Sesal yang Tertinggal

Oktober 15, 2012

Baca Juga

Ilustrated by ImamR & Rizky


Ia menutup teleponnya. Lega. Keadaan anaknya di seberang sana baik-baik saja, seperti yang diharapkannya. Selalu diharapkannya.

Ia menghela napas sebentar.

“Bagaimana keadaan Bias?” tanya istrinya.

“Tenang saja, Bu. Bias baik-baik saja, kok,” ucapnya enteng, meskipun tetap saja ada sedikit kekhawatiran tergurat di wajahnya.

Kabar yang baru saja disaksikannya dari televisi nyaris membuatnya tak bisa bernapas. Sejak siang ia sudah terpaku di depan layar kaca sembari terus memantau perkembangan situasi di Makassar. Beragam media berlomba-lomba menayangkan informasi paling "panas" agar ratingnya semakin meningkat. Memenuhi hasrat setiap orang tua yang cemas akan keadaan anaknya yang bisa jadi terlibat dalam kejadian itu.

Miris. Kota besar itu kembali bergolak. Dunia pendidikan tinggi seakan dicoreng dengan peristiwa menyedihkan itu. Ketika kota itu nyaris membersihkan namanya dari segala tuduhan blacklist, beruntun masyarakat kembali menghujatnya. Tak jarang, berbagai komentar miring dijatuhkan oleh orang-orang dari luar Sulawesi. Rutukan, kecaman, kritikan menjadi bahasa lumrah menyangkut kota dimana anaknya melanjutkan pendidikan tinggi itu. Wajar, jika ia pun kemudian harus memantau kondisi anaknya via telepon.

Basir mencemaskan anaknya. Jantungnya seakan berdetak lebih kencang ketika tahu kampus yang ditempati anaknya terlibat dalam tawuran antar-mahasiswa. Berkali-kali ia mematut-matut layar kaca, detail, mencari kalau-kalau anaknya tertangkap kamera ikut dalam aksi ricuh itu. Beruntung baginya,  anaknya tidak terlihat sekalipun menenteng-nenteng senjata atau semacamnya disana. Terlebih ia sudah memastikan hal itu melalui telepon.

Dirinya tahu, Bias sudah dewasa. Ia bukan lagi anak kecil yang harus selalu diingatkan tentang baik atau buruk. Waktu telah lama berlalu. Waktu, yang kata orang bakal semakin mendewasakan anak semata wayangnya. Kata orang, yang takkan pernah berbalik barang sedetik pun, meskipun sesal menyeruak melesak ke dalam hati.

Sesal itu, pernah dirasakannya. Hingga kini, masih membekas jelas dan lebih dalam ketimbang badik yang selalu dihunuskannya ketika muda dulu.

“Aku cuma tak ingin anak kita mengulang kesalahanku yang dulu,” tuturnya pelan yang disambut oleh dekapan hangat istrinya.

*****

Semua orang segan kepadanya. Tidak seorang pun yang bakal sembarang berucap padanya, baik junior maupun sesama temannya. Selalu saja, berbicara dengannya harus berhati-hati. Wataknya yang keras begitu ditakuti oleh mahasiswa-mahasiswa seantero jurusannya. Apalagi dengan penampilannya yang selalu mengantongi pisau kecil yang tak segan-segan diacungkannya kepada siapa saja. Disanalah masa ketika ia masih duduk dan rajin mengerjakan tugas kuliah. Tak lewat selembar pun paper yang dikumpulkannya. Kontradiktif? Memang, karena seperti itulah seorang Basir di masa mudanya dulu.

"Serbu!!!" seruan yang selalu dikumandangkannya ketika terjadi kericuhan di kampusnya. Persoalan sepele teman sekampusnya bisa menjadi persoalan runyam antar-kelompok. Baginya, solidaritas sesama mahasiswa begitu dijunjungnya. Ia tidak sadar, betapa kontradiktifnya solidaritas yang ia pegang dengan perbedaan baik dan salah di mata realitas. Namun, itulah yang didapatkannya dari beberapa doktrin-doktrin di kampusnya. Entah dari siapa.

Semangatnya selalu berkobar ketika menjelang aksi kericuhan yang berkobar di kampusnya. Nafsu untuk mengalahkan lawan selalu menjadi hasrat utama untuk menenteng-nenteng badik yang dibelinya sendiri. Diacung-acungkannya seraya mengucapkan, "Maju, maju!". Tak jarang ia menghindari beberapa lemparan batu yang mengarah kepadanya.

Berulang kali, sahabatnya Abi mengingatkan akan perangainya itu. Namun ia tak pernah peduli. Ia hanya peduli pada Abi yang selalu menjadi teman sepermainannya. Ia hanya peduli perihal Abi yang selalu membangunkannya tiap pagi. Ia juga hanya ingin bertanya tentang Abi yang selalu mengajarkannya mata-mata kuliah tertentu. Wajar, jika kemudian Basir termasuk mehasiswa yang diperhitungkan dosen di dalam kelasnya.

"Sudahlah, Basir. Untuk apa kau juga selalu ikut dengan senior-seniormu itu ricuh? Biarkan saja mereka melakukan tugasnya itu. Kamu, ya tetap kuliah saja, tanpa tawur," nasehat Abi suatu waktu.

"Bukan begitu, Bi. Namanya juga membela diri. Kalau fakultasku diserang, masak aku cuma mau berdiam diri saja. Melarikan diri?" enteng basir menjawabnya. Ia memang dikenal Abi dengan keberaniannya. Namun, terkadang Abi merasa keberaniannya itu kelewat batas.

"Kamu sih enak. Kalau ada tawuran langsung bisa melarikan diri, tanpa ketahuan senior. Aku sih ndak mau lari gitu," lanjut Basir.

"Namanya juga kita cari aman. Apalagi kedua fakultas kita yang paling sering kena ricuh. Ntar kalau seandainya aku ketemu kamu, mau apa coba?"

Basir terdiam. Ada sedikit keraguan dalam hatinya ketika membayangkan hal itu. Ia tak pernah bisa membayangkan jikalau ia harus bertikai dengan sahabatnya itu. Tak sedikit pun keinginannya untuk melukai sahabatnya, meski barang segores pun.

Dead air. Suasana diantara keduanya mendadak hening. Ia tak menyangka Abi akan menanyakan hal itu.

Hingga tiba hari itu. Ketika pertikaian di kampusnya pecah, memuncak. Kedua fakultas saling menyerbu. Mereka saling membalas. Lemparan batu tak pelak lagi mewarnai seruan-seruan sumpah menyerapah. Udara jauh lebih panas dari biasanya.

Jauh di depannya, diantara kerumunan lawannya, Basir melihat wajah yang tak asing baginya. Lekat, ia mengamati.

Abi turut dalam aksi-aksi serangan yang dilancarkan oleh lawannya. Namun, Abi tak banyak berbuat apa-apa. Bak seorang penggembira saja, ia tak mempersenjatai dirinya dengan benda-benda apapun.

“Bodoh. Kenapa dia tidak memegang senjata..,” ujar Basir pelan. Jelas dalam tekanan suaranya, ia mengkhawatirkan sahabatnya itu.

Pandangannya kemudian dialihkan oleh beberapa lemparan batu yang nyaris melukainya. Ia menghindarinya satu-persatu sambil tetap mengacung-acungkan badik di tangannya. Bahkan, diantara lemparan itu, nyaris saja mukanya terkena bom molotov.

Seraya menghindari serangan-serangan itu, ia membiarkan teman-temannya merangsek menyerbu kawanan lawannya itu. Ia masih saja mencuri-curi pandang memastikan sahabatnya itu baik-baik saja di seberang sana. Nihil, ia tak menemukan barang seinci pun batang hidungnya.

Ketika kelompoknya kembali, terdesak oleh lawan-lawannya yang dipersenjatai pula dengan batu dan golok, ia kemudian menyarungkan badiknya. Berganti dengan busur yang sedari awal telah dipersiapkannya. Ada banyak persediaan anak panah untuk memuaskan hassrat menyerangnya kini. Apatah lagi, anak panahnya telah dilumurinya dengan racun. Ia menjamin, setiap orang yang terkena anak panahnya bakal lumpuh atau mampus sekalian.

Sesaat, ternyata hasrat untuk menang menguasai dirinya.

“Syuuut!!” anak panahnya melesat jauh ke depan. Ia menembakkannya membabi-buta ke arah musuh-musuhnya. Namun, ia pun harus menghindari beberapa anak panah yang ditujukan ke arahnya.

Seorang temannya terkena anak panah. Temannya meringis kesakitan. Ia tak peduli. Malah semakin membabi buta melontarkan “peluru” panahnya hingga habis ke penjuru musuhnya. Beberapa musuhnya menghindar dan menghunuskan badik ke arahnya. Menganggapnya sebagai orang yang paling diburu.

“Dorr!!” Tembakannya berhenti digantikan oleh suara letusan senjata api. Suara itu membahana beberapa kali. Memekakkan telinga mahasiswa-mahasiswa yang menonton pertikaian itu. Kampusnya kedatangan polisi. Aparat keamanan segera merangsek masuk ke tengah-tengah mereka, mencoba menghentikan tawuran yang sedang terjadi.

Tanpa dikomando lagi, mahasiswa-mahasiswa berlarian kesana kemari. Mereka kocar-kacir menghindar dari kejaran polisi. Basir berlari dengan tetap meneteng badik di pinggangnya.

“Cepat! Cepat!” Teman-teman sejurusannya saling meneriaki.

Mendadak, langkah Basir terhenti. Dari jauh, ia melihat seseorang yang sangat dikenalnya. Dibopong oleh beberapa mahasiswa yang berlari-lari kecil. Dari kepalanya, darah mengucur deras. Dan dari kepalanya pula, ia melihat sebatang anak panah menancap tepat di keningnya.

Basir tak bergerak. Tetap saja terpaku melihat anak itu dari kejauhan. Merasakan matanya mulai berkaca-kaca. Panas. Sedikit lagi membanjiri pipinya.

“Basir! Ayo cepat!” seorang teman menariknya menjauh dari medan pertempuran. Meski ia menolak, temannya itu menariknya agak kasar. Ia sebenarnya heran pula melihat Basir yang selama ini dikenalnya pemberani tiba-tiba meneteskan air mata entah karena apa. Yang terpenting harus dilakukannya sekarang adalah menarik Basir menjauh dari kejaran polisi.

Basir menurut saja. Dalam batinnya, ia lirih berdoa, “Abi, semoga kau baik-baik saja...”

Hanya saja, harapan hanyalah sebuah permintaan yang takkan pernah diketahui absolut kepastiannya. Manusia hanya sebatas meminta, kemudian Tuhan yang bakal menentukan untuk mewujudkan atau menunda harapan itu.

Seperti ketika seminggu kemudian, Basir terduduk lemas di depan pusara Abi. Wajahnya sayu. Ia membenamkan wajahnya yang dibanjiri air mata pada gundukan tanah di hadapannya. Hampir sejam lamanya ia menangis disana. Hanya seorang diri. Keluarga, sanak saudara, dan teman-teman Abi telah usai melayatnya lima hari yang lalu. Ia baru berani menyekar seminggu kemudian. Rasa sesal begitu menggerogotinya semenjak kejadian tawuran itu. Ia merasakan sesak di dadanya.

Di atas sesal itu, entah untuk siapa ia menangis, apakah untuk kebodohannya atau untuk sahabat yang meninggalkannya. Ia sadar,  baru mengenal arti kehilangan. Sungguh sakit baginya. Apalagi ketika ia sendiri yang menyebabkan kehilangan itu.

*****

Ia menutup teleponnya. Lega. Keadaan ayahnya di seberang sana baik-baik saja, seperti yang diharapkannya. Selalu diharapkannya.

Ia menghela napas sebentar. Berat.

Ayahnya baru saja menelepon, bertanya tentang keadaannya sekarang. Ia tahu, kondisi terkini kampusnya yang sedang ricuh menyebar begitu cepat bak roket. Sejak tadi, ia melihat mobil-mobil media beserta awak-awaknya lalu-lalang sembari berlindung di barisan polisi. Kampusnya kini menjadi trending topic di kalangan media.

Napasnya berat. Seakan paru-parunya penuh sesak oleh sesuatu. Bukan oleh asap rokok yang selalu dihisapnya selama ini. Bukan pula oleh pikiran-pikiran kusut akan tugasnya yang menumpuk belum dikerjakan sejak kemarin. Ada sesal di dadanya. Sesuatu itu membelusak masuk merongrongnya dari dalam.

"Ayah, ibu...maafkan anakmu ini..." lirihnya dalam hati.

Matanya berkaca-kaca. Sedikit lagi, air mata itu nyaris tumpah. Namun ia menahannya. Lebih kuat. Semakin kuat. Seerat genggamannya pada badik di tangannya...

Dan darah masih mengucur dari lengan kirinya...




Makassar, 15 Oktober 2012

--Imam Rahmanto--




You Might Also Like

0 comments