facebook twitter instagram spotify youtube
  • Home
  • Perjalanan
  • Jendela
  • Habis Baca
  • Saya

Cappuccino

Daun Coffee

Tak semua kafe menjanjikan kenyamanan yang membuat para pengunjung betah nongkrong berjam-jam. Nyatanya, Daun Coffee, tak pernah sepi dari pengunjung yang ingin sekadar ngopi atau mendalami tugas hingga pekerjaan.

***

Kafe itu tak nampak dari seberang jalan. Butuh beberapa meter menelusup ke dalam areal pintu masuk sebuah kompleks perumahan. Disana, sepanjang ruas jalan lebar berbeton, kiri kanan berjejer ruko yang diselingi kafe dan tempat kursus.

Daun Coffee sangat mencolok di antara belasan ruko yang berjejer itu. Tanpa perlu melihat plang namanya, orang sudah tahu persis letak strategisnya. Cukup perhatikan motor-motor yang terparkir paling ramai dan meriah. Disana, Daun Coffee menyelip paling lebar dengan tampilan jendela setinggi pintu masuknya.


Kafe ini selalu ramai dengan pengunjung. Entah bagaimana caranya, ada sesuatu yang membuat orang betah berlama-
lama di kafe seluas dua ruko ini. 
Dari namanya, jangan pernah membayangkan konsep kafe dua lantai ini dijejali miniatur alam atau sekumpulan daun yang mempesona. Interior kafe justru didesain lepas dari tema itu. Dindingnya dipenuhi sketsa kopi dan segala jenis cake. Ujung ruangan dilengkapi dengan panggung kecil tempat pengunjung bisa bernyanyi, bermusik, hingga untuk menyampaikan seminar.

Di lantai dua, suasana temaram memberi efek romantis dan kehangatan. Bagi yang butuh angin segar, bisa mencari tempat di beranda kafe yang juga dilengkapi banyak kursi dan meja. Pengunjung tak perlu khawatir berlama-lama, lantaran ruangan didominasi sofa yang empuk dan dua televisi layar datar. Ada pula satu ruangan mushalla, khusus bagi yang ingin menyelingi aktivitasnya dengan bermunajat kepada Tuhan.

Owner Daun Cofee, Leonardo Lomewa mengaku, tak pernah memikirkan konsep khusus untuk nama kafenya. Nama itu muncul begitu saja setelah seorang teman yang dimintanya membuat logo menunjukkan sketsa bentuk daun. "Jadi, tidak ada unsur-unsur filosofis tertentu dari namanya. Malah muncul secara tiba-tiba dari logonya," ungkapnya ketika ditemui, Kamis malam, 25 Juni.

Oleh karena itu, desain interiornya tidak dibuat menyerupai namanya. Wallpaper di tiap dinding dipasang hanya menyesuaikan minat dari target pengunjung yang ingin disasarnya. Tampilan mewah, tapi harga boleh diadu dengan kafe serupa lainnya.

This is the main bar, entrance. 

Leonardo mengungkapkan, pelayanan yang diunggulkannya lebih kepada kenyamanan pengunjung berlama-lama nongkrong kafe. Tak heran, sejak Maret 2014, ia sengaja membangun kafe itu lebih luas daripada umumnya. Selain itu, meja dan kursi didominasi oleh perabotan sofa yang membuat orang tak ingin beranjak dari duduknya.

"Apalagi kan target saya 70 persen memang mahasiswa. Jadi, mereka bisa berlama-lama kerja tugas disini, biar dari pagi sampai malam," ungkap pria kelahiran 33 tahun silam ini santai.

Tak jarang kafenya menjadi pilihan komunitas atau organisasi tertentu untuk menggelar acara bazaar. Kendati demikian, ia tak memperbolehkan acara semacam itu dilangsungkan di lantai 2. Menurutnya, agar di lantai tersebut orang-orang masih bisa mencari kenyamanan dan ketenangan.

(Sejak mengenal Daun Coffee, saya justru tak sreg jika kafe ini disuntikkan konsep bazaar seperti warung-warung kopi di luar sana. Bagi saya, kesan eksklusif sebuah kedai kopi justru memudar seiring dengan keramaian bazaar yang ala kadarnya.)

(Kafe ini memang selalu ramai pengunjung. Dulu, ketika baru berdiri, kami senang menghabiskan waktu disana. Beranda di lantai dua selalu menjadi lokasi ternyaman kami. Hanya saja, dengan keramaiannya sekarang, saya tidak lagi menemukan ketenangan yang saya inginkan jikalau hendak mencari atau mendalami sesuatu, perihal pekerjaan maupun hobi saya. Hm...kafe ini bak seorang "teman" yang mulai lupa siapa teman yang dikenalnya pertama kali lantaran sudah mulai punya banyak teman baru.)

Leo sendiri tak pernah merasa risih jika pengunjungnya ingin menghabiskan waktu sampai berjam-jam. Kafe ini dibangun atas dasar tiga hal penting, yakni harga, rasa, dan wifi. Hingga dalam perjalanannya, ia menambahkan mushalla di lantai 2 agar orang tak lagi kerepotan mencari tempat shalat.

Di samping itu, Leo juga selalu menjaga kualitas kopi yang menjadi jualannya. Ia membeberkan, kopi olahan dasar di kafenya didatangkan langsung dari Toraja dan diolah sendiri di rumahnya. "Kebetulan saya punya keluarga dari sana dan tahu cara mengolah biji kopinya," tambah pria yang telah berkecimpung di dunia bisnis sejak 2005 ini.

Saban hari, Daun Coffee bisa menerima kunjungan lebih dari 300 orang. Mulai dari para pelajar, mahasiswa, hingga para pebisnis. Meskipun beberapa kafe mulai menjamur di sekitarnya, namun Daun Coffee tak pernah kekurangan peminatnya.

"Kalau bersantai di Daun, entah kenapa, kita suka berlama-lama dan merasa nyaman. Selalu ada alasan untuk bisa kembali lagi," tandas salah satu pengunjung, Awal Hidayat, sembari menyesap aroma cappuccinonya. (*)


***

P.s. Feature tentang kafe memang selalu memantik hormon feromon saya. Di satu sisi, saya suka menulis secara bebas dengan sedikit menyisipkan pikiran yang ada di kepala saya. Di sisi lain, saya selalu diikat oleh kedekatan dengan kedai kopi. Jikalau sempat dan memungkinkan, selalu saja ada cara untuk menyelipkan unsur #cappuccino di dalamnya. Cappuccino is how I am... ;)

Foto by Tawakkal, FAJAR Daily Newspaper
*Ruang Kreatif (Rutif) En House

Membaca buku tak hanya bisa dilakukan di perpustakaan. Di Ruang Kreatif (Rutif), aktivitas membaca buku tak lagi menjemukan karena bisa diselingi hobi musik, sembari perlahan menyeruput secangkir cappuccino.

***

Ribuan buku berjejer rapi di atas rak dinding. Masing-masing buku disusun berdasarkan penomoran dan genrenya. Susunan rak yang tak beraturan menambah kesan variatif pada dinding ruangan itu. Ditambah dengan lukisan dan poster yang memberikan kesan elegan.

Sekilas, ruangan yang disebut Rutif itu nampak seperti kamar baca pribadi. Di sekeliling ruangan, selain kursi dan meja panjang, tersedia pula satu-dua kursi "malas" berbahan sofa. Jikalau tak suka duduk di kursi, bisa lesehan di atas rumput sintetis berukuran 3 x 3 meter. Di hamparan rumput hijau itu, ada bangku goyang yang bisa memuat hingga 3 orang.

Rutif tak bisa dianggap perpustakaan biasa, lantaran salah satu pemiliknya, Muh. Fajrin Rahmansyah juga enggan menyebutnya sebagai perpustakaan. Alasannya, istilah perpustakaan terkesan agak formal dan kebanyakan orang agak "fobia" dengan hal itu. Oleh karena itu, ia lebih santai menyebut mini perpustakaannya sebagai Ruang Kreatif.

"Tidak hanya sebagai tempat membaca buku. Disini, bisa menjadi tempat bermain musik, menonton film-film edukatif, hingga menggelar acara-acara diskusi yang melibatkan banyak orang," ungkap Fajrin ketika ditemui di Rutif, Kamis malam, 18 Juni.

Pengunjung bercengkerama. Rutif memang menjadi pilihan menarik bagi mereka yang membutuhkan ketenangan mencari inspirasi. (Foto: Tawakkal - FAJAR)
Seisi ruangan memang diselingi oleh peralatan musik hingga fasilitas-fasilitas mulitimedia lainnya. Untuk mendukung aktivitas kegiatan-kegiatan komunitas disana, ruang lantai dua itu juga menyediakan layar datar berukuran 32 inch. Seperti yang dikatakan Fajrin, layar itu dimanfaatkan untuk kegiatan presentasi hingga pemutaran film. Bahkan, ada pula pemutar piringan hitam yang sesekali difungsikan.

Fajrin mengaku, hiburan semacam itu dibutuhkan untuk memancing ide atau gagasan setiap pengunjung atau pekerja kreatif yang membutuhkan inspirasi. Setiap orang punya karakter yang berbeda-beda dalam menemukan gagasan kreatif.

"Ada yang duduk tenang membaca buku, bisa mendapatkan ide. Ada yang baring-baring membacanya, baru bisa nyaman. Ada yang harus diselingi bermain musik, baru bisa memunculkan ide-ide kreatifnya," cetus pria kelahiran 23 tahun silam ini. Oleh sebab itu, menurutnya, Rutif tidak hanya muncul sebagai perpustakaan tempat menyimpan buku.

Ia menambahkan, Rutif kerap mewadahi setiap orang yang hendak menggelar kegiatan diskusi. Hanya saja, ruangan seluas 15 x 5 meter hanya muat hingga 50 orang. Baru-baru ini, lanjutnya, Polrestabes Selayar pernah menggelar acara bedah buku di Rutif yang dihadiri langsung oleh Wali Kota Makassar.

Tampilan En House dari depan. Come in.... (Foto: Tawakkal - FAJAR)
Kehadiran Rutif juga ditopang oleh kedai kopi En House yang berada tepat di lantai pertama. Kafe yang berjalan selang setahun ini menyediakan menu-menu serupa kafe lainnya. Bedanya, penampakan En House tak kalah menawan karena menawarkan visual desain yang ciamik. Di sisi kafe, ada miniatur atap rumah yang menjadi ciri khas En House. Beberapa kata-kata bijak juga menghiasi dinding di dalam kafe. Menurut Fajrin, konsep penyajian di kafenya juga lebih mengutamakan sisi edukatif dalam memperkenalkan jenis-jenis minuman kopi.

"Kalau ada yang pesan minuman, kita akan perkenalkan jenis minuman itu secara langsung dari bar," ungkap Fajrin. Pengunjung bisa berintraksi langsung dengan baristanya.

Di kedai kopi En House, ada dua bar yang disediakan bagi pengunjung. Slow bar, yang dikhususkan bagi para pengunjung penikmat kopi. Tak tanggung-tanggung, biasanya dilakukan open bar, yakni memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk meracik sendiri kopinya. Sementara di main bar, dikhususkan bagi pesanan minuman blended.

Dari slow bar yang menyambut pintu masuk. (Foto: Tawakkal - FAJAR)
Kehadiran En House selang setahun dengan kemunculan Rutif. Sebelum En House dibuka, lantai pertama merupakan minimarket pendukung Rutif. Akan tetapi, melihat animo anak muda, maka terbersitlah ide Fajrin dan teman-temannya menggubah minimarket itu menjadi kafe yang lebih mengundang minat anak muda.

Fajrin mengaku, kehadiran Rutif En House merupakan gagasan yang diprakarsai oleh dirinya dan ketiga temannya, yakni Nina, Swesti, dan Panji. Mereka ingin membangun usaha yang tidak sekadar menghasilkan uang, melainkan mencerdaskan para pelanggannya. Di samping itu, kebutuhan akan ruang-ruang kreatif untuk menggali ide sangat jarang di kota Makassar.

"Orang tua Nina punya banyak koleksi buku di rumah. Maka dia berpikir bagaimana agar pengetahuan yang sudah dibaca di rumahnya itu juga terbagi ke orang lain. Konsepnya pun harus lebih bersahabat dengan anak muda," kisah Fajrin, yang juga jebolan dari salah satu bank swasta.

Ia memutuskan hengkang dari tempat kerjanya, tak lepas demi membesarkan Rutif En House. Rencananya, Rutif En House dalam waktu dekat bakal melebarkan cabangnya ke salah satu pusat bisnis di Tanjung Bunga. Tambah Fajrin, disana En House akan dibangun lebih kompleks dan komplit.

Baik Rutif maupun En House, keduanya saling melengkapi. Di satu sisi, Rutif menyediakan tempat inspirastif bagi para insan kreatif. Di sisi lain, En House mencukupi kebutuhan gengsi anak muda akan minuman kopi. Keduanya berkombinasi dalam memancing ide-ide kreatif yang muncul ke permukaan. (*)

(Foto: Tawakkal - FAJAR)

---------------------

*Naskah liputan diterbitkan Sabtu, 20 Juni 2015. Dari banyak naskah yang telah terbit, saya memilih untuk menuangkan bagian ini di "rumah" saya. Judulnya, yang sengaja saya buat bersentuhan dengan "cappuccino" (padahal seharusnya bisa "kopi" saja), ternyata diterima oleh redaktur. Haha... judul ini lantaran saya gandrung dengan minuman cappuccino dan punya "rumah" dengan nama serupa. ;)

(Foto: ImamR)

Older Posts

Subscribe Us

About


Imam Rahmanto

Selamat berkunjung di rumah sederhana saya. Tempat saya bisa pulang dengan cara paling menenangkan.



@cappuccino_time
Created By SoraTemplates | Distributed by GooyaabiTemplates