facebook twitter instagram spotify youtube
  • Home
  • Perjalanan
  • Jendela
  • Habis Baca
  • Saya

Cappuccino

*Lanjutan dari postingan sebelumnya; Disinilah Kami Berulah

#PERINGATAN!! Membaca tulisan ini akan "membuang" waktumu lebih lama dari biasanya. Bersabarlah! Semoga.

***

Terjun ke lapangan. Kata-kata itu menjadi tema utama di tengah pelatihan jurnalistik yang kami ikuti. Para panitia yang sedari awal hanya kami pandang sekilas berseliweran di sekeliling ruangan pelatihan, memberikan bocoran tentang agenda beberapa jam selanjutnya.

“Jadi, kalian akan diterjunkan langsung ke lapangan,” ujar salah satunya.

“Tugas kalian, mencari sisi menarik dari tempat yang kalian kunjungi, temui narasumber-narasumber, olah menjadi berita, dan siap dituliskan. Ingat, cara membuat berita, sebagaimana yang telah diajarkan beberapa pemateri sebelumnya,” papar salah seorang diantaranya lagi, di sela-sela waktu lowong menanti agenda berikutnya.

Yeah! Hal seperti ini yang ditunggu-tunggu. Setelah kami dibagi dalam beberapa kelompok besar, beranggotakan 8-10 orang, kami diantar dengan bus kampus menuju “lapangan”. Bedanya dengan “lapangan” secara harfiah, dan menjadi tantangan tersendiri bagi kami, waktu peliputan justru dilakukan tepat pukul 12 malam. Pun, lokasinya mengambil tempat yang tak-lazim; area hiburan malam.

Kalau kata orang, lokasi-lokasi di sepanjang Jalan Nusantara itu merupakan tempat mangkal para pekerja-pekerja malam yang nekat menajajakan birahinya. Disana, ada banyak bangunan hiburan malam yang baru buka di waktu jelang dini hari. Gemerlap lampu begitu menggoda setiap lelaki yang melintas di sepanjang jalan pelabuhan itu, termasuk kami. Padahal, di siang harinya, bangunan-bangunan yang berjejer itu tak menunjukkan aktivitas apa-apa. Pintu tertutup rapat. Sunyi. Senyap.

Seperti yang dioceritakan, sisi lain gemerlap kota Makassar baru bisa disaksikan lewat tengah malam, disini, lokasi yang akan menjadi “lapangan” perdana kami.

Sebagai orang yang baru setahun hidup di kota Makassar, sebagian besar dari kami, para peserta pelatihan cukup terhenyak dengan lokasi peliputan ini. Berkeliaran lewat tengah malam, di lokalisasi seperti ini membuat jantung kami berdegup was-was.

“Jangan-jangan, ada preman yang akan menodong,” pikiran-pikiran yang tak lepas berkelebat.

Akan tetapi, diiringi pula dengan pikiran-pikiran "mesum" lainnya, “Mudah-mudahan ada salah satu ‘cewek’ yang menghampiri dan menggodai kami. Asal bukan yang jadi-jadian,” Hahaha...

Atau ngarep menyaksikan “perempuan-perempuan” seksi itu dari jauh, berbusana mini, melanggang masuk ke tempat-tempat yang menawarkan cahaya lampu yang berdentum. Tapi, pikiran-pikiran semacam itu cukup disembunyikan saja di benak masing-masing (laki-laki). Hahaha…

Intinya, kami, para calon jurnalis kampus, sudah diberi tugas. Sudah kewajban menjalankan tugas itu dengan tenggat waktu sejam semenjak diturunkan dari bus.

Sesuai kelompok, kami harus berpencar berpasangan untuk mencari narasumber. Kami diberi kebebasan untuk menentukan narasumber, asalkan tetap menyesuaikan dengan tema yang bakal kami angkat. Yah, kami mengakali pula denga mencari narasumber yang lebih mudah “dirangkul”, semisal pedagang-pedagang asongan non-stop-24-jam di sepanjang jalan tersebut. Untuk lebih meningkatkan sisi humanis cerita, kami mencari pedagang yang sudah nampak kelihatan tua. #ngeles

Akan tetapi, ada pula teman lainnya yang memilih pekerjaan “menantang”. Mereka mendatangi para bodyguard yang menjaga pintu-pintu masuk tempat hiburan. Mengobrol sebentar dengan mereka. Sok-sok minta api untuk merokok. Sedikit-sedikit, kalau boleh, diperbolehkan melihat sekilas gemerlap ruangan yang sedang berdentum memekakkan telinga.

Dalam rentang sejam, proses praktek lapangan kami harus diakhiri. Ada napas lega. Ada napas terburu. Berharap bisa kembali beristirahat sekadar merebahkan pantat di kursi empuk ruang pelatihan.

Namun, lagi, itu di luar prediksi kami. Kami dipaksa mengorbankan waktu tidur semalam suntuk demi menyelesaikan karya buletin masing-masing kelompok. Seperti media pada umumnya, usai proses peliputan, kami dituntut menuangkannya dalam sebuah buletin. Kami mesti berpikir seolah-olah bahwa kami adalah media massa lazimnya di kota. Oleh karena itu, deadline mulai ditegakkan!

“Oke, apa nama yang bagus untuk media kita?” tutur salah seorang diantara kami.

Tik…tok…beberapa menit berlalu.

Kami berpikir satu-satu. Melontarkan ide bergantian. Alhasil, nama Jurnal6 terpilih sebagai nama buletin kami. Mengapa Jurnal6? Seingat saya, itu merupakan penyingkatan dari istilah “jurnalistik kelompok 6”, yang beranggotakan: akh, saya lupa!! -___-"

***

Mengingat-ingat kembali masa deadline dadakan itu, membawa saya pada beberapa keseruan yang cukup saya nikmati. Apalagi DJMTD angkatan kami merupakan angkatan terakhir yang mewajibkan mesin ketik sebagai alat utamanya. Di tahun-tahun berikutnya, peserta sudah diperbolehkan mengetik via aplikasi Microsoft Word dan mencetaknya pada printer-printer yang disediakan panitia.

Sebelum mengikuti pelatihan, saya harus mencari mesin ketik kesana-kemari. Lazimnya di fakultas kami, mesin ketik biasanya menjadi perkara wajib bagi mahasiswa yang gemar menulis laporan. Menurut kabar, mahasiswa di jurusan Kimia diwajibkan membuat banyak makalah atau laporan dengan ketikan manual. Jadilah saya meminjam mesin ketik dari sana. Hahahaha…

Meskipun berat, namun mengetik “manual” semacam itu memberikan pengalaman tersendiri bagi kami. Hanya bunyi ketukan logam yang terdengar di malam menjelang pagi itu. Tik! Tik! Tik! Terkadang dalam tempo yang lambat, tak jarang pula dalam tempo yang dipercepat, tergantung dari empunya mesin ketik. Kalau kelelahan, ada cemilan yang disediakan panitia di masing-masing “meja kerja” kelompok. Hm…saya merasa diperlakukan dengan baik oleh panitia. Jarang-jarang loh ya saya begadang ditemani secangkir kopi atau susu (atau mix), roti, dan teman-teman yang tekun dengan pekerjaannya masing-masing.

Sebagian dari kami memangkas waktu dengan menuliskan apa saja di atas kertas. Pasalnya, mesin ketik yang tersedia tidak sebanyak jumlah anggota kami. Tenggat waktu yang disediakan hanya sampai pukul enam pagi. Sleepless. Asli, tanpa tidur. Mau tak mau, bagi mereka yang tak tahan begadang, sebisa mungkin mencuri-curi waktu untuk terlelap di antara jejeran meja, sembari menyembunyikan diri dari kerlingan mata panitia.

Begadang sudah menjadi kebiasaan saya semenjak menjejak bangku kuliah. Bahkan, di kalangan mahasiswa beredar mitos, “Kalau tidurnya di bawah jam 12 malam, berarti bukan mahasiswa.” Namun,  bagi saya, hal itu sebenarnya bukan gurauan semata. Karena pada dasarnya, setiap mahasiswa memang dituntut mampu memanajemen waktu yang dimilikinya.

Bocoran bagi mahasiswa baru, kuliah amat berbeda dengan waktu pendidikan sekolah dulu. Di masa kuliah, banyak tugas menumpuk. Semuanya serba laporan-makalah-presentasi sekaligus kerja kelompok. Kalau di masa sekolah, pekerjaan rumah hanya sebatas 5-10 nomor. Maka di waktu kuliah, tugas yang menumpuk itu, tidak dibatasi urutan angka, melainkan dibatasi per lembar HVS yang siap disalin atau di-copypaste. Nah, hal semacam itu sedikitnya akan memberikan penegasan, “Mahasiswa memang harus mampu terjaga hingga tugasnya terselesaikan!” 

Kondisi deadline dadakan itu diperparah dengan padamnya penerangan di dalam ruangan. Panitia sengaja memadamkan lampu dan menggantikannya dengan lilin di setiap meja kelompok. Ala-ala candle light dinner writing!

“Agar kalian lebih memahami bagaimana kesulitan para jurnalis tempo dulu dalam memperjuangkan kebenaran. Selain itu, hal-hal seperti ini akan memaksa kalian beradaptasi,” kata salah seorang panitia senior di depan kami, para peserta.

Yah, kami harus beradaptasi. Harus! *sambil mata mengerjap-ngerjap. Kelelahan.

Suatu pagi, di kala kami menyelesaikan runutan pelatihan di lokasi terakhir. (Dok. Profesi)

***

Apa yang saya jalani kini adalah sebagian perjalanan alur saya di dunia jurnalistik. Pilihan saya akan dunia asing yang satu ini, menunjukkan pilihan-pilihan yang harus saya putuskan sendiri. Sama halnya ketika saya harus merelakan side-job sebagai gurui les privat, mengorbankan label “asisten” di jurusan saya, dan mengucapkan selamat tinggal untuk organisasi himpunan jurusan yang juga pernah membelajarkan. Pun, organisasi daerah tak pernah lagi sekadar mendapat tempat di hati saya.

Bukannya abai. Saya justru menutup segala keruwetan pikiran yang akan menerpa saya di kemudian hari jika memegang terlalu banyak tampuk organisasi. Sejujurnya, saya dulu berpikir bahwa memiliki banyak organisasi dalam waktu bersama merupakan hal terkeren sebagai seorang mahasiswa. Namun seiring waktu, hal itu malah menjadi “bom waktu” yang siap meledak kapan saja, dan mendesak pilihan-pilihan buruk dihadapkan pada kita. Oleh karena itu, sebelum semuanya terlambat, maka kita harus mampu memilih sebelum dipilihkan sendiri.

Saya bangga akan pilihan ini. Ketika, kelak, seseorang bertanya tentang bidang yang ditekuni, secara gamblang saya akan menjawabnya dengan tenang hati.

“Jurusan apa?” seseorang yang bertanya tentang jurusan dan kampus asal.

“Matematika Jurnalistik,” kalau boleh, saya akan menegaskannya demikian.

Potongan tabloid yang mengabadikan setiap konversi-status pengelola, setiap tahun. Betapa membanggakannya muka-
muka ganteng/ centik ini masuk tabloid yang dibaca ribuan mahasiswa. Hehe... (Foto: ImamR)
Pengalaman baru pula bagi kami, menjadi tukang loper koran. Akh, di lembaga pers satu ini, kami diajarkan multitalent.
Mulai dari mencuci piring(?), membersihkan rumah(?), loper koran, melobi, sampai peliputan. (Foto: Jane)
Teman-teman #Ben10 yang hingga kini masih berpegang satu sama lain, yang memendam impian masing-masing, bermula dari pertemuan kami di lembaga pers ini. Kami, bersepuluh, adalah generasi terakhir dari angkatan yang menjalani pelatihan di tahun 2010.

Dimulai dari 80-an peserta, yang tersaring atas keinginan mereka bergabung sepenuhnya di lembaga kuli tinta ini. Hari-hari sebagai pra-magang dan magang berjalan (kode reporter: PR10), kemudian terseleksi oleh aturan intensitas-loyalitas-produktivitas yang ditetapkan redaksi, menyisakan kami; bersepuluh.

Memasuki dunia pers yang asing, dulu, kami tak pernah tahu masa depan kami kelak seperti apa. Kami tak pernah tahu seperti apa deadline-deadline memacu dan mempersatukan kepala kami. Pun, kami tak pernah menyadari seberapa seringnya cacian  atas liputan menyatukan perasaan kami. Secara profesional, kami adalah partner liputan. Secara profesional, kami adalah saudara, sekaligus sahabat, hingga akhir waktu.

Saya, dan teman-teman tak hanya berusaha berjalan beriringan. Berpegangan tangan. Meskipun, satu-dua-tiga-empat orang ada kalanya merasa ingin mengibarkan bendera putih saja. Namun bertahan sampai akhir adalah inti pengalaman kami sebagai seorang jurnalis. Saya menghargai setiap pengalaman yang ditawarkannya.

Sejatinya, kita, mahasiswa akan memperoleh banyak hal dimana pun kita menghabiskan pengalaman bersosialisasi selama mengenyam dunia kampus. Tidak bisa dipungkiri, setiap orang punya passion yang berbeda-beda. Menulis. Memotret. Menyiar. Menari. Menyanyi. Meneliti. Berdakwah. Berpolitik. Menjaga keamanan. Mencintai alam. Bersosialisasi. Mendonorkan darah. Mengantisipasi bencana. Dan lainnya.

Sebagai orang yang tak lagi dianggap anak kecil, sudah sewajarnya menentukan pilihan atas impian-impian yang sedari dulu dibangun. Ingin jadi apa kita kelak? Tidak sekadar lulus dengan IPK cumlaude dan justru menambah-nambahi “pengangguran terpelajar”.

Hidup tidak bisa dijalani hanya dengan mengandalkan otak (kiri). Akan tetapi, hidup membutuhkan keterampilan dan kepekaan (sensitivitas) atas kesulitan orang lain. Dengan demikian, kita akan memahami, mengapa label orang “terbaik” (dalam semua agama) di dunia ini adalah mereka yang paling berguna bagi orang lain. [end]

Merekalah yang terpilih! (dok. Profesi)
Para penggawa UKM se-UNM. (dok facebook)

***

“Untuk apa memberitakan hal-hal buruk, jika hanya menciderai pihak-pihak tertentu?”

“Setiap informasi adalah hak setiap orang, tanpa mengurangi atau menambah-nambahinya, sesuai dengan realita. Karena kita belajar pentingnya kebenaran, dengan bercermin dari kesalahan,”


--Imam Rahmanto-- 
#Lanjutan dari postingan sebelumnya; Di Sinilah kami Bermula…

Adalah hal wajar ketika seorang mahasiswa menimbang-nimbang jadwal kuliahnya untuk bisa mengikuti pelatihan jurnalistik yang diadakan kurun empat hari. Dimulai Kamis, berakhir Minggu. Terlebih, tidak semua dosen punya kebijakan tertentu atas mahasiswa yang meninggalkan kuliahnya demi mengikuti kegiatan organisasi. Sebagian besar dosen justru agak antipati terhadap mahasiswa-mahasiswa yang menekuni dunia organisasi. Hati-hati.

Akan tetapi, disinilah pilihan itu mesti ditentukan!

Status sebagai mahasiswa bukan lagi status remaja abal-abal. Setiap orang bebas menentukan pilihannya sendiri atas apa yang akan ia jalani. Mahasiswa, erat kaitannya dengan kedewasaan. Ya, kedewasaan untuk menentukan pilihan…

Bagi saya, meninggalkan satu-dua mata kuliah, tak apa-apa. Padahal saya sebenarnya sudah galau setengah akut dengan salah satu mata kuliah yang dosennya benar-benar killer. Paling tidak, absen saya di salah satu mata kuliah, apapun, tidak mencapai batas “awas”. Lagipula, kesempatan untuk mereguk ilmu dan pengalaman jurnalistik hanya datang di kesempatan ini. Tahun esok, saya sudah mencapai “semester tua” untuk bisa mengawali partisipasi di lembaga atau organisasi manapun.

Sebenarnya, saya kekeuh pula ingin bergabung di Profesi, dulu, karena diam-diam menyukai seorang teman kelas yang sudah lebih dulu bergabung di lembaga kuli tinta itu. Atas ajakannya, saya tertarik untuk bergabung pula. Apalagi ketika ia mengajak, “Ayo, ikut!”, sembari mengulas senyum manisnya. Manis sekali. *Mendadak, slow-motion-around-us.

Yah, meskipun suka, saya tak cukup berani untuk bilang “suka”. Saya termasuk seorang “pemendam” sejati kala itu. Hahaha…. Dan kelak, saya tidak begitu peduli lagi dengannya. Pun kelak, Tuhan ternyata akan mempertemukan saya dengan seseorang yang ternyata benar-benar mampu menggugah perasaan saya untuk sekadar berani berucap, “Saya menyayangimu.” #cut, cut!! Fokus, woi! Fokus!!

#Pelatihan Jurnalistik Dimulai

Sungguh, saya benar-benar menikmatinya. Diantara teman sekelas lainnya, cuma saya yang berminat untuk mengikuti pelatihan jurnalistik lingkup universitas. Meskipun teman lain yang berasal dari jurusan Matematika juga ada yang ikut. Menjadi “satu-satunya” terasa sangat asing, namun menyenangkan. Betapa berharganya menemukan banyak banyak teman-teman baru, yang berasal dari 9 koloni fakultas.

(Dok. Profesi)
Saya jadi banyak menemukan karakter-karakter baru. Diawali senyum malu-malu. Diam-diam mengamati yang lainnya. Sedikit mengamati dan menilai dari pandangan pertama. Oh, seandainya saya percaya dengan jatuh cinta pada pandangan pertama, saya akan jatuh cinta pada setiap orang yang saya kenal.

“Hai, nama saya……..”

“Oh, saya……”

Dilanjutkan dengan jabat tangan dan senyum keramahan. Terkadang, pembicaraan akan berlanjut pula pada sudut pertanyaan, “Dari jurusan mana?”, “Prodi apa?”, “Kenal dengan si A?”, hingga pada gurauan “Anak yang di sebelah sana cantik ya?” Hahaha….

Hiruk pikuk peserta yang tidak mencapai 100 orang itu memenuhi ruangan di lantai 3 gedung rektorat UNM. Untuk pertama kalinya, saya menginjakkan kaki di pusat kampus saya ini. Oh ya, jumlah peserta yang mengikuti pelatihan tersebut dibuat seramping mungkin dengan alasan efisiensi penerimaan materi diklat. Lagipula, menurut teman saya, sebanyak apapun jumlah mahasiswa yang mengikuti diklat jurnalistik hanya akan menyisakan belasan jurnalis-jurnalis kampus militan.

Cukup menyenangkan menjelajahi materi dari pakar-pakar jurnalistik. Beragam pengalaman disampaikan sesuai dengan temanya masing-masing. Ada yang menggebu-gebu. Ada pula yang mendayu-dayu. Tak dipungkiri pula, ada juga segelintir pemateri yang membuat mata saya kejap-kejap karena mengantuk.

“Para wartawan itu tak pernah berhenti berpikir. Mereka  pun harus skeptis dan kritis atas segala kejadian. Setiap ide dan kejadian yang diliputnya mesti dituangkan dalam sebuah naskah berita.”

“Berita itu memiliki unsur 5W + 1H. What, Who, Where, When, Why, dan How.”

“Seorang jurnalis itu harus menghormati kode etik jurnalistik yang ia emban. Segala jenis pemberian dari narasumber, mesti dikesampingkan demi profesionalismenya,”

“Jadi jurnalis itu enak. Kita jadi punya kartu-bebas-kemana-saja.”

“Tahu apa perbedaan antara wartawan dan ilmuwan? Kalau ilmuwan, sedikit tahu tapi banyak. Kalau wartawan, banyak tahu, tapi sedikit,”

Akan tetapi, hal paling menyenangkan tiba di saat kami diajak berkeliling dan berkunjung ke beberapa media ternama di kota Makassar. Seumur-umur, saya baru pertama kalinya menyaksikan proses kerja sebuah media massa. Mulai dari proses layouting hingga proses pencetakan yang meibatkan mesin-mesin besar dan gelondongan kertas raksasa.

Yeah, seperti inilah keberuntungan itu.
(Dok. Profesi)

Tentu, perjalanan itu tak hanya dinikmati ala kadarnya. Di kunjungan media tersebut, kami diberi kesempatan untuk berinteraksi dengan para pakar media. Menimba ilmu dari sana. Tak terkecuali dengan reporter-reporter yang sedang mengetik berita, para onliner yang setiap saat memantau perkembangan update berita, ataupun layouter yang sedang sibuk menyusun dan mendesain perwajahan surat kabar. Merekalah manusia-manusia Deadline! Keren!

Yah, tak lupa pula diantara kerumunan kami itu diselingi jepretan kamera dengan berbagai blitz-nya. Bagi yang beruntung - dengan wajah cukup menjual – ia akan nongol di media bersangkutan keesokan harinya.

Perjalanan kami dalam pelatihan excited itu belum berakhir. Kunjungan media hanyalah proses perkenalan akan kerja-kerja media yang sesungguhnya, dari mencari berita hingga memproduksinya ke khalayak luas. Selanjutnya, pengalaman lebih mendebarkan menanti kami.

Proses mencari berita tak semudah membalikkan telapak tangan. Saya justru merasainya sebagai pengalaman menantang di hari terakhir. Dan kami akan diterjunkan ke lapangan, layaknya para pencari berita. Tapi dalam situasi dan kondisi yang berbeda; tengah malam. Ada gemerlap kehidupan kota di pinggiran sana yang mengancam birahi untuk tetap waspada. Kehidupan kota yang pulas di siang hari, namun bergeliat di malam hari.…

This is we are, in #DJMTD2010. And me? Tak perlu dicari deh. Huahaha... (Dok. Profesi).

***

“Wartawan tak mengenal istilah libur. Jadi, bagi kalian yang hanya ingin bersantai saja dan hanya mengejar gaya-gayaan, maka dari sekarang berhenti saja!” pesan salah seorang jurnalis yang memberi arahan sekaligus wejangannya di redaksi.

Ya, saya memahaminya di kemudian hari. Bahwa passion di bidang jurnalistik benar-benar menguras tenaga dan perasaan.

Di saat teman-teman lainnya bisa bersantai di senggang kuliah, kami harus berkejaran dengan tenggat deadline demi memenuhi satu angle berita. Di saat teman-teman lain bisa menonton film kesayangan sepuasnya, kami harus berdiam di depan komputer kesayangan untuk mengetik satu-dua berita. Tak jarang harus menerima cibiran atau makian redaktur. Di saat jantung teman-teman lainnya berdegup tak menentu karena nge-date dengan gebetan-nya, kami justru berkenalan dengan pejabat-pejabat kampus yang tak jarang mengintimidasi dan mengundang jantung berdetak lebih kencang.

Namun...

Ketika teman-teman lain bisa lulus dengan nilai akademik sempurna, saya yakin, kami bisa bersaing di lapangan profesional dengan nilai sosialisasi dan skill lebih sempurna. :)

***

Berlanjut ke:
3. Dimana Deadline Dimulai

--Imam Rahmanto--
Jelang dua minggu lagi, event Diklat Jurnalistik Mahasiswa Tingkat Dasar (DJMTD) dilangsungkan. Jelang pula, Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) di kampus Orange tersebut akan menemukan bibit-bibit barunya. Seperti halnya saya, dulu…

Pikiran di kepala mendadak terputar, berpilin, dan berganti sisi. Seperti kaset tape recorder yang hanya menyediakan pita cokelat selama sejam . Kini sisi “today” beralih kepada sisi “yesterday”. 

Saya sedang mengunjungi masa lalu. Awal segala kehidupan dan perjalanan saya sekarang.

***

Memasuki masa-masa kuliah, bagi saya, adalah hal yang menyenangkan. Amat menyenangkan malah. Meskipun target utama saya bukan di jurusan Matematika, namun betapa menyenangkannya menapaki fase kedewasaan, dimana kita tak dianggap lagi sebagai anak kecil.

Saya tak lagi harus memakai seragam jika ingin belajar di kampus. Tak ada lagi aturan-aturan pokok yang terkadang mengekang kebebasan sebagai anak muda di dunia kampus. Di dunia perkuliahan pun, kemandirian secara perlahan akan dipelajari sendiri. Tak ada lagi “keluar-jam-segini’ atau “pulang-jam-segini” harus melalui izin orang tua. Tak ada lagi orang tua yang membangunkan pagi-pagi sekali setiap hari, untuk memaksa ke sekolah. Tak ada lagi ibu yang memasakkan masakan setiap tiga kali sehari.

Yang paling menyenangkan, ketika kami berkenalan satu sama lain sebagai teman-teman baru. Apalagi jika berkenalan dengan teman perempuan yang parasnya cantik. Manis. Serasa panah asmara Dewa Amor ditembakkan dalam jarak dekat. Sangat dekat. Hingga tak ada kesempatan untuk berkedip. Aih, asmara remaja nyaris dewasa. Kelak, saya tak heran lagi jika menemukan mahasiswa-mahasiswa baru “berjodoh” dengan teman kelasnya di tahun pertama kuliahnya.

Sebenar-benarnya kedewasaan, dipelajari ketika kita telah jauh dari pengawasan orang tua. Bagaimana kita mengurus diri sendiri, hingga bersosialisasi dengan orang-orang yang akan kita kenal di kemudian hari.

Saya, di masa-masa masih "cute" dan labil bersama dengan teman-teman laki-laki, sekelas. (dk. pribadi)

Tapi…

Percaya atau tidak, menjalani masa-masa kuliah sebatas itu hanya akan membawa pada kejenuhan. Istilah kerennya, mahasiswa Kupu-kupu alias Kuliah-Pulang-Kuliah-Pulang. Saya pun merasakannya. Demi waktu, saya dan mahasiswa lainnya dipaksa untuk menjadi seorang introvert sekaligus anti-sosial. Kampus, pada hakikatnya, lebih banyak menciptakan orang-orang pandai ketimbang orang-orang cerdas.

Tak heran, ketika memasuki semester awal tahun pertama, saya berusaha mencari “pelarian” lain atas kejenuhan belajar di kampus. Apa tidak bosan hanya dicekoki dengan teori-teori-teori-teori-teori dalam perkuliahan? Sebagai orang yang pernah bergelut di dunia organisasi, saya memilih untuk berpartisipasi dalam salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang ada di kampus.

Ihwal kegemaran dalam dunia menulis, saya manfaatkan untuk ikut dalam perekrutan anggota salah satu lembaga penelitian di kampus. Menurut sosialisasi “door to door”nya sih, di dalam kelas saya, lembaga itu menampung mahasiswa-mahasiswa yang punya kegemaran (atau bakat) dalam bidang tulis-menulis. Saban kegiatannya selalu bersentuhan dengan tulis-menulis. Apalagi, menurut beberapa senior saya di jurusan, UKM tersebut selalu menorehkan prestasi bagi kampus. Wajar kalau anggotanya berjubel dan selalu diberi kesempatan untuk bersosialisasi kepada kami, para anak-anak baru.

“Saya juga mau ikut. Saya ingin berprestasi seperti mereka,” gumam saya dalam hati. Maklum, saya selalu terdominasi prestasi semenjak sekolah.

Pun, ada beberapa orang teman saya yang tergiur untuk ikutan. Jadinya, saya merasa “tidak-sendiri-saja” kalau memutuskan untuk bergabung. Bagi mahasiswa baru seperti kami, melakukan sesuatu secara berkelompok (atau bergerombol) menjadi hal yang “wajib”. Kami masih tervaksinasi virus “senasib-sepenanggungan” di kampung orang. Mulai dari memprogram mata kuliah (sama-sama), sampai piknik (sama-sama).

Berselang minggu selama proses perekrutannya, nyatanya saya tidak menemukan chemistry-nya. Diskusi berjalan dari fakultas ke fakultas, tetap menyisakan “kekosongan” di hati. #ehh

Saya baru menyadari, menulis ilmiah bukanlah passion saya. Saya tidak begitu menyukai hal-hal yang sangat terikat dan sistematis. Bayangkan saja, di kampus, kami sudah dijejali dosen dengan laporan dengan latar belakang, rumusan masalah, landasan teori, dsb, yang menghasilkan sebagian copy-paste  karya ilmiah, dan lagi, saya harus mengerjakannya di luar waktu kuliah. #akh!!

Mencari aktivitas tambahan di luar kuliah, semestinya yang tidak membawa-bawa perkara “tetek-bengek-kuliah” lagi.

Saya berhenti di tengah jalan, melanjutkan rutinitas kuliah, yang membosankan.


#Setahun kemudian…

Saya menemukan yang telah lama terabaikan. Dulu, sebelum menasbihkan diri untuk mengikuti perekrutan unit kegiatan mahasiswa yang bergerak di bidang penelitian itu, salah satu UKM lainnya sempat terlintas di pikiran untuk menjadi pilihan. “Ekskul” pers mahasiswa yang bergerak di bidang kepenulisan, namun dalam genre yang berbeda. Yah, kelak saya benar-benar mengetahui perbedaannya di ujung kelopak mata para dosen dan pejabat kampus.

Akan tetapi, persoalan keuangan sempat mengganjal kala itu. Saya masih ingat betul, kontribusi yang ditawarkan untuk mengikuti diklat lembaga pers tersebut, cukup mahal; Rp 50 ribu. Jangan salah. Uang sebegitu, bagi saya sebagai anak baru di kota Makassar, cukup besar. Apalagi saya masih mengandalkan kiriman dari orang tua. Wajar ketika ada “ekskul” lain yang – saya kira bergerak dalam genre sama - menawarkan perekrutan dengan kontribusi lebih murah. Saya tergiur.

(Foto: ImamR)
Dimulailah di tahun kedua, saya benar-benar mengitikadkan diri mencoba dunia pers mahasiswa. Sebagaimana yang saya yakini, menulis berita adalah perkara “kebebasan”. Saya dibuai angin segar atas chemistry sebagai seorang pewarta kampus. Menulis adalah perkara membekukan momen. Dan ada banyak momen yang diabadikan lewat tulisan maupun foto seorang jurnalis.

Kalau karya ilmiah menekankan pada fakta, penulisan cerita menekankan pada fiksi, maka jurnalistik menekankan pada fakta yang diramu menjadi sebuah cerita menarik. Esensinya, kaidah penulisan jurnalistik berada di antara keduanya, sekaligus menyatukan keduanya. Finally, I got it!

Kaidah jurnalistik membawa dan meyakinkan saya pada kebenaran mengungkapkan fakta berdasarkan data, wawancara, maupun observasi lapangan. Sebagaimana para wartawan itu – yang saya lihat di baliho besar terpampang di depan kampus – adalah orang-orang yang banyak bergerak di lapangan. Setiap hari, mereka berkenalan dengan orang-orang baru, pejabat-pejabat kampus, melintasi setiap fakultas, dan menuliskannya. Kalau beruntung, berkenalan pula dengan calon jodoh. #ehh 

Saya bahkan membayangkan berada sebagai aktor pada salah satu momennya.

Saya sedang berlari-lari kecil mengejar narasumber demi satu tulisan yang telah memasuki tenggat deadline!. Kartu pers bergelantungan di leher. Di tangan kiri ada blocknote untuk mencatat history percakapan. Sedangkan tangan satunya lagi sibuk mencoret-coret dengan alat tulis seadanya. Tentu saja, masih dengan narasumber yang harus diiringi langkahnya sembari menanyakan poin-poin pertanyaan seperlunya. Sementara di kiri-kanan saya, pewarta lain sedang sibuk melakukan hal serupa, diiringi letupan-letupan cahaya blitz kamera fotografer.

Akh, saya begitu menginginkan adegan memacu adrenalin itu!

Seorang teman perempuan sekelas, yang tahun sebelumnya lebih memilih bergabung dengan lembaga pers itu, menjadi jembatan untuk mengenal pers mahasiswa lebih jauh. Terlebih lagi, saya dan dia merangkap sebagai seorang asisten yang sama di laboratorium komputer di jurusan Matematika. Selain karena ajakannya, saya juga mengaskan bergabung karena….emm….emm… agak susah membahasakannya.

Dari sana, dari pandangan ke baliho yang memuat wajah-wajah yang saling tegur-sapa di kemudian hari, langkah saya menapaki dunia jurnalistik bermula…

(Foto: ImamR)



Berlanjut ke:
2. Disinilah Kami Berulah
3. Dimana Deadline Dimulai


--Imam Rahmanto--
Older Posts

Subscribe Us

About


Imam Rahmanto

Selamat berkunjung di rumah sederhana saya. Tempat saya bisa pulang dengan cara paling menenangkan.



@cappuccino_time
Created By SoraTemplates | Distributed by GooyaabiTemplates