Banding

Juni 01, 2017

Baca Juga

Satu hal yang cukup saya nikmati di daerah pegunungan ini adalah waktu luang. Saya jadi punya waktu untuk menikmati setiap irama dan suasana perkampungan. Apalagi dalam nuansa Ramadan begini, banyak hal-hal sederhana yang takkan kita temui di perkotaan.

Jangan tanyakan saat masih berkelilling diantara padatnya jalan perkotaan, setahun silam. 

Suara adzan maghrib kerap tenggelam oleh klakson dan deru kendaraan. Kita sudah tak tahu lagi membedakan waktu berbuka puasa karena lebih sibuk memandangi lampu-lampu merah-kuning-hijau. jika kurang awas, motor bisa saja menyerempet pengendara lainnya. Satu-satunya yang bisa menjadi penanda berakhirnya ibadah wajib Ramadan itu adalah ketika jalan poros sudah padat dan berdesak-desakan pengendara yang ingin cepat sampai di rumah.

Kualitas Ramadan di perkampungan sebenarnya jauh lebih istimewa. Saya menjumpai orang-orang berpeci hampir setiap hari. Anak-anak yang berbaju koko dengan riangnya menyambangi masjid saban maghrib. Tentu, berlomba-lomba menyantap sajian berbuka atau takjil. Tak lupa menyisakan sedikit ruang di perut untuk makanan ibu di rumah. Tak heranlah, di masa kecil dulu, saya juga sama seperti mereka.

Jangan tanyakan saat masih berhadapan dengan gemerlap lampu perkotaan, setahun silam. 

Anak-anak, sebenarnya, juga berlomba-lomba datang ke masjid meminta tanda tangan ustaz atau penceramah. Tak beda dengan anak-anak kampung. Hanya saja, kita yang merasa dewasa justru tak ikut terselip diantara ibadah-ibadah tarawih mereka. Barangkali, bahkan tanpa perasaan bersalah. Toh, kita membenarkannya karena banyak (teman) manusia di kota yang seenaknya lalu-lalang di saat jemaah sibuk bersembahyang.

Kita sepantasnya merasa kasihan pada "kesibukan" atau "pekerjaan". Luputnya kita dari ibadah Ramadan, "kesibukan" selalu jadi kambing hitam. Padahal, alasan sebenarnya karena terlalu banyak godaan dan bujukan ngumpul diantara modernitas perkotaan. Mal, kafe, karaoke, warkop, pasar tumpah, hingga diskon selalu menggiurkan nafsu. Akh, saya hampir lupa menyebutkan; kantor, sebagai salah satu tempat yang menuntut kesibukan lebih jauh.

Betapa kesibukan selalu menyudutkan. (Imam Rahmanto)

"Sudah berapa shalat tarawihmu?"

"Sudah berapa juz?"

Saya rindu pertanyaan-pertanyaan demikian. Meskipun hanya dari kanak-kanak yang bahkan belum tahu apa-apa soal pahala yang dilipatgandakan. Kita bersaing bukan untuk pamer. Melainkan jadi motivasi agar kita tak keduluan manusia lain berusaha istimewa di Ramadan ini. Terkadang, manusia memang butuh persaingan (yang sehat) agar bisa terus berkembang.

Bukan justru pernyataan tanpa dosa seperti, "Ndak sempat ka tarawih," atau "Nanti di rumah pasti shalat ja." Pertanyaan sebelumnya jauh lebih beradab dibanding pikiran kita yang biadab di bulan Ramadan. Apalagi dengan kita yang masih suka berselancar di dunia maya. Tak jarang malah terjebak dengan menyebar berita-berita penebar kebencian, tanpa mau capek-capek mengecek kebenarannya. Sungguh jauh lebih adil untuk saling memaafkan saja di bulan penuh berkah ini, bukan? 

Saya bersyukur, hingga kini masih bisa menggenapkan tarawih sesuai dengan jumlah Ramadan yang telah berlalu. Ini serius dan bukan pamer loh, cuma ngompor-ngomporiWaktu luang yang begitu lebar di kampung sudah sepantasnya saya gunakan. Lebih banyak waktu untuk merasai hidup senyata-nyatanya di dunia nyataPun, saya yang sudah berusia kepala dua ini seharusnya malu dengan anak-anak. Badan mereka kecil, lha kok sanggup berdiri lama-lama mendengar lantunan surah delapan rakaat plus tiga witir? Saran: kalau tak sanggup lama-lama, cari masjid yang ceramahnya singkat dan tarawih secepat kilat. 

Kenapa anak-anak selalu ceria memaknai Ramadan ya? Apakah mereka belum menyadari kelak ketika beranjak dewasa, mereka bakal dipertemukan pula dengan alasan-alasan orang dewasa?

Sungguh menyenangkan melihat anak kecil berlarian diantara jemaah yang serius (dan mata berkaca-kaca karena menguap) mendengar ceramah. Mereka anak-anak kampung yang belum paham betul godaan Time Zone, Pizza Hut, McDonald, atau KFC. Bahkan, kalau mereka harus membunyikan petasan di daerah sesunyi ini, saya takkan memasang wajah digalak-galakkan sembari mengusir mereka pulang ke rumah. Jauh lebih menyenangkan menikmati cara mereka menikmati Ramadan. Itu tandanya bulan ini dianggap spesial dibanding sebelas bulan lainnya.

"Oe, jangan ribut di luar," orang tua kerap tak pernah sadar kalau mereka pun pernah muda.

Jangan tanyakan saat masih dikepung gedung-gedung tinggi yang membalap ke angkasa, setahun silam.

Karena saya tak pernah benar-benar tahu bedanya puasa atau tidak. Hanya warung atau toko kecil saja yang terlihat menutup pintunya. Sementara kesibukan, lalu-lalang, hiruk-pikuk, dan polusi kota tetap pada tempatnya. Oh ya, yang membedakan juga hanya undangan berbuka puasa yang saban waktu mampir di beranda medsos dan chat lainnya. 

Kami agak luput dari heningnya beribadah. Lha wong, deadline selalu terikat di kepala kami, para pekerja lapangan. Bergeser barang satu setengah jam saja untuk tarawih, itung-itungan, bisa dipakai untuk mengisi desakan satu atau dua naskah. Masih beruntung kalau tak dijatuhi piket. Ujung-ujungnya, Ramadan atau tidak, sama saja bagi kami. Sama-sama tak punya kesempatan untuk mengatur diri sendiri.

"Dua anak muda ini tiarap liputan. Mungkin mau fokus ibadah dan berdoa moga jodohnya cepat menghampiri," sebut salah seorang teman lewat akun facebook-nya sembari menandai saya dan teman lain.

Ia nampaknya begitu rindu dengan update berita kami di portal masing-masing. Soal jodoh, lain ceritanya. Itu karena saya mencoba untuk agak santai tanpa dibebani tuntutan "duniawi" mengawali Ramadan ini. *Ceilahh....lagaknya.

Tetapi bagaimana pun, itu benar kok. Tak pantas rasanya jika apa yang saya kerjakan sebelas-duabelas dengan bulan lain. Kontemplasi begini pun baru bisa saya temui di tempat ini. Seolah baru habis hibernasi. Barangkali pula ceramah tarawih malam ini memukul telak kesadaran saya.

Seperti kata Tuhan dalam kitab suci, manusia harus banyak-banyak bersyukur. Kalau bersyukur, nikmat bisa ditambah sejadi-jadinya. Dan menjalani Ramadan di sisi pegunungan ini, diantara basah aroma hujan, hanya bisa membuat saya tersenyum sembari berpikir; nikmat Tuhan mana lagi yang saya dustakan?

Sayangnya, semulia-mulia Ramadan, saya masih kalah telak dari sisi bangun pagi. #jlebb

Masjid Agung Enrekang. (Foto: Ohe Syam Suharso)



--Imam Rahmanto--

You Might Also Like

5 comments