tintanya sesegera mungkin. #ehh

“Saya cukup senang menghadiahi orang lain dengan begituan. Anggap saja supaya lebih bersemangat ngedoodle-nya,” kata teman yang memang jago menggambar abstrak itu.

Saya mengenalnya lebih dari  sebulan yang lalu, sebagai orang yang sangat-teramat fanatik dengan salah seorang teman saya lainnya. Yah, bisa dibilang penggemar rahasianya teman saya.

Dimulailah perjalanan saya, hari demi hari, menghabiskan tinta “mahal” itu.

Tak ada kertas, kotak makanan pun jadi. (Foto: ImamR)
Lagi malas nunggu panitia. (Foto: ImamR)
Ada saya dan Cappuccino itu... (Foto: ImamR)

Amplop pun jadi "korban" latihan saya. (Foto: ImamR)

Isinya.... (Foto: ImamR)

Untuk setiap orang yang membutuhkannya. (Foto: ImamR)

Di masa saya masih imut-imutnya dulu, sekolah dasar, saya memang anak yang paling suka menggambar. Yah, meskipun saya menggambar asal-asalan saja. Atau gambar saya paling bagus hanya terbatas pada pemandangan lengkungan dua gunung, dengan jalanan yang berpangkal perspektif di sela-selanya. Di kiri-kanan jalanan itu ada pematang sawah dan rumah-rumah penduduk. Biasanya ditambahi dengan anak-anak yang bermain layangan. Padinya, ya, yang bergambar huruf V dan ditambahi garis vertikal tepat di tengahnya.

Saya paling senang pula mencontohi gambar tokoh-tokoh kartun favorit saya kala itu. Ada Son Goku (Dragon Ball), Doraemon, Crayon Sinchan, dan termasuk juga tokoh-tokoh tokusatsu Jepang; Power Ranger dan Ultraman. Biasanya sih gambar-gambar itu cenderung satu gaya, sesuai dengan gambar contohnya. Saya mengulang-ulanginya sampai hafal di luar kepala. 

Alhasil, kalau sekarang saya disuruh menggambarnya, saya hanya akan ingat gambar Son Goku dengan pose kacak pinggang sembari mengeluarkan kekuatan Super Saiya-nya. Paling tidak, keahlian seni ini saya manfaatkan untuk bisa lebih dekat dengan anak-anak, sebagaimana saya menyenanginya.

***

Saya mempelajari bahwa bakat tidak sekadar “bawaan lahir”. Setiap orang lahir dengan suci, tanpa tahu apa-apa. Lingkungan lah yang kemudian membentuknya menjadi orang dengan keahlian-keahlian tertentu, khususnya keluarga. Wajar jika ada anak yang peka dengan segala aransemen musik, dikarenakan ia dibesarkan dari keluarga yang selalu bermusik. Ada anak yang pandai menggambar, karena orang tuanya senang membawanya atau memperlihatkan lukisan padanya. Ada anak yang senang berbicara, mungkin karena orang tuanya senang berdiskusi apa saja dengannya. Jadi, ini bukan perkara “bawaan-lahir’ seutuhnya, kebiasaan yang berpola.

“Bakat dapat membawamu begitu jauh, tapi kerja keras dapat membawamu kemana saja,” –Hiruma, Eyeshield 21--

Ketekunan selalu nomor satu. Alah bisa karena biasa. Keahlian seni apapun bisa dipelajari. Asalkan konsisten dalam berbuat dan merumuskannya. Tidak sekadar omongan, “Akh, saya juga bisa,” atau “Saya juga mau...”

Ada banyak orang yang paham tentang sesuatu, tapi hanya sebagian yang mau melakukannya, bahkan hanya untuk sekadar mencoba. Mungkin, di luar sana, ada banyak orang bertalenta musik. Namun hanya sedikit yang mau menjalaninya. Ada banyak orang yang pandai menulis, namun hanya sedikit yang mau menuliskannya. Semua, tergantung pula dari passion yang hendak dilakoni setiap orang.

Namun, paling tidak, saya akhirnya punya satu keahlian (iseng) seni baru. Hahahaha!


--Imam Rahmanto--
Dahulu kala…

Memasuki usia awal perkuliahan, saya orang yang kerap bolak-balik menyambangi warung internet (warnet). Maklum, saya berasal dari daerah yang sangat minim akses internet. Hanya satu sekolah kejuruan di tingkat kecamatan yang dilengkapi dengan akses internet di laboratoriumnya. Pun, satu-dua-tiga komputer aktif. Kalau ingin mencicip internet, jarak yang ditempuh kesana sekira 15 menit berkendara motor.

Wajar, di kala tersentuh teknologi internet untuk pertama kalinya di perkotaan, saya menjadi penasaran tingkat akut. Obsesif. Saking akutnya, tiada hari tanpa masuk warnet.

Saya menyelami banyak hal. Mulai dari membuat akun jejaring sosial, hingga download hal-hal yang tidak jelas. Namun, paling utama, saya tergiur membuat blog. Alasannya sederhana; saya juga ingin terkenal di dunia maya, sebagaimana orang-orang yang terkenal karena telah  berbagi di dunia maya. Mereka biasanya fokus untuk berbagi pada item-item tertentu: software, ebook, gambar, musik, komik. Saya pun ingin demikian.

Mulailah saya membuat blog dengan nama yang keren dan mudah diingat. Tampilannya dipermak agar terlihat lebih teknologi-banget. Seringkali saya menghabiskan berjam-jam lamanya hanya untuk learning by doing persoalan template. Saya lantas membuat akun-akun penyimpanan file di ziddu dan sejenisnya. File-file tertentu saya unggah dan sediakan tautan unduhannya di dalam blog. Hal itu berlangsung cukup lama. Hanya saja…tak konsisten dan agak hambar. Ada ruang di hati saya yang masih kosong…

Berselang lama, blog saya “lumutan” dan dipenuhi sarang laba-laba. Tak pernah lagi dikunjungi pemiliknya sendiri. Mungkin, saya juga disibukkan dengan kegiatan di dunia nyata, selaku mahasiswa. Apalagi perjalanan saya di perkuliahan mulai melingkupi aktivitas pers mahasiswa dan segala tetek-bengek nulis beritanya. Kami adalah orang-orang yang akrab dengan deadline.

Dunia berita juga erat kaitannya dengan dunia menulis. Saban hari saya harus berinteraksi dengan narasumber dan menuliskannya menjadi rangkaian berita utuh. Rasanya juga menantang. Bedanya, saya menulis berita karena tekanan deadline dan tanggung jawab. Nyaris sama taste-nya dengan menyelesaikan tugas-tugas kampus. Sebuah perkara-yang-tidak-boleh-tidak-untuk -diselesaikan.

“Sekali-kali cobalah untuk menulis atas dasar keinginan sendiri. Menulis, yang bukan karena tuntutan. Menulis, yang bukan karena tugas. Menulis, yang bukan karena disuruh. Melainkan menulis, yang karena kita ingin menulis. Tentang apapun itu,” pikiran saya yang mencuat suatu waktu.

Saya butuh melegakan pikiran dengan menulis hal lain, yang benar-benar ditulis karena kita mau. Sehingga tekanan atas berita bisa diseimbangkan. Alur minat saya terhadap blog kemudian berubah seiring passion yang ingin saya asah secara konsisten itu, yakni menulis.

Restart, saya mengubah blog lebih sederhana. Mulai dari nama, hingga tampilannya. Saya cukup membangun satu hal; kekonsistenan.

Doodle by me. (Foto: ImamR)

Berangsur-angsur, saya kemudian paham bahwa ngeblog tak lagi soal tampilan yang keren (dan ngejreng), blog yang sering dikunjungi, blog yang menyimpan beratus-ratus file donlotan, blog yang berulang-ulang menjadi acuan tulisan orang lain, hingga blog yang sudah berkawan akrab dengan Google.

Blog ibarat rumah di dunia maya dengan segala isi dan perabotannya. Apapun yang ingin dituangkan pemiliknya adalah hak prerogatifnya sendiri. Berbeda halnya dengan jejaring sosial yang kini menjamur, saya menganggap mereka (facebook, twitter, picasa, flickr, soundcloud, youtube, dll) hanya sebagai ruang publik di dunia maya.

Facebook atau twitter, sebagai area berdiskusi dan mencari teman. Picasa atau flickr hingga instagram, sebagai ruang pameran karya-karya foto. Soundcloud, sebagai ruang bersenandung bebas. Begitu pula dengan youtube yang selalu menjadi primadona di kalangan orang-orang yang ingin memamerkan audio-visual mereka.

Secara komplementer, jika dunia nyata punya areanya masing-masing, maka dunia maya merepresentasikannya secara “tak nyata” area-area itu. Jika blog adalah “rumah”, maka dunia maya juga punya representasinya sendiri atas rumah sakit, kantor polisi, tempat perbelanjaan, taman, dan sebagainya. Nah, dari sini saya menyimpulkan, gelandangan dunia maya adalah orang-orang yang tak memiliki blog atau website sebagai “rumah” tempat bernaung. 

Blog yang keren bukan dilihat dari seberapa memikat tampilannya, melainkan seberapa konsisten pemiliknya mengisi dan memperbaharuinya. Percuma memiliki rumah keren dan megah kalau tak pernah diisi atau ditinggali, bukan?

Saya tak peduli lagi dengan tampilan blog yang sederhana. Saya hanya ingin terus menulis. Mengabadikan atau sekadar membekukan setiap momen-momen penting yang terjadi dalam hidup saya. Kelak, ketika saya beranjak tua, ada tulisan-tulisan yang mengingatkan saya sekadar mengurut dada, mengerutkan kening, hingga mengulas senyum malu-malu. Pun, saya bisa dengan bangga memamerkannya kepada anak-cucu saya kelak.

Blog adalah tempat saya kembali, melepas penat dari dunia nyata. Tempat penuangkan ide ataupun keluh kesah. Tempat berbagi banyak hal yang terjadi dalam hidup ini. Tak peduli ketika orang membacanya atau tidak. Tak peduli orang mencibir atau melipir. Bagi saya, yang terpenting, adalah terus menulis.

Kita takkan pernah tahu bahwa ada orang-orang yang terinspirasi atas cerita-cerita yang kita bagikan. Atau ada yang sekadar tersenyum-senyum membaca tulisan itu. Bahkan, bisa saja ada orang yang diam-diam mengagumi tulisan kita. Karena sejatinya, tulisan merepresentasikan sebagian besar jiwa dan kepribadian penulisnya. Nah, lewat tulisanlah, orang-orang bisa mengenal dan dikenal.

Dan “rumah” ini adalah tempat saya pulang dan menyambut tetamu…


--Imam Rahmanto--


Catatan: tulisan untuk menyambut Hari Blogger Nasional yang jatuh pada hari ini, 27 Oktober, sekaligus diikutkan pada event #SewinduAM blogger Angingmammiri.
Older Posts

Subscribe Us

About


Imam Rahmanto

Selamat berkunjung di rumah sederhana saya. Tempat saya bisa pulang dengan cara paling menenangkan.



@cappuccino_time
Created By SoraTemplates | Distributed by GooyaabiTemplates