Menanjak (3)

Oktober 01, 2017

Baca Juga

Surat kabar terpampang di hadapan saya. Saya tak bisa menampik, ada rona bahagia menyapu muka membaca dua halaman hasil peluh kami menjelajah alam Latimojong. Tulisan-tulisan itu. Foto yang terpampang. Ucapan diantaranya. Setidaknya, menggambarkan sebagian kisah kami menanjak untuk menuntaskan misi ekspedisi.

Benak saya takkan pernah bisa melupakan hal semacam itu. Sebagaimana cinta pertama yang sulit dilupakan, pun demikian perjalanan itu. Tak ada yang pantas dilupakan atau sekadar dianggap angin lalu.

***

Hampir semua rumah warga di dusun ini yang dicoreti para pengunjung.
Apa harus sekasar ini agar selalu diingat?? (Imam Rahmanto)

Pagi yang cukup mendebarkan bagi saya. Kokok ayam terasa lantang dan begitu menggema. Tak begitu sulit untuk terbangun di tempat ini. Langkah-langkah kaki di atas rumah juga sudah cukup menjadi penanda.

Pak Dusun juga sempat berbincang-bincang menyambut kami. Kami duduk diantara seduhan kopi khas Latimojong. Yah, meskipun seadanya ala masyarakat di perkampungan. Kopi, gula, air panas diaduk jadi satu. Saya jadi heran sendiri, lidah saya sudah sedemikian pekanya dengan seduhan dan olahan kopi. Gara-gara banyak bergaul dengan pecinta kopi.

"Cuma ini yang mau mendaki?" tanya Pak Dusun kepada kami. Dua teman masih terlelap di belakang kami.

"Yah, ini saja Pak Dusun. Kebetulan mereka mau menyelesaikan ekspedisinya. Ini Imam, dia mau......." sambut Rahim, sembari memperkenalkan saya dan Ohe kepada Pak Dusun.

Rahim memang sudah kenal lama dengan penduduk di Dusun Karangan. Jauh, beberapa tahun sebelumnya, ia sudah malang-melintang di dusun ini. Keprihatinannya pula yang mendorong ia banyak bersosialisasi dan memperjuangkan kawasan pegunungan tersebut. Tak heran jika hampir semua pemuda di dusun itu mengenalnya. Kelak, saya dibuat semakin bersyukur punya kawan-kawan seperti mereka.

Selagi udara masih dipapar sinar matahari, hangatnya kopi panas setidaknya bisa menemani obrolan berselimut itu. Saya sudah bolak-balik kamar mandi untuk menikmati segarnya air pegunungan. Seandainya kami masih punya banyak waktu, betapa rindunya saya mandi di bawah guyuran air dingin pegunungan.

"Halaaahh, padahal semalam tidur tidak pakai SB (Sleeping Bag), dingin begitu kakinya. Terpaksa pakai karpet digulung-gulung," timpal Rahim di sela-sela packing.

Kami memang sudah mengatur waktu untuk perjalanan menuju puncak. Sebagai pemula, saya hanya bisa mengikuti arahan dari Rahim. Dia pula yang mengajak tiga porter dari pemuda Karangan untuk ikut dalam perjalanan kami. Beban perlengkapan dapur tentu tak bisa ditanggung kami berlima. Salah satunya, anak Pak Dusun. Itu pun setelah Pak Dusun berinisiatif menawarkan anak lelakinya, Suliadi, ikut dalam perjalanan tersebut.

***

Pertama kalinya, saya benar-benar mencoba bersenyawa dengan alam pegunungan. Meskipun basicnya, saya pernah menjalani kegiatan perkemahan. Zaman sekolah, saya juga aktif dalam kegiatan kepramukaan.

Hanya saja, persoalan mendaki gunung saya baru bisa menikmatinya sungguh-sungguh. Saya tak pernah benar-benar menyiapkan perlengkapan mendaki begitu mendetail. Mulai dari tetek-bengek istilah yang agak rumit, hingga yang paling sederhana. Bahkan, untuk pakaian pun biasanya akan sangat menjadi perhatian bagi para pendaki. Wajar jika toko-toko outdoor di luar sana menyediakan detail perlengkapannya sekaligus. Lha wong, urusan mendaki bukan hal sembarangan. Beruntunganya, saya jadi belajar banyak terkait istilah pendakian yang biasanya lebih banyak diampu anak-anak pecinta alam.

Sayangnya, saya tak punya cukup waktu untuk sekadar menyiapkan sepatuk husus trekking. Jadilah saya mendaki dengan sandal gunung "butut" seadanya. Malah, tanpa perlu mengenakan kaos kaki. Hahahaha....dasar anak kampung. 

Tapi, tenang saja, perlengkapan lainnya lumayan lengkap kok. 

Ransel gunung? ceklis! Jaket anti air dan angin? ceklis!.Matras? ceklis! Sleeping bag? ceklis! Tenda? ceklis! Mantel hujan? ceklis! Kompor portabel? ceklis! Senter serbaguna? ceklis! Cemilan penambah kalori? ceklis! Kamera DSLR? ceklis! Air minum? ceklis! Pasangan hidup? Duh, belum dicek...

***

Rahim mengisi buku registrasi. Pemuda Karangan di depannya bernama Zaqqar (kalau tak salah), yang bakal membuat kita takjub jika tahu kenyataan sesungguhnya dari balik sarung yang selalu dikenakannya. (Imam Rahmanto)

Cekrek dulu sebelum berangkat. Ada Muche yang menjadi "penggawa" para Pemuda di Dusun Karangan. (Ohe Syam)

"Ada berapa pos kalau mau mendaki Latimojong?"

Secara umum, ada tujuh pos yang mesti dilalui. Meski sebetulnya para pendaki akan melintasi sembilan titik utama, termasuk tujuh pos tersebut. Dua diantaranya sebagai gerbang pembuka dan gerbang penutup.

Saya menyebut Dusun Karangan sebagai gerbang "selamat datang". Bagi pendaki mana pun, biasanya akan berjumpa dengan dusun di ujung kecamatan ini. Dusun ini pula yang bersebelahan langsung dengan segala peradaban khas Pegunungan Latimojong. Para pendaki akan berjumpa dengan Pos Registrasi di dusun ini, tepat sebelum mulai mencapai target.

Kelak, saya baru tahu jika posko pembuka itu belum genap berumur setahun. Para pemuda Karangan yang berinisiatif membangunnya demi memudahkan pendataan para pendaki. Selain itu, retribusi sebesar Rp10 ribu tak seberapa jika melihat upaya yang dilakukan para pemuda ini agar tetap menjaga kelestarian pegunungan. Lagipula, perputaran kas tak sepenuhnya dinikmati para pemuda dalam mengelola wisata pegunungan. Tak jarang, mereka terpaksa "menyumbangkannya" untuk kegiatan-kegiatan desa atau dusun.

Sementara puncak tertinggi menjadi gerbang "selamat tinggal". Ia sekaligus menjadi penutup misi pendakian. Sebagian orang menyebutnya sebagai pos kedelapan, meski tak ada rincian secara tertulis. Orang-orang lebih senang menyebut label Puncak Rante Mario secara tegas dan lugas.

Usai mengisi buku registrasi di posko awal, kami pun memulai pendakian. Tiga teman porter kami sudah maju lebih dulu. Mereka hendak menyiapkan perbekalan di tempat pemberhentian kami nantinya. Karena terbiasa dengan jalur pegunungan itu, mereka tidak perlu ngos-ngosan menempuh pendakian-pendakian awal.

"Sudah kayak kebunnya sendiri ini naik-turun Latimojong. Bisa dua jam saja lari-lari kalau mau ke puncak," canda teman saya.

Ini muka-muka narsis setelah lelah dilepaskan di Pos I. Tampilan pos I ya memang terbuka begini. (Ohe Syam) 

Pendakian menuju Pos pertama sebenarnya tak begitu sulit. Jika pernah membayangkan model tanjakan secara umum, maka disinilah lokasinya. Perjalanan mendaki bisa agak santai karena landai. Sambil siul-siul dan menyanyi. Kiri-kanan jalan, kami bisa menyaksikan lahan-lahan perkebunan kopi terbentang sangat luas. Lahan-lahan itu dulunya merupakan hutan yang juga menutupi punggung pegunungan. Sayangnya, beralih lahan menjadi perkebunan kopi masyarakat.

Tak ada uji nyali selama perjalanan awal kami. Langit biru juga masih bisa ditatap begitu lapang. Hanya rasa lelah yang tak jera mendera tubuh. Berkali-kali kami harus menyesuaikan ritme dengan teman perempuan, Icha, yang kelelahan selama melangkah. Sembari tetap menunggu tenaganya pulih, ya, kami mencoba menikmati saja alam yang terpampang di depan mata. Saya juga mulai sekali-kali mengarahkan lensa kamera.

Ribet juga membawa kamera beserta tasnya yang tersalempang di sebelah ransel. Contoh kesalahan amatir. Seharusnya, saya meninggalkannya dan menjejalkan kamera langsung di dalam ransel. 

Serius, jarak menuju Pos pertama teramat-sangat-teramat panjang. Medannya tak begitu ekstrem. Kami masih sering bertemu beberapa petani yang baru pulang dari kebun. Senyumnya ramah dan nampak tak asing dengan pendaki seperti kami. Cuma.... aduhai sangat melelahkan. Ini namanya mencicil keringat. Bukan kekuatan yang diuji. Melainkan daya tahan dengkul dan bahu (yang menggendong beban puluhan kilogram).

Sesampainya di pos pertama, terduduk dan nyaris terkaparlah kami yang masih amatir ini. Ternyata, saya harus mengganti kosa kata "menaklukkan" dengan yang lebih bersahabat dengan ekspedisi ini. Dengan begitu, barangkali Tuhan bisa lebih bijak menyalurkan bonus kekuatan untuk kami.

"Sampailah kita di pos satu. Itu disana, ada tanaman-tanaman kopi....." sementara Rahim dengan santainya sibuk mendokumentasikan perjalanan ala-ala vlog. Disorotnya muka yang sudah kusut dan penuh kenistaan.


Dari sinilah, tantangan sebenarnya dimulai. Di depan sana, warga menyebutnya pintu rimba. (Imam Rahmanto)


[bersambung]

-----


--Imam Rahmanto--


Part 4: Klik Disini 

You Might Also Like

0 comments